Sejarah Berdirinya
PESANTREN ASSA'ADAH LIMBANGAN
PESANTREN ASSA'ADAH LIMBANGAN
KHR. E. Muhammad Jawari adalah kiyai yang soleh dan taat dalam kehidupan beragama. Ketaatannya dalam beragama dijewantahkan dengan senantiasa menjalankan amalan- amalan peribadatan dengan baik. Hal ini sebenarnya tidak begitu mengherankan, karena KHR E. Muhammad Jawari adalah anak KHR. Muhammad Jawahir (Mama Lio) keturunan dari Mama Eyang Salinggih, seorang ulama yang dikenal memiliki banyak barokah dari Cicadas Limbangan.
Sisi lain yang menonjol dari sosok KHR.E. Muhammad Jawari adalah kuat dalam menjalin hubungan silaturahmi dengan semua lapisan masyarakat. Dari rakyat kebanyakan hingga ke lapisan atas masyarakat.
Ketika beliau berkeinginan mendirikan pesantren untuk lebih mengembangkan dakwah, dengan mudah dukungan para tokoh dan masyarakat sekitar pun mengalir. Maka, dibangunlah sebuah Mesjid Jamie dan Pondok Santri , meski masih sederhana, di atas tanah wakaf dari bibinya sekaligus ibu angkatnya yakni Hj. R. Ika Siti Atikah dan suaminya KHR. Muhammad Marzuq.
Pada tahun 1984, secara resmi pondok pesantren itu pun didirikan dengan nama “Pondok Pesantren As-Sa’adah” dibawah payung hukum Yayasan Pondok Pesantren As-Sa’adah (YPPA) dengan Akte Notaris Aam Warlimah, SH No. 7 Tahun 1999.
Nama As-Sa’adah berasal dari bahasa arab yang mengandung arti kebahagiaan. Para pendiri pesantren berkeinginan bahwa Pondok Pesantren As-Sa’adah mampu memberikan kebahagiaan lahir batin baik kepada para jemaah maupun para santrinya. Pesantren As- Sa’adah adalahtempat dimana orang bisa berbahagia.
Kata As-Sa’adah juga biasa disematkan untuk nama seorang anak perempuan bungsu KHR. E. Muhammad Jawari. Yang berarti, Pesantren Assa’adah menghormati kehadiran seorang perempuan yang nantinya menjadi istri seorang kiyai dan sebagai ibu dari anak- anaknya beserta segenap anak-anak didiknya. Seperti nama Pesantren Al Ghoniyyah yang dinisbatkan kepada Nyimas Rd. Siti Ghoniyyah istri dari KHR. Zarkasih Hasan Maulany. Sebuah bentuk penghormatan atas kehadiran seorang ibu dalam mengarungi kehidupan di alam fana ini untuk menjadi bekal di alam kekal nanti.
Waktu berlalu. KHR. E. Muhammad Jawari sudah merasa sepuh untuk terus menjalankan aktifitas kepesantrenan. Terpikir untuk mencari pengganti estafet kepemimpinan pesantren. Sayangnya, kebanyakan putranya adalah perempuan. Adapun latar belakang pendidikan putra lelakinya adalah sekolah umum. Tidak mungkin bisa untuk menjadi tokoh sentral kepemimpinan pesantren yang harus bisa ngaji. Maka, kalau tidak anak , ya mantu lah yang harus dicari. Ketika mantu yang dipilih, harus lah berasal dari bibit yang unggul.
Tersebutlah Pesantren Al-Machfudz Wates yang saat itu dipimpin KHR. Uding Muhyiddin sedang memasuki masa kejayaannya. Jemaah pengajian dan santri datang dari berbagai penjuru. Selain ketokohannya diakui masyarakat banyak, beliau pun menjadi anutan keluarga besar karena dipandang sebagai cucu tertua dari KHR. Zarkasih Hasan Maulany bin KHR Nur Muhammad, pendiri Pesantren Cikelepu.
Dari pernikahannya dengan Hj.Rd. Siti Maryam, KHR. Uding Muhyiddin dianugerahi 11 orang anak. Baik putra maupun menantu beliau hampir semuanya menjadi kiyai. Seperti KHR. Encep Fakhruddin Pimpinan Pondok Pesanren Syifaush Shudur ( putera ) dan KHR. Ali Muhyiddin ( putera ) pimpinan Pondok Pesantren Al-Halim Tarogong Garut. KHR. Ahmad Dasuki (menantu), pemimpin Pondok Pesantren Qiraat Al Fadhlilah Ciseureuh Limbangan.
Salah satu putra mahkota wates yang menjadi kecintaan KHR Uding Muhyiddin adalah putra ke 10 nya, yaitu KHR. Amin Muhyiddin. Agak sedikit nakal, tetapi cerdas. Seorang Amin inilah yang kemudian dibidik oleh KHR. E.Muhammad Jawari untuk dijadikan menantunya.
Dan setelah menerima pendidikan dasar di pesantren ayahandanya Al Machfudz Wates sepeninggalan ayahhanda tercintanya di bimbing langsung oleh kakak laki-laki tertua yakni KHR. Aten Muhyiddin Maolani. KHR. Amin Muhyiddin melanjutkan pendidikannya di Pesantren Riyadul Alfiyyah Sadang WanarajaGarut. Di pesantren ini menjalani pendidikannya sebanyak dua kali. Selanjutnya, ke Pesantren Sukamiskin Bandung. Pesantren tua yang pernah dikelola “ Ua kakek”-nya, KHR. MuhammadKholiel. Kemudian ke Pesantren Minhajul Karomah Banjar. Di pesantren ini pun beliau menerima pendidikannya sebanyak dua kali. Dan terakhir, di Pesantren Al-Badar Sidoresmo Wonokromo Surabaya Jawa Timur.
Singkat cerita, KHR Amin Muhyiddin pun menikah dengan Hj.Rd. Endeh Siti Sa’adah, putri dari KHR. E.Muhammad Jawari. Tongkat kepemimpinan Pondok Pesantren As-Sa’adah juga sepenuhnya diserahkan kepada kepemimpinan KHR. Amin Muhyiddin.
Tidak mudah bagi seorang Amin muda untuk mengembangkan Pesantren As-Sa’adah. Infrastruktur yang ada saat itu baru berupa masjid jamie dan pondok kecil sederhana untuk para santri.
Yang harus dilakukan pertama kali adalah meramaikan pesantren. Yang lainnya menyusul.
Begitu kira-kira pemikiran seorang Amin muda. Karena itu, beliau bekerja sama dengan IPWC ( Ikatan Pemuda Warga Cikelepu ) yang saat itu dikomandani Ir. Umar Yusuf Mustofa (alm) untuk memindahkan lokasi pesantren kilat yang biasanya di Pesantren Wates ke Pesantren Assa’adah. Alhamdulillah. Event ini berjalan lancer.
Sepeninggal aktifitas IPWC, kemudian turut meramaikan pula “komunitas Al Kamil” bentukan sdr. Rd. Aas Kosasih, S.Ag.,MSi. Mantan ketua Baznas Periode 2016 – 2021. Komunitas Al Kamil adalah komuitas pemuda Garut Utara pada waktu itu. Banyak dari anggotanya kemudian masantren di Assa’adah.
Sementara itu, ketokohan KHR Amin Muhyiddin mulai diakui oleh masyarakat limbangan. Banyak permasalahan-permasalah sosial yang kemudian dicarikan solusinya dengan berkonsultasi ke beliau. Pengakuan masyarakat limbangan tersebut mengantarkan beliau untuk juga diakui ketokohannya oleh masyarakat Garut pada umumnya. Hal ini terbukti dengan terpilihnya beliau sebagai Rois Syuriah PC NU Kabupaten Garut untuk periode 2015- 2020 dan periode ke 2 tahun 2020-2025.
Tahun dan tahun terus berganti. Pesantren Assa’adah yang kini menempati luas lahan kurang lebih seluas 6.000 M2 terus berbenah diri. Infrastruktur pesantren terus semakin komplit, serperti tersedianya Asrama Putra dan Putri, Gedung Sekolah, Madrasah, Kantor Yayasan, MCK, Mesjid, dapur umum, dan lain-lainnya.
Terhitung sejak tahun 2015, Pesantren Assa’adah mulai mengkombinasikan system pengajaran berbasis salafiyah dan khlafiyah dengan mendirikan SMP & SMA Plus.
Keberhasilan Pesantren Assa’adah tidak terlepas dari dukungan tim work pesantren yang berkompeten di bidangnya masing-masing, diantaranya : Ust.HR. Imam Abdurrahman, Ust.R.
Muhammad Nizar, KH. Ceng Maki Syarif Hidayatulloh, Lc, Drs.HR. Cecep Suhendar, R. Agus Kusaeri Ridwan, Agus M. Mabrur, Amin Munawwar, Jenal Mahpudin, dan Seluruh Alumni Pondok Pesantren Assa’adah.
Alamat Pesantren As-Sa’adah sekarang di : Jl. Raya Limbangan No. 104, Desa Limbangan
Tengah, Kec. Bl. Limbangan – Garut 44186. Phone Contact : 0262-431010