Standar kebutuhan zat gizi berdasarkan angka kecukupan gizi yang dianjurkan bagi masyarakat Indonesia pada kelompok perempuan usia 19-49 tahun berkisar 2150 - 2250 kkal dan protein 60 gram per hari. Pada ibu hamil normal diperlukan tambahan energi sebesar 180 – 300 kkal dan protein mencapai 30 gram per hari. Untuk memperoleh penambahan berat badan sebesar 0.5 kg/minggu, termasuk untuk ibu hamil KEK, dibutuhkan tambahan asupan energi sebesar 500 kkal/hari dari asupan energi hariannya, dimana kurang dari 25% kandungan energi dalam makanan tambahan berasal dari protein.
Ibu hamil yang tidak mendapatkan kecukupan kebutuhan zat gizinya, akan mengalami kurang energi kronis ( Bumil KEK). Ibu Hamil Kurang Energi Kronis (KEK) adalah Ibu Hamil yang memiliki risiko KEK yaitu yang mempunyai ukuran Lingkar Lengan Atas (LiLA) di bawah 23,5 cm atau Indeks Massa Tubuh (IMT) pada pra hamil atau Trimester I (usia kehamilan ≤12 minggu) dibawah 18,5 kg/m2 (Kurus).
“Makanan tambahan berbahan pangan lokal siap santap bukan menggantikan kebutuhan makan ibu hamil KEK melainkan makanan minimal yang harus ditambahkan pada ibu hamil KEK setelah kebutuhan dasar makannya terpenuhi untuk mengatasi masalah gizi ibu hamil”
Melakukan pemeriksaan kehamilan/ANC rutin
Selama hamil makan 3 kali makanan utama ditambah dengan 1-2 kali makanan selingan dalam sehari sesuai dengan anjuran porsi makan ibu hamil
Konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) atau suplementasi zat gizi mikro lainnya selama masa hamil
Cukup konsumsi air putih
Mengonsumsi garam beriodium
Pada kondisi tertentu seperti mual pada trimester pertama dan mudah kenyang pada trimester akhir, maka konsumsi makanan dalam porsi kecil tapi sering. Buah dan sayur harus masuk dalam menu sehari-hari ibu.
Mengonsumsi makanan tambahan
Membatasi konsumsi kopi atau minuman berkafein lainnya
Membatasi konsumsi makanan yang mengandung tinggi gula, garam, dan lemak
Menghindari konsumsi makanan yang merangsang pencernaan
Rutin memantau pertambahan berat badan
Cukup istirahat
Disiplin dalam penerapan hidup bersih dan sehat
Kehamilan merupakan kabar yang membahagiakan bagi pasangan yang telah mendambakan Sang Buah Hati. Persiapan melahirkan pun seolah tak ada habisnya, sehingga tentu wajar calon ibu banyak bertanya mengenai cara menjaga kehamilan pada kenalan atau keluarga yang telah lebih berpengalaman dan biasa memberikan wejangan.
Kehamilan merupakan kabar yang membahagiakan bagi pasangan yang telah mendambakan Sang Buah Hati. Persiapan melahirkan pun seolah tak ada habisnya, sehingga tentu wajar calon ibu banyak bertanya mengenai cara menjaga kehamilan pada kenalan atau keluarga yang telah lebih berpengalaman dan biasa memberikan wejangan.
Namun tahukan Bunda, bahwa bertanya pada teman atau kerabat yang sudah mengalami kehamilan dan persalinan saja tidak cukup? Ayah dan Bunda perlu memeriksakan kehamilan ke tenaga kesehatan.
Pemeriksaan kehamilan dilakukan minimal 6 (enam) kali selama masa kehamilan, yaitu 1 kali pada trimester pertama, 2 kali pada trimester kedua, 3 kali pada trimester ketiga. Minimal 2 kali pemeriksaan oleh dokter dan USG, pada kunjungan pertama (trimester 1) dan kunjungan ke-5 (trimester 3)
Tidak memeriksakan kehamilan bisa membuat ibu hamil menghadapi bahaya berikut:
Tidak mendapat penanganan yang tepat pada tanda bahaya kehamilan
Pada masa kehamilan, mual dan muntah memang terdengar wajar terutama pada trimester pertama kehamilan. Namun mual dan muntah yang berlebih bisa menyebabkan kekurangan gizi, dehidrasi, dan penurunan kesadaran.
Beberapa tanda bahaya kehamilan memerlukan tenaga kesehatan untuk mendeteksinya. Kurangnya pergerakan janin misalnya, bisa menjadi tanda bayi mengalami kekurangan oksigen atau kekurangan gizi. Bila Bunda merasa gerakan si kecil sangat sedikit atau di bawah sepuluh kali dalam dua jam janin bergerak di bawah sepuluh kali, segera temui tenaga kesehatan, ya.
Tidak mengetahui adanya komplikasi kehamilan
Riwayat penyakit ibu sebelum hamil bisa menjadi faktor penentu kondisi fisik ibu pada masa kehamilan. Karena komplikasi kehamilan, bayi yang lahir bisa saja berakhir lahir prematur, lahir sebagai bayi dengan berat lahir rendah (BBLR).
Adapun berbagai kondisi lainnya yang berisiko membahayakan bayi maupun ibu yang akan melahirkan adalah preeklamsia, darah tinggi, asma, dan macam-macam penyakit bawaan. Komplikasi menambah risiko tidak hanya pada ibu pada saat proses melahirkan, namun juga kepada calon bayi.
Meningkatnya risiko kematian dan angka kesakitan pada ibu bersalin
Mengetahui kondisi fisik sejak awal hingga akhir kehamilan sangatlah penting. Pada masa kehamilan misalnya, mual dan muntah memang terdengar wajar terutama pada trimester pertama kehamilan. Namun, Bunda wajib tahu kalau mual dan muntah yang berlebih bisa menyebabkan kekurangan gizi, dehidrasi, dan penurunan kesadaran.
Banyak pula faktor yang menentukan risiko keselamatan persalinan seperti berat badan dan usia. Persalinan pada ibu di bawah usia 20 tahun misalnya, memiliki kontribusi dalam tingginya angka kematian neonatal, bayi, dan balita.
Di luar risiko dari tidak memeriksakan kehamilan, berikut adalah manfaat dari periksa kehamilan:
Nutrisi seimbang bagi ibu hamil
Pada umumnya, ibu hamil akan diberikan penyuluhan mengenai cara-cara menjaga kandungan dan kesehatan dengan baik. Dengan melakukan pemeriksaan secara langsung, akan diketahui apa-apa saja yang baik dan tidak baik dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi dan penyakit bawaan yang dimiliki. Hal ini tentu tidak bisa Ayah dan Bunda dapatkan hanya melalui imbauan kenalan atau pencarian di internet saja.
Suplemen apa yang dibutuhkan, seperti Tablet Tambah Darah dan vitamin lainnya
Harus diingat bila Bunda memiliki penyakit tertentu, ada beberapa jenis obat yang mungkin saja tidak boleh Bunda konsumsi karena bisa mempersulit kehamilan. Dengan memeriksakan secara langsung, Bunda bisa mengetahui suplemen atau obat apa saja yang boleh dan sebaiknya tidak boleh Bunda konsumsi.
Mempersiapkan peran sang ibu dan keluarga untuk menerima kelahiran dan tumbuh kembang bayi optimal.
Menyambut lahirnya calon bayi bukanlah tugas dari Bunda seorang. Seringkali keluarga juga memberikan efek besar pada kondisi perkembangan ibu hamil. Karena itu, sangat penting bila Bunda telah mendapatkan informasi yang cukup untuk menciptakan lingkungan terbaik bagi bayi.
Mempersiapkan ibu untuk melewati masa nifas dengan baik serta dapat memberikan ASI eksklusif pada bayinya
Masa-masa setelah kehamilan bukanlah masa yang mudah, ditambah lagi ada banyak kondisi yang harus Bunda alami untuk memberikan situasi terbaik memberi ASI. Karena itu sangat penting untuk Ayah, Bunda, dan keluarga untuk mempersiapkan sejak jauh hari apa-apa yang harus dilakukan pada masa ini.
Banyak bukan, manfaat yang bisa Ayah dan Bunda dapatkan dengan memeriksakan kehamilan sejak dini? Ayah dan Bunda jadi mampu mempersiapkan kelahiran sang si kecil dengan lebih matang dan terencana, sehingga bisa meminimalisir berbagai resiko yang mungkin terjadi.
Yuk, jadi Bunda pandai, terus cari informasi yang tepat agar persalinan lancar, ibu dan bayi pun tetap dalam kondisi prima!
Sumber: https://ayosehat.kemkes.go.id/tanda-bahaya-kehamilan-yang-harus-diketahui-oleh-ibu-hamil