Kalian dapat menggunakan tesaurus untuk mencari diksi puisi. Laman web tesaurus tematis bahasa Indonesia sedang mengalami galat. Sebagai gantinya, kalian dapat menggunakan wikitionary berikut.
Kalian juga dapat mencari diksi menggunakan KBBI (mungkin diperlukan log masuk untuk fitur lebih lengkap).
Pembagian Majas Berdasarkan Fungsi
Majas Perbandingan Majas perbandingan adalah majas yang membandingkan atau menyandingkan dua objek atau lebih. Beberapa jenis majas yang termasuk dalam kategori ini antara lain alegori, personifikasi, metafora, metonimia, asosiasi, hiperbola, simile, antonomasia, pars pro toto, totem pro parte, dan eufimisme.
Majas Sindiran Majas sindiran digunakan untuk menyampaikan sesuatu dengan tujuan menyindir atau memberikan kritik. Jenis-jenis majas sindiran yang sering ditemukan dalam buku pelajaran adalah ironi, sarkasme, sinisme, satire, dan inuendo.
Majas Penegasan Majas penegasan adalah majas yang digunakan untuk menyatakan suatu hal dengan cara yang tegas. Beberapa contoh majas penegasan yang akan dibahas dalam artikel ini meliputi pleonasme, repetisi, retorika, aliterasi, metonimia, simbolik, paralelisme, tautologi, dan kiasmus.
Majas Pertentangan Majas pertentangan digunakan untuk mengekspresikan sesuatu dengan cara memperbandingkan atau mempertentangkan hal tersebut dengan hal yang lain. Majas ini mencakup litotes, antitesis, paradoks, anakronisme, sinekdoke, oksimoron, dan kontradiksi interminus.
Beberapa majas memang tampak “mengisi” lebih dari satu kategori fungsi karena:
Sifatnya yang multifungsi
Banyak bentuk majas memiliki karakteristik ganda. Misalnya, metonimia—penggantian satu kata dengan kata lain yang masih memiliki hubungan dekat—bisa berfungsi sebagai perbandingan (karena menyandingkan dua hal yang terkait) sekaligus sebagai penegasan (menekankan satu aspek tertentu dari objek).
Perpaduan unsur perbandingan dan penekanan
Majas seperti hiperbola (melebih-lebihkan) atau paralelisme (menyajikan unsur berulang secara mirip) sekilas membandingkan ide-ide, tetapi pada saat sama mereka menegaskan maksud pengarang. Oleh karena itu, mereka bisa masuk daftar “perbandingan” sekaligus “penegasan.”
Konteks penggunaan
Cara pengarang memakai sebuah majas juga memengaruhi bagaimana fungsi utamanya dirasakan. Kalau personifikasi dipakai untuk menekankan perasaan penulis terhadap objek, ia berperan sebagai penegasan; tapi kalau dipakai untuk menyandingkan manusia dan benda, ia berfungsi sebagai perbandingan.
Pendekatan klasifikasi yang beragam
Para ahli retorika kadang mengelompokkan majas dengan cara berbeda—ada yang lebih menitikberatkan pada “apa yang dibandingkan,” ada pula yang menekankan “bagaimana cara menegaskan” atau “apa yang dikritik.” Itulah sebabnya daftar jenis majas dalam satu referensi bisa berbeda pola dengan referensi lain, sehingga satu jenis majas bisa muncul di beberapa kategori.
1. Kan kutunggu, Indonesia lawan Jepang meski itu tak pasti.
2. Bantuan ini per kepala, jadi memang ada yang terlewat.
3. Kau dan emas tiada berbeda, berharga, berkilau sepanjang masa.
4. Engkau, teramat sangat aku damba.
5. Kikirnya engkau seperti Tuan Krab saja.
6. Jangan heran, Doraemon dan Chimpui itu memiliki kesamaan penulis.
7. Minggirlah kau, Yang Mulia akan datang!
8. Kukirimkan maaf dan hanya sepasang emas berlian ini untuk hari jadimu.
9. Lalu aku menangis, tangisanku menjelma anak sungai, menghilir ke samudra.
10. Layar televisi berduka sebab PHK dunia jurnalistik terlalu nyata.
Soal berlatih 4
Simak musikalisasi berikut dan kerjakan soal yang menyertainya!
Enjambemen (atau enjambment) adalah cara penyusunan bait puisi di mana satu baris (disebut run-on line) berlanjut ke baris berikutnya tanpa jeda sintaksis atau tanda baca penuh. Dengan demikian, makna baris pertama “mengalir” (ber-“jamb”) ke baris kedua.
Ciri utama:
Tidak berhenti di akhir baris: tidak ada tanda titik, tanda tanya, atau tanda seru.
Arti tergantung kelanjutan baris berikutnya.
Menciptakan efek aliran, ketegangan, atau kejutan.
Mendorong kecepatan baca
Pembaca terdorong cepat menelusuri baris berikutnya untuk memahami makna utuh.
Menciptakan ketegangan atau suspens
Penundaan makna hingga baris selanjutnya membuat pembaca “tergantung”.
Menekankan kata/ungkapan tertentu
Kata di akhir baris dapat diperkuat efeknya ketika makna lengkap baru muncul di baris selanjutnya.
Menirukan aliran pikiran atau gerak alami
Menciptakan ritme yang lebih bebas, meniru bicara atau aliran emosi.
Dalam sunyi aku menanti
Cahaya rembulan membelai malu
Mengalir di lembah kerinduan
Baris 1 “Dalam sunyi aku menanti”—berlanjut ke baris 2 tanpa tanda baca → pembaca penasaran apa yang ditanti.
Analisis: Makna ‘menanti cahaya rembulan’ muncul di baris berikut, menciptakan misteri dan keindahan.
…
Aku ingin satu kali lagi
Meregang nyawa
Karena hidup terasa amat
Terlalu sayang
Baris “Aku ingin satu kali lagi” berlanjut → “Meregang nyawa” → efek dramatis tinggi.
Perhatikan tanda baca
Cari baris yang tidak diakhiri dengan tanda titik, tanya, atau seru.
Cek kelanjutan makna
Bacalah dua baris yang berurutan—apakah baris pertama maknanya belum lengkap?
Tentukan efek
Tanyakan: Apa yang diciptakan penyair—ketegangan? Kecepetan? Pencahayaan makna penting?
Hubungkan dengan tema
Lihat bagaimana enjambemen mendukung tema/emosi puisi.