Disusun oleh kelompok 3
Guntur Febrian Panca
Fathir Askha Nursiwan
Gilrandy Hevirlo
Haikal Regi
Muhammad Irgi Almufarrij
Muhammad Jamil
Jl. Batu III No. 3, RT 07 / RW 01, Kelurahan Gambir, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10110.
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang masalah
Kebersihan lingkungan sekolah sering kali hanya dipandang sebagai rutinitas formalitas untuk memenuhi kewajiban. Rendahnya kesadaran ini menyebabkan sulitnya membentuk budaya bersih yang konsisten, terutama karena ketiadaan indikator keberhasilan yang terukur. Tanpa data yang jelas, murid tidak memiliki gambaran nyata mengenai dampak perilaku mereka, sehingga prinsip Eco-School sulit diimplementasikan secara maksimal.
Kelompok kami mengembangkan website statistik kebersihan ini dengan tujuan utama menyediakan transparansi data yang menyajikan kondisi lapangan secara objektif melalui angka dan grafik. Dengan adanya visualisasi data, platform ini berfungsi sebagai instrumen evaluasi diri yang diharapkan mampu menggeser motivasi murid dari sekadar "menjalankan tugas" menjadi tanggung jawab kolektif yang berkelanjutan. Selain itu, data yang terkumpul akan menjadi basis evaluasi bagi sekolah untuk mengambil kebijakan yang lebih akurat dalam mengembalikan identitas sekolah sebagai Eco-School yang kredibel.
1.2 Rumusan masalah
Apakah penerapan sistem digital efektif dalam mempengaruhi perilaku murid dari sekadar "menjalankan tugas" menjadi sebuah budaya yang terus menerus di lakukan di lingkungan sekolah?
Bagaimana efektivitas penggunaan website statistik kebersihan dalam menyediakan transparansi data dan visualisasi kondisi lapangan bagi warga sekolah?
1.3 Tujuan
Menganalisis efektivitas penerapan sistem digital dalam mengubah pola pikir siswa dari sekadar pemenuhan kewajiban akademis menjadi kesadaran lingkungan yang terinternalisasi.
Menganalisis efektivitas website statistik kebersihan dalam mengolah dan menyajikan data kondisi lapangan secara transparan kepada seluruh warga sekolah.
1.4 Manfaat
Bagi murid: Platform ini membuat Murid berhenti melihat kebersihan sebagai beban atau hukuman (karena diperintah guru), melainkan sebagai kontribusi nyata yang bisa mereka lihat hasilnya. Data statistik memberikan kepuasan psikologis saat mereka melihat grafik kelas mereka membaik.
Bagi sekolah: Platform ini memudahkan tugas Guru dalam melakukan pengawasan dan penilaian. Dengan data yang transparan, guru memiliki standar evaluasi yang objektif terhadap kinerja kebersihan kelas, sehingga mengurangi risiko konflik atau rasa tidak adil yang sering dirasakan murid dalam sistem penilaian manual.
Bagi Lingkungan: Masyarakat sekitar sekolah mendapatkan contoh nyata bagaimana sebuah organisasi besar bisa bertransformasi menjadi entitas yang ramah lingkungan melalui bantuan teknologi.
BAB 2
KAJIAN PUSTAKA
Tinjauan pustaka merupakan bahan pustaka yang berkaitan dengan masalah penelitian, berupa sajian hasil atau bahasan ringkas dari hasil temuan penelitian terdahulu yang relevan dengan hasil penelitian. Adapun penelitian terdahulu yang meneliti terkait dengan fokus penelitian adalah sebagai berikut:
Penelitian ini merujuk pada beberapa hasil studi terdahulu yang memberikan dasar kuat mengenai efektivitas sistem digital dalam pengelolaan lingkungan. Salah satu acuan utama adalah penelitian yang dilakukan oleh Sudarsono, Rahmawati, dan Nugroho (2021) dalam jurnal Sistem Informasi dan Teknologi, yang menguji implementasi aplikasi monitoring sampah berbasis komunitas. Hasil studi tersebut menunjukkan bahwa transparansi data melalui platform digital mampu meningkatkan partisipasi aktif masyarakat hingga 40% karena adanya kemudahan dalam memantau progres kebersihan secara langsung. Hal ini membuktikan bahwa visualisasi data secara real-time memiliki korelasi positif terhadap peningkatan keterlibatan individu dalam menjaga ekosistemnya.
Selanjutnya, Wahyudi (2020) dalam studinya yang diterbitkan pada Jurnal Psikologi Pendidikan, menyoroti fenomena "kejenuhan instruksi" pada murid sekolah. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa pendekatan konvensional berupa teguran lisan dan poster statis sering kali gagal membentuk budaya bersih karena tidak adanya indikator capaian yang terukur secara personal maupun kolektif. Wahyudi merekomendasikan penggunaan media interaktif yang mampu menyajikan data komparatif antar-kelompok sebagai stimulus psikologis untuk membangkitkan rasa kompetisi yang sehat. Studi ini menjadi landasan bagi peneliti untuk menggunakan website statistik sebagai media intervensi yang lebih modern dan persuasif dibandingkan metode tradisional.
Korelasi antara kedua studi di atas memberikan landasan teknis dan psikologis yang menjadi dasar pengembangan penelitian ini. Penelitian Sudarsono dkk. (2021) memberikan bukti bahwa transparansi data digital efektif meningkatkan partisipasi aktif, sementara penelitian Wahyudi (2020) menegaskan bahwa pendekatan visual lebih ampuh memicu kesadaran murid dibandingkan instruksi verbal.
2.2 Tinjauan teoritis
Perilaku pro-lingkuan
penelitian oleh Steg dan Vlek (2009) dalam Journal of Environmental Psychology menegaskan bahwa intervensi informasi yang bersifat visual dan terukur jauh lebih efektif dalam mendorong perilaku pro-lingkungan dibandingkan sekadar edukasi konvensional. Dengan memvisualisasikan data kebersihan, secara teoretis sedang membangun akuntabilitas kolektif dan etika ekologis. Penggunaan instrumen digital ini bukan sekadar menjaga kebersihan fisik, melainkan strategi internalisasi nilai Eco-School untuk membentuk karakter murid yang memiliki kesadaran keberlanjutan secara permanen.
BAB 3
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian eksperimen semu (quasi-experimental). Pemilihan metode kuantitatif didasari oleh kebutuhan untuk mengukur secara objektif dan numerik mengenai pengaruh intervensi teknologi terhadap perilaku manusia. Dalam konteks ini, peneliti ingin menguji sejauh mana variabel transparansi data melalui platform website statistik dapat memengaruhi variabel kesadaran budaya Eco-School di kalangan murid. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk melakukan generalisasi hasil penelitian serta memberikan bukti empiris yang kuat melalui uji statistik mengenai efektivitas visualisasi data sebagai instrumen perubahan perilaku kolektif.
3.2 Lokasi dan Waktu Penilitian
Lokasi Penelitian
Penilitian ini Berlokasi di SMA Negeri 4 Jakarta Yang Terletak di Jl. Batu No. 3, RT.7/RW.1, Kelurahan Gambir, Kecamatan Gambir, Kota Administrasi Jakarta Pusat, DKI Jakarta, 10110. Kami meniliti yang mencangkup hampir keseluruhan sekolah, Karena isu lingkungan tidak hanya mencangkup di lingkungan kelas saja tapi keseluruhan di sekolah.
Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan cukup singkat yaitu hanya dalam waktu 10 hari saja dihitung dari hari Senin tanggal 2 Januari 2026 sampai hari Jumat tanggal 13 Januari 2026. Adapun pelaksanaan penelitian dimulai pada Senin 9 Januari 2026 sampai Kamis 12 Januari 2026.
3.3 Fokus Penelitian
Penelitian ini berfokus pada sejauh mana transparansi angka-angka tersebut memicu pergeseran psikologis pada murid; yakni transisi dari kepatuhan semu menjadi tanggung jawab mandiri.
3.4 Jenis dan sumber data
a. Jenis data
penelitian ini menggunakkan jenis data kuantitatif. data kuantitatif adalah data yang dikumpulkan lebih mengambil bentuk angka - angka.
b. Sumber data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan tehnik kusioner yaitu daftar pertanyaan tertulis yang disusun secara sistematis untuk mendapatkan informasi atau data dari responden.
1). Data primer
Data primer adalah data yang diperoleh peneliti dari orang yang pertama, dari sumber asalnya yang belum diolah dan diuraikan orang lain. Data primer yang kami gunakan adalah Observasi.
3.5 Teknik pengumpulan data
Teknik Pengumpulan Data adalah cara-cara sistematis yang dilakukan oleh peneliti untuk mendapatkan data atau informasi yang diperlukan guna menjawab pertanyaan/rumusan masalah penelitian.
a. Observasi
Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi terstruktur menggunakan daftar periksa (checklist) untuk memberikan skor objektif pada setiap area sekolah. Pengamatan dilakukan secara berkala pada jam-jam strategis guna melihat fluktuasi kebersihan serta volume sampah harian secara kuantitatif. Selain kondisi fisik lingkungan, observasi juga difokuskan pada analisis ketepatan pemilahan sampah, yaitu dengan memeriksa apakah sampah yang dibuang sudah sesuai dengan jenis tempat sampahnya (organik, anorganik, atau B3). Seluruh data temuan ini kemudian dikonversi menjadi angka untuk diolah menjadi grafik statistik yang akurat pada website.
b. Wawancara
Teknik pengumpulan data juga dilakukan melalui wawancara terstruktur kepada para penjual di kantin sekolah untuk memetakan sumber sampah secara spesifik. Proses ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis dan estimasi volume sampah yang diproduksi setiap harinya, seperti penggunaan kemasan plastik, sisa makanan, hingga limbah kertas. Informasi dari para penjual ini menjadi data krusial untuk melengkapi statistik di website, sehingga sumber penumpukan sampah dapat terdeteksi dan dikelola dengan lebih tepat sasaran sesuai jenisnya.
BAB 4
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
a. Hari pertama
Hasil pengamatan pada hari pertama menunjukkan perbedaan kualitas kebersihan yang cukup mencolok di antara 18 kelas yang diobservasi. Secara umum, sebagian besar kelas sudah mulai memenuhi standar, namun masih terdapat beberapa kelas dengan kondisi yang memprihatinkan. XII-F7 dan XII-F11 menjadi kelas terbaik dengan perolehan skor sempurna (100), karena berhasil memenuhi seluruh kriteria mulai dari kebersihan lantai hingga kerapihan furnitur kelas.
Namun, terdapat catatan penting pada aspek kerapihan meja, di mana banyak kelas kehilangan poin karena kursi belum diangkat ke atas meja atau posisi meja yang tidak beraturan. Selain itu, kebersihan kolong meja dan lantai menjadi kendala utama pada kelas dengan skor rendah, seperti XI-F6 (skor 20) dan X-E6 (skor 30). Temuan ini mengindikasikan bahwa pada hari pertama, kesadaran siswa untuk menjaga detail kecil dan disiplin piket kelas masih perlu ditingkatkan secara merata di semua jenjang.
b. Hari kedua
Pada hari kedua, terjadi peningkatan kebersihan yang signifikan di beberapa titik. Jumlah kelas yang mencapai skor sempurna (100) bertambah menjadi tujuh kelas, yaitu X-E1, X-E3, XI-F2, XI-F4, XII-F7, XII-F8, dan XII-F11. Hal ini menunjukkan bahwa intervensi atau kesadaran siswa di kelas-kelas tersebut mulai meningkat secara drastis dibandingkan hari sebelumnya.
Meskipun tren umum meningkat, aspek kebersihan papan tulis dan kolong meja muncul sebagai catatan evaluasi baru di beberapa kelas seperti XI-F3 dan XI-F5 yang sebenarnya sudah memiliki skor tinggi (90). Di sisi lain, kelas X-E6 masih tertahan di skor rendah (30) dengan kendala yang sama pada kerapihan meja dan kolong meja, sementara XI-F6 menunjukkan sedikit perbaikan dari skor 20 ke 50, meskipun masih harus berbenah pada aspek lantai dan papan tulis. Secara keseluruhan, hari kedua mencerminkan adanya respons positif dari mayoritas kelas, namun kedisiplinan pada detail kebersihan lantai dan laci meja masih belum konsisten di semua lini.
c. Hari ketiga
Pada hari ketiga, tercatat empat kelas yang berhasil mencapai skor sempurna (100), yaitu XII-F11, XII-F8, XII-F7, dan XI-F4. Keberhasilan kelas-kelas ini menunjukkan stabilitas kedisiplinan yang sangat baik sepanjang periode observasi. Khusus untuk XII-F11, kelas ini layak mendapatkan apresiasi tertinggi karena berhasil mempertahankan skor 100 secara konsisten selama tiga hari berturut-turut.
Secara umum, mayoritas kelas berada di rentang skor 70 hingga 90, dengan kendala utama yang bergeser ke arah kebersihan lantai dan kolong meja. Sebagai contoh, kelas XI-F1 dan XI-F2 (skor 90) kehilangan poin karena kondisi lantai yang kurang bersih setelah kegiatan menghias kelas. Sementara itu, kelas X-E6 menunjukkan sedikit peningkatan ke skor 40, namun masih menjadi catatan kritis karena masalah bangku yang tidak diangkat serta papan tulis yang kotor. Penurunan skor juga terlihat pada XII-F9 dan XII-F10 yang turun ke angka 70 dan 40 akibat masalah pada kolong meja dan kerapihan umum, yang mengindikasikan adanya penurunan stamina atau fokus pada hari terakhir observasi.
Hasil observasi menunjukkan kondisi yang cukup memprihatinkan di seluruh jenjang, mulai dari kelas X-E1 hingga XII-F12. Berdasarkan statistik, tidak ada satu pun kelompok kelas yang berhasil membuang sampah sesuai dengan jenisnya pada tempat sampah selektif yang telah disediakan. Mayoritas siswa masih mencampur seluruh jenis sampah tanpa mempedulikan kategori organik, anorganik, atau lainnya. Fenomena skor "0" di seluruh kelas ini menunjukkan bahwa pemisahan sampah belum menjadi bagian dari kebiasaan harian siswa, meskipun tingkat kebersihan fisik di dalam kelas sudah cukup baik.
Total estimasi sampah harian yang dihasilkan dari tiga kantin (Bu Lia, Warung geprek, dan Bang Jo) mencapai 100 unit piring kertas serta 100 unit gelas plastik. Jika dikorelasikan dengan populasi 648 siswa di 18 kelas, data ini menunjukkan ketergantungan tinggi pada wadah sekali pakai, namun angka tersebut terindikasi kuat memiliki bias informasi. Penggunaan angka bulat (50 dan 100) mencerminkan bahwa data ini hanyalah estimasi kasar dari pedagang, bukan hasil pencatatan riil, sehingga validitasnya meragukan. Selain itu, terdapat ketimpangan besar antara total sampah yang dilaporkan (200 unit) dengan jumlah populasi siswa (648 orang); terdapat selisih 448 siswa yang aktivitas konsumsinya tidak terdata, sehingga gambaran volume sampah sebenarnya kemungkinan jauh lebih besar namun belum terpotret secara akurat dalam wawancara ini.
BAB 5
KESIMPULAN
Berdasarkan rangkaian observasi selama tiga hari dan hasil wawancara di lingkungan sekolah, dapat disimpulkan bahwa pengelolaan lingkungan masih berfokus pada estetika fisik di dalam ruangan dan belum menyentuh aspek pengelolaan limbah yang berkelanjutan. Meskipun terdapat tren positif pada kebersihan kelas dengan beberapa kelas seperti XII-F11 dan XII-F7 mencapai skor sempurna secara konsisten, keberhasilan ini tidak diiringi dengan kesadaran pemilahan sampah. Seluruh kelas (X-E1 hingga XII-F12) menunjukkan kegagalan total dalam memfungsikan tempat sampah selektif, yang diperparah dengan tingginya produksi sampah sekali pakai dari kantin yang mencapai estimasi 200 unit piring kertas dan gelas plastik per hari untuk melayani 648 siswa.
Murid perlu mengubah pola pikir dari sekadar "membersihkan kelas" menjadi "menjaga lingkungan" dengan membiasakan disiplin pada detail kecil, seperti memastikan kolong meja bersih dan mengangkat kursi secara mandiri setiap hari tanpa harus menunggu instruksi. Dalam hal pengelolaan limbah, murid harus mulai mempraktikkan pemilahan sampah sesuai kategori pada tong selektif dan tidak lagi mencampur sampah organik dengan anorganik hanya demi kecepatan. Selain itu, diperlukan inisiatif nyata dari 648 murid untuk mulai membawa botol minum (tumbler) dan wadah makan pribadi dari rumah guna mengurangi ketergantungan pada piring kertas dan gelas plastik sekali pakai dari kantin, sehingga volume sampah sekolah dapat ditekan secara signifikan dari tindakan individu yang sederhana.