Kumpulan Renungan Harian
di Bulan Agustus 2021
Kumpulan Renungan Harian
di Bulan Agustus 2021
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Kalender Liturgi Senin, 02 Agustus 2021
Hari Biasa Pekan XVIII
[Warna Liturgi : Hijau]
Bacaan Liturgi:
Bil. 11:4b-15
Mat 14:13-21
RENUNGAN HARI INI
Berbagi adalah suatu bentuk kasih yang sangat mulia, bahkan ketulusan berbagi menjadi ciri khas seorang murid Yesus. Pada hari ini kita diingatkan dan diajak untuk kembali menyadari diri sebagai murid Yesus. Pengalaman Yesus bersama para murid yang memberi makan roti kepada orang banyak itulah yang dapat menyadarkan kita. Para murid meminta Yesus untuk menyuruh pulang orang banyak itu, tetapi justru Yesus meminta mereka untuk memberi makan. Hal yang perlu kita semua sadari bahwa dalam kehidupan kita sehari-hari juga tidak jarang kita mengalami situasi yang sama. Sering kita dihadapkan pada pilihan untuk menolong orang yang kesusahan sementara kita tidak memiliki banyak barang atau sesuatu untuk melakukan pertolongan. Tetapi satu hal yang dapat kita lakukan adalah mengusahakan apa yang ada untuk menolong orang yang saat itu sangat membutuhkan dari pada kita. Hal lain yang dapat kita sadari juga adalah melihat teladan yang dikerjakan oleh Yesus. Kita mesti yakin bahwa Yesus akan membantu dan menyempurnakan usaha kita menolong orang lain. Bahkan dalam keadaan tertentu kita dapat memberi dari kekurangan. Artinya kita memberi apa yang dibutuhkan orang lain walaupun itu semua dari milik kita. Yesus, Sang Pemberi hidup akan selalu mengajak kita untuk berbuat kasih. Maka kasih yang kita bagikan adalah suatu bentuk pemberian diri kita. Suatu bentuk tindakan yang nyata sebagai murid Yesus. Dia akan menyertai kita, dan bertindak dengan sempurna.
[Fr. Magnus Mitan, Pr]
Kalender Liturgi Selasa, 03 Agustus 2021
Hari Biasa Pekan XVIII
[Warna Liturgi : Hijau]
Bacaan Liturgi:
Bil. 12:1-13
Mat 14:22-36
RENUNGAN HARI INI
Kekuatan iman dan pengharapan akan membawa kita kepada keyakinan untuk terus melangkah. Gereja, dan dunia layaknya sebuah perahu yang di dalamnya berisi orang-orang yang tengah mengarungi samudera menuju ke labuhan abadi. Sejenak kita ingat sebuah nyanyian dalam gereja yang berjudul “Gereja Bagai Bahtera”. Lagu itu sangat persis terinspirasi dari pengalaman yang dikisahkan dalam Injil hari ini. Pengalaman Rasul Petrus yang ragu-ragu ketika hendak melangkah mewakili kita semua. Di tengah arus, atau katakanlah angin sakal dunia saat ini, kita kerap merasa ragu untuk melangkah. Atau kita melangkah untuk pergi kepada Tuhan tetapi kita tidak yakin, dan ketika di pertengahan jalan kita jatuh. Tetapi dilukiskan pula bahwa Yesus tidak tinggal diam ketika Rasul Petrus berteriak meminta tolong kepada-Nya. Inilah Dia yang tak pernah meninggalkan kita. Di tengah situasi saat ini kita mengalami kejatuhan, tetapi kita diajarkan untuk berteriak dengan lebih nyaring: “Tuhan tolonglah, kami!” Suatu seruan yang membawa kita kepada keyakinan yang kuat bahwa Yesus akan menolong kita. Ia mengulurkan tangan-Nya jikalau kita mendekati-Nya dan memberikan tangan kita kepada-Nya. Maka mari kita semua membangun iman dan pengharapan yang kuat bahwa Yesus dapat menyelamatkan kita dari badai, angin sakal kehidupan saat ini, terlebih di tengah pandemi covid-19 ini. Mari kita memberikan tangan kita kepada Yesus untuk ditolong oleh-Nya.
