Sini, Sayangku, Kita Bubarkan Kota Ini - Rukmana Ilham
Rukmana Ilham menggunakan hal paling Gen Z, yaitu trauma perpisahan—cinta yang usai di Tembalang, kebohongan di Condongcatur—sebagai timah untuk menembak jantung sistem. Bukan sekadar patah hati, melainkan kritik atas kemiskinan yang menjelma kealpaan bapak, tragedi hubungan industrial, dan angin surga khas urban dari Banguntapan hingga Bojonggede.
Dengan diksi yang cengeng, subversif, ngomel, dan nirampun, buku ini menyuarakan nasib anak haram reformasi yang menolak tunduk pada negara dan monarki. Aku-puisi merangkum ironi kehidupan sehari-hari: dari kritik fetish politikus terhadap kemiskinan, boros gula-gula di gelas angkringan, hingga gunungan sampah di pinggir Umbulharjo.
Ketika tak ada lagi maaf dan kemiskinan hadir di antara sepasang mata, ajakan untuk membubarkan kota ini adalah satu-satunya pilihan paling realistis.
Judul: Sini, Sayangku, Kita Bubarkan Kota Ini
Penulis: Rukmana Ilham
Penyunting: Sengon Karta
100hlm, 14x20cm
Bookpaper, soft cover
Cetakan pertama, November 2025
Penerbit Semut Api
Rp65.000
SalingZineau Vol. 02 (September 2025) Negara di Pusaran Krisis Panji Dafa A. & Langit Gemintang MH.
56 hlm, 14x20cm
Bookpaper, soft cover
42.000
Beberapa waktu belakangan, kita melihat dan sekaligus mengalami kemerosotan dalam banyak hal di negara ini. Demokrasi yang perlahan dikebiri, baik dengan kekuatan aparatus negara maupun undang-undang yang tak memihak pada rakyat.
Dari semua hal itu, kita lantas bertanya, mengapa hal ini terus-menerus terjadi? Lalu, bagaimanakah seharusnya arah yang ideal bagi bangsa ini? Apakah kita akan selalu terjebak untuk hidup dalam rutinitas penderitaan yang berulang?
Dalam dua esai di SalingZineau Vol. 02 (September 2025), Panji Dafa Amrtajaya melalui paradigma transkonstruksi menawarkan pada kita sebuah analitis lain dalam membaca fenomena kenegaraan hari ini. Sedangkan Langit Gemintang Muhammad Hartono mengajak kita membayangkan kemungkinan adanya (lagi) poros nasionalisme kiri di kancah perpolitikan bangsa ini.
Buku ini mengulas keterlibatan militer dalam urusan pertanian di Indonesia, khususnya program Upsus Pajale (Upaya Khusus Produksi Padi, Jagung, dan Kedelai) yang dimulai pada masa pemerintahan Joko Widodo. Pemerintah memperluas peran tentara hingga ke tingkat akar rumput untuk mengejar target produksi pertanian sebagai basis legitimasi kekuasaannya.
Namun, fokus pada target produksi menimbulkan problem di sektor agraria dan diabaikannya kekurangan kapasitas institusi sipil di bidang pertanian. Alih-alih memperkuat lembaga sipil, kebijakan ini justru menambah beban militer dan memperparah persoalan agraria yang telah lama tak terselesaikan. Buku ini hadir sebagai catatan penting mengenai hubungan sipil-militer sekaligus potret problem agraria yang kerap hanya ditangani secara tambal sulam.
Judul: KAWULA TANI DI BAWAH SEPATU LARS: Potret Peran Militer dalam Program Pertanian di Indonesia
Penulis: Anggalih Bayu Muh. Kamim
Penerbit Semut Api
Edisi ke-1, Sept 2025
150 hlm. 14,5×20,5cm
Bookpaper, soft cover
Rp70.000
Melihat Kembali Jakarta dan Moskow: Sejarah Diplomasi, Ekonomi, Politik, Militer, Pendidikan, dan Kebudayaan Indonesia-Rusia
Penulis: Aslama Nanda Rizal, M.Hum., dkk (Kelas Jurnalisme Sejarah FIB Undip)
125 halaman, 15,5x23cm
Bookpaper, softcover
Penerbit Semut Api, Yogyakarta
Buku Melihat Kembali Jakarta & Moskow merupakan upaya menggali dan merangkai ulang jejak panjang hubungan historis antara Indonesia dan Rusia (dulu Uni Soviet) sejak awal kemerdekaan Indonesia hingga era kontemporer. Dengan pendekatan jurnalistik yang berbasis sejarah, buku ini menyoroti masa keemasan hubungan kedua negara pada era Sukarno-Khrushchev, keterlibatan Uni Soviet dalam pembangunan Indonesia, hingga dinamika politik global yang mendinginkan hubungan selama Orde Baru, dan kebangkitan kembali persahabatan itu pasca-Reformasi. Di tengah dunia yang kian terpolarisasi, buku ini menghadirkan kisah dua bangsa majemuk yang pernah dan bisa kembali menjadi teladan solidaritas lintas ideologi dan budaya.
Rp85.000
Melihat Kembali Jakarta dan Moskow: Sejarah Diplomasi, Ekonomi, Politik, Militer, Pendidikan, dan Kebudayaan Indonesia-Rusia
Penulis: Aslama Nanda Rizal, M.Hum., dkk (Kelas Jurnalisme Sejarah FIB Undip)
125 halaman, 15,5x23cm
Bookpaper, softcover
Penerbit Semut Api, Yogyakarta
Buku Melihat Kembali Jakarta & Moskow merupakan upaya menggali dan merangkai ulang jejak panjang hubungan historis antara Indonesia dan Rusia (dulu Uni Soviet) sejak awal kemerdekaan Indonesia hingga era kontemporer. Dengan pendekatan jurnalistik yang berbasis sejarah, buku ini menyoroti masa keemasan hubungan kedua negara pada era Sukarno-Khrushchev, keterlibatan Uni Soviet dalam pembangunan Indonesia, hingga dinamika politik global yang mendinginkan hubungan selama Orde Baru, dan kebangkitan kembali persahabatan itu pasca-Reformasi. Di tengah dunia yang kian terpolarisasi, buku ini menghadirkan kisah dua bangsa majemuk yang pernah dan bisa kembali menjadi teladan solidaritas lintas ideologi dan budaya.
Rp85.000
Keluarga korban Peristiwa 1997–1998 memilih merawat ingatan kolektif melalui situs publik Aksi Kamisan. Kenapa mereka memilih mengingat dan merawat ingatan tersebut alih-alih memaafkannya? Buku ini akan mengkaji secara mendalam pengalaman hidup keluarga korban dalam menghadapi peristiwa traumatis di masa lalu. Melalui kerangka psikologi pembebasan, hubungan antara kekerasan politik, trauma, dan memori kolektif dibahas secara komprehensif dalam buku ini.
Judul: JANGAN DIAM, LAWAN!
Aksi Kamisan dan Ingatan yang Tak Akan Hilang
Penulis : M. Miftahul Hidayat
Editor: Farras Pradana
Desain Sampul : M. Rafli Ilham
Cetakan Pertama, September 2025
14 x 20.5 cm xvi + 156 halaman
Diterbitkan oleh: Penerbit Semut Api, Yogyakarta, Indonesia
Rp65.000
Dalam sepi yang tak pernah benar-benar kosong, puisi-puisi ini menggema dari Hualien hingga Jakarta, dari sinyal yang tersendat hingga laut yang tak bisa mengirim surat. “hasian, sebentar lagi aku pulang” adalah himpunan rindu yang merayap dalam detik, piksel, dan doa. Ia bukan hanya cerita tentang jarak, tapi tentang bagaimana cinta menjelma dalam layar ponsel, aroma mochi, dan hujan yang turun di dua kota.. Di balik setiap bait, tersimpan janji yang dititipkan pada langit, ombak, dan satelit. Sebuah perjalanan pulang yang tak tergesa, tapi pasti. Sebuah cinta yang tak pernah bertanya: “kapan?”—hanya; “masihkah kau tunggu?”
Judul: Hasian, Sebentar Lagi Aku Pulang
Penulis: Roy Simamora
Editor: Biko Nabih Fikri Zufar
Desain Sampul : Aan Zaputra
Cetakan pertama, Agustus 2025
Bookpeper, soft cover
Penerbit Semut Api, Yogyakarta
Rp45.000
Keterkenalan nama Kartini ini tentu saja tidak bisa dengan naif kita tafsirkan sebagai sebuah proses alami belaka, seolah tak ada tangan-tangan yang bermain dengan kepentingan dan tujuannya masing-masing, tanpa ada agenda tersembunyi sama sekali.
