Sejarah Berdirinya
Pondok pesantren Al-Ihsan Banjarmasin mulai diresmikan pada bulan Oktober tahun1997 M atau bertepatan pada bulan Jumadil Akhir 1418 H
DENGAN NAMA: “Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Al-IhsanBanjarmasin”
Mulai dikelola oleh tim formatur yang disepakati dari hasil musyawarah jamaah masjidAl-Ihsan.Setelah adanya pengembangan program lanjutan pasca-programtahfizh, yakni program ta’lim al-kutub ad-diniyyah mulai tahun 2006, maka namanya berubah menjadi “Pondok Pesantren Al-Ihsan Banjarmasin” yangberarti menghimpun program Tahfizh Al-Quran Dan Ta’lim Al-Kutub.Sebelum diresmikan sebagai pondok pesantren, awalnya dirintis olehal-Ustadz Sufyan Nur Marbu Al-Makky Al-Banjari dengan beberapa santri yangbertempat di kediaman beliau. Setelah berjalan beberapa pekan dan Diresmikan,tempatnya dipusatkan dilantai II Majsid Al-Ihsan (bangunan lama).Pendirian lembaga pendidikan Tahfidz Al-Quran ini adalah realisasi dari harapan dan cita-cita jama’ah masjid Al-Ihsan yang merupakan kumpulandari jamaah-jamah masjid yang berdomisili di wilayah kota Banjarmasin dan sekitarnya, juga dari berbagai wilayah kabupaten di Kalimantan Selatan.Jama’ah-jama’ah dimaksud secara periodik mengadakan pertemuan dalam acara-acara ijtima’ sepekan sekali, empat bulan sekali, atau pun setahun sekali.Sebenarnya cita-cita untuk mendirikan ma’had ini mulai tumbuh seiring dengan mulai berkembangnya gerak jama’ah masjid yang sering silaturrahmi (berkunjung) ke masjid-masjid, langgar ataupun mushalladibanjarmasin dan sekitarnya, dan juga ke masjid-masjid di kabupaten sekitarwilayah provinsi Kalimantan Selatan. Kegiatan silaturrahmi ini atau kunjungan ke masjid-masjid tersebut mulai berlangsung sekitar tahun 1986, yakni sejakkedatangan al-Ustadz Luthfi Yusuf Selesai dari Pembelajaran di Mesir dan Pakistan.Selanjutnya harapan tersebut mulai diwujudkan sejak hadirnya al-Hafidz Ustadz Sufyan Nur Marbu al-Makky al-Banjari di Banjarmasin pada tahun 1997.Sejak tahun itu juga beliau mulai bermukim diBanjarmasin.Sementara itu jama’ah-jama’ah masjid yang bergerak di kota dandi desa-desamenjadi sebab terpenting dalam tumbuhnya kesadaran beragamadisebagian kalangankeluarga-keluarga muslim di wilayah ini. Sebagian darimereka adalah para petani yang tinggal di desa-desa pemukiman transmigrasi,sebagian lainnya dari kabupaten. Bahwa diantara kesadaran tersebut adalahtimbulnya minat yang dari para orang tua untuk menjadikan anak-anak mereka sebagai hafidz-hafidz Alquran atau para penghafal Alquran. Maka dalammusyawarah pendirian ma’had al-Ihsan diputuskan bahwa ustadz al- Hafidz Sufyan Nur Marbu sebagai pembimbing/pengasuh sekaligus sebagaipenanggung jawab untuk merekrut para huffaz yang ada dibeberapa tempat didaerah ini untuk berkhidmat menjadi tenaga pengajar (khususnya di pondokpesantren al-Ihsan putra). Sementara itu calon-calon santri sudah mulaiberdatangan satu persatu mendaftarkan diri menjadi santri pondok tahfidz al-ihsan. Pada tahun pertama, jumlah santri tidak lebih 10 orang. Pada tahun 1998-1999, santri yang mendaftar semakin bertambah hingga mencapai 20-an orang. (Sekilas Perkembangan Di Daerah)Pada akhir tahun 2003, jumlah santri tercatat mencapai 80-an orang. Maka sekitar tahun 2003 itu mulai didirikan cabang Pondok Pesantren Tahfizh Al-Qur’an di daerah- daerah. Hingga sepuluh tahun terakhir ini ada 13 (tigabelas) cabang Pondok Tahfizh,yaitu:1) PP. Al Qud’ah Negara HSS2) PP. Nurul Hidayah Puntik Barito Kuala3) Barambai Ust. Solihin4) PP. Ibnu Hasan Tamban Km. 205) PP. Al Ihlas Batulicin Tanah Bumbu6) PP. An Nur Pegatan Tanah Bumbu7) PP. Darussalam Pegatan Katingan Sampit8) Tanjung Tabalong9) PP. Al Ihsan 2 Bentok, Bati-bati Tanah Laut10) Balikpapan Ust. Shodiq11) Pelaihari Ust. Zaki12) Kintab Ust. Wahyudin13) Jorong Ust. Muhammad Faiq Jauhari
Cabang yang didirikan itu adalah atas upaya kerja sama jamaah masjid setempat, yang pengelolaannya diserahkan pada kebijaksanaan masing-masing Pengurus di daerah tsb. Sedangkan kebijakan dalam teknis pengajaran dilaksanakan dengan mengacu pada ketentuan yang ditetapkan di Ponpes Al-Ihsan Banjarmasin.