Kumpulan Renungan Harian
di Bulan Desember 2022
Kumpulan Renungan Harian
di Bulan Desember 2022
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Yes. 35:1-6a,10;
Mzm. 146:7,8-9a,9bc-10;
Yak. 5:7-10;
Mat. 11:2-11
RENUNGAN HARI INI
Ibu, Bapa. Saudara-saudari yang terkasih,
Pada hari ini, kita bersama-sama memasuki minggu III Masa Adven. Minggu III Masa Adven sering disebut sebagai Minggu Gaudete atau Minggu Sukacita. Pada minggu III Adven ini, Gereja mengajak kita semua, putra dan putrinya, untuk bersukacita sebab Tuhan sudah dekat. Tuhan tidak hanya sudah dekat, tetapi Ia sesungguhnya selalu dekat dengan kehidupan kita, dengan KEGEMBIRAAN DAN HARAPAN, duka dan kecemasan yang kita alami tiap hari.
Kedekatan Tuhan dalam hidup kita manusia bukan hanya sebuah wacana atau berhenti pada kata-kata yang indah. Kedekatan Tuhan tidak pernah memberikan kepada kita suatu harapan palsu yang tak pernah kunjung terwujud. Dalam Injil yang baru saja kita dengarkan hari ini, kedekatan Tuhan dengan hidup manusia, nyata dalam pelayanan dan cinta Tuhan kepada mereka yang miskin, sakit, dan tersingkirkan dalam masyarakat. Kepada para murid Yohanes, Tuhan Yesus menjawab bahwa Mesias yang diwartakan dan dinanti-nantikan oleh Yohanes itu berbeda dengan keyakinan dan harapan banyak orang Israel. Mesias yang dijanjikan dan diutus oleh Allah, bukan seorang raja duniawi yang duduk di atas singgasana kerajaan. Mesias yang dijanjikan dan diutus oleh Allah bukan seorang raja yang membebaskan Israel dari penjajahan romawi dan memerintah dengan tangan besi. Bukan. Mesias yang dijanjikan dan diutus oleh Allah adalah Dirinya sendiri, Putra Allah, yang datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani sehingga kasih dan kedekatan Allah yang menyembuhkan dan membebaskan dapat dialami oleh mereka yang hidupnya kurang beruntung selama ini.
Saudara-saudari yang terkasih,
Kedekatan Tuhan yang menjadi alasan kegembiraan kita hanya dapat kita alami, bila dalam kita semua menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya sandaran pengharapan kita khususnya ketika kita harus berhadapan dengan situasi krisis atau situasi dimana kita kehilangan orang yang kita kasihi dan ketika kita kekurangan segala yang pokok dalam hidup kita. Rasul Yakobus dalam bacaan kedua tadi mengajak kita untuk tidak mudah reaktif di dalam krisis atau kesusahan. Seperti seorang petani yang sabar menunggu turunnya hujan pada musim gugur dan musim semi, kita diajak untuk bertekun dalam kesabaran dalam menantikan kedatangan dan pertolongan Tuhan. Sabar membantu kita untuk tidak mudah frustasi dan menyerah pada keadaan. Sabar mendorong kita untuk selalu bangkit dan berjuang kembali karena kita yakin dan percaya bahwa Tuhan “tidak pernah tidur”; Ia pasti akan datang untuk menemani dan membantu kita.
Pada akhirnya, saudara dan saudari, kedekatan Tuhan yang hari ini menjadi alasan kegembiraan kita, kiranya tidak boleh menjadi pengalaman pribadi kita masing-masing. Sebagai murid-murid Kristus, kita mesti menjadi pribadi-pribadi yang memancarkan kedekatan Tuhan itu baik dengan kata-kata terlebih dengan perbuatan kasih. Karena itu, alangkah baiknya bila dalam mempersiapkan pesta kedatangan Tuhan yang sudah makin mendekat ini, kita mengarahkan pandangan kita bukan kepada diri kita, tetapi pertama-tama kepada saudara-saudari kita yang hingga saat Natal tahun ini masih berkekurangan, bahkan kesulitan hanya untuk bisa makan saja. Karya karitatif, karya cinta kasih kepada mereka jauh lebih penting ketimbang pelbagai persiapan lahiriah dan materi yang kerapkali justru membuat kita jatuh dalam pesta pora dan ketidakpedulian. Tuhan sudah dekat dan bahkan dekat dengan hidup kita. Mari kita bersukacita dan membagikan sukacita itu kepada saudara-saudari kita yang kurang beruntung sebagai sebuah upaya sederhana namun berarti untuk merayakan Natal. Tuhan memberikati.
R.D. Hilario D.N. Nampar.
NIATKU HARI INI
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Yes. 9:1-6
Mzm. 96:1-2a.2b-3.11-12.13
Tit. 2:11-14
Luk. 2:1-14
RENUNGAN HARI INI
Ibu, Bapa. Saudara-saudari yang terkasih,
Di dalam kegelapan dan dinginnya malam, sebuah bintang bercahaya. Fenomena alam itu, kemudian disusul dengan hadirnya para malaikat Tuhan dan bersinarnya kemuliaan Tuhan di sekitar para gembala yang sedang berjaga di padang. Dan, pada akhirnya, kabar baik yang telah ditunggu berabad-abad lama, menjadi nyata: “Jangan takut, sebab seungguhnya aku memberitahukan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.”
Malaikat Tuhan kemudian melanjutnya pesan gembira itu dengan sebuah keterangan yang sangat mengejutkan. Malaikat itu memberitahu para malaikat bagimana caranya menemukan Tuhan yang telah turun ke dalam dunia, di tengah-tengah manusia dengan berkata: “Inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.”
Tuhan yang turun ke dalam dunia, ternyata tidak dijumpai di istana raja dengan segala kemegahannya, tetapi justru dalam rupa seorang anak kecil yang berbaring di dalam palungan, yang bagi orang Yahudi biasa digunakan untuk meletakkan makanan bagi hewan piaraan mereka.
Injil yang baru saja kita dengarkan menampilkan perbedaan yang amat mencolok itu. Kisah kelahiran Yesus yang kita dengarkan hari ini dimulai dengan mengisahkan Kaisar Augustus yang, dengan segala kemegahan dan kekuasaan dunianya, memerintahkan sensus seluruh dunia. Namun, segera setelah itu Injil membawa kita ke Betlehem, di mana tidak ada keagungan sama sekali: hanya seorang anak malang yang dibungkus dengan lampin. Ia ditemani oleh kedua orangtuanya yang sederhana dan para gembala bersama hewaan piaraan mereka.
Namun, situasi seperti itulah yang Tuhan pilih untuk hadir dan tinggal di antara kita manusia. Tuhan tidak datang menjumpai manusia dalam keagungan, tetapi dengan merendahkan diri-Nya dalam kondisi yang manusia, ciptaan-Nya sendiri belum tentu akan mengalaminya. Kesederhanaan dan kerendahan hati adalah jalan yang Tuhan pilih untuk mendekati kita, untuk menyentuh hati kita, untuk menyelamatkan kita dan membawa kita kembali kepada Bapa.
Saudara-saudari yang terkasih,
Bacaan Injil pada hari ini mengajak kita sekali lagi untuk menemukan apa yang inti dan penting ketika kita merayakan Natal. Apa yang Injil sampaikan kepada kita malam ini sangat berbeda dengan yang dunia sampaikan kepada kita tentang Natal. Sosial media kita, saat ini, menampilkan Natal dengan segala kegemerlapan dan bahkan kemewahan-Nya di pelbagai belahan dunia. Pusat-pusat perbelanjaan menjadi penuh sesak dengan manusia yang ingin berbelanja dan mencari hiburan. Mereka menyangka bahwa itulah cara terbaik untuk merayakan dan menikmati Perayaan Natal.
Injil yang kita dengarkan malam ini amat bertolak belakang dengan apa yang dunia dan mungkin kita semua pahami tentang Natal. Inti dari perayaan Natal adalah kesederhaan dan kerendahan hati. Dalam dua keutamaan itulah, Tuhan hadir di tengah-tengah manusia 2022 tahun yang lalu. Sang Pencipta justru membutuhkan alam semesta untuk dirangkul dan dipeluk Dia yang menciptakan matahari justru memerlukan kehangatan. Sabda kekal yang dengannya langit dan bumi dijadikan, datang ke dunia dalam rupa seorang “bayi”, yang tidak bisa berkata-kata. Ia yang adalah Roti Hidup, justru membutuhkan kasih sayang manusia untuk memelihara dan membesarkan-Nya. Ia yang menciptakan dunia, justru tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya di dalam dunia yang Ia ciptakan sendiri. Hari ini, semuanya terbalik: Tuhan datang ke dunia, namun keagungan dan kemahkuasaan-Nya justru ditemukan dalam kesederhanaan dan kerendahan hati.
Saudara-saudari yang terkasih
Perayaan Natal, dahulu, kini, dan yang akan datang, selalu menantang menantang cara berpikir dan bertindak kita selama ini. Tuhan telah menyatakan diri-Nya di kandang Betlehem 2022 tahun yang lalu, tetapi manusia, pria dan wanita, sampai saat ini masih gagal untuk memahami tindakan Allah itu.
Allah menjadikan diri-Nya kecil di mata dunia, sementara kita terus mencari keagungan di mata dunia. Tuhan merendahkan diri-Nya, namun kita berusaha untuk menjadi besar dan dipuji. Yang Mahatinggi pergi mencari para gembala, yang tak tak dipandang berarti di mata dunia, dan kita malah berusaha supaya selalu terlihat dan dikenal. Ia datang ke dunia untuk berbagi kehidupan dan berkat Ilahi, tetapi kita manusia justru malah berlomba melahap dan menimbun segala sesuatu. Yesus lahir untuk melayani, dan kita manusia menghabiskan hari-hari hidup kita semata-mata untuk mengejar kesuksesan. Tuhan tidak datang kepada kita dengan kekuasaan dan keperkasaan, tetapi dengan kesederhaan dan kerendahan hati.
Kesederhaan dan kerendahan hati adalah inti terdalam, hal yang essensial dari Perayaan Natal sepanjang masa, termasuk tahun ini, saat ini. Ketika kita menjadikan kesederhaan dan kerendahan hati sebagai cara berpikir dan cara bertindak dalam hidup kita sehari-hari, di saat itulah kita telah memahami makna misteri inkarnasi Allah yang kita rayakan pada peristiwa Natal. Tuhan memberkati
R.D. Hilario D.N. Nampar.
NIATKU HARI INI
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI