GLODOKAN TIANG
(Polyalthia longifolia)
(Polyalthia longifolia)
Pohon Glodokan Tiang.
Sumber : Dokumen Pribadi
Oleh : Refina Dzurotul Mahmudah
Kingdom: Plantae
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Magnoliales
Ordo : Annonaceae
Famili : Polyalthia
Genus : Magnoliopsida
Spesies : Polyalthia longifolia
Lokal : Glodokan tiang
Lokasi Tumbuhan :
- 7.51451,111.29306
Halaman (timur gerbang masuk) gedung Pasca Sarjana IAIN Ponorogo
Pohon Glodokan Tiang.
Sumber : Dokumen Pribadi
Polyalthia longifolia merupakan nama ilmiah dari pohon yang sering kita kenal dengan nama pohon glodokan tiang. Pohon ini berasal dari India dan Sri Lanka dan telah tersebar luas di banyak Negara asia tropis. Pohon glodokan tiang dapat tumbuh hingga ketinggian 15-35 meter, perawatan tumbuhan ini tergolong sangat mudah. Karena mampu bertahan dalam setiap musim di Negara tropis. Tanaman ini dikenal sebagai tanamaan dari jenis pohon evergreen, dikarenakan memiliki resistensi baik terhadap lingkungan dengan tumbuh secara baik meskipun berada di lingkungan yang mengalami perubahan cuaca atau iklim. Mengingat mudahnya pertumbuhan dari tanaman glodokan ini, tanaman ini menjadi salah satu tanaman yang digemari di Indonesia. Tanaman glodokan yang memiliki nama latin Polyalthia longifolia ini sering digunakan sebagai penghias dan pagar hidup. Selain itu, tanaman glodokan juga bisa menyerap polusi sedang, sehinggga banyak dijumpai di trotoar jalan perkotaan. Seperti yang diketahui sebelumnya, jika pertumbuhan tanaman ini mudah, maka untuk melakukan budidayanya juga tidaklah sulit. Untuk perawatan dari tanaman glodokan bisa dilakukan dengan penyemprotan pengendalian penyakit. Ini dilakukan karena pucuk dari glodokan yang masih muda sangat disukai oleh serangga pemangsa daun dan glodokan mampu bertahan dengan baik di perubahan cuaca atau iklim lingkungannya. Apabila ingin membudidayakan tanaman glodokan dengan biji, maka harus memilih biji yang bagus dan melakukan proses semai yang baik karena biji glodokan cepat membusuk dan tidak bisa dibiarkan terlalu lama. Biji yang dapat digunakan adalah biji dari tanaman glodokan yang sudah berumur.
Akar dari tanaman glodokan tiang termasuk kedalam jenis akar tunggang berukuran besar dan menembus ke tanah, namun tidak dangkal. Akar glodokan ini tidak mengganggu bangunan di sekitar, karena akar dari glodokan ini tidak menjalar secara ekstensif. Oleh karenanya, tanaman glodokan ini sering dijumpai di jalan perkotaan sebagai pohon peneduh jalan. Tudung akar tanaman glodokan tiang membantu kecil menembus tanah. Tudung akar ini terkelupas saat akar masuk lebih dalam menciptakan permukaan berlendir yang menyediakan pelumas. Meristem apical tanaman ini berada di belakang penutup akar menghasilkan sel akar baru yang memanjang. Rambut akar inilah yang menyerap air dan nutrisi mineral dari tanah. Akar pertama pada tumbuhan Polyalthia longifolia disebut radicle, yang berkembang dari embrio tumbuhan setelah biji berkecambah. Saat dibedah, susunan sel di dalam akar Polyalthia longifolia adalah rambut akar, epidermis, epiblem, korteks, endodermis, pericycle, jaringan vaskular di tengah akar untuk mengangkut air yang diserap oleh akar ke bagian lain tumbuhan.
Batang tanaman Glodokan Tiang.
Sumber: dokumen pribadi
Struktur batang pohon glodokan tiang memiliki empulur besar yang dikelilingi oleh silinder tebal berisi berkas jaminan terbuka dan sinar empulur yang lebar, serta daerah kortikal yang mencolok. Percabangannya ramping tekulai serta tajuk yang berbentuk kerucut. Tanaman glodokan tiang memiliki arah pertumbuhan batang lurus tidak bercabang-cabang. Tanaman yang berbentuk seperti piramida ini tumbuh mengerucut ke atas. Akan tetapi, jika muncul sarang semut di bagian batang bisa menyebabkan batang terkelupas dan rusak.
Daun tanaman Glodokan Tiang.
Sumber: dokumen pribadi.
Daun dari tanaman glodokan memiliki bentuk lanset dan memanjang. Tulang daun muncul di 2 permukaan daun, tanaman glodokan juga memiliki bagian tepi daun yang bergelombang dengan pertulangan daun menyirip. Daunnya tipis warna daunnya menyesuaikan umur dari pohon glodokan tiang itu sendiri. Memiliki Potongan daun yang melintang melalui pelepah menunjukkan bagian abaksial daun. Di daerah pelepah daun, ikatan pembuluh darah dikelilingi oleh cincin schlerenchymatous.
Struktur daun pohon glodokan tiang terdiri dari pangkal Daun yang merupakan bagian tempat menempelnya daun pada batang. Strukktur daun yang kedua adalah tangkai daun yang menghubungkan helaian daun pohon glodokan dengan batang. Selanjutnya lamina, juga dikenal sebagai helaian daun adalah permukaan daun yang hijau dan rata. Terdiri dari vena bercabang kecil.
Bentuk venasi (bentuk susunan system pembuluh darah venula daun) pada daun pohon glodokan tiang adalah venasi retikulat karena bentuk vena pada daunnya tidak beraturan.
Jenis daun pohon glodokan termasuk kedalam jenis daun sederhana. Karena hanya ada satu helaian daun yang menempel pada pangkal daun melalui tangkai daun. Fungsi utama daun pada pohon glodokan tiang adalah fotosintesis. Fotosintesis adalah proses di mana tanaman mengubah sinar matahari, karbon dioksida, air, dan zat lain menjadi glukosa dan zat lain yang dapat dikonsumsi oleh organisme. Daunnya mengandung pigmen yang disebut klorofil, pigmen inilah yang memberi warna hijau pada daun pohon glodokan tiang.
Perbungaan ada di ketiak daun, berfasikulasi dan bertangkai pendek, berbentuk racemose. Bunganya berwarna hijau pucat memiliki tekstur yang
halus dengan kelopak berbentuk gelombang. Bunganya bertahan dalam waktu singkat, biasanya dua hingga tiga minggu. Kelopaknya berwarna kuning kehijauan, berbentuk segitiga sempit-lanset. Karpel bunganya berjumlah 20-25 buah dengan satu bakal biji per karpel; stigma bersifat sesil. Berbunga banyak atau disebut biseksual, diameter 3-4 cm, warna kuning kehijauan. Pedicel bunga berukuran panjang 2-4 cm, kelopak bunga terdiri 3 sepal bulat telur-segitiga, panjang 2-3 mm. Mahkota bunga tersusun dari 6 kelopak dalam dua rangkaian, terdapat segitiga lanset dengan puncak lancip, terdapat banyak benang sari dengan panjang sekitar 1 mm, gynoecium bunga dibentuk oleh 20-25 karpel monovular bebas, panjang gynoceum 1-2 mm, dan kepala putik berbentuk sesil.
Buah dilahirkan dalam kelompok 10-20 buah, biasanya berbentuk bulat telur. Awal pertumbuhannya buah tanaman ini
berwarna hijau tetapi seiring perkembangan buahnya berubah menjadi ungu atau hitam saat matang. Biji yang terlindungi oleh daging buah berwarna coklat pucat, berbentuk bulat.
Buahnya merupakan sumber makanan bagi kelelawar dan burung yang berperan dalam penyebaran bijinya.
Pohon jenis polyalthia longifolia memiliki daya kecambah yang tahan lama, khususnya pada tanah lempung yang dikeringkan, dijaga tetap lembab pada suhu 24-28 °C, dengan waktu perkecambahan dari 2 hingga 6 minggu.
Kulit batang Polyalthia longifolia merupakan bagian tanaman yang paling umum digunakan karena di daerah asalnya telah digunakan untuk mengobati pireksia, rematik, menoragia, sengatan kalajengking dan diabetes. Sedangkan rebusannya banyak digunakan untuk menyembuhkan sariawan. Suku Kaviraj Bangladesh timur juga memiliki cara yang asing dalam memanfaatkan akar Polyalthia longifolia, Akarnya dipadukan dengan akar Morinda citrifolia dan rimpang Curcuma longa untuk mengobati gigitan ular dan sengatan lebah maupun gigitan serangga. Selain itu kulit kayu tumbuhan Polyalthia longifolia yang dihancurkan lalu dihaluskan juga diyakini masyarakat Bangladesh menyembuhkan dan mengobati batuk dan pembentukan lender . Secara keseluruhan, tanaman ini secara tradisional diolah secara konvensional bisa digunakan untuk menurunkan tekanan darah, meningkatkan imun dan mengobati serta memulihkan penyakit rahim, gonore, keputihan dan menoragia.
Polyalthia longifolia berasal dari India(sighn,2008). Penyebarannya hampir di seluruh daerah dengan ketinggian maksimal 400 mdpl di seluruh negara beriklim tropis termasuk Indonesia.
Agustina, P, R., Komang, L, A., danInyoman, A.G. “Studi tanaman penghijauan glodokan tiang (Polythea longifolia), kasia emas (Cassia surattensis), kelapa (Cocos nucifera) sebagai penyerap emisi gas karbondioksida di jalan PB. Sudirman Denpasar Propinsi Bali”. Agroekoteknologi Tropika Denpasar.2(2):108-114.
Barwick, M., dkk. 2004, Pohon tropis & subtropis: panduan ensiklopedis sedunia, Thames dan Hudson, London.
Salisbury FB, dan Cleon WR. 1995. Fisiologi Tumbuhan. ITB Press. Bandung.
Solihin, A. 2014. Morfologi Daun, Kadar Klorofil, dan Stomata Glodokan (Polyalthia longifolia) pada Daerah dengan Tingkat Paparan Emisi Kendaraan yang Berbeda di Yogyakarta. Skripsi. Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Yogyakarta.
Yulizal. 1995. Anatomi Daun dan Jumlah Stomata dari Beberapa Jenis Anakan.
Sam. (2020).Ciri-ciri dan karakteristik pohon glodokan. Ciri-ciri pohon, 11(9), 1-7. Diakses 18 Oktober 2023 dari https://www.ciriciripohon.com
Jurusan Tadris Ilmu Pengetahuan Alam
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Institut Agama Islam Negeri Ponorogo
Jalan Pramuka No. 156, Ronowijayan, Siman, Tonatan, Kec. Ponorogo, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur 63474, Indonesia. (0352) 481277
Email : ipa@iainponorogo.ac.id