Dari sekelumit sejarah pembentukan mitos Kartini sebagai ikon di atas jelas betapa baik di zaman kolonialisme Belanda maupun di era setelah Indonesia merdeka, yaitu pada periode Orde Lama Sukarno dan Orde Baru Suharto, berbagai cara resmi dilakukan untuk melahirkan dan mengokohkan sosok Kartini sebagai tokoh ikon dalam sejarah..."
Dalam esai kritik di SalingZineau Vol. 1 (Agustus 2025) ini, Saut Situmorang membawa kita pada sebuah ruang baru untuk melihat bagaimana sosok Kartini dibingkai selama ini oleh berbagai relasi kuasa sejak era kolonial hingga kemerdekaan sebagai representasi dari 'sosok perempuan yang emansipatoris dan memperjuangkan kaumnya'.
Penulis: Saut Situmorang
Semut Api Media
Ukuran A5
34 halaman
Isi hitam putih
Rp38.000
Di kampung Leda, hanya tersisa satu pohon besar yang daunnya selalu digunakan ibunya untuk membuat obat. Suatu hari, Leda terkejut melihat tanda X merah besar di batang pohon itu pertanda pohon akan ditebang! Leda bersama sahabat-sahabatnya, Bob, Lis, dan Hurra si musang, berusaha menghadang petugas penebang. Meski sudah memohon dan membela pohon itu, usaha mereka sia-sia.
Ketika gergaji mulai menyentuh batang pohon, keajaiban terjadi. Gergaji macet dan suara tangisan aneh terdengar dari pohon, membuat para petugas ketakutan dan kabur. Akhirnya, Leda dan teman-temannya berhasil menyelamatkan pohon terakhir di kampung itu. Mereka pun berjanji akan menanam bibit pohon baru agar hutan bisa tumbuh kembali.
POHON TERAKHIR LEDA adalah buku pertama dari seri "Petualangan Leda Menyelamatkan Bumi"
Penulis & ilustrator: Fatwa Amalia
Full colour, 28 halaman
Artpaper, soft cover
Rp60.000
Sukses Menggulingkan Rezim untuk Pemula
Buku ini adalah kumpulan esai imajinatif, berisi perayaan atas distopia Indonesia di masa depan. Buku ini tidak secara teknis mengajarkan cara makar yang baik dan benar, hanya sekadar menginspirasi pembaca untuk membulatkan tekad dalam melakukannya.
Penulis: Adly Febrian, Anisah Meidayanti, A. Suryolaksono, Biko Nabih Fikri Zufar, Budhi Cahyo Priadiantoro, Chrysan Aistiarto, Faiq Nizamuddin, Fathurrozi Nuril Furqon, Firly Azzahra Firdausy, Herlambang, Hifzha Aulia Azka, Jane Natasha, Muhammad Fakhran al Ramadhan, Revo Linggar Vandito, SM Malaka
Editor: Ivo Trias Julianno
Desain sampul: Alfin Rizal
Penerbit Semut Api
Cetakan Pertama, Juni 2025
14 x 20,5 cm, 148 halaman
Bookpaper, soft cover
Rp70.000
BUKAN CUMA ABDI! Esai-Esai Getir Para Aparatur Sipil Negara
Editor:
Kanti Pertiwi, Sofia Mahardianingtyas, Nita Yuniarsih
Penulis:
Alena Sabella, Nera Sekuma, Sofia Mahardianingtyas, Ummu Miyuki, Dwi Esti Kurniasih, Aneen, Pejuang batu, Nicholas Martua Siagian, Indra Bastian Tahir, Yuanita, Ditya Permana, Pratiwi, Lazuardi Manjer Kawuryan, Azmi Faiqoh, Oki Kurniawan, Dimas Reo Wahyudi, Ikaaria, Awan Arunika, @irasjafi
162 halaman, 14x20,5cm
Bookpaper, soft cover
Penerbit Semut Api, Yogyakarta
Bekerja sama dengan Birokrat Menulis
Bukan Cuma Abdi! menyuarakan suara-suara pegawai publik yang kerap tak terdengar.
Catatan getir mereka yang terjebak antara idealisme dan sistem birokrasi yang mengimpit.
"Buku ini perlu dibaca oleh semua PNS untuk membangun perasaan senasib sepenanggungan dan kesadaran kolektif yang menjadi modal utama perjuangan."—Okky Madasari, sosiolog dan sastrawan
"Antologi ini bukan sekadar kumpulan cerita birokrasi—ia adalah potret kejujuran dari para abdi negara yang terus mencoba waras di tengah sistem yang sering tak masuk akal." —Andhyta Firselly Utami, Co-founder & CEO Think Policy
"Buku ini menjadi cermin bagi para pemangku kebijakan untuk melihat dampak keputusan mereka pada kehidupan para pelaksana di lapangan yang kerap terbungkam oleh hierarki birokrasi. —Michele Ford, Profesor Kajian Asia Tenggara, Australian Research Council Future Fellow dan Direktur Sydney Southeast Asia Centre, Sydney University, Australia.
"Sebuah buku yang mengharukan karena kita bisa merasakan perjuangan para ASN muda dalam mendorong perubahan, sekaligus membela diri mereka sendiri. Meski sering patah di tengah jalan, ia akan terus menggelinding dan membesar." —Amalinda Savirani, Guru Besar Ilmu Politik Pemerintahan Fisipol UGM)
"Ini bukan sekadar curhat birokrasi; ini adalah perlawanan naratif terhadap sistem yang stagnan, hierarkis, dan manipulatif." —Yanuar Nugroho, Dosen STF Driyarkara Jakarta; Deputi Kepala Staf Kepresidenan RI 2015-2019, Pendiri dan Penasihat Nalar Institute, Yogyakarta; Anggota Komisi Ilmu-ilmu Sosial, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI)
"Buku ini merupakan percikan pemikiran dari anak-anak muda yang memilih profesi sebagai Aparatur Sipil Negara, terjun ke kancah layanan publik melalui perannya masing-masing. Dalam perjalanan karier dan penugasannya, mereka menemui berbagai hal yang mengusik idealisme dan harapan mereka akan hal yang seharusnya dilakukan negara." —Sudirman Said, Ketua Institut Harkat Negeri (IHN) dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Periode 2014–2016
Buku ini adalah bentuk cinta, sebuah penghormatan untuk seorang sahabat, seniman, dan saudara—Mufti Priyanka, atau yang lebih akrab kita panggil: Amenk. Buku ini bukan sekadar kompilasi puisi, tapi adalah rumah kecil bagi kenangan dan semangat Amenk.
Judul: AA UIH: Antologi Puisi
Penulis: Mufti Amenk Priyanka
148 halaman, 14x20,5cm
Bookpaper, soft cover
Penerbit Semut Api, Yogyakarta
INDONESIA DIBANGUN RAKYAT DIGUSUR: Menelusuri Sengkarut Hukum, Sosial, dan Ekologis atas Pembangunan Nasional di Indonesia
Editor : Manunggal Kusuma Wardaya
Penulis : Bima Saputra, Bobby Steven Octavianus Timmerman, Gilang Alfian Rizki, Josua Satria Collins, Lucia Yerinta Destishinta, Muhammad Aminullah Thohir, Nikodemus Niko, Raudatul Jannah, Safaranita Nur Effendi, Sri Wahyuni Amin Dakamoli.
Cetakan Pertama, 2025
15,5 x 23 cm, 104 halaman
Bookpaper, soft cover
Penerbit Semut Api
Yogyakarta, Indonesia
Pembangunan nasional di Indonesia kerap memunculkan konflik antara kepentingan negara, korporasi, dan masyarakat, yang berujung pada penggusuran, kerusakan lingkungan, serta penyempitan ruang publik. Proyek-proyek seperti pertambangan, pariwisata, infrastruktur, dan kawasan industri sering kali mengorbankan masyarakat kecil, memperlihatkan lemahnya komitmen negara terhadap keadilan sosial, konstitusi, dan hak asasi manusia. Dalam konteks ini, hukum acap kali digunakan sebagai alat represi terhadap suara-suara kritis, sementara ruang sipil terus menyempit akibat regulasi yang membatasi kebebasan berekspresi dan partisipasi publik. Antologi ini hadir sebagai upaya untuk mengupas berbagai persoalan pembangunan dari perspektif hukum, sosial, ekologis, dan partisipatif, serta menawarkan alternatif menuju arah pembangunan yang lebih inklusif dan berkeadilan.
Modernitas dan Pendisiplinan Beragama: Sebuah Catatan Perjalanan Antropologis
Penulis : Mohamad Wieldan Akbar
Editor : Nabih Rijal Makarim
Cetakan Pertama, Maret 2025
14 x 20,5 cm, xii+249 halaman
Bookpaper, soft cover
Penerbit Semut Api
Yogyakarta, Indonesia
Peradaban modern, kata Bauman, menjanjikan untuk membuat kehidupan kita dapat dipahami dan terbuka untuk kita kendalikan. Gejala modermitas ini yang menyulitkan kehidupan sekelompok masyarakat Etnis Kenyah Badeng di Sarawak menjalani kehidupan dengan pola mempersatukan dua unit agama berbeda di dalam satu ritus budaya yang sama. Mereka dihadapkan pada penetrasi pendakwah dua agama yang menginginkan mereka hidup lebih rigid dalam rangka menguatkan identitas keimanan umat. Buku ini ditujukan untuk siapa saja yang menyenangi topik-topik agama dan sosial. Penyajian tulisan dengan gaya bercerita oleh penulis, membuat pembaca dapat menghayati kompleksitas isu yang diangkat di buku ini.
