Kumpulan Renungan Harian
di Bulan Februari 2022
Kumpulan Renungan Harian
di Bulan Februari 2022
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Kalender Liturgi, Minggu, 06 Februari 2022
Hari Minggu Biasa V
Bacaan Liturgi:
Yes. 6:1-2a.3-8;
1Kor. 15:1-11;
Luk. 5:1-11
RENUNGAN HARI INI
Ibu, Bapa. Saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus
Bacaan Injil yang baru saja kita dengarkan tadi, mengisahkan kepada kita perihal panggilan para murid Yesus yang pertama. Ketika Yesus selesai mengajar, Ia menyuruh Petrus untuk bertolak ke tempat yang dalam dan menebarkan jala di sana. Petrus terkejut sekali mendengar perintah Yesus itu.
Sepanjang malam ia bersama dengan teman-temannya sudah bekerja keras dan sama sekali tidak menangkap satu pun ikan. Sekarang di siang hari ini mereka malah diperintahkan untuk pergi menangkap ikan. Ini sama aja dengan melakukan suatu pekerjaan yang sia-sia dan membuang tenaga. Sebagai seorang nelayan yang berpengalaman, Petrus tahu kapan waktu yang tepat untuk menangkap ikan. Waktu yang paling tepat untuk menangkap ikan itu hanya pada malam hari dan bukan sebaliknya, di siang hari. Kalau malam hari saja, mereka tidak menangkap apa-apa apalagi siang hari.
Itulah kesulitan yang dialami Simon Petrus. Ia ragu-ragu dengan apa yang diperintahkan Yesus. Karena itu, Petrus berkata, “"Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa”. Meskipun demikian, Petrus berusaha tidak membuat dirinya terkurung dalam kesulitan dan keraguannya itu. Ia berusaha melampui kesulitannya, mengatasi keraguannya, dan menaruh kepercayaannya penuh kepada Yesus dengan berkata, “Tetapi karena perintah-Mu, aku akan menebarkan jala juga.”
Saudara-saudari yang terkasih
Pengalaman Petrus di atas hendak mengatakan kepada kita bahwa beriman kepada Tuhan bukanlah hal yang mudah. Mengapa? Ketika kita terlilit masalah dan dirundung menderita tentu banyak hal negatif yang melintas di pikiran dan benak. Ada yang rasanya ingin mati saja, ada yang rasa-rasanya hampir gila, dan ada yang berusaha lari dari penderitaan dengan pelbagai macam cara dan usaha yang kerapkali hanya menjadi pelarian sementara yang tidak memberikan ketenangan dan kebahagiaan apa-apa bagi batin. Pada titik terendah dalam kehidupan ini, kita dituntut untuk mengambil keputusan yang tidak pernah kita bayangkan ketika hidup kita bahagia, tanpa masalah dan derita.
Penderitaan menghadapkan kita semua, saya dan anda, pada pilihan, yakni apakah kita mau dan berani percaya kepada Tuhan atau tidak?; apakah kita mau dan berani menyerahkan diri kepada Penyelenggaraan Tuhan atau kepada pertimbangan akal sehat kita, pengalaman kita?; apakah kita mau dan berani melangkah dari penderitaan dengan iman dan harapan atau tetap berada dan mengurung diri dalam penderitaan sembari mempertanyakan dan mengutuki iman kita kepada Tuhan? Seperti buah anggur yang menjadi anggur murni ketika diperas dalam penggilingan dan seperti sebuah besi yang untuk menjadi sebuah pedang yang tajam harus dibakar dalam perapian, demikianlah halnya juga dengan iman. Iman akan sungguh-sungguh menjadi sebuah iman yang murni, sejati dan kokoh justru ketika iman itu diuji dalam “api penderitaan”. Beriman tanpa perjuangan, sesungguhnya belumlah beriman dengan sejati. Iman yang belum diuji dalam pengalaman krisis dan penderitaan, belumlah iman yang sempurna dan menyelamatkan.
