Pertama-tama, Bima berkenalan dengan beberapa tokoh penting di Kota Matematika:
Bilangan Bulat: Ini adalah bilangan positif, nol, dan negatif yang semuanya utuh, seperti -3, 0, dan 7. Bilangan bulat sangat berguna ketika kita mengukur suhu, menghitung ketinggian atau kedalaman, dan lainnya.
Bilangan Rasional: Ini adalah bilangan yang bisa ditulis sebagai pecahan, misalnya 12\frac{1}{2}21 atau 0.750.750.75. Bima mengingatkan diri bahwa bilangan rasional digunakan dalam hal seperti membagi makanan atau mengukur bahan masakan.
Akar Bilangan: Bilangan ini adalah hasil dari mencari nilai tertentu yang, jika dikalikan dengan dirinya sendiri, menghasilkan angka yang diinginkan. Misalnya, akar dari 25 adalah 5 karena 5×5=255 \times 5 = 255×5=25. Akar ini berguna dalam bidang seperti mengukur jarak diagonal atau membuat bidang persegi.
Bilangan Berpangkat: Jika kita mengalikan angka yang sama beberapa kali, kita mendapatkannya sebagai pangkat. Misalnya, 232^323 artinya 2×2×2=82 \times 2 \times 2 = 82×2×2=8. Ini sering digunakan dalam mengukur volume atau menghitung pertumbuhan populasi.
Bima pun mencatat semua ini di buku kecilnya. Sekarang ia siap menghadapi tantangan!
Bima menemukan selembar kertas dengan sebuah soal di atasnya:
Soal: Jika kamu memiliki -8 kelereng dan ingin menambahkan 12 kelereng lagi, berapa jumlah kelereng yang kamu punya sekarang?
Dengan cepat, Bima berpikir, "Ini adalah operasi sederhana bilangan bulat."
−8+12=4-8 + 12 = 4−8+12=4
"Bima, kamu sekarang punya 4 kelereng," serunya pada dirinya sendiri. "Aku berhasil!"
Lalu, Bima menemukan soal lainnya yang berbunyi:
Soal: Tentukan FPB dan KPK dari bilangan 18 dan 24.
Bima teringat trik yang dia pelajari dari gurunya untuk menemukan Faktor Persekutuan Terbesar (FPB) dan Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK).
FPB (Faktor Persekutuan Terbesar): Bima memecah angka 18 dan 24 ke dalam faktor primanya:
18 = 2×3×32 \times 3 \times 32×3×3
24 = 2×2×2×32 \times 2 \times 2 \times 32×2×2×3
Faktor yang sama adalah 222 dan 333. Jadi, FPB-nya adalah 2×3=62 \times 3 = 62×3=6.
KPK (Kelipatan Persekutuan Terkecil): Untuk KPK, Bima mengambil semua faktor prima yang ada:
KPK = 2×2×2×3×3=722 \times 2 \times 2 \times 3 \times 3 = 722×2×2×3×3=72
"Aku sudah dapatkan jawabannya!" serunya. "FPB adalah 6 dan KPK adalah 72."
Saat berjalan, Bima menemukan teka-teki lain:
Soal: Bima punya 25 permen yang ingin dibagikan pada 4 temannya secara merata. Berapa banyak permen yang akan didapat masing-masing, dan berapa sisanya?
Dengan cepat, Bima melakukan pembagian:
25÷4=6 dengan sisa 125 \div 4 = 6\ \text{dengan sisa 1}25÷4=6 dengan sisa 1
"Masing-masing akan mendapat 6 permen, dan akan ada 1 permen yang tersisa," pikir Bima dengan senyum.
Untuk membantu temannya, Bima juga menulis beberapa trik cepat:
Bilangan Bulat dan Operasi:
Tambah angka positif dan negatif secara hati-hati. Contoh: -3 + 5 = 2.
FPB dan KPK Cepat:
Jika ingin menemukan FPB atau KPK tanpa membagi, ingat angka-angka dasar dari faktorisasi, seperti 2, 3, 5, dsb.
Pembagian dengan Sisa:
Saat menghitung sisa, gunakan simbol "mod" untuk mengingatkan bahwa kita hanya perlu angka sisanya. Contoh: 25mod 4=125 \mod 4 = 125mod4=1.
Setelah menyelesaikan petualangannya, Bima sadar bahwa konsep bilangan sangatlah berguna di kehidupan sehari-hari. Misalnya:
FPB dan KPK: Berguna saat kita ingin membagi barang-barang dengan merata atau mencari jadwal berulang. Misalnya, jika satu acara terjadi setiap 3 hari dan yang lain setiap 4 hari, kita bisa menghitung kapan keduanya terjadi di hari yang sama.
Bilangan Berpangkat: Digunakan untuk menghitung luas atau volume saat merencanakan tempat duduk di pesta ulang tahun atau membagi ruang.
Bilangan Rasional: Sangat penting untuk mengukur bahan dalam memasak atau membagi uang saku.
Di akhir hari, Bima berhasil menyelesaikan semua soal dan menerima penghargaan "Ahli Bilangan." Dengan bangga, ia membawa pulang buku catatannya, siap untuk membantu teman-temannya memahami bilangan dan menyelesaikan soal matematika di hari-hari mendatang.