Burung Rangkong
Klasifikasi Ilmiah
Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Sub-Filim : Vertabrata
Kelas : Aves
Ordo : Bucerotiformes
Rangkong gading atau Enggang gading (Buceros/rhinoplax vigil) adalah burung berukuran besar dari keluarga Bucerotidae. Burung ini ditemukan di Semenanjung Malaya, Sumatera, dan Kalimantan. Burung ini juga menjadi maskot Provinsi Kalimantan Barat, dan termasuk dalam jenis fauna yang dilindungi undang-undang. Dalam budaya Kalimantan Barat, burung Rangkong gading (tingan) merupakan simbol "Alam Atas" yaitu alam kedewataan yang bersifat "maskulin". Di Pulau Kalimantan Barat, burung Rangkong gading dipakai sebagai lambang daerah atau simbol organisasi seperti di lambang negeri Sarawak, lambang provinsi Kalimantan Barat, satwa identitas provinsi Kalimantan Barat, simbol Universitas Lambung Mangkuratdan sebagainya. Burung Rangkong Gading merupakan lambang persatuan orang Dayak yang sering diwujudkan dalam bentuk ukiran pada Budaya Dayak, sedangkan dalam budaya Banjar, burung Rangkong Gading diukir dalam bentuk tersamar (didistilir) karena Budaya Banjar tumbuh di bawah pengaruh agama Islam yang melarang adanya ukiran makhluk bernyawa. Rangkong Gading juga merupakan simbol budaya suku Naga di India timur.
Deskripsi Tubuh, Secara umum burung Rangkong atau Enggang mempunyai ciri khas berupa paruh yang sangat besar menyerupai tanduk. Di Indonesia, ukuran tubuh Rangkong sekitar 40 – 150 cm, dengan rangkong terberat mencapai 3.6 Kilogram. Umumnya warna bulu Rangkong didominasi oleh warna hitam (bagian badan) dan putih pada bagian ekor. Sedangkan warna bagian leher dan kepala cukup bervariasi. Ciri khas burung rangkong lainnya adalah suara dari kepakan sayap dan suara “calling”, seperti yang dipunyai Rangkong Gading (Buceros vigil) dengan “calling” seperti orang tertawa terbahak-bahak dan dapat terdengar hingga radius 3 Km. Habitat, Rangkong tersebar hampir di seluruh wilayah tropis, mulai dari hutan primer, hutan sekunder, hutan dataran rendah, hutan Dipterocarpaceae, dan daerah rawa. Secara keseluruhan, terdapat 62 spesies rangkong yang berhabitat di berbagai jenis tempat, termasuk sabana, hutan hujan, dan bahkan dataran tinggi berbatu. Hampir semua rangkong menghabiskan waktu di atas pohon, namun beberapa dari mereka terkadang juga bersarang di tebing berbatu.
Perilaku, Ilmu yang mempelajari perilaku satwa disebut sebagai etologi. Etologi adalah studi ilmiah dan objektif tentang perilaku hewan, mekanisme serta faktorfaktor penyebabnya, biasanya dengan fokus pada perilaku dalam kondisi alam. Perilaku satwa liar merupakan gerak gerik satwa liar untuk memenuhi rangsangan dalam tubuhnya dengan cara memanfaatkan dan merespon rangsangan yang diperoleh dari lingkungannya (Winarno dan Harianto, 2018).
1). Perilaku Bersarang
Lubang alami menjadi tempat yang dicari oleh rangkong untuk bersarang, umumnya lubang alami tersebut ditemukan pada pohon yang masih hidup, terletak pada bagian batang utama atau pada cabang yang besar dengan bagian batang tidak tertutup liana atau tumbuhan merambat lainnya. Pohon yang didapati sebagai tempat bersarang rangkong yaitu yang mempunyai lubang dengan ukuran pohon yang cukup besar berukuran antara 65,5 – 195 cm.
2). Perilaku Makan
Perilaku makan adalah bentuk penampakan dari aktivitas satwa saat makan. Aktivitas makan itu sendiri merupakan bagian aktivitas harian. Pada burung umumnya aktivitas mencari pakan dilakukan dari pagi hingga sore hari, kecuali pada jenis burung malam (nokturnal). Burung umumnya aktif mencari pakan pada pagi hari dan sore hari, sementara siang hari mengurangi aktivitasnya dengan berteduh dan beristirahat pada pohon sarang atau pohon tempat beristirahat. Perilaku makan pada makhluk hidup berupa proses memakan makanan dalam bentuk padat maupun cair. Perilaku makan juga bervariasi baik frekuensi lamanya makan, maupun tingkah laku saat makan. Burung rangkong umumnya bersifat frugivorous (hewan pemakan buah) namun dapat juga bersifat omnivorous saat musim berbiak.
Perkembangbiakan,Rangkong merupakan satwa monogami, yaitu hanya melakukan proses reproduksi dengan satu pasangan saja. Perilaku bersarangnya juga unik, yaitu rangkong betina mengurung diri di dalam lubang pohon selama mengerami yang ditutup dengan lumpur dan hanya disisakan lubang kecil untuk melewatkan makanan yang dibawa oleh rangkong jantan dari luar sarang. Fase perkawinan rangkong terjadi ketika bertengger di dekat sarang, hal tersebut terjadi sebelum betina menempati sarang. Perilaku unik yang tercatat yaitu sepasang rangkong jantan dan betina teramati sedang terbang 30 meter ke tanah, dengan menepukkan sayap satu sama lain dan berpegangan erat pada paruh mereka. Pada fase kawin, betina akan menghabiskan waktunya untuk berjemur sambil merapikan bulu tubuhnya di bawah sinar matahari. Ketika pasangan rangkong telah menemukan sarang yang tepat, maka betina akan mempersiapkan lubang sarang tersebut dengan membersihkan serbuk kayu maupun kotoran yang memenuhi lubang, sementara jantan bertengger di sekitar sarang untuk mengamati keadaan sekitar..
Penyebab Kelangkaan, Jenis-jenis rangkong di berbagai kawasan dunia cenderung terancam kelangsungan hidupnya di alam. Di kawasan Asia Tenggara, seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, anacaman tersebut menjadi-jadi akibat tindakan manusia yang tidak bijaksana terhadap jenis-jenis burung tersebut. Misalnya, tindakan manusia dengan merusak kawasan hutan yang menjadi habitat burung dan maraknya perburuan liar. Karena itu, tidaklah mengherankan bila jenis-jenis burung rangkong di Indonesia telah masuk kategori terancam bahaya dan dilindungi undang-undang. Di Indonesia jenis-jenis burung rangkong telah dilindungi sejak masa kolonial Belanda, berdasarkan undang-undang tahun 1931 dan juga dilindungi berdasarkan UU No.5 tahun 1990, tentang konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan ekosistemnya, dan Peraturan Pemerintah (PP) No.7 Tahun 1999. Namun, sayangnya walaupun semua jenis burung dari Famili Bucerotidae telah dilindungi undang-undang di Indonesia. Pada umumnya jenis-jenis burung tersebut masih biasa diperdagangkan di pasar-pasar burung di kota atau dipelihara secara pribadi di rumah-rumah, dijadikan 'anggota keluarga'. Sementara itu, kawasan hutan yang menjadi habitat jenis-jenis burung rangkong di berbagai tempat di Indonesia banyak yang ditebang dan rusak berat atau hilang sama sekali.
Fakta Unik, Rangkong memiliki kebiasaan menggesekkan paruh (preening) ke kelenjar uropygial penghasil warna oranye merah yang terletak di bawah ekornya yang mengakibatkan paruh dan mahkota akan berubah warna menjadi oranye dan merah seiring dengan bertambahnya usia. Paruh rangkong berwarna mencolok, dari warna kuning, coklat, hingga warna hitam. Pada saat terbang, setiap jenis rangkong dapat dibedakan secara mudah dan cepat dengan melihat bentuk paruh, bentuk balung, warna sayap, dan warna ekor, seperti pada rangkong badak, saat terbang balungnya yang khas berbentuk seperti cula akan mudah dikenali, serta warna ekornya yang berwarna putih dengan garis pita berwarna hitam. Pada rangkong gading saat terbang akan mudah dikenali dengan melihat bagian tengah ekornya yang memanjang.