Kisah ini bermula dari tanah Anakalang, saat seorang pemuda bernama Umbu Sudi Rappa membangun keluarga bersama Rambu Tarebi Kadu Pipi. Garis keturunan mereka terus tumbuh hingga sampai pada masa cucu mereka, Umbu Dangi Loja. Suatu ketika, keluarga ini diberkati dengan hasil panen yang begitu melimpah, namun mereka terdiam karena belum tahu cara terbaik untuk mengucap syukur. Dari kerendahan hati itulah, mereka mulai membentuk tatanan kabisu, menunjuk para Ratu (imam), hingga lahirlah ritual Purung Ta Kadonga Ratu.
Secara harfiah, ritual ini adalah perjalanan "Turun ke Lembah Imam", sebuah prosesi sakral yang menjaga keseimbangan dunia. Keseimbangan itu pun nyata dalam dua tombak bersejarah: Mehang Karaga yang melambangkan laki-laki dan Loda Pari yang melambangkan perempuan. Perpaduan keduanya adalah jantung dari harmoni kehidupan masyarakat Anakalang yang masih berdenyut hingga hari ini.
Baca kisah lengkapnya dalam versi E-Book. Temukan kekayaan warisan leluhur yang belum banyak terungkap di sana!
Tahap awal dimulai melalui Tau Detang atau Purung Ta Binna, yang biasanya dilakukan satu tahun sebelum pelaksanaan upacara utama. Pada tahap ini, masyarakat mulai mempersiapkan berbagai kebutuhan ritual, terutama hewan kurban seperti ayam, babi, dan kerbau yang dipelihara secara khusus.
Tahap berikutnya adalah Todu Kanguruku Bari Kanyanguku, yaitu musyawarah awal adat yang dilaksanakan oleh para ratu adat dan perwakilan suku. Musyawarah ini biasanya dilakukan di Kampung Laitarung, tepatnya di rumah adat atau Uma Ratu ( karena Uma Ratu telah rusak, maka pertemuannya dilakukan di Kampung Galubakul).
Setelah musyawarah awal selesai dilakukan, tahapan berikutnya adalah Uhi Pati – Paku Tena, yaitu tahap pengambilan keputusan adat. Pada tahap ini, para ratu adat memastikan bahwa seluruh persiapan ritual telah dilakukan dengan baik.
Pata Rahi merupakan tahapan penetapan waktu pelaksanaan Ritual Purung Ta Kadonga Ratu. Tahap ini dilakukan secara khusus dan sakral karena berkaitan dengan perhitungan adat serta kepercayaan masyarakat terhadap waktu yang dianggap baik untuk melaksanakan ritual. Penentuan waktu dilakukan berdasarkan kalender adat atau perhitungan bulan yang dikenal dengan istilah Wulla Tua.
Pada tahap ini, para pelaku ritual mulai melakukan latihan tari adat, syair adat, serta mempersiapkan perlengkapan ritual yang akan digunakan. Tombak pusaka, tameng, gong, tambur, dan berbagai perlengkapan adat lainnya mulai dibersihkan dan dipersiapkan dengan penuh penghormatan.
Pangudang merupakan tahapan pengumuman resmi kepada masyarakat adat bahwa Ritual Purung Ta Kadonga Ratu akan segera dilaksanakan. Pada tahap ini, para ratu adat melakukan perjalanan adat mengelilingi wilayah-wilayah tertentu sambil membawa gong dan perlengkapan adat lainnya. Bunyi gong menjadi tanda bahwa masyarakat harus bersiap mengikuti ritual besar.
Pada malam sebelum ritual utama, para ratu adat mengambil air marapu di Matawai Marapu–Waikoba Palajara untuk dibawa ke Kampung Laitarung sebagai tanda penentu musim hujan. Malam itu masyarakat berkumpul dalam suasana sakral dan meriah melalui ronggeng serta tarian adat yang diiringi gong dan tambur.
Prosesi Turun ke Kadonga Ratu mempertemukan dua tombak pusaka Loda Pari dan Mehang Karaga. Melalui pertemuan simbolis di lembah Kadonga Ratu, hasil ritual dipercaya menjadi pertanda musim, panen, dan kesejahteraan masyarakat di tahun mendatang.
Tahapan terakhir adalah Perjamuan Dewa berupa persembahan sesajen berupa makan kepada Umbu dan Rambu dalam bentuk nasi, ternak kerbau, ayam, babi dan kambing. Hewan tersebut akan dibawa ke kampung Lai Tarung untuk disembelih oleh Ratu Pangundang di tempat yang disebut Talora Tebung.
Purung Ta Kadonga Ratu adalah ritual adat sakral masyarakat Anakalang, Sumba Tengah, yang diwariskan turun-temurun sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, alam, dan Sang Pencipta. Ritual ini dikenal melalui prosesi pengangkatan tombak pusaka Mehang Karaga dan Loda Pari yang dipercaya menjadi pertanda musim, hasil panen, serta kesejahteraan masyarakat. Lebih dari sekadar tradisi, ritual ini menjadi simbol persatuan, kebersamaan, dan identitas budaya masyarakat Sumba Tengah yang tetap hidup hingga kini.