Bangkit dan Menang: Resiliensi Punk di Indonesia
Editor : Yuka Dian Narendra Mangoenkoesoemo, dan Muhammad Fakhran al Ramadhan
Penulis : Muhammad Fakhran al Ramadhan, Oki Turatula Narendra Wigati, Dadang Dwi Septiyan, Ferdhi F. Putra, Luna Dian Setya Avissa, I Gusti Ngurah Aditia Tjandra Asmara, Eventus Ombri Kaho, Raden Arief Nugroho
Cetakan Pertama, April 2025
15,5 x 23 cm, xviii+104 halaman
Bookpaper, soft cover
Penerbit Semut Api
Yogyakarta, Indonesia
Di tengah kekacauan global yang meredupkan semangat, punk bangkit dan menyuarakan kebebasan berekspresi dengan penuh keberanian. Transformasi ini dipicu oleh kemajuan teknologi dan jaringan digital, yang memungkinkan aktivisme bergerak dari batas lokal ke ruang global, menembus sekat geografis dan politik. Di tengah ketidakjelasan, buku ini menyoroti bagaimana semangat punk tidak hanya bertahan, tetapi juga menginspirasi keterlibatan dalam gerakan sosial dan politik yang lebih berdampak.
Pengantar Filsafat Pendidikan Sains Era Disrupsi dan Digital Indonesia
Penulis: Dr. Dodi Sukmayadi
Penelaah:
Prof. Drs. Udan Kusmawan, M.A., Ph.D.
Dr. Izzul Fatawi, M.Pd.I.
Desain sampul: M. Rafli Ilham & Pang
Cetakan Pertama, Februari 2025
vi + 82 halaman 15,5 x 23 cm
Bookpaper, soft cover
ISBN: 978-623-89473-8-6
Penerbit Semut Api
Yogyakarta, Indonesia
Di era disrupsi dan digital, pendidikan sains di Indonesia membutuhkan paradigma baru—dan "Pengantar Filsafat Pendidikan Sains Era Disrupsi dan Digital Indonesia" adalah kunci untuk memahami serta mengarahkan perubahan tersebut. Ditulis dengan gaya yang ringan namun penuh makna, buku ini mengajak Anda melihat sains bukan sekadar kumpulan fakta, tetapi sebagai konstruksi sosial yang dipengaruhi oleh budaya, agama, dan etika. Melalui eksplorasi konsep mendalam seperti arkeologi pengetahuan, genealogi, serta integrasi sains dengan kearifan lokal, buku ini menawarkan perspektif segar tentang bagaimana pendidikan sains dapat bertransformasi di tengah perubahan global yang pesat. Buku ini bukan hanya relevan bagi pendidik dan akademisi, tetapi juga bagi siapa saja yang peduli dengan masa depan generasi penerus—generasi yang tidak hanya cakap secara ilmiah, tetapi juga beretika dan berwawasan global. Jadikan buku ini sebagai pemantik refleksi dan inspirasi untuk membangun sistem pendidikan sains yang lebih inklusif, adaptif, dan berdaya saing.
Ketika Perempuan Milenial Melawan Pernikahan
Penulis : Nabila B. Nayyirah
Editor : Ivo Trias Julianno
Penata Letak : Nabeela
Desain Sampul : M. Rafli Ilham
Cetakan Pertama, Maret 2025
13 x 19 cm, 115 halaman
Bookpaper, soft cover
Penerbit Semut Api
Yogyakarta, Indonesia
Rp58.000
Buku ini mengeksplorasi fenomena pergeseran pandangan perempuan milenial terhadap pernikahan di Indonesia. Dalam konteks sosial dan budaya yang terus berubah, pernikahan tidak lagi dianggap sebagai kewajiban sosial atau agama, melainkan sebagai pilihan pribadi. Perempuan milenial kini menantang norma-norma tradisional dengan memilih untuk menjalani hidup sesuai nilai dan tujuan pribadi mereka, tanpa terjebak dalam ekspektasi masyarakat.
Keputusan untuk menunda atau bahkan tidak menikah sama sekali mencerminkan kesadaran akan pentingnya kemandirian tinansial dan emosional Fokus mereka lebih pada pengembangan karier dan pencapaian profesional, menjadikan. pernikahan sebagai institusi yang semakin usang dan tidak relevan. Buku ini menggali bagaimana perempuan milenial mendefinisikan kebahagiaan, kesuksesan, dan kemandirian, serta menegaskan kedaulatan Individu mereka atas tubuh dan kehidupan pribadi, sebagai bentuk perlawanan terhadap norma sosial yang menekan.
NGERI-NGERI NIKMAT: Menyelami Horor pada Sastra, Sinema, Gim Video, dan Folklor Digital
Penulis: Angga Prawadika Aji
Penyunting: PMA
Desain sampul: M. Rafly Ilham
Cetakan Pertama, Februari 2025
vi + 178 halaman, 14 x 20,5 cm
Bookpaper, soft cover
Penerbit Semut Api
Harga normal Rp70.000
Apakah kamu pernah bertanya-tanya mengapa horor, meski menakutkan, justru dinikmati masyarakat? Buku ini mengajak Anda menyelami paradoks menakjubkan di balik genre horor—sebuah dunia di mana ketakutan menjadi sumber kenikmatan. Dari kisah-kisah gotik klasik hingga fenomena creepypasta digital, penulis mengupas tuntas evolusi horor dalam berbagai media, termasuk film, gim video, dan ruang digital yang penuh misteri. Anda akan diajak menjelajahi kebangkitan horor Indonesia, seperti film-film legendaris dan gim-gim yang mendunia, sambil menyingkap potensi besar genre ini untuk melampaui batas-batas tradisional. Dengan gaya yang segar dan mendalam, buku ini tidak hanya membongkar daya tarik horor, tetapi juga mendorong kreator lokal untuk menciptakan karya yang lebih berani dan mendunia. Siapkah Anda memasuki dunia horor yang tak hanya menegangkan, tetapi juga memukau? Baca buku ini, dan temukan mengapa horor selalu memiliki tempat di hati masyarakat.
Lihat Lebih Sedikit
Buku Saku Guru Bahasa Indonesia: Program, Intisari, Dan Ide Pembelajaran Teks
Penulis: Alfian Bahri
Editor: P. M. A.
berat 122 gram
122 halaman, bookpaper, soft cover
Rp60.000
Buku ini menawarkan panduan praktis bagi guru Bahasa Indonesia untuk mengajarkan teks dengan cara yang relevan dan menyenangkan di era digital. Dengan pendekatan sederhana namun substantif, buku ini membahas berbagai jenis teks seperti deskripsi, narasi, eksposisi, dan persuasi, serta cara memanfaatkannya melalui media sosial dan teknologi.
Melalui dua bagian utama, buku ini menyajikan ide-ide kreatif untuk program literasi sekolah dan kerangka praktis pembuatan teks. Pendekatan coaching atau pendampingan satu per satu juga diperkenalkan agar pembelajaran lebih efektif. Buku ini mendorong guru untuk beradaptasi dengan konteks kelas dan lingkungan, demi menciptakan pengalaman belajar yang aktif dan bermakna.
Yang Hampir Redup di Setengah Jalan (Kumpulan Cerita Pendek)
Penulis: Kevin Alfirdaus
Penyelaras Aksara: Maulana Mauludin an Nauval
Penata Letak: Kevin
Desain Sampul: suka_gubis
148 halaman, 13,5 x 20 cm
Rp68.000
“Yang Hampir Redup Disetengah Jalan” adalah sekumpulan Cerpen yang terdiri dari 14 Cerita dengan masing-masing punya kisah-kisah petualangan, penemuan diri, dan juga renungan-renungan dalam memaknai ruang intim nan absurd yang tersembunyi di balik sebuah tragedi serta kegembiraan.
MENELUSURI RELIGI: Perspektif dan Gagasan dalam Studi Agama-Agama
Penulis: Adam Satria Nugraha
108 hlm, 13x19cm
Bookpaper, soft cover
Rp60.000
Buku ini merupakan kumpulan opini yang berangkat dari perspektif studi agama-agama dan bertujuan memperkaya wacana keberagamaan di tengah masyarakat plural. Lahir dari pengamatan, pengalaman, dan refleksi mendalam para penulis, buku ini membahas bagaimana agama tidak hanya berfungsi sebagai pedoman spiritual, tetapi juga memiliki peran signifikan dalam aspek sosial, budaya, dan politik.
Di tengah dinamika masyarakat yang semakin beragam, buku ini menyajikan berbagai tema yang relevan dan aktual, seperti pentingnya moderasi beragama, gender, dampak politisasi agama, dialog lintas iman, dan kontribusi agama dalam menciptakan harmoni sosial. Gagasan-gagasan yang ditawarkan bersifat akademis namun tetap praktis dan kontekstual, mendorong pembaca untuk berpikir kritis serta berdialog secara konstruktif tentang keberagamaan di era modern.
Buku ini diharapkan menjadi sarana untuk memperkuat nilai-nilai toleransi dan kerukunan antarumat beragama. Ditujukan bagi akademisi, praktisi, dan masyarakat umum, buku ini menawarkan wawasan yang kaya untuk memahami lebih dalam peran agama dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mengundang refleksi dan dialog, buku ini berkontribusi kecil namun berarti dalam membangun masyarakat yang lebih inklusif dan harmonis.
Judul: BUNG KARNO DAN ASMARA HADI: Pertautan Ideologis Guru dan Murid
Penulis: Aslama Nanda Rizal
Desain sampul: Catur Sasongko
130 halaman, 15,5x23cm
Bookpaper, soft cover
Harga normal Rp85.000,-
Masih sedikit yang tahu bahwa Bung Karno memiliki murid yang ia gembleng sejak remaja bernama Asmara Hadi. Meskipun banyak yang belum familier, kiprahnya tak bisa dianggap sepele. Berdasarkan riset melalui wawancara saksi-saksi sejarah dan penelusuran dokumen-dokumen penting, ternyata Asmara Hadi adalah penemu nama dari dasar negara Indonesia, yakni Panca Sila. Asmara Hadi juga turut berkontribusi besar atas lahirnya karya Bung Karno berjudul "Sarinah", mulai dari menyusun konsep dan menuliskannya menjadi teks. Tokoh Partai Indonesia (Partindo) ini juga menegaskan garis demarkasi yang mana kaum Marhaenis sejati, dan yang mana kaum Marhaenis gadungan. Buku ini penting bagi pembaca yang punya minat kesejarahan Indonesia, aktivis nasionalis, aktivis Marhaenis, maupun yang mengidolakan Bung Karno.
Judul: NAMANYA JUGA HIDUP: Semoga Baik-Baik Saja dan Tetap Ugal-Ugalan
Penulis: Trio Muharam
Ilustrasi: Mohamad Rico Wicaksono
Penata letak isi: P. M. A.
Penata letak sampul: M. Rafli Ilham
112 halaman, 14x18cm, bookpaper, soft cover, 100 gram
Cetakan pertama, Desember 2024
Harga normal Rp65.000
Harga diskon untuk konsumen selama masa PO Rp55.000
Harga diskon untuk reseller selama masa PO Rp39.000
Buku selesai cetak dan dikirim selambat-lambatnya pada 21 Desember 2024
"Trio tidak hanya menawarkan sekumpulan narasi tentang kehidupan sehari-hari, tetapi juga sebuah cerminan dari bagaimana kita semua hidup dalam realitas yang dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal, dari kapitalisme hingga teknologi."
Anggawedhaswhara, Seniman Paruh Waktu
"Setidaknya bagi saya, Trio dapat memicu hadirnya pertengkaran pikiran. Dari mulai soal berhubungan, hingga soal kesenian."
M. Rico Wicaksono, Seniman.
"Buku NAMANYA JUGA HIDUP: Semoga Baik-baik Saja dan Tetap Ugal-ugalan seakan menjadi sebuah doa yang diam-diam dipanjatkan kebanyakan orang di antara hiruk-pikuknya hari-hari. Meskipun yang terbaca kadang tidak sesuai dengan apa yang sering kita sebut makna.
Zidni Arfi, Penulis.
Judul: KENYATAAN ITU KON**L: Riak-Riak Nyinyir di Tengah Lautan Realitas
Penulis: Trio Muharam
Desain sampul dan ilustrasi: Rizki Lutfi Wiguna, Trio Muharam, dan pang.png
Penyunting dan penata letak isi: P. M. A.
134 halaman, 12x18cm bookpaper, soft cover, 100 gram
Cetakan kelima, Desember 2024
Harga normal Rp75.000
"Buku ini punya sudut pandang yang menarik, sudut pandang umum yang sebenarnya orang-orang tahu tapi terlalu tabu untuk dibicarakan, buku ini menelanjangi semua pikiran-pikiran bodoh yang membelenggu kesadaran sosial palsu kita akibat kemajuan zaman, juga sosial media."
- Tuantigabelas, Rapper.
"Membaca buku ini membuat kita berani menertawai diri sendiri dan ditertawakan. Seperti sebuah perayaan kejujuran. Sebuah Festival Telanjang yang sangat wajar dan harusnya lumrah. Dasar. Namanya juga Trio."
- Chandra Prasetyo Purwakanti
"Karya-karya Trio diumpamakan sebagai lorong gelap pengap nan panjang bercerita tentang ketimpangan secara lantang. Dia tidak menawarkan banyak teka teki maupun diskursus panjang lebar di dalam karyanya, malahan memberikan warna kelugasan dan curahan kejujuran gaya ekspresi dia yang membangun kesadaran perspektif kita sebagai apresiator lebih dalam menelisik semua tentang hakikatnya berkehidupan sosial."
- Mufti Priyanka alias Amenkcoy
"Teks dan ilustrasi yang dihadirkan oleh Trio dengan kemahiran personalnya membuat narasi serta visual tersebut bergelombang menampar segala sisi bahkan jiwa. Pembaca pun diajak mengarungi kata perkata dan visual dewasa nan elegan. Memang kita harus menelanjangi sisi lain dari kenyataan hari ini, agar kita selalu mawas dan bercermin pada diri. Mungkin itu yang sedang diarungi oleh Trio dengan kemudi kreativitasnya yang bernas dan bertanggung jawab."
- Wanggi Hoed, Seniman Pantomim
Judul: JOGJA HIP HOP FEODAL: Dari Underground Hingga Keraton
Penulis: Edy D. Riyanto
Prolog: 8ball
Epilog: Aris Setyawan
Penerjemah: Biko Nabih Fikri Zufar
Editor: Balqisnab
Penata letak: Nabeela
Desain sampul: Sujatnika
176 halaman, 15,5x23cm, bookpaper, soft cover, 200 gram
Cetakan pertama, Desember 2024
Harga normal Rp100.000
Musik hip hop yang berciri khas ‘pemberontakan’ telah berhasil dimanfaatkan menjadi sarana perjuangan mempertahankan tanah leluhur, budaya, dan tradisi. Dalam prosesnya, berbagai titik simpul kreatif bermuara dalam Jogja Hip Hop Foundation (JHF). Buku ini secara cukup rinci menjelaskan proses-proses kreatif beserta faktor-faktor pendukung baik individu, masyarakat, maupun berbagai lembaga yang ada. Nampak jelas bagaimana Yogyakarta bisa menjadi ladang subur bagi insan-insan yang memilih jalan kreatif seperti yang dicontohkan pada para pendukung JHF.
Keraton sebagai pusat kuasa dan budaya menjadi patron utama seni budaya Yogyakarta. JHF berhasil mengolah dan mewakili kepentingan keraton dan warga Yogyakarta tentang keistimewaan dengan memanfaatkan media hip hop hingga JHF berhasil meraih puncak ketenaran. Setelah tenar lalu apa?
Judul: Andai Aku Menteri Pendidikan
Penulis: Alfian Bahri
Editor: P. M. A.
Desain sampul: M. Rafli Ilham
Harga: Rp60.000
120 halaman, bookpaper, soft cover, 120 gram
ANDAI AKU MENTERI PENDIDIKAN adalah kumpulan esai oleh Alfian Bahri yang mengkritisi berbagai kebijakan dan praktik dalam sistem pendidikan Indonesia. Melalui pendekatan yang tajam dan reflektif, penulis mengeksplorasi bagaimana kebijakan pendidikan seperti contoh Merdeka Belajar, meskipun memiliki niat baik, sering kali hanya menjadi ajang pencitraan bagi pejabat pendidikan tanpa memberikan dampak nyata di lapangan. Esai ini juga menyoroti masalah-masalah mendasar dalam dunia pendidikan, seperti ketimpangan akses, kualitas guru, dan pengelolaan sekolah yang belum terselesaikan meskipun berbagai reformasi telah dilakukan. Penulis memperingatkan bahwa upaya reformasi pendidikan seringkali hanya berupa kosmetik tanpa mengatasi akar permasalahan, memperburuk ketimpangan dan kualitas pendidikan di Indonesia.
Buku ini juga menyoroti fenomena sosial yang berkembang di dunia pendidikan, seperti munculnya guru konten kreator dan tantangan yang