Saudara-saudari yang terkasih
Beriman seringkali tidak mudah karena banyak diantara kita yang sesungguhnya masih salah paham tentang iman itu sendiri. Kita seringkali berpikir bahwa dengan beriman segala sesuatu akan terlihat mudah; bahwa dengan iman hidup akan bahagia; bahwa dengan iman kita akan terhindar dan terlepas dari ketakutan, kesulitan, tantangan, penderitaan, dan air mata. Cara memahami iman tadi disebabkan karena kita seringkali memandang, membayangkan, dan menggambarkan Tuhan bukan dari apa yang Tuhan nyatakan dan katakan kepada kita, melainkan dari apa yang ketakutan kita, harapan kita, dan keinginan kita sendiri. Cara beriman seperti tadi, bukanlah cara beriman seperti yang diajarkan oleh Yesus Kristus kepada kita. Yesus Kristus, Tuhan dan Guru kita, tidak pernah memberikan sekaligus mengajarkan iman yang membuat kita untuk terhindar dari “Jumat Agung”. Ia tidak pernah mengajarkan iman, yang dengannya, segala sesuatu dalam hidup ini akan terlihat mudah dan membahagiakan. Ia juga tidak pernah menjanjikan bahwa hidup mereka yang percaya kepada-Nya tidak akan pernah ada krisis, penderitaan, bahkan air mata. Jika demikian, apa yang hendak Yesus ajarkan tentang iman yang Ia anugerahkan kepada kita?
Iman yang Yesus anugerahkan kepada kita adalah anugerah berharga yang tak ternilai harganya sebab iman itu memberi kita keyakinan dan kepastian yang jauh lebih dalam dari keyakinan dan kepastian yang dunia dan pengalaman panca indera berikan kepada kita. Kepastian dan keyakinan yang diberikan iman kepada kita adalah sebuah relasi dengan Allah yang Kekal dan Hidup; sebuah relasi dengan Allah yang belaskasih dan kemahakuasaan-Nya mengatasi penderitaan dan maut; sebuah relasi yang memberi harapan bahwa baik dalam penindasan, kesesakan, penganiayaan, kelaparan, ketelanjangan, bahaya, atau pedang, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita (bdk. Rom. 8:35-39).
Saudara-saudari. Beriman bukan berarti lari dari penderitaan atau bahkan mengutuk kesulitan dan penderitaan. Iman, yang dianugerahkan Allah dalam Kristus Putra-Nya, adalah iman yang memberikan kepada kita harapan sekalipun tidak ada dasar untuk berharap (bdk. Rom. 4:18). Iman yang Allah anugerahkan kepada kita adalah iman yang sama yang ia anugerahkan kepada Abraham, yakni iman yang mendorong kita untuk berani keluar dari keputusaan dan rintihan keluhan serta keterbatasan manusiawi kita untuk berjalan, menghadapi, mengalami, dan melalui penderitaan bersama dengan Allah.
Janganlah pernah takut bila harus menghadapi krisis dan penderitaan. Di dalam dan berkat iman, krisis dan penderitaan itu justru dapat mengajari banyak hal tentang iman yang tidak bisa kita pelajari ketika kita bahagia dan sukses. Pengalaman mengajarkan bahwa orang yang menghadapi krisis dan penderitaan dengan iman yang besar, hidup imannya menjadi makin matang, dewasa, bijaksana, dan membawa buah yang berlimpah.
P. Hilario D. N. Nampar, Pr.
NIATKU HARI INI
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Kalender Liturgi, Minggu, 13 Februari 2022
Hari Minggu Biasa VI
Bacaan Liturgi:
Yer. 17:5-8
1Kor. 15:12.16-20
Luk. 6:17.20-26
RENUNGAN HARI INI
Homili Hari Minggu Biasa VI
Ibu, Bapa. Saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus
Pada Hari Minggu Biasa ke VI ini, Injil mengisahkan kepada kita Yesus yang turun yang turun dari sebuah bukit bersama dengan kedua belas rasul dan berhenti pada suatu tempat yang datar. Penginjil Lukas selanjutnya mengisahkan bahwa di tempat yang datar tersebut telah adalah banyak orang yang telah berkumpul dan menunggu pengajaran dari Yesus. Setelah memandang semua orang yang ada dihadapan-Nya, Yesus kemudian menyampaikan empat sabda bahagia yang kemudian disusul dengan empat sabda celaka.
Banyak orang berpikir bahwa ajaran Yesus hari ini itu ibarat resep atau jalan untuk memperoleh hidup yang bahagia. Yesus, melalui empat sabda bahagia dan empat sabda celaka, tidak sedang mengajarkan hal-hal yang para pengikut-Nya mesti lakukan. Sebaliknya, Yesus sedang menggambarkan situasi yang dialami oleh orang-orang yang mengikuti-Nya dan beriman kepada-Nya.
Saudara-saudari
Tidaklah mungkin untuk dalam homili ini menjelaskan satu per satu dari empat sabda bahagia dan empat sabda celaka yang hari ini kita dengarkan dari Injil. Oleh sebab itu pada kesempatan kali ini mari kita sejenak merenungkan sabda bahagia dan kata celaka Yesus yang pertama. Dalam Injil, kita mendengar, “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah”. Lawan dari sabda bahagia pertama tadi ialah “celakalah kamu, hai orang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburan”. Mendengar sabda bahagia dan kata celaka tadi, kita perlu selalu ingat bahwa Yesus sedang tidak meminta para pengikut-Nya untuk mengutuk kekayaan dan memeluk serta menyanjung tinggi kemiskinan material. Yesus sedang tidak menawarkan kemiskinan sebagai keutamaan dan mencerca kekayaan sebagai sumber bencana. Seandainya demikian, warta Yesus hari ini tidak ada bedanya dengan para politikus dan artis yang suka menjadikan orang-orang miskin sebagai bahan jualan untuk menaikkan popularitas dan rating mereka.
Jika demikian, apa maksud Yesus di balik ajaran-Nya bahwa orang yang miskin berbahagia sementara orang kaya celaka? Bacaan pertama membantu kita untuk menemukan jawaban atas pertanyaan tadi. Kepada nabi Yeremia, Tuhan berfirman, “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatan-Nya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari Tuhan!”Orang seperti bagi Tuhan ibarat “semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah gersang di padang gurun, di padang asing yang tidak berpenduduk”. Selanjutnya Tuhan berfirman, “Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya kepada Tuhan! Ia seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air dang tidak mengalami datangnya panas terik; ia seperti pohon yang daunnya tetap hijau, yang tidak khawatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah”.
Kini, kiranya menjadi jelas bagi kita apa yang hendak Yesus sampaikan kepada kita. Berbahagia dan celaka, terberkati atau terkutuk, sama sekali tidak ada hubungannya dengan soal kaya atau miskin. Baik kaya maupun miskin sama-sama bisa mendatang berkat atau bisa pula mendatangkan celaka. Orang yang kaya bisa berbahagia karena meskipun ia memiliki segala sesuatu, ia selalu sadar bahwa hanya Tuhanlah satu-satunya kekayaan, harapan, dan sandaran hidupnya. Sebab itu, ia tidak pernah takut untuk membuka hati-Nya kepada Tuhan dan mengulurkan tangannya untuk berbagi harta dengan mereka yang membutuhkan. Kemiskinan juga bisa menjadi kutuk dan bencana bila orang berusaha untuk hidup berkecukupan dengan segala macam cara, termasuk yang tidak halal sekalipun. Paus Benediktus XVI menulis bahwa “hati orang yang tidak memiliki apapun juga bisa mengeras, diracuni, dan menjadi jahat – secara batiniah dipenuhi oleh ketamakan akan benda-benda materiil, melupakan Allah dan selalu terkiat dengan harta benda jasmani” (Yesus dari Nazaret. Dari pembaptisan di sungai Yordan sampai perubahan rupa, hlm. 79).
Saudara-saudari
Yesus ingin agar para murid-Nya, dalam situasi apapun yang mereka alami, mereka selalu mengandalkan Tuhan dalam hidup-Nya. Inilah inti dari sabda bahagia dan kata celaka pertama dan juga seluruh perikop Injil hari ini. Apapun situasi hidup kita saat ini, entah untung ataupun malang, sehat ataupun sakit, berhasil ataupun gagal, Yesus ingin agar kita menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kekayaan, harapan, dan sandaran hidup kita. Mereka yang terberkati dan berbahagia adalah mereka yang selalu membutuhkan Tuhan dan mempercayakan hidupnya ke dalam Penyelenggaraan Kasih-Nya. Sementara mereka yang celaka dan terkutuk adalah mereka yang hatinya penuh ketamakan dan kesombongan karena mereka menyakini untuk hidup bahagia Tuhan sama sekali tidak diperlukan; bahwa lebih baik bergantung pada kemampuan diri sendiri ketimbang berharap dan bersandar kepada Tuhan.
Saudara-saudari. Dalam apapun situasi hidup yang saat ini kita alami, kita tidak pernah boleh melupakan Tuhan dan mengandalkan-Nya selalu. Dialah satu-satunya kekayaan kita, harapan dan tempat bersandar kita yang aman. Yesus pernah berkata “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia akan berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh. 15:5). Santo Paulus memahami dengan baik firman Yesus tadi sehingga ia dapat bersaksi bahwa “baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam kekurangan” dapat Ia hadapi dan terima berkat Yesus yang memberikan kekuatan kepadanya. Dalam apapun situasi hidup yang saat ini kita alami, mari kita selalu mengandalkan Tuhan, satu-satunya kekayaan, harapan, sandaran, dan jaminan keselamatan kita. Tuhan memberkati.
P. Hilario D. N. Nampar, Pr.
NIATKU HARI INI
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Kalender Liturgi, Minggu, 20 Februari 2022
Hari Minggu Biasa VII
Bacaan Liturgi:
1Sam. 26:2.7-9.12-13.22-23
1Kor. 15:45-49
Luk. 6:27-38
RENUNGAN HARI INI
Ibu, Bapa. Saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus
Bacaan Injil yang baru saja kita dengarkan bersama menegaskan kembali kepada perihal karakter utama dari hidup orang kristiani, yakni mengasihi musuh. Yesus membuka pewartaan-Nya dengan berkata “Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata ...”. Dari kalimat pembuka tadi, amatlah jelas bahwa sasaran dari ajaran Yesus bukan pertama-tama semua orang, melainkan para murid, yakni kita semua, yang mendengarkan sabda-Nya. Kemudian, Yesus melanjutkan pewartaan-Nya dengan menggunakan kalimat perintah: “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu” (ay. 27-28). Menjadi jelas bagi kita bahwa sabda Yesus hari ini ditujukan pertama-tama bagi kita dan sabda Yesus ini adalah perintah yang wajib untuk dilaksanakan.
Saudara-saudari
Tentu tidak mudah bagi kita untuk mencerna dan serta merta melaksanakan perintah Yesus dalam Injil hari ini. Mengasihi musuh adalah hal yang secara manusiawi tidak mudah dan bahkan rasanya mustahil untuk bisa dilaksanakan. Akan tetapi, “Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah” (Luk. 18:27). Allah telah terlebih dahulu memberi teladan sebelum Ia meminta kita untuk melakukan perintah-Nya. “Jika kita melihat sejarah keselamatan, kita melihat bahwa inti dari seluruh pewahyuan diri Allah adalah cinta yang tak henti-hentinya dan tak kenal lelah bagi manusia.”(Paus Fransiskus, Audiensi Umum, 21 September 2020).
Santo Agustinus menggambarkan bahwa di hadapan dosa, Allah lebih mudah untuk menahan amarah ketimbang belaskasihan-Nya (bdk. Fransiskus, Bulla pemakluman Yubileum Kerahiman Ilahi, no.21). Kemurkaan-Nya hanya sesaat, tetapi kasih-Nya tetap untuk selama-lamanya (bdk. Mzm. 136). Jika Allah membatasi dirinya pada keadilan seperti yang kita pahami, yakni bahwa kekerasan harus dibalas dengan kekerasan, luka harus dibalas dengan luka, maka Allah akan berhenti menjadi Allah, Ia malahan mengkhianati diri-Nya sebab Allah sendiri adalah Kasih (1Yoh. 4:16). Namun, kita mungkin masih bisa berkata bahwa mengasihi seperti Allah itu masih mustahil. Allah bisa mengasihi sedemikian kuat dan besar meski manusia kerapkali berdosa dan tidak membalas kasih-Nya karena Ia adalah Allah. Terhadap keraguan kita ini, bacaan pertama pada Hari Minggu Biasa VII ini kiranya bisa menjadi jawabannya.
Saudara-saudari
Untuk bisa memahami bacaan pertama tadi, kita perlu mengetahui riwayat hubungan antara Daud dan Saul. Kehebatan Daud yang mengalahkan Goliat dan menundukkan tentara Filistin lainnya membuat seluruh bangsa Israel memuja-muji Daud ketimbang Raja mereka, yakni Saul. Hal tersebut membuat amarah Saul kepada Daud bangkit dan dikisahkan roh jahat kemudian menguasai Saul sehingga ia, tanpa berpikir panjang, mengambil tombak dan hendak membunuh Daud. Mulai dari hari itulah, Saul berulang kali berusaha untuk membunuh Daud. Akan tetapi, karena perlindungan Tuhan, Daud selalu terhindar malapetaka yang dirancang oleh Saul (bdk. 1Sam. 18:6-14).
Daud sendiri memiliki dua kesempatan untuk membalaskan dendamnya kepada Saul. Kesempatan kedua itulah yang kita dengarkan bersama dalam bacaan pertama tadi. Daud memiliki kesempatan besar untuk menghabisi Saul dan hal itu dapat ia lakukan tanpa perlu mengotori tangannya sendiri dengan darah Saul. Akan tetapi, Daud tidak menggunakan kesempatan yang dimilikinya itu untuk membunuh Saul sebab bagaimanapun juga bagi Daud Saul adalah Raja yang seperti dirinya, dipilih dan diurapi oleh Tuhan sendiri. Namun, jauh lebih dalam daripada itu, Daud tidak mau membunuh Saul, karena imannya yang besar akan kemahakuasaan Tuhan. Daud berkata “Demi TUHAN yang hidup, niscaya TUHAN akan membunuh Dia: entah karena sampai ajalnya dan ia mati, entah karena ia pergi berperang dan hilang lenyap disana (1Sam. 26:10).
Hidup mati manusia ada di tangan Tuhan. Hak untuk menghakimi dan membalas juga di tangan Tuhan. Manusia sama sekali tidak ada hak untuk melakukan apa yang menjadi hak milik Allah. Rasul Paulus berkata “..., janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan. Tetapi, jika musuhmu lapar, berilah dia makan; jika dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!” (Roma 12:19-21).
Saudara-saudari
Kini, kiranya menjadi jelas bagi apa yang hendak Yesus ajarkan pada kita hari ini. Sikap anti kekerasan bagi orang kristiani bukan berarti pasif dan pasrah menerima perlakuan jahat dan semena-mena. Tidak membalas kekerasan dengan kekerasan, luka dengan luka, sebaliknya adalah ungkapan nyata dari iman yang didasarkan kepada keyakinan iman bahwa Allah adalah Kasih dan Hakim yang Adil. Kita tidak perlu mengambil apa yang menjadi hak Allah. Yang harus kita lakukan, sebaliknya, adalah melakukan apa yang Ia perintahkan kepada kita lewat Yesus Kristus, Putera-Nya: “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu”.
Kekerasan akan sirna, damai sejahtera dan persaudaraan akan bersinar cemerlang, bila kita sungguh menyadari dengan siapa kita bersatu dalam Ekaristi. Dalam perayaan Ekaristi, kita menerima Kristus yang telah menerima kekerasan demi kekerasan dan mengakhiri sekaligus mengubah kekerasan itu dengan kekuatan kasih (bdk. J. Ratzinger, In Cammino Verso Gesu Cristo, hlm. 205-208). Dalam kurban Ekaristi, kita senantiasa dihadapkan pada kebenaran iman bahwa kejahatan hanya dapat dikalahkan dengan kasih; bahwa kasih lebih kuat daripada kekerasan dan maut. Semoga lewat bacaan Injil hari ini dan Tubuh Tuhan yang kita sambut dalam Ekaristi, kita pun dapat bersaksi kepada masyarakat kita dan dunia bahwa Allah adalah Kasih dan bahwa Kasih itu lebih kuat daripada kekerasan; lebih kuat daripada kematian; lebih kuat dari dosa sebab Kasih mengalahkan segala-galanya
P. Hilario D. N. Nampar, Pr.
NIATKU HARI INI
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI