Perjanjian Linggarjati: Perjanjian yang dirasa masih tidak adil bagi Indonesia dan memunculkan banyak protes, salah satunya dari para pejuang Bali.
Anti-Kolonialisme : Kondisi Bali yang belum stabil setelah penjajahan Jepang, ambisi Belanda yang ingin melakukan agresi militer lagi mendapat penolakan keras dan membuat rakyat Bali berjuang mempertahankan kemerdekaan yang sudah diperoleh (Semangat juang rakyat Bali)
Kepemimpinan I Gusti Ngurah Rai: Kepemimpinan yang tegas dan inspiratif dari I Gusti Ngurah Rai menyatukan rakyat Bali dalam perlawanan menghadapi kolonilaisme
Belanda mulai mendirikan Negara Indonesia Timur (NIT) setelah Perjanjian Linggarjati disetujui kedua belah pihak.
I Gusti Ngurah Rai kemudian pergi ke Yogyakarta dan mendapat gelar sebagai Komandan Resimen Sunda Kecil berpangkat Letnan Kolonel.
Kedatangan Letkol I Gusti Ngurah Rai adalah untuk berkonsultasi dengan markas besar TRI untuk menolak bekerja sama dalam pembentukan NIT. Sebelumnya, Letkol sudah membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Sunda Kecil dengan kekuatan 13,5 kompi di seluruh kota Bali.
Pada tanggal 18 November 1946, markas pertahanan Belanda di Tabanan diserang habis-habisan. Tentunya hal tersebut membuat Belanda marah dan mengepung Bali. Pasukan Belanda mulai menyerang pada tanggal 20 November 1946 pukul 05.30 WITA.
Hingga pukul 09.00 WITA, Belanda mulai mendekat dari barat laut dan kemudian disusul suara tembakan. Ternyata, 17 orang pasukan Belanda berhasil ditembak mati oleh pasukan I Gusti Ngurah Rai.
Belanda tak tinggal diam. Mereka memulai penyerangan dari berbagai arah, namun gagal karena pasukan I Gusti Ngurah Rai melemparkan serangan balik.
Aksi serangan Belanda sempat berhenti selama satu jam dan kembali mengirim banyak pasukan dan pesawat terbang pengintai pada 11.30 WITA. Serangan tersebut dapat dihentikan pasukan I Gusti Ngurah Rai yang membuat Belanda mundur 500 meter ke belakang.
Dalam kesempatan itu, pasukan I Gusti Ngurah Rai melarikan diri. Namun, dalam perjalanan melarikan diri tersebut Belanda mengirim pesawat terbang untuk memburu mereka.
Pada akhirnya, I Gusti Ngurah Rai menyeru "Puputan!" yang berarti habis-habisan. Beliau dan pasukannya melawan Belanda sampai titik darah penghabisan.
Menurut sejarah, dalam kejadian tersebut, I Gusti Ngurah Rai dan 1372 pejuang harus gugur.
Pada waktu itu I Gusti Ngurah Rai bersama pasukannya sedang melarikan diri, tiba-tiba Belanda mengirimkan pesawat terbang untuk memburu I Gusti Ngurah Rai bersama pasukannya. Dengan penuh semangat I Gusti Ngurah Rai pun berteriak "Puputan!", yang artinya habis-habisan. I Gusti Ngurah Rai bersama pasukannya maju melawan Belanda sampai titik darah penghabisan mereka. Namun, karena kekuatan senjata yang dimiliki I Gusti Ngurah Rai dan pasukannya kurang seimbang, mereka pun harus kalah dalam pertempuran. I Gusti Ngurah Rai bersama 1.372 pejuang Dewan Perjuangan Republik Indonesia Sunda Kecil gugur dalam pertempuran yang dikenal sebagai Puputan Margarana atau Pertempuran Margarana.