Kumpulan Renungan Harian
di Bulan April 2023
Kumpulan Renungan Harian
di Bulan April 2023
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
HARI MINGGU PALMA
Yes 50:4-7
Mzm 22;8-9, 17-18a, 19-20, 23-24
Flp. 2:2:6-11
Mat 26:14 - 27:66
RENUNGAN HARI INI
Saudara-saudari
Mari, sejenak kita merenungkan Passio atau Kisah Sengsara Yesus, khususnya pada adegan dimana Yesus, yang telah menderita di salib, harus menerima celaan dan hinaan yang datang dari orang-orang Yahudi, para imam kepala dan ahli taurat, bahkan dari penyamun-penyamun yang disalibkan bersama dengan Yesus. Penginjil Matius mengisahkan bagaimana para imam kepada dan ahli taurat bangsa Yahudi menantang Yesus untuk membuktikan ke-Allah-anNya. Mereka berkata: “Orang lain Ia diselamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! ... Baiklah Ia turun dari salib, dan kami akan percaya kepada-Nya! Ia menaruh harapan-Nya pada Allah; biarlah Allah menyelamatkan Dia jika Allah berkenan kepada-Nya! Karena Ia telah berkata, “Aku adalah Anak Allah”.
Di hadapan tantangan dan celaan para imam kepala dan ahli taurat bangsa Yahudi, Yesus tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjawab dan melakukan apa yang diminta. Ia memilih diam dan tetap tinggal menderita di salib, meskipun sesungguhnya Ia sebagai Anak Allah sesungguhnya mampu untuk menyelamatkan diri-Nya sendiri. Bahkan, tidak perlu menunggu hingga disalibkan, Yesus dengan kuasa-Nya sebagai Anak Allah sejak di taman Getsemani. Namun, baik di Getsemani maupun di Golgota, pilihan sikap Yesus tidak pernah berubah. Seperti yang dikatakan Rasul Paulus dalam bacaan kedua tadi, Yesus meskipun menyadari sepenuh-penuhnya hakikat diri-Nya sebagai Allah, Ia tidak menganggap hal itu sebagai milik yang mesti dipertahankan. Sebaliknya, Ia merendahkan diri sebagai seorang Hamba yang bahkan mati di salib sebagai bentuk penyerahan diri-Nya yang bebas dan total kepada Bapa untuk melaksanakan tujuan perutusan-Nya, yakni menyelamatkan dunia dan manusia dari belenggu kejahatan dan kegelapan dosa.
Saudara-saudari
Ketataan Yesus yang penuh dan total kepada kehendak Bapa, sesungguhnya, hendak mengajarkan kepada kita dua hal.
Pertama, kasih yang sejati adalah kasih yang sekali diberikan, diucapkan, dan dijanjikan tidak pernah dapat ditarik kembali bahkan ketika segala sesuatu sedang tidak menguntungkan dan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan dan dibayangkan. Cinta Yesus kepada Bapa-Nya dan kepada kita, sama sekali tidak pernah berubah bahkan makin kuat meski harus berhadapan dan mengalami penderitaan. Ia tidak pernah lari dari penderitaan dan turun dari salib-Nya. Sebaliknya, kita manusia kerapkali penuh perhitungan untung dan rugi untuk dapat mengasihi dan berbuat baik kepada orang. Dengan mentalitas seperti itulah kita menilai sesama. Sesama bernilai atau tidak bagi hidup kita bergantung pada seberapa banyak dan seberapa sering keuntungan yang dapat ia berikan. Demikian pula hidup banyak perkawinan kristiani yang pada akhirnya berakhir dengan perceraian karena pasangan dilihat bernilai atau tidak sejauh ia dapat memberi keuntungan atau tidak bagi hidup kita. Ketika segala sesuatu sudah tidak seindah seperti dahulu dan tidak lagi menguntungkan karena justru lebih banyak derita yang muncul, maka perceraian adalah jalan terbaik yang harus ditempuh.
Kedua, dengan tidak lari dari penderitaan dan turun dari salib-Nya, Yesus ingin mengajarkan kepada kita bahwa seorang anak Allah yang sejati adalah ia yang tetap setia kepada Allah Bapa dan menaruh kepercayaan penuh kepada-Nya selalu, bahkan ketika apa yang dimohonkan dalam doa tidak terkabul dan mukjizat yang diminta tidak terjadi. Dari Getsemani hingga Golgota, Yesus tidak mengeluarkan sepatah kata pun yang mempersalahkan para murid bahkan Allah atas penderitaan hebat yang dialami-Nya. Namun, kita manusia betapa mudahnya mempersalahkan sesama dan bahkan Tuhan atas penderitaan yang kita alami. Tidak hanya mempersalahkan, kita juga, baik disadari atau tidak, bahkan menantang Allah membuktikan eksistensi dan kuasa-Nya. Dengan berseru, "Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Yesus, di satu sisi, ikut merasakan penderitaan dan kesepian mendalam yang dialami manusia akibat ditinggalkan oleh Allah. Namun, di sisi lain, seruan yang sama juga hendak mengatakan kepercayaan dan penyerahan diri Yesus seutuhnya kepada Bapa. Yesus meskipun ditinggalkan dan diabaikan, tetap yakin dan percaya kepada kebaikan Allah. Dalam penderitaan yang begitu hebat, kepercayaan-Nya sama sekali tidak pernah berkurang kepada Bapa sebab Kristus yakin bahwa Bapa-Nya pasti mendengarkan seruan-Nya dan pada waktunya akan bertindak dengan cara yang mengagumkan.
Kita kerapkali hanya ingin yang baik dari Tuhan. Tetapi ketika kesulitan dan penderitaan menimpa kehidupan, hati kita mudah mendua dan berbalik meninggalkan Dia. Sesungguhnya, saat ini Ayub sedang menegur kita yang mudah mendua hati dan berbalik dari Tuhan. Ketika isterinya mempertanyakan sikap Ayub, suaminya, yang masih tetap setia kepada Tuhan di tengah segala penderitaan hebat yang dialaminya, Ayub dengan penuh iman berkata “Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah tetapi tidak mau menerima yang buruk?” (Ayb. 2:10). Saudara-saudari mari kita jujur dengan diri kita masing-masing; apakah kita juga mudah mendua hati dengan Tuhan?; apakah selama ini kita setia, berdoa, dan memuji Tuhan hanya ketika harapan, keinginan, dan bahkan mukjizat yang kita harapkan terjadi? Apakah kita tetap setia beriman kepada Tuhan bahkan ketika segala sesuatu yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan dan diinginkan?
Saudara-saudari
Semoga dua pokok permenungan pada hari Minggu Palma ini, mengarahkan pandangan dan mempersiapkan hati kita pada Trihari Paskah yang merupakan perayaan perjalanan Kristus menuju salib di hari Jumat Agung, menuju dunia orang mati di hari Sabtu Suci, dan menuju Bapa di hari Paskah. Tuhan Memberkati.
R.D. Hilario D.N. Nampar.
NIATKU HARI INI
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
HR KAMIS PUTIH
(Perjamuan Malam Tuhan)
Kel. 12:1-8;
1Kor. 11:23-26;
Yoh. 13:1-15
RENUNGAN HARI INI
Bapa, Ibu. Saudara-saudari yang terkasih
Dengan perayaan Kamis Putih, “Gereja mengawali Trihari Suci Paskah dan memperingati Perjamuan Malam Terakhir” Yesus bersama para Rasul-Nya. Karena kasih-Nya yang begitu besar bagi umat manusia, Kristus, pada malam Ia dikhianati, “mempersembahkan Tubuh dan Darah-Nya dalam rupa roti dan anggur kepada Bapa dan para Rasul sebagai makanan dan minuman dan menugaskan mereka serta para penggantinya dalam imamat, juga mempersembahkannya sebagai kurban” (Congregatio Pro Culto Divino, Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis, no. 44.). Oleh sebab itulah, pada malam ini, kita memperingati kembali saat dimana Yesus untuk pertama kali dan selamanya menetapkan Sakramen Ekaristi dan Sakramen Imamat.
Sakramen Ekaristi dan Sakramen Imamat ibarat mata uang logam dengan dua sisi yang saling berkaitan satu sama lain. Santo Yohanes Maria Vianney, pelindung para imam, pernah berkata “Ketika lonceng gereja berdentang memanggilmu ke gereja dan orang bertanya, “Ke manakah engkau hendak pergi?” Kamu akan menjawab, “Aku pergi untuk memberi makan jiwaku.” Dan apabila orang bertanya kepadamu sambil menunjuk tabernakel, “Tempat apakah pintu emas itu?” “Itulah tempat penyimpanan kami, di mana Santapan sejati bagi jiwa kami disimpan.” “Siapakah yang memiliki kuncinya? Siapakah yang menyimpan makanannya? Siapakah yang mempersiapkan perjamuannya, dan siapakah yang melayani perjamuan?” “Imam.” Dan apakah Santapannya?” “Tubuh dan Darah Kristus yang mulia” Oh, Tuhan! Oh, Tuhan! Betapa Engkau telah mengasihi kami! Lihatlah kuasa yang diberikan kepada imam; dengan perkataan seorang imam, sekeping roti diubah menjadi Tuhan” (Catechism on the Priesthood by Saint John Vianney).
Saudara-saudari yang terkasih
Malam ini selain memperingati saat ketika Yesus menetapkan Sakramen Ekaristi dan Sakramen Imamat, kita juga diajak untuk memperingati dan merenungkan saat dimana Yesus memberitakan perintah baru kepada para Rasul-Nya. Perintah baru itu ialah agar mereka saling mengasihi satu sama lain sama seperti Ia senantiasa mengasihi mereka sampai saat terakhir-Nya.
Penginjil Yohanes mengisahkan kepada kita bahwa di tengah-tengah makan bersama, Yesus bangun “dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya. Kemudian, Ia menuangkan air dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya”. Tuhan amat mengasihi manusia. Ia mengasihi manusia sampai akhir. Dan sebagai tanda yang jelas dan nyata dari kasih-Nya yang besar itu, “Ia mengesampingkan pakaian kemuliaan ilahi-Nya dan mengenakan pakaian seorang budak. Dia berlutut di depan kita dan melakukan bagi kita pekerjaan seorang budak.” Adapun pada saat itu, sesuai dengan kebiasaan, pembasuhan kaki dilakukan karena ketika seseorang tiba di rumah, kaki mereka kotor oleh karena debu di jalan. Dan ketika mereka masuk ke rumah kaki mereka dibasuh bukan oleh Tuan Rumah tetapi oleh seorang hamba. Sungguh tidak dapat terpahami tindakan Tuhan ini. Sesungguhnya, ciptaanlah yang harus berlutut di hadapan Tuhan, Sang Pencipta-Nya. Namun kini justru sebaliknya: “Sang Pencipta berlutut di hadapan ciptaan-Nya!”.
Dengan tindakan pembasuhan kaki, Yesus ingin meninggalkan sebuah sebuah perintah baru, yaitu agar para murid-Nya saling melayani dan mengasihi. Seorang pengikut Yesus yang menyatakan diri bahwa ia mengasihi sesamanya harus selalu siap sedia untuk melayani sebab kasih yang sejati itu adalah kasih yang ‘tidak mencari kepentingan dan keuntungan diri sendiri (lih. 1 Kor 13:5), tetapi kepentingan orang lain dan kebaikan orang lain’.
Memang bukanlah perkara yang gampang untuk merendahkan diri menjadi hamba bagi keselamatan orang lain ini. Mengapa? Karena tindakan seperti ini adalah menuntut kasih dan pengorbanan. Kita harus sadar bahwa protes Petrus juga kerap menjadi protes kita. Seperti Petrus kita, dengan keras, menolak tindakan kasih Yesus ini. Kita tidak mau melakukan merendahkan diri kita sendiri, karena kita tidak memiliki kasih dalam hati dan hidup kita. Seseorang mungkin dapat terlihat bersemangat untuk melayani, namun karena ketiadaan kasih dalam hatinya, ia malah memanfaatkan pelayanannya itu untuk memperoleh pengakuan, pujian, dan kepuasan bahkan tak jarang keuntungan material. Tanpa kasih, tidak akan pernah mudah bagi kita untuk merendahkan diri dan menjadi pelayan bagi kepentingan dan kebaikan sesama. Tanpa kasih, pelayanan kita meskipun terlihat begitu menawan dan luar biasa, tidak akan pernah bertahan lama sebab kita pada akhirnya cenderung menghitung untung dan rugi dari pelayanan kita. Karena itulah, maka Rasul Paulus dengan penuh keyakinan berkata demikian; “sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku.”
Saudara-saudari yang terkasih
Yesus telah mencintai kita begitu besar dengan merendahkan diri-Nya dan menjadi seorang hamba bagi kita. Karena itu, jika Yesus yang kita panggil sebagai Guru dan Tuhan telah melayani kita dengan kasih yang begitu besar, maka kita juga harus berbuat demikian satu sama lain. Kita, para murid-Nya, harus mengikuti jejak Yesus; merendahkan diri seperti seorang hamba agar kita dengan kasih yang sejati dapat melayani, menyelamatkan, dan meneguhkan satu sama lain. Pembasuhan kaki Yesus kepada para murid-Nya memperlihatkan kepada kita bahwa perayaan Trihari Paskah yang kita buka secara meriah pada malam ini adalah perayaan kasih Tuhan bagi umat manusia. Karena itu, mari kita selalu berusaha untuk mendedikasikan hidup kita untuk melayani dalam semangat cinta kasih; untuk tidak lagi mencari keuntungan dan kepentingan diri sendiri, melainkan kebaikan dan keselamatan saudara-saudari kita. Semoga Tuhan memberkati kita sekalian .
R.D. Hilario D.N. Nampar.
NIATKU HARI INI
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
HR JUMAT AGUNG
(Mengenang Wafat Tuhan)
Yes 52:13-53:12
Mzm 31:2.6.12-13.15-16.17.25
Ibr 4:14-16; 5:7-9
Yohanes 18:1-19:42
RENUNGAN HARI INI
Saudara-saudari
Ada banyak hal yang dapat kita renungkan dari Kisah Sengsara atau Passio yang baru kita dengarkan bersama-sama tadi. Kisah Sengsara Tuhan kita Yesus Kristus sesungguhnya adalah sebuah narasi yang mau membawa kita sekalian untuk secara jujur melihat kembali hubungan antara pribadi kita dengan sengsara dan wafat Yesus. Dalam Kisah Sengsara kita mendengar tidak hanya reaksi Yesus atas kesengsaraan yang menimpa-Nya.
Kita juga mendengar bahwa di samping Yesus yang dihukum kendati tidak bersalah, tampilah Yudas yang mengkhianati Yesus demi uang, Petrus yang menyangkal Yesus karena rasa takut yang hebat akan penderitaan, para murid yang lari meninggalkan Yesus, para pemuka agama Yahudi yang dengan tipu muslihat berusaha agar Yesus dihukum mati, orang banyak yang menolak Yesus dengan tidak berperikemanusiaan, Barabas yang dibebaskan walaupun bersalah, Pilatus yang menolak mendengarkan suara hatinya untuk berpihak kepada kebenaran, dan pada akhirnya Maria, Bunda Yesus, murid yang Yesus kasih, dan beberapa perempuan lain yang dari dekat ikut menyertai jalan salib Yesus hingga wafat-Nya di puncak Golgota.
Saudara-saudari
Baiklah sejenak kita merenungkan salah satu sosok dalam Kisah Sengsara Yesus yang darinya kita dapat terbantu untuk melihat kembali secara lebih mendalam kadar hubungan pribadi kita dengan Kristus, Tuhan kita. Sosok itu ialah Pilatus.
Dalam Kisah Sengsara, Pilatus nampak tidak tenang. Selama pengadilan Yesus, ia berjalan keluar masuk bolak balik. Di satu sisi, Pilatus tahu bahwa Yesus sama sekali tidak bersalah. Namun, di sisi lain, ia harus berhadapan dengan bangsa Yahudi yang bersama para pemimpinnya tidak pernah berhenti berteriak meminta agar Yesus di salibkan. Di satu sisi, Pilatus tahu bahwa Yesus sama sekali tidak memperlihatkan ciri-ciri seorang pemberontak seperti Barabas. Namun, di sisi lain, Pilatus sadar bahwa kalau ia tidak mengabulkan keinginan orang Yahudi, maka akan terjadi pemberontakan yang lebih besar sehingga karirnya sebagai seorang Gubernur Romawi akan hancur dan sampai akhir hayatnya ia akan menderita karena dianggap gagal untuk menunjukkan kesetiaannya kepada pemimpin tertingginya, Kaisar Roma.
Selama pengadilan Yesus, Pilatus sungguh gelisah. Yesus tahu akan hal itu. Karena itu, meski sedang menderita, Yesus menantang Pilatus untuk berpihak kepada kebenaran. Bagi kita, para pengikut Yesus, kebenaran bukanlah sebuah konsep, tetapi seorang pribadi, yakni Yesus, Sang Jalan, Kebenaran, dan Hidup. Tetapi, atas tantangan Yesus itu, Pilatus justru menjawab dengan sinis, “Apakah kebenaran itu?”Pilatus bukan tidak percaya tentang adanya kebenaran, tetapi ia memiliki versinya sendiri tentang apakah itu kebenaran. Pilatus menolak agar suara hatinya diterangi oleh Yesus, Sang Kebenaran, karena takut kehilangan jabatan yang selama ini telah memberikan kemapanan, kenyamanan, kekayaan, dan hormat.
Saudara-saudari
Pilatus adalah gambaran dari setiap manusia yang tatkala berdiri di hadapan Kebenaran, harus memilih dan mengambil keputusan. Berpihak kepada hal yang benar sekalipun itu tidak mudah dan menyakitkan atau memilih kepalsuan yang sekalipun terlihat enak dan menggiurkan, namun tidak pernah dapat memberikan kebahagiaan sejati. Kegelisahan Pilatus adalah kegelisahan kita ketika harus memilih antara yang baik dan yang buruk; membiarkan hati nurani kita dituntun oleh Kristus atau membiarkan hati nurani kita tunduk dan diperbudak oleh hawa nafsu.
Kematian Yesus di atas kayu salib adalah pengadilan atas dunia dan pengadilan atas kita semua, para pengikut-Nya. Seperti Pilatus, bukan Kristuslah yang sebenarnya sedang diadili, tetapi kitalah yang sedang diadili berdasarkan pilihan dan keputusan-keputusan yang kita ambil dalam hidup selama ini. Dan atas dasar pilihan dan keputusan yang kita ambil selama hidup inilah, Allah akan mengadili kita kelak setelah kematian.
Kita memang sudah selayaknya mendapatkan hukuman atas dosa-dosa kita. Namun, Allah tidak mau membatasi diri-Nya semata pada keadilan. Jika Allah membatasi diri-Nya hanya kepada keadilan, Ia akan berhenti menjadi Allah. Karena itu, Santo Agustinus berkata: "Lebih mudah bagi Allah untuk menahan amarah daripada kerahiman sehingga murka Allah berlangsung hanya sekejap mata, tetapi kerahiman-Nya selama-lamanya".
Semoga, dengan merenungkan kembali sengsara dan wafat Tuhan pada hari ini kita diingatkan kembali bahwa Yesus “memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran.” (1Ptr. 2:24) Semoga kita semakin menyadari dengan sungguh bahwa hanya dengan mendengarkan dan mengikuti Yesus Kristus, Sang Kebenaran yang sejati, hidup kita selalu diarahkan kepada semua yang baik, suci, dan mulia; bahwa hanya dengan mendengar dan mengikuti suara kebenaran, yakni Yesus Kristulah, kita dapat membedakan antara yang benar dan yang salah, antara kepalsuan dan kebenaran. . Semoga Tuhan memberkati kita sekalian .
R.D. Hilario D.N. Nampar.
MALAM PASKAH
(Vigili Paskah)
Kej 1:1 - 2:2
Kel 14:15-15:1
Yeh 36:16-17a. 18-28
Rm. 6:3-11
Mat 28:1-10
RENUNGAN HARI INI
“Jangan Takut”, demikianlah kata-kata Malaikat kepada para perempuan di depan makam Yesus yang sudah kosong. Kata-kata yang sama juga disampaikan Yesus sendiri tatkala Ia menjumpai Maria Magdalena dan Maria yang lain di tengah jalan. Jangan takut. Jangan menyerah pada rasa takut. Inilah pesan pengharapan ditujukan kepada kita, hari ini.
Sekali lagi, pada malam ini kita diingatkan kembali akan hak fundamental yang tidak pernah dapat diambil dari kita. Hak fundamental itu ialah hak untuk berharap. Berharap bukanlah sekadar sebuah perasaan optimis. Bukan pula kata-kata untuk sekedar menyemangati. Bagaimanapun juga, seiring dengan berjalannya waktu dan masalah silih berganti menerpa hidup kita, kata-kata nasihat yang biasa kita gunakan untuk menyemangati dan memberikan harapan pun dapat sirna.
Harapan yang diberikan oleh Yesus Kristus yang bangkit tentu saja berbeda dari kata-kata motivasi atau nasihat yang biasa keluar dari mulut manusia. Harapan yang Yesus berikan sesungguhnya adalah sebuah hadiah dari surga, rahmat yang diberikan dari oleh Allah dimana Ia menanamkan di dalam hati kita keyakinan bahwa Allah mampu menjadikan segala sesuatu akan berjalan dengan baik, karena bahkan dari kubur sekalipun Ia tidak henti-hentinya memberi kehidupan.
Kuburan adalah tempat dimana sekali orang masuk di dalamnya, ia tidak akan pernah dapat keluar lagi. Tetapi Yesus, Dia bangkit untuk kita, untuk memberi kehidupan dimana ada kematian. Dia yang menggulingkan batu penutup pintu masuk kubur, juga dapat menyingkirkan batu-batu yang ada di dalam hati kita. Karena itu, janganlah kita mudah menyerah dan pasrah pada keadaan; janganlah kita menempatkan batu yang menghalangi kita untuk dapat berharap. Kita dapat dan harus berharap, karena Tuhan itu setia. Dia tidak meninggalkan kita. Dia mengunjungi kita. Ia masuk ke dalam situasi hidup kita dan turut merasakan kesakitan, kesedihan, dan kematian kita. Cahaya-Nya menghilangkan kegelapan makam dan hari ini Dia ingin agar cahaya kebangkitan-Nya itu juga menembus bahkan ke sudut tergelap hidup kita.
“Jangan Takut” adalah kata-kata Tuhan yang ditujukan bagi kita supaya kita tidak mudah menyerah dan mengubur harapan. “Jangan Takut” adalah kata-kata yang Tuhan katakan kepada kita supaya kita tahu dan yakin bahwa kasih Tuhan lebih kuat dari kematian. Allah bukan Allah orang mati, tetapi Allah orang-orang hidup. Sebab itu, penderitaan, masalah, bahkan kematian bukanlah kata terakhir dan definitif dari kehidupan ini.
Oleh sebab itu, saudara-saudari, agar kekuatan harapan yang diberikan oleh Yesus yang Bangkit tidak padam, maka Ia memberikan pesan penting yang ditujukan tidak hanya kepada para murid-Nya, tetapi juga kepada kita semua. Kepada para perempuan, Yesus berpesan demikian: “Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudaraku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku”.
Galilea adalah tempat dimana para murid dipanggil untuk pertama kalinya, tempat dimana segala sesuatu diawali. Dengan meminta para murid-Nya ke Galilea, Yesus ingin mengajak mereka yang telah dipilih untuk mengikuti-Nya itu, membuka lembaran baru dalam perjalan hidup iman mereka. Mereka harus kembali lagi ke awal perjalanan mereka dalam mengikuti Yesus. Saat dipanggil untuk pertama kalinya, mereka belum mengerti apa tentang Dia. Sekarang mereka akan melihat-Nya secara baru. Yesus ingin mengajak mereka untuk melihat segala sesuatu yang telah terjadi berdasarkan pada salib dan kemenangannya sehingga mereka tidak takut lagi mengikuti Dia yang disalibkan itu. Dia telah mengalahkan kematian.
Seperti kepada para murid, Yesus mengajak kita tanpa henti, setiap hari “kembali ke Galilea”. Namun, kita tidak harus kembali ke Galilea duniawi untuk berjumpa dengan Dia. Dia ada sangat dekat dengan kita. Dia sudah tidak ada lagi di kubur, Ia telah mengalahkan kuasa maut, bangkit, dan dengan berbagai cara Dia ada dan hadir di tengah-tengah kita. Dia ada dan hadir di tengah-tengah kita dalam keheningan dan doa, dalam sabda dan Ekaristi. Kembali ke Galilea berarti selalu mengingat kembali pengalaman-pengalaman hidup kita dimana kasih Tuhan itu nyatanya begitu kuat dan berlimpah daripada persoalan dan tantangan kehidupan yang kita hadapi. Masing-masing dari kita memiliki Galileanya sendiri. Kita mesti secara terus menerus mengingat dan kembali ke Galilea kehidupan kita, terutama di saat krisis dan pencobaan, sehingga kita tidak kita mudah menyerah dan pasrah pada keadaan berkat harapan yang dianugerahkan oleh Kristus yang bangkit kepada kita. Semoga Tuhan memberkati kita sekalian .
R.D. Hilario D.N. Nampar.
HARI RAYA PASKAH
RENUNGAN HARI INI
Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus
Warta Injil yang kita dengarkan pada hari ini kembali mengisahkan kepada kita perihal kebangkitan Yesus. Namun, berbeda dari Injil yang semalam kita dengarkan, Ia yang bangkit tidak hadir dalam Injil yang telah kita dengarkan. Kita dihadapkan pada tanda-tanda yang terdapat di dalam kubur Yesus dan reaksi Maria Magdalena, Simon Petrus dan murid yang dikasihi Yesus.
Tanda-tanda yang kita temukan dalam kubur Yesus itu ialah baik kain kafan maupun kain peluh berada dalam keadaan terlipat. Semuanya sangat rapi seperti orang bangun dari tidur. Tak ada tanda-tanda adanya suatu perampokan atau perbuatan tergesa-gesa. Semuanya sangat rapi. Tanda-tanda yang terdapat dalam kubur Yesus itu mengajak kita merenung dan bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi di balik semuanya itu yakni apakah itu karya manusia atau karya Allah?
Dari reaksi murid yang dikasihi Tuhan, kita diberitahu bahwa tanda-tanda itu jelas bukan karya manusia. Jelas tidak ada perampokan di sana seperti yang diduga oleh Maria Magdalena. Murid yang dikasihi itu melihat tanda-tanda di dalam kubur Yesus, lalu percaya. Tanda-tanda itu hendak mengatakan bahwa mayat Yesus tidak dicuri orang dan bahwa Yesus tidak berada lagi dalam keadaan orang mati sebab keadaan-Nya berbeda dengan Lazarus ketika dibangkitkan. Lazarus ketika dibangkitkan oleh Yesus “kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kafan dan mukanya tertutup kain peluh” (11:44) Sedangkan Yesus tidak. baik kain kafan maupun kain peluh berada dalam keadaan terlipat. Semuanya sangat rapi seperti orang bangun dari tidur.
Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus
Injil pada hari Raya Paskah pagi ini, hendak mengingatkan kepada kita semua tentang awal iman akan kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus. Iman akan kebangkitan Yesus sama sekali tidak didasarkan pada adanya penemuan kubur kosong atau bahwa mayat Yesus tidak ditemukan dalam kubur. Iman ini berawal dari melihat tanda-tanda yang terdapat dalam kubur. Dan, jelas dari tanda-tanda yang ada di dalam kubur Yesus, itu semua adalah karya Allah.
Allah hadir melalui tanda-tanda. Dia berkarya dan meninggalkan bekas karya-Nya. Yesus telah bangkit, tetapi kita tidak bisa melihat Dia. Yang bisa kita lihat ialah tanda-tanda kebangkitan-Nya. Hal yang sama juga kita alami hingga saat ini. Yesus yang bangkit tidak bisa kita lihat kehadiran-Nya di tengah-tengah kita. Namun, kita bisa merasakan dan melihat tanda-tanda kehadiran-Nya, kuasa-Nya, kekuatan-Nya dalam dalam keheningan dan doa, dalam sabda dan Ekaristi dan pelbagai Sakramen Gereja yang kita terima. Kita juga dapat merasakan dan melihat kuasa-Nya dalam hidup kita, apabila kita para murid-Nya sehati sejiwa saling mengasihi, melayani, saling solider satu sama lain, seperti yang dilakukan oleh jemaat perdana di Yerusalem.
Mereka tidak melihat Yesus dengan mata kepala mereka sendiri. Mereka juga tidak melihat luka-luka Yesus seperti yang dialami oleh Tomas yang awalnya ragu akan kebangkitan Yesus. Mereka hanya mendengarkan dan percaya terhadap pewartaan para rasul, bertekun dalam doa, dan menjalankan perintah kasih yang telah diwariskan Yesus dengan sehati-sejiwa, saling mengasihi, saling melayani, saling berbagi, saling solider satu sama lain. Tidak ada dari mereka yang menganggap bahwa apa yang mereka miliki adalah milik sendiri.
Mereka berbagi. Tidak ada dari mereka yang menganggap bahwa kesusahan dan penderitaan sesamanya, bukanlah urusan mereka. Mereka saling mengasihi dan melayani. Tidak ada seseorang pun yang berkekurangan. Tidak ada seorang pun yang hidup tanpa perhatian dan kasih sayang. Tidak ada seorang pun yang saling bermusuhan dan saling memupuk dendam satu sama lain. Sungguh sekalipun tidak melihat Yesus dengan mata kepala mereka, namun kuasa dan kekuatan-Nya mereka lihat dan alami.
Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus
Pengakuan iman kita akan kebangkitan Yesus bahwa Yesus telah bangkit, hidup dan berada di antar kita apabila kita bersama baik dalam keluarga maupun dalam jemaat, dan masyarakat dimulai tatkala kita satu sama lain saling mengasihi, saling peduli, saling melayani, saling berbagi satu dengan yang lain. Kita tidak perlu menunggu hal yang besar untuk dapat merubah situasi masyarakat kita yang sangat ini makin kehilangan belaskasih dan kepedulian satu sama lain. Kita dapat memulainya dari rumah kita, dari kehidupan lingkungan dan stasi kita dengan perbuatan kasih yang sederhana, saling melayani, saling peduli, dan saling berbagi satu sama lain. Ubi caritas, Deus ibi Est; Dimana ada cinta kasih, disitu Allah hadir.
RD. Hilario D. N. Nampar, Pr
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Minggu Paskah II
16 April 2023
Kis. 2:42-47
1Ptr. 1:3-9
Yoh. 20:19-31
RENUNGAN HARI INI
Ibu, Bapa. Saudara-saudari yang terkasih,
Pada 30 April 2000, Santo Yohanes Paulus II, menetapkan secara resmi Minggu Paskah II sebagai Minggu Kerahiman Ilahi oleh segenap Gereja semesta. Hari Minggu Paskah II ini didedikasikan bagi Kerahiman Ilahi. Keputusan Paus ini didasarkan pada kata-kata yang disampikan Yesus ketika menampakkan dri-Nya kepada Santa Faustina Kowalska. Kepada Santa Faustina, Yesus meminta agar Kerahiman Ilahi ditetapkan oleh Gereja sebagai sebuah Pesta.
Kepada sang santa, Yesus berpesan, “Pesta ini muncul dari lubuk kerahiman-Ku yang terdalam, dan diperteguh oleh kedalaman belas kasih-Ku yang paling lemah lembut (420)…. Adalah kehendak-Ku agar pesta ini dirayakan dengan khidmad pada hari Minggu pertama sesudah Paskah.… Aku menghendaki Pesta Kerahiman Ilahi menjadi tempat perlindungan dan tempat bernaung bagi segenap jiwa-jiwa, teristimewa para pendosa yang malang. Pada hari itu, lubuk belas kasih-Ku yang paling lemah-lembut akan terbuka. Aku akan mencurahkan suatu samudera rahmat atas jiwa-jiwa yang menghampiri sumber kerahiman-Ku (699)”.
Saudara-saudari yang terkasih,
Di dalam Kitab Suci, kerahiman merupakan kata yang paling sering digunakan untuk menggambarkan sifat Allah terhadap manusia, ciptaan-Nya. Kerahiman Allah adalah sifat kasih Allah yang serupa dengan sifat rahim seorang ibu. Dengan kerahiman-Nya, Allah melindungi, menghidupi, menghangatkan, memberi pertumbuhan, menjaga, menerima tanpa syarat, membawa kemana-mana. Seperti janin tidak dapat hidup dan berkembang tanpa rahim ibu, demikian pula manusia tidak akan dapat hidup tanpa kasih kerahiman dari Allah.
Luka-luka bekas penyaliban yang dalam Injil hari ini Yesus tunjukkan kepada Tomas dan para Rasul sesungguhnya adalah bukti nyata dari kerahiman Allah bagi kita manusia. Santo Petrus, mengatakan bahwa oleh karena luka-luka-Nya yang kudus, kita telah disembuhkan. Luka-luka Yesus sesungguhnya tanda kehadiran kerahiman Allah yang daripadanya kita memperoleh pengharapan bahwa dalam situasi apapun yang kita alami dalam hidup kita, Allah tidak pernah sedikitpun meninggalkan kita. Dalam situasi apapun, Allah tidak pernah berhenti untuk mencintai kita.
Dengan merenungkan dan merayakan Pesta Kerahiman Ilahi ini pada Minggu Paskah II, kita sekalian diajak untuk tidak henti-hentinya, memohon belas kasih Tuhan bagi kita dan mempercayakan diri sepenuhnya kepada-Nya, seperti moto kerahiman ilahi yang tertulis dalam setiap gambar kerahiman ilahi. Disitu tertulis, “Yesus aku berharap pada-Mu”. Dengan mohon belas kasih-Nya, Tuhan menghendaki kita datang kepada-Nya dalam doa secara terus-menerus, menyesali dosa-dosa kita dan mohon kepada-Nya untuk mencurahkan belas kasih-Nya atas kita dan atas dunia. Sementara itu, dengan senantiasa mempercayakan diri sepenuhnya kepada-Nya,Tuhan ingin kita tahu bahwa rahmat-rahmat belas kasih-Nya tergantung pada besarnya kepercayaan kita. Semakin kita percaya kepada-Nya, semakin berlimpah rahmat yang kita terima. Dengan demikian, meskipun batin kita gelisah, bergejolak, dan tertekan karena dosa, kemalangan dan penderitaan yang senantiasa mewarnai sejarah dunia dan sejarah hidup kita masing-masing, kita tidak akan pernah kehilangan harapan dan arah dalam hidup.
Saudara-saudari yang terkasih,
Dengan merenungkan dan merayakan Pesta Kerahiman Ilahi pada hari Minggu Paskah II ini, kita juga diajak Berbelas Kasih kepada Sesama. Agar kerahiman Allah dapat semakin dikenal dan dirasakan secara lebih luas, maka Gereja mengajarkan kepada kita dua bentuk kerahiman yang mestinya kita hayati dan lakukan, yakni karya-karya belas kasih ragawi dan karya-karya belas kasih rohani. Karya-karya belas kasih ragawi itu ialah memberi makan yang lapar, memberi minum yang haus, memberi pakaian yang telanjang, menerima orang asing, menyembuhkan yang sakit, mengunjungi yang dipenjara, dan mengubur yang meninggal. Sementara karya-karya belas kasih rohani adalah memberi nasihat kepada yang ragu-ragu, mengajar yang tidak tahu, menasihati para pendosa, menghibur yang sedih, mengampuni yang bersalah, menanggung dengan sabar mereka yang menyusahkan kita, dan berdoa bagi orang yang hidup dan yang meninggal.
Memohon belas kasih Allah, percaya penuh kepada Allah, dan berbelas kasih kepada sesama adalah tiga bentuk penghayatan kristiani terhadap keagungan kerahiman ilahi yang nampak dalam luka-luka penyaliban Tuhan kita Yesus Kristus. Tiga bentuk penghayatan itu, sesungguhnya, telah dihidupi sejak awal hidup Gereja, yakni dalam cara hidup jemaat perdana yang kita dengarkan dalam bacaan pertama. Mereka tidak egois dan acuh tak acuh, tetapi peduli dan rela berbagi dengan sesama yang sedang berkekurangan. Mereka tidak mengandalkan diri sendiri, tetapi belas kasih Tuhan dengan rajin berdoa dan merayakan Ekaristi bersama.
Dalam penampakan-penampakan-Nya kepada St Faustina, Tuhan kita menunjukkan dengan jelas apa yang Ia tawarkan kepada kita dalam Komuni Kudus dan betapa amat melukai hati-Nya apabila kita acuh tak acuh terhadap kehadiran-Nya. Kepada Santa Faustina, Yesus berkata, “Sukacita-Ku yang besar adalah mempersatukan DiriKu dengan jiwa-jiwa. Apabila Aku datang ke dalam hati manusia dalam Komuni Kudus, tangan-tangan-Ku penuh dengan segala macam rahmat yang ingin Aku limpahkan atas jiwa. Namun, jiwa-jiwa bahkan tak mengindahkan Aku; mereka mengacuhkan DiriKu dan menyibukkan diri dengan hal-hal lain. Oh, betapa sedih Aku sebab jiwa-jiwa tak mengenali Kasih! Mereka memperlakukan-Ku bagaikan suatu benda mati (1385)….”.
Saudara dan saudari, mari kita tak henti-hentinya menghayati kerahiman ilahi dalam hidup kita dengan senantiasa memohon belas kasih Allah, percaya penuh kepada Allah, dan berbelas kasih kepada sesama. Tuhan Memberkati Semoga Tuhan memberkati kita sekalian .
R.D. Hilario D.N. Nampar.
NIATKU HARI INI
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Minggu Paskah III
23 April 2023
Kis. 2:14.22-33
1Ptr. 1:17-21
Luk. 24:13-35
RENUNGAN HARI INI
Ibu, Bapa. Saudara-saudari yang terkasih,
Injil yang baru saja kita dengarkan kembali mengisahkan kepada kita perihal penampakan Yesus kepada para murid-Nya. Bila dalam bacaan Injil minggu lalu, Yesus yang bangkit menampakkan diri kepada Tomas yang meragukan kebenaran kebangkitan-Nya, maka dalam Injil hari ini Ia hadir di tengah dua orang murid-Nya yang karena peristiwa salib hidup mereka kemudian berubah menjadi murung, bingung, dan penuh kekecewaan sehingga mereka kesulitan untuk percaya pada berita yang mengatakan bahwa Yesus sudah bangkit.
Saudara-saudari yang terkasih,
Injil hari ini diawali dengan mengisahkan dua orang murid Yesus yang berjalan dari Yerusalem ke Emaus. Dalam perjalanan sejauh 11 kilometer itu, kedua murid itu saling bercakap-cakap. Isi pembicaraan mereka sepenuhnya adalah tentang penyaliban dan kematian Yesus. Sementara berdiskusi tentang peristiwa salib yang memalukan dan menyedihkan itu, tiba-tiba Yesus hadir di tengah mereka berdua. Akan tetapi, karena kesedihan yang terlalu mendalam, kedua murid ini tidak dapat mengenali Tuhan yang hadir dan berjalan bersama mereka.
Kesedihan yang begitu mendalam dari kedua murid itu disebabkan karena kematian Yesus, guru yang mereka kagumi. Bagi mereka, Yesus dari Nazaret sungguh adalah seorang nabi yang berkuasa baik dalam perkataan maupun perbuatannya dan karena itu mereka yakin bahwa Ialah yang dinantikan Israel untuk memberikan pembebasan dari belenggu penjajahan bangsa Roma. Akan tetapi, harapan mereka bertepuk sebelah tangan. Yesus justru mati secara mengenaskan layaknya seorang penjahat besar. Ia diserahkan oleh para pemimpin agama Yahudi ke tangan penjajah Roma untuk disalibkan. Peristiwa itu sungguh-sungguh memalukan, mengecewakan, dan menyedihkan bagi mereka. Segala harapan punah. Tanah tempat mereka berpijak sepertinya sudah tidak ada lagi. Mereka bahkan bingung dan sulit percaya dengan berita dari para perempuan yang mengatakan bahwa Yesus sudah bangkit.
Mendengar cerita kedua murid itu dan persoalan mereka, Yesus lalu menegur mereka dengan keras dan menyebut mereka sebagai orang bodoh dan lamban untuk mengerti nubuat para nabi tentang Mesias yang mesti menderita agar dapat masuk dalam kemuliaan-Nya. Yesus pun lalu menjelaskan isi Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi yang berbicara tentang Dirinya. Kedua murid itu, pada akhirnya, mengenali bahwa orang asing yang berjalan bersama dengan mereka adalah Yesus ketika Yesus melakukan tindakan yang mengingatkan mereka akan peristiwa perjamuan terakhir Yesus, yaitu ketika Ia “mengambil roti, memberkati, lalu memecah-mecahkanya dan memberikannya kepada mereka”. Peristiwa tersebut sungguh mengubah hidup mereka. Mereka akhirnya mengetahui alasan dari berkobar-kobarnya hati mereka ketika Yesus berbicara dengan mereka di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan isi Kitab Suci kepada mereka.
Saudara-saudari yang terkasih,
Pengalaman dua murid Emaus tadi, sadar atau tidak, sesungguhnya adalah pengalaman kita semua. Kerapkali kita membiarkan diri kita dilumpuhkan oleh kekecewaan hidup dan terus bersedih; kita lebih mengutamakan diri sendiri dan masalah kita daripada Yesus yang hadir di tengah-tengah dan mengunjungi kita. Penderitaan dan kekecewaan membuat hidup kita hanya berputar dan berpusat pada diri kita sendiri, persoalan yang kita alami, kekecewaan lantaran harapan tidak terpenuhi, dan begitu banyak hal buruk yang pernah terjadi dalam hidup kita.
Dengan situasi seperti itu, persoalan dan rentetan kekecewaan ibarat penjara yang membelenggu kehidupan kita; kita lebih suka mengeluh dan karenanya enggan untuk berharap dan berjuang. Kita dengan mudahnya menganggap bahwa realita yang lebih besar dan penting dalam hidup adalah diri kita sendiri dengan segala persoalan dan kesulitan yang kita alami, bukan Tuhan yang senantiasa hadir, mengunjungi, dan mencintai kita dan sesama yang berada dekat bersama dengan kita. Disadari atau tidak, situasi seperti itu kerap terjadi dalam hidup kita, orang beriman. Yang dapat membutakan mata hati kita terhadap kehadiran dan cinta Tuhan serta kehadiran sesama sesungguhnya bukan hanya uang, harta, dan jabatan, tetapi juga kekecewaaan yang berlarut-larut dan serta mengeluh tiada henti-hentinya.
Hari ini, saudara dan saudari, Tuhan Yesus juga menegur kita agar ketika ada persoalan atau kesulitan jangan mudah untuk berkutat dan sibuk dengan diri sendiri, tetapi membuka hati kepada-Nya, mengundang Dia untuk datang, dan mempercayakan kepada-Nya segala beban, kesulitan, dan kekecewaan hidup kita. Kristus hanya sejauh doa. Dan, dari Injil hari ini, Ia memberitahu kita bahwa Ia selalu hadir dan menemani hidup kita dalam Sakramen Ekaristi Mahakudus. Seperti kedua murid dalam bacaan Injil, kita diajak untuk tidak henti-hentinya memohon “Tinggallah bersama-sama dengan kami”, ya Tuhan sebab tanpa-Mu, kami tidak akan pernah menemukan jalan keluar yang membahagiakan dan harapan akan masa depan yang lebih baik dan lebih cerah. “Tinggallah bersama-sama dengan kami”, ya Tuhan, sebab tanpa-Mu, yang ada hanyalah kegelapan malam yang menakutkan. Amin. Semoga Tuhan memberkati kita sekalian .
R.D. Hilario D.N. Nampar.
NIATKU HARI INI
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Minggu Paskah IV - Minggu Panggilan
30 April 2023
Kis. 2:14a.36-41
1Ptr. 2:20b-25
Yoh. 10:1-10 K
RENUNGAN HARI INI
Ibu, Bapa. Saudara-saudari yang terkasih,
Hari Minggu Paskah IV ini sering juga disebut sebagai hari Minggu “Gembala Baik”. Di dalam Injil hari ini, Yesus menampilkan dirinya dengan dua gambaran yang saling melengkapi. Gambar yang pertama adalah gambaran seorang gembala dan gambar kedua adalah pintu kandang domba. Kawanan domba, yaitu kita semua, memiliki kandang domba yang berfungsi sebagai tempat berlindung, tempat tinggal dan beristirahat setelah kesulitan perjalanan.
Dan kandang domba sebuah pintu, dimana ada seorang penjaga pintu. Berbagai orang datang mendekati kawanan: ada yang memasuki kandang melalui pintu gerbang dan ada yang "masuk tanpa melalui pintu" (ay.1). Yang pertama, yang memasuki kandang domba dengan melalui pintu gerbang adalah seorang gembala. Yang kedua adalah seorang pencuri dan perampok. Mereka adalah orang-orang asing yang ingin masuk ke dalam kandang untuk memanfaatkan kawanan domba bagi kepentingan dan keuntungan mereka sendiri.
Yesus menyatakan diri-Nya dengan yang sosok pertama, yaitu seorang gembala. Sebagai seorang gembala yang baik, Ia memiliki hubungan yang akrab dengan kawanan domba-Nya, yakni kita semua. Tuhan memanggil kita dengan nama karena Ia mengenal dan mengasihi kita. Karena itu, ketika Ia memanggil, kita dengan mudah mengenali dan mengikuti-Nya sebab kita tahu Dia akan menuntun kita ke padang rumput yang memberikan kesegaran dan kehidupan yang berlimpah-limpah.
Saudara-saudari yang terkasih,
Gambaran kedua yang Yesus tampilkan sebagai gambaran diri-Nya sendiri adalah "pintu bagi domba-domba" (ayat 7). Ia sendiri berkata: "Akulah pintu; siapa saja yang masuk melalui Aku, ia akan diselamatkan. Ia akan masuk dan keluar, serta akan menemukan padang rumput" (ayat 9) yaing adalah hidup dalam kelimpahan (lih. ayat 10). Kristus, Sang Gembala yang Baik, adalah pintu keselamatan umat manusia, karena Ia mempersembahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya.
Yesus, gembala yang baik dan pintu bagi domba-domba, adalah seorang pemimpin yang otoritasnya dinyatakan dalam pelayanan, seorang pemimpin yang memerintah dengan memberikan hidupnya sendiri, bukan meminta orang lain untuk melakukannya. Dia adalah seorang pemimpin yang terpercaya sebab hanya dengan mendengarkan suara-Nya, kawawan domba tahu bahwa bersama-Nya mereka akan pergi ke padang rumput yang indah dengan rumput yang segar dan berlimpah-lompah. Cukup satu panggilan saja, maka kawanan domba akan mengikuti, mematuhi, berangkat sebab suara sang Gembala, yakni Yesus, adalah tanda dan bukti yang nyata dari kehadiran-Nya yang meneguhkan, mengarahkan, melindungi, menghibur dan menyembuhkan.
Akan tetapi, ada pula suara lain yang berbahaya yakni orang asing, pencuri dan perampok yang ingin menyakiti domba. Suara si jahat yang menggoda, menyerang, memaksa. Suara si jahat itu membangkitkan ilusi yang mempesona dan menggoda tetapi hanya memberikan kebahagiaan sesaat. Awalnya suara itu menyanjung kita, membuat kita percaya bahwa kita mahakuasa, tetapi kemudian membuat hidup kita menjadi kosong dan tanpa arti. Sebaliknya, suara Tuhan mengoreksi kita, dengan kesabaran yang besar, tetapi selalu menyemangati kita, menghibur dan selalu memelihara harapan. Suara Tuhan adalah suara yang memiliki masa depan, sebaliknya suara si jahat jahat membawa kita ke tembok dimana kita kehilangan harapan dan rasa optimis akan masa depan yang lebih baik.
Suara si jahat mengalihkan perhatian kita sehingga kita fokus hanya pada ketakutan akan masa depan atau pada kesedihan masa lalu sebab si jahat tidak ingin agar kita hidup dengan penuh keyakinan saat ini maupun di masa depan. Suara si jahat selalu membawa kita kembali kepada kepahitan, ingatan akan kesalahan yang kita miliki, mereka yang telah menyakiti kita dan begitu banyak kenangan buruk. Sebaliknya suara Tuhan memberi harapan bahwa kini dan di masa yang akan datang, selalu ada kesempatan untuk hidup dalam kelimpahan bersama-Nya.
Saudara-saudari yang terkasih,
Dengan merenungkan Injil hari ini dimana kita merenungkan gambaran Yesus sebagai Gembala yang Baik dan Pintu menuju keselamatan, kita semua diajak untuk tidak henti-hentinya mengarahkan pendengaran dan hati nurani kepada suara Tuhan dan menolak suara si jahat. Suara si jahat selalu menuntun kita untuk lebih memperhatikan ego, dorongan dan kebutuhan diri sendiri. Suara Tuhan, di sisi lain, tidak pernah menjanjikan kegembiraan dengan harga murah dan waktu yang cepat. Suara Tuhan selalu mengundang kita untuk melampaui diri kita sendiri demi menemukan kebaikan, kebahagiaan dan kedamaian yang sejati, dan kedamaian.
Selain itu, kita sekalian juga diajak untuk juga seperti Kristus, menjadi gembala-gembala yang baik bagi sesama dan pintu yang dapat membawa mereka masuk dan mengalami perjumpaan dengan Tuhan yang menyelamatkan. Sebagai gembala, kita diajak untuk lebih suka melayani ketimbang dilayani dan selalu siap untuk berkorban, ketimbang meminta orang lain berkorban bagi kepentingan diri kita sendiri. Semoga hidup kita, baik perkataan maupun perbuatan, menjadi pintu yang dengannya sesama dapat mengalami kebahagiaan sejati karena berjumpa dengan Tuhan dan bukannya tembok yang memisahkan mereka dengan Tuhan, satu-satunya harapan, hidup, dan kebahagiaan sejati. Amin. Semoga Tuhan memberkati kita sekalian .
R.D. Hilario D.N. Nampar.
NIATKU HARI INI
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .