Secara konsepsi, pembelajaran berbasis proyek adalah model pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai inti dan media pembelajaran. Peserta didik melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi, dan sintesis terhadap permasalahan yang diajukan dan menghasilkan informasi melalui aktifitas-aktifitas dan bentuk nyata sebagai bentuk hasil belajar.[5]
Pembelajaran berbasis proyek awalnya dikenalkan oleh John Dewey, memungkinkan peserta didik melakukan berbagai pilihan dalam proses pembelajaran. Peserta didik bekerja sama dalam berbagai tugas yang berbeda yang berkaitan dengan proyek. Karena pembelajaran berbasis proyek bermakna, terpadu, dan aktif, maka guru menemukan lebih banyak kesempatan menantang peserta didik pada tingkat kemampuan mereka sendiri. Peserta didik menjadi berpengalaman dalam melakukan pekerjaan proyek, dan menantang diri mereka sendiri satu sama lain untuk mengajukan lebih banyak pertanyaan, menemukan lebih banyak sumber pembelajaran, dan membuat proyek yang lebih informatif.[6]
Peserta didik belajar dengan terlibat dalam proyek-proyek dunia nyata dan setiap aspek perubahan pengalaman mereka. Pembelajaran model ini juga menyebabkan pergeseran peran guru tidak lagi sebagai ahli menyampaikan konten, atau hanya membagikan informasi dalam potongan yang kecil. Penerapan model pembelajaran ini dapat menjadikan suasana pembelajaran di kelas menjadi lebih “hidup” dan menyenangkan sehingga peserta didik lebih bersemangat dalam belajar dan lebih peka terhadap lingkungan dikarenakan mereka lebih aktif dalam belajar, menghadapi kondisi riil dalam kehidupan dan menghasilkan produk/karya tidak sebatas pada menghafal teori atau menerima informasi saja.[7]
(sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Pembelajaran_berbasis_proyek)
Pada program semester ganjil tahun ajaran 2021-2022 terdapat beberapa kegiatan proyek yang dilakukan di tiap-tiap pekan. Adapun kegiatannya adalah sebagai berikut ini:
Anda juga bisa mengunduh pdf Program Semester Ganjil Kelas 2 Tahun Ajaran 2021-2022 di sini