[Fr. Magnus Mitan, Pr]
Kalender Liturgi Rabu, 04 Agustus 2021
PW. St. Yohanes Maria Vianney
[Warna Liturgi : Putih]
Bacaan Liturgi:
Bil. 13:1-2a, 25-14:1,26-29,34-35
Mat 15:21-28
RENUNGAN HARI INI
Pengalaman yang amat berkesan dari seorang perempuan Kanaan menginspirasi kita semua untuk menyadari diri sebagai orang-orang beriman yang percaya kepada Yesus. Kisah yang dilukiskan oleh Penginjil Matius hari ini menyadarkan kita akan pentingnya memiliki keyakinan bahwa kita dikasihi oleh Yesus. Dua hal yang dapat kita maknai yakni, pertama kerelaan dan semangat dari perempuan Kanaan tersebut mengajarkan kepada kita bahwa dalam kehidupan setiap hari kita pun mesti memiliki hati yang rela dan penuh semangat untuk datang kepada Yesus. Kita diajak untuk tidak mudah menyerah. Sebab terkadang memang beriman membutuhkan suatu pengorbanan walau kita seolah ditolak oleh Tuhan. Kedua, kepercayaan dan pengharapan yang tak pernah padam juga ditunjukkan kepada kita. Perempuan Kanaan itu akhirnya mendapat jawaban dari Yesus sehingga anaknya menjadi sembuh. Hal yang sama dapat kita lakukan yakni memiliki pengharapan dan keyakinan yan kuat bahwa Tuhan akan menjawab permohonan dan keluhan kita kepada-Nya. Walaupun kita terkadang mengalami tantangan dan kemudian merasa seperti Tuhan tidak mau mendengarkan kita. Tetapi dari sana kita belajar untuk tidak menyerah, selalu terus berusaha datang kepada-Nya. Sehingga pada akhirnya kita boleh mengalami kasih Tuhan itu. Oleh karena itu, marilah kita berusaha untuk memelihara iman kepada Tuhan Yesus, menaruh pengharapan pada-Nya dan percaya bahwa Dia akan menjawab apa yang kita serukan kepada-Nya.
[Fr. Magnus Mitan, Pr]
Kalender Liturgi Kamis, 05 Agustus 2021
Hari Biasa Pekan XVIII
[Warna Liturgi : Hijau]
Bacaan Liturgi:
Bil. 20:1-13
Mat 16:13-23
RENUNGAN HARI INI
Tidak sabar, mudah mengeluh dan menggerutu merupakan hal manusiawi. Namun sifat-sifat seperti ini tidak boleh melekat erat dalam pribadi orang beriman, sebab hanya akan mengaburkan identitas dan jati diri sebagai orang ber-Tuhan. Pengalaman bangsa Israel di padang Gurun menjadi contoh yang jelas untuk tidak kita tiru atau teladani. Beriman adalah menyerahkan sepenuhnya apa yang kita harapkan dan inginkan dalam kuasa dan penyelenggaraan Tuhan. Itu juga berarti kita sepenuhnya sudah tahu dengan baik "Siapa" yang kita imani itu. Sikap mengeluh, menggerutu dan tidak sabar adalah ungkapan ketaktahuan kita akan Tuhan yang kita imani. Semakin kita mengenal Tuhan, semakin kita mengerti bagaimana cara kita mengungkapkan iman kita. Maka, baiklah kita merenungkan dengan sungguh pertanyan ini; Siapakah Yesus bagi kita? Jawaban atas permenungan ini akan mengantar kita kepada pengertian dan pemahaman bahwa semua peristiwa dalam kehidupan kita, apapun itu, senantiasa berada dalam rencana dan kehendak Allah. Jika kita belum sampai pada titik ini maka renungkanlah kembali perkataan Yesus ini: "Engkau memikirkan bukan yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia."
[Thedy Koten]
Kalender Liturgi Jumat, 06 Agustus 2021
Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya
[Warna Liturgi : Putih]
Bacaan Liturgi:
Dan. 7:9-10,13-14
2Ptr 1:16-19
Mrk. 9:2-10
RENUNGAN HARI INI
Peristiwa Yesus menampakkan kemuliaan-Nya atau biasa juga kita kenal dengan Yesus dipermuliakan di atas gunung menjadi suatu peristiwa penting. Pengalaman Yesus dan para murid-Nya mengajak kita untuk menyadari bahwa Yesus sungguh pribadi yang Ilahi dan mulia. Satu hal yang perlu kita lakukan adalah mengimani atau percaya akan pribadi Yesus yang Ilahi dan mulia itu. Dalam kehidupan beriman, kita pun mesti dengan berani mewartakan kepada orang lain keilahian Yesus. Kemuliaan Yesus hendak menggambarkan diri-Nya sebagai Pribadi yang berasal dari Allah. Dilukiskan dengan Yesus yang berubah rupa dan pakaian-Nya sangat putih berkilau, dan tidak ada seorang pun di dunia ini yang membuat atau memiliki pakaian seputih itu. Inilah keagungan Dia. Selain itu pengalaman beberapa murid yang menyertai-Nya yang kemudian mempertanyakan peristiwa itu dan tentang pesan yang disampaikan Yesus itu. Pengalaman itu hanya dapat dimaknai bila kesadaran akan kemuliaan dan keilahian Allah direnungkan secara mendalam. Maka kita pun diajak untuk dengan tekun dan setia, dan dengan penuh iman yang dalam mengakui keilahian dan kemuliaan Yesus. Marilah kita berusaha agar dalam hidup iman kita sungguh dikuatkan dan diterangi oleh kasih dan kemuliaan Yesus.
[Fr. Magnus Mitan, Pr]
Kalender Liturgi Sabtu, 07 Agustus 2021
Hari Biasa Pekan XVIII
[Warna Liturgi : Hijau]
Bacaan Liturgi:
Ul. 6:4-13
Mat. 17:14-20
RENUNGAN HARI INI
Iman dan percaya sekali lagi menjadi dasar bagi seorang murid Yesus untuk menjalani dan menghayati kehidupannya. Pengalaman para murid maupun seorang yang anaknya sakit menjadi suatu pelajaran penting bagi kita. Yesus menegur mereka semua karena ketidakpercayaan mereka. Hal ini dilakukan Yesus lantaran banyak hal yang telah dibuat-Nya sebelumnya, tetapi masih banyak juga yang tidak mau percaya dan keras hati. Mengusir suatu sakit atau derita yang dilakukan oleh Yesus pada hari ini dilukiskan dengan satu cara paling mendasar yakni dengan berdoa dan berpuasa. Hal ini mau mengatakan kepada kita bahwa suatu karya keselamatan bukanlah sesuatu yang main-main. Berdoa dan berpuasa menjadi cara dan jalan untuk menghayati dan menghadirkan kuasa Allah. Doa dan puasa ini hanya dapat dilakukan apabila seorang itu sungguh menyadari hidup imannya. Ia sungguh-sungguh beriman dan percaya bahwa Allah akan memberikan kesembuhan. Maka dala kehidupan sehari-hari kita pun selalu diajak untuk menyadari sungguh kedalaman iman kita. Kita berusaha untuk mendapat apa yang baik dari Tuhan tetapi kita tidak beriman, dengan berdoa dan berpuasa tentu saja hal itu jelas tidak bisa kita dapatkan. Semoga kita mampu menjadi pribadi yang semakin yakin dan percaya, dan tidak ragu untuk menyampaikan doa dan ucapan iman kita dalam perbuatan yang menyelamatkan orang lain.
[Fr. Magnus Mitan, Pr]
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Kalender Liturgi Senin, 09 Agustus 2021
Hari Biasa Pekan XIX
[Warna Liturgi : Hijau]
Bacaan Liturgi:
Ul. 10:12-22
Mat. 17:22-27
RENUNGAN HARI INI
Pengalaman hidup bersama menjadikan kita perlu menjaga segala macam peraturan dan tata kelola kehidupan bersama demia kebaikan bersama. Hal yang dialami Yesus dan Petrus pada kisah Injil hari ini juga memberikan teladan dan pembelajaran bagi kita terkait kehidupan bersama dalam masyarakat. Yesus meminta Petrus untuk membayar pajak/bea kepada orang-orang yang menagih dengan alasan agar tidak menjadi sandungan bagi orang lain. Hal ini hendak mengatakan bahwa dalam kehidupan bersama dengan orang lain, Yesus juga memiliki rasa hormat akan apa yang menjadi ketentuan dan kesepakatan bersama. Walaupun hal ini terasa sepeleh tetapi sangat mempengaruhi kehidupan. Kita pun diajak untuk belajar memperhatikan apa yang menjadi ketentuan dan kesepakatan bersama dalam hal apa pun. Hal ini bertujuan untuk menjaga keharmonisan dalam hidup bersama, dan seperti yang Yesus katakan bahwa supaya kita tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. Perbuatan sederhana yang memberikan kebaikan bagi sesama menjadi ciri khas murid Yesus. Komunitas yang harmonis dan penuh kasih adalah tujuan. Yesus mengajarkan itu kepada Petrus, dan kita pun diajarkan hal yang sama, karena kita adalah murid-Nya juga. Maka marilah kita berusaha dalam kehidupan bersama untuk memperhatikan hal-hal yang perlu kita lakukan agar tidak menjadi sandungan bagi sesama kita.
[Fr. Magnus Mitan, Pr]
Kalender Liturgi Selasa, 10 Agustus 2021
Pesta S. Laurensius, DakMrt
[Warna Liturgi : Merah]
Bacaan Liturgi:
2Kor 9: 6-10
Yoh 12:24-26
RENUNGAN HARI INI
Menjadi seorang murid pertama-tama adalah ketaatan dan kesetiaan. Hal ini yang perlu kita sadari sebagai murid-murid Yesus. Pada pesta Santo Laurensius, seorang Diakon dan Martir ini dikisahkan mengenai pernyataan Yesus kepada para murid tentang peran seorang murid. Yesus mengajarkan bahwa siapa pun yang hendak menjadi pelayan-Nya harus mengikuti Dia, dan mencintai-Nya. Kecintaan Santo Laurensius kepada Yesus terbukti sampai ia rela dibunuh. Dan Yesus menegaskan bahwa setiap orang yang mengikuti-Nya akan memperoleh hidup kekal. Santo Laurensus sangat setia sebagai murid, mengikuti dan meneladan Yesus, yang juga mati demi kebenaran. Inilah peran murid yang hendak diwartakan kepada kita. Ketaatan dan kesetiaan untuk membela kebenaran sebagai murid Yesus di zaman ini juga perlu kita sadari dengan baik. Banyak hal yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari membuat kita merasa takut. Kita tidak selalu berani memperjuangkan dan mempertahankan apa yang benar, ketika kita dalam situasi terjepit. Yesus mengatakan, seseorang akan dihormati Bapa bila ia mengikuti-Nya. Salah satu cara dan wujud mengikuti-Nya adalah dengan berani memberikan kesaksian dan memperjuangkan kebenaran, bahkan ketika dalam situasi terancam. Yesus telah memberikan pengharapan kepada kita, dan itu akan kita alami bila kita sungguh percaya dan menghayatinya. Maka marilah kita berusaha belajar menjadi murid Yesus yang taat, setia dan berani mengikuti-Nya kapan pun dan dalam situasi apa pun. Kita terus berusaha mencintai-Nya melebihi nyawa kita.
[Fr. Magnus Mitan, Pr]
Kalender Liturgi Rabu, 11 Agustus 2021
PW St. Klara, Prw
(Warna Liturgi : P utih)
Bacaan Liturgi:
Ul. 34:1-12
Mat. 18:15-20
RENUNGAN HARI INI
Dalam kehidupan bersama, ada banyak hal yang selalu dilakukan agar semua yang dijalankan dapat menciptakan kebaikan bersama. Juga dalam hidup bersama setiap orang diajak untuk saling membantu dan menguatkan agar semua dapat berjalan baik. Hari ini Yesus mengajak kita untuk menyadari peran kita masing-masing dalam hidup bersama. Hal yang ditekankan adalah berkaitan dengan tegur-menegur. Perkara menegur sebagai upaya untuk memulihkan dan meluruskan kekeliruan yang dikerjakan oleh sesama saudara kita. Langkah yang diwartakan oleh Yesus bahwa pertama-tama menegur sebagai saudara dengan empat mata. Artinya bahwa bila kita mendapat kekeliruan dari seorang saudara kita, maka kita pun mestinya menegur dia. Pertama-tama mungkin memanggilnya, lalu memberitahu secara pribadi. Lalu kemudian bila masih terjadi maka ajaklah beberapa saudara untuk saling membantu dan menyelesaikannya. Intinya adalah bahwa dalam hidup bersama, setiap orang diajak untuk terbuka dan saling membantu. Bila kita keliru, terbukalah untuk dinasihati. Bila orang lain keliru, beranilah untuk memperingatkan dan menasihatinya. Semua itu kita lakukan bukan untuk menghakimi, atau menilai. Tetapi semua itu kita lakukan dalam kasih sebagai murid-murid Yesus. Kita berusaha agar semua saudara dan sesama kita boleh mengalami sukacita dalam kebersamaan dengan kita atau pun dengan yang lainnya. Karena kita hidup dalam komunitas yang dikehendaki oleh Tuhan yakni menjadi komunitas yang menghadirkan kebaikan bagi sesama.
[Fr. Magnus Mitan, Pr]
Kalender Liturgi Kamis, 12 Agustus 2021
Hari Biasa Pekan XIX
(Warna Liturgi : Hijau)
Bacaan Liturgi:
Yos. 3:7-10a, 11, 13-17
Mat. 18:21-19:1
RENUNGAN HARI INI
Pengampunan seringkali adalah suatu perkara yang tidak mudah, entah berkaitan dengan mengampuni atau pun diampuni. Hari ini Yesus mengajarkan kepada kita semua arti dari pengampunan yang sesungguhnya. Petrus seolah mewakili kita semua untuk mengajukan perihal mengampuni. Sampai berapa kali? Jawaban Yesus yakni bukan hanya tujuh kali tetapi tujuh puluh kali tujuh kali. Artinya bahwa pengampunan adalah perkara yang sebenarnya tidak dapat dibatasi hanya oleh angka. Mengampuni atau diampuni adalah suatu tindakan yang terus-menerus tanpa mengenal batas. Hal ini pun menyadarkan kepada kita bahwa seringkali dalam kehidupan sehari-hari kita merasa sudah menagmpuni saudara kita sekali, dan itu sudah cukup bagi kita. Tentu saja itu tidak diharapkan oleh Yesus. Kita diajak untuk mengampuni sesama saudara kita tanpa batas. Dan satu lagi yakni bahwa kita pun mengampuni orang lain karena kita telah lebih dahulu diampuni oleh Allah. Hal ini perlu kita sadari dengan baik, bahwa perbuatan mengampuni bukanlah suatu tindakan kebaikan kita semata, tetapi karena campur tangan Allah. Dia telah mengampuni dengan tanpa batas segala kesalahan dan dosa kita manusia. Maka marilah kita berusaha untuk meneruskan sikap dan perbuatan belas kasih dan pengampunan dalam kehidupan sehari-hari sebagai wujud konkrit kita sebagai murid Yesus.
[Fr. Magnus Mitan, Pr]
Kalender Liturgi Jumat, 13 Agustus 2021
Hari Biasa Pekan XIX
(Warna Liturgi : Hijau)
Bacaan Liturgi:
Yos. 24:1-13
Mat. 19:3-12
RENUNGAN HARI INI
Panggilan hidup apa pun kita diajak untuk menghayatinya dengan kesetiaan. Hari ini Yesus mengajarkan kepada kita tentang kesetiaan dalam menjalani panggilan hidup itu. Secara khusus Yesus memberikan pengajaran tentang hidup perkawinan. Ketika orang-orang Farisi menanyakan kepada-Nya tentang perceraian. Ia pun menegaskan bahwa tidak ada perceraian. Lalu dipersoalkan surat cerai yang dibuat oleh Musa. Yesus mengatakan bahwa itu terjadi karena ketegaran hati manusia, atau manusia yang keras kepala. Maka ketika berbicara tentang kesetiaan, termasuk dalam keluarga merupakan suatu hal patut dihargai dan dihayati dengan baik. Dalam hal ini satu hal yang patut kita ingat dan sadari sebagai murid-murid Yesus terutama dalam kehidupan berkeluarga yakni bahwa hidup perkawinan sungguh berharga. Kesetiaan dalam hidup berkeluarga lahir dari kesadaran kita sebagai anak-anak Allah yang terpanggil untuk menghayati hidup itu. Panggilan untuk menghayati kesetiaan dalam keluarga yakni bersedia menjalani hidup bersama sampai akhir hayat. Pada akhir pengajaran-Nya Yesus menegaskan bahwa menikah juga adalah suatu panggilan. Maka mereka yang dikarunia panggilan untuk menikah, setialah sampai akhir hayat. Kesetiaan adalah buah dari penghayatan iman kita kepada Yesus.
[Fr. Magnus Mitan, Pr]
Kalender Liturgi Sabtu, 14 Agustus 2021
PW St. Maksimilianus Maria Kolbe, ImMrt
(Warna Liturgi : Merah)
Bacaan Liturgi:
Yos. 24:14-29
Mat. 19:13-15
RENUNGAN HARI INI
Berkat Tuhan selalu dianugerahkan kepada siapa pun. Hal ini kemudian diwarisi oleh Gereja dan seluruh umat yakni membagikan berkat Tuhan kepada semua orang. Hari ini dalam kisah Injil yang kita dengarkan Yesus menegur para murid-Nya yang melarang anak-anak untuk datang kepada-Nya. Yesus diharapkan menyapa anak-anak itu dan mendoakan mereka tetapi justru dihalang-halangi oleh para murid. Hal ini jelas tidak berkenan di hati-Nya. Sebagaimana dalam pengalaman hidup kita sehari-hari, terkadang kita pun bersikap seperti para murid. Kita kerap merasa perlu melarang atau menghalangi orang-orang atau anak-anak yang hendak melakukan sesuatu yang bisa membawa berkat Tuhan bagi mereka. Dalam konteks itu para murid sebenarnya ingin agar Yesus tidak diganggu oleh anak-anak, atau dengan kata lain tidak merepotkan Yesus. Tetapi justru Yesus merasa sangat tidak direpotkan. Ia malah meminta anak-anak itu untuk datang kepada-Nya. Maka ini menjadi pelajaran penting bagi kita, bahwa dalam kesempatan apa pun kita mesti terbuka bagi siapa pun yang membutuhkan kita. Terlebih bila kita menyadari bahwa kemurahan dan berkat Tuhan bukan hanya untuk kita saja, maka kita perlu membagikan dan “memperbolehkan” orang lain juga dapat merasakan berkat Tuhan itu. Sebagaimana yang dirasakan oleh anak-anak. Kita belajar untuk membagikan berkat dan menerima siapa saja yang sungguh membutuhkan Tuhan. Dengan demikian kita sungguh melaksanakan kasih Tuhan, yakni menjadi pembawa berkat yang menggembirakan bagi banyak orang.
[Fr. Magnus Mitan, Pr]
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Kalender Liturgi Senin, 16 Agustus 2021
Hari Biasa Pekan XX
(Warna Liturgi : Hijau)
Bacaan Liturgi:
Hak. 2:11-19
Mat. 19:16-22
RENUNGAN HARI INI
Kebahagiaan adalah hal yang selalu dicari dan terus didaraskan oleh manusia, siapa pun itu. Manusia selalu mencarinya dikala kecemasan dan ketidakpastian datang silih berganti. Manusia memang mengalami kebahagiaan, tetapi juga dengan mudah melepasnya karena kebahagiaan yang dicari kerap bersifat semu. Maka manusia mencari kebahagiaan yang sempurna, dan kebahagiaan yang sempurna hanya diperoleh bila manusia mengarahkan hati kepada sang pemilik kebahagiaan itu yakni Tuhan, dan mengikuti kehendak-Nya. Inilah yang tergambar dalam kisah dalam Injil hari ini. seorang pemuda yang kaya datang dan bertanya kepada Yesus tentang cara untuk memperoleh kehidupan kekal. Pertanyaan spesifiknya adalah perbuatan baik manakah yang harus diperbuat untuk memperoleh kehidupan kekal. Ya kali ini kehidupan kekal itu identik dengan kebahagiaan. Maka Yesus menjawab, yang harus dilakukan adalah membagikan seluruh kepunyaannya dan mengikuti Dia. Pemuda itu keberatan lalu pergi. Kita merenungkan bahwa kehidupan kekal adalah kebahagiaan itu sendiri, atau sebaliknya. Maka jika kita ingin memperoleh kebahagiaan, kita perlu mendengarkan Dia. Kita diajak untuk bermurah hati dan mengikti-Nya. Bermurah hati tidak setengah-setengah, demikian juga mengikuti-Nya tidak setengah-setengah, tidak berat hati, bahkan tidak dengan terpaksa. Maka kita dapat merasakan kebahagiaan, dan dijamin akan memperoleh kehidupan kekal, kelak sesuai dengan janji-Nya. Mari kita sadari bahwa kemurahan hati dan mengikuti jalan Tuhan adalah cara sempurna untuk memperoleh kebahagiaan.
[Fr. Magnus Mitan, Pr]
Kalender Liturgi Selasa, 17 Agustus 2021
HR Kemerdekaan Republik Indonesia
(Warna Liturgi : Putih)
Bacaan Liturgi:
Sir. 10:1-8
1Ptr 2:13-17
Mat. 22:15-21
RENUNGAN HARI INI
Kehidupan di dunia memang adalah sebuah perjalanan, atau peziarahan untuk mencapai kehidupan di surga kelak. Yesus mengajarkan kepada kita untuk menghormati apa yang menjadi hak dan kewajiban kita, secara khusus kepada sesama dan seluruh umat manusia dengan segala hukum dan peraturannya. Tetapi juga mengajarkan kepada kita untuk tetap tidak melupakan penghayatan hidup dan ketaatan kita kepada Allah. Panggilan untuk menjalani kehidupan di dunia adalah anugerah Tuhan, dan apa yang kita jalani di dunia semestinya tidak bertentangan dengan kehendak Tuhan yang memanggil kita itu. Dikisahkan dengan baik dalam Injil hari ini mengenai pertanyaan untuk membayar pajak kepada kaisar atau kepada Allah. Yesus tidak mempertentangkan hal memberi pajak itu. Yesus justru memberikan sebuah jawaban yang baik sesuai konteks dan realitas: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah”. Sebuah jawaban yang bijaksana. Hal ini kemudian menyadarkan kita bahwa apa yang kita berikan kepada dunia, kepada bangsa dan negara kita adalah hal yang wajib kita berikan untuk sebuah penghayatan hidup sebagai sesama manusia yang baik. Dan dibalik itu semua tentu kita perlu menyadari bahwa penghatayan kita itu berpuncak pada pemberian kita kepada Allah. Perayaan Kemerdekaan bangsa Indonesia menjadi cara kita untuk memberikan apa yang memang perlu kita berikan, atau sumbangkan kepada bangsa kita, tanah air yang telah dianugerahkan Allah kepada kita. Kita saling menghargai dan menghormati sebagai saudara, dan dengan demikian kita turut ambil bagian dalam memelihara kesatuan dengan Allah sebagai Pencipta kita semua. Kita telah dipanggil untuk menghayati kemerdekaan, kebebasan sebagai anak-anak Allah. Maka kita patut bersyukur dan memberikan yang terbaik bagi Allah melalui sesama, bangsa dan negara kita.
[Fr. Magnus Mitan, Pr]
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Kalender Liturgi Senin, 23 Agustus 2021
Hari Biasa Pekan XXI
(Warna Liturgi : Hijau)
Bacaan Liturgi:
1Tes 1:2b-5,8b-10
Mat. 223:13-22
RENUNGAN HARI INI
Hidup dalam kebajikan baik secara jasmaniah maupun secara spiritual rohaniah. Menjalani hidup dengan bijaksana dalam kebersamaan dengan orang lain yakni mengatur hidup yang baik dalam kerjasama, dalam pergaulan dan relasi, pola pikir dan tingkah laku yang menciptakan kebaikan bersama. Hidup yang bijaksana bukan justru membebani sesama, atau memberikan perlakuan yang menyusahkan orang lain. Hari ini Yesus kembali mengingatkan dan mengajarkan kepada kita arti perbuatan kasih yang sesungguhnya. Dikisahkan Yesus mengecam orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang penuh kelicikan memperlakukan orang lain dengan tidak bijaksana. Mereka adalah pemimpin agama tetapi berlaku tidak selayaknya pemimpin. Mereka justru memeras, menipu dan membebani orang-orang dengan perkataan atau ajaran yang menyesatkan, yang justru menimbulkan kesusahan bagi orang lain. Inilah yang kemudian tidak menyenangkan hati Tuhan. Menjadi pelajaran bagi kita bahwa satu hal yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari adalah menyenangkan hati Tuhan. Apa yang kita kerjakan, kita katakana atau ajarkan hendaknya menyenangkan hati Tuhan, bahkan juga membantu orang untuk dapat melakukannya untuk menggembirakan Tuhan. Kehendak Tuhan ialah kasih dan kegembiraan. Maka kebijaksanaan hidup yang kita usahakan dengan membantu sesama, serta menghindari hal-hal yang merugikan orang lain adalah suatu perbuatan yang hendaknya didasarkan pada kasih. Kasih itu tentu berasal dan bermuara pada Tuhan sendiri. Marilah kita melnjutkan kasih Tuhan dengan menjalani hidup dengan bijaksana.
[Fr. Magnus Mitan, Pr]
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Kalender Liturgi Rabu, 25 Agustus 2021
Hari Biasa Pekan XXI
(Warna Liturgi : Hijau)
Bacaan Liturgi:
1Tes 2:9-13
Mat. 23:27-32
RENUNGAN HARI INI
Pekerjaan yang diberikan Allah bagi manusia memiliki tujuan yakni agar manusia mampu hidup baik dan akhirnya berkenan kepada Allah. Bacaan-bacaan hari ini sangat jelas meneguhkan kita sebagai umat beriman yang percaya akan pewartaan tentang Allah dan sabda-Nya. Rasul Paulus menasihati umat di Tesalonika agar tetap hidup dalam kasih dan berpegang teguh pada apa yang telah mereka terima dari para Rasul tentang sabda Allah. Segala sesuatu yang dikerjakan oleh para Rasul memang berasal dari Allah, dan kemudian umat yang percaya pun melakukannya seturut kehendak Allah. Maka kita pun diajak sebagaimana yang dikatakan oleh Rasul Paulus, yakni hendaknya kita hidup sesuai dengan kehendak Allah. Kita diajak untuk tidak menjadi beban bagi siapa pun. Hal yang sama diajarkan dengan baik oleh Yesus ketika ia menegur orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat karena melakukan tindakan yang merugikan atau membebani umat. Panggilan yang kita terima dari para Rasul, dan yang kita percayai dari Yesus sendiri mendorong kita untuk melakukan kebaikan-kebaikan dalam hidup bersama. Terutama dalam masa ini, kita diajak untuk tidak semakin membebani siapa pun yang membutuhkan bantuan kita, dalam bentuk apa pun. Pandemi covid-19 telah menjadi suatu beban yang perlu kita hadapi bersama, dan kita yang mampu dan “tak berhalangan” diajak untuk membantu yang lain. Kita tidak berlaku “munafik” sebagaimana yang Yesus maksudkan untuk orang Farisi dan ahli Taurat. Maka marilah kita berusaha, dalam hal apa pun yang sangat kecil dan sederhana, kita tetap memberikan pertolongan yang baik. terlebih bahwa kita akan bersyukur dan bersukacita karena melakukan apa yang dikehendaki Tuhan, dan bukan apa yang dikehendaki manusia.
[Fr. Magnus Mitan, Pr]
Kalender Liturgi Kamis, 26 Agustus 2021
Hari Biasa Pekan XXI
(Warna Liturgi : Hijau)
Bacaan Liturgi:
1Tes 3:7-13
Mat. 24:42-51
RENUNGAN HARI INI
Kesiapsediaan menjadi satu hal yang penting dalam menjalani kehidupan. Kesiapsediaan menjadi salah satu hal yang dituntut oleh Tuhan sendiri. Yesus memberikan perumpamaan mengenai seorang hamba yang setia dan bijaksana dan membandingkannya dengan seorang hamba yang jahat, atau tidak setia. Seorang hamba yang setia dan bijaksana selalu melakukan tugas-tugas yang diberikan oleh tuannya, bahkan ketika tuannya tidak ada di tempat untuk mengawasinya. Sebaliknya seorang hamba yang jahat, berpikir bahwa ketika tuannya tidak mengawasinya maka ia berlaku semaunya saja, bahkan bertindak ceroboh. Kita diajak untuk tidak seperti hamba yang jahat, yang hanya mau melakukan tugas bila ada pengawas, atau ada pendamping. Saat ini kita dituntut untuk memliki hati yang peka, setia dan bijaksana. Dalam pengalaman sehari-hari kita kerap mendapati hal yang kurang lebih sama. Kita kerap melakukan sesuatu bila ada pengawasan, dan semacam itu. Bila tidak ada pengawasan kita kemudian tidak begitu antusias mengerjakan sesuatu yang diberikan kepada kita. Maka tidak jarang bila kita mengalami ketakutan dan kecemasan bila melakukan hal-hal di luar kendali kita, dan kemudian diketahui oleh “tuan” atau “bos” kita. Bahkan kita merasa “menyesal” karena telah bertindak demikian. Bila kepada “tuan” atau “bos” di dunia ini saja kita merasa demikian, bagaimana dengan Tuhan? Patutlah kita menyadari ini, bahwa dalam hal apa pun kita perlu berjaga-jaga, atau siap sedia. Kita diajak untuk melakukan dan menghayati tugas-tugas pelayanan apa pun yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Dengan demikian kita mampu mempertanggungjawabkan tugas kita itu kepada Tuhan, bila saatnya tiba. Semoga kita terus belajar untuk menjadi orang yang selalu siap sedia, terutama setia dan bijaksana bagi Tuhan.
[Fr. Magnus Mitan, Pr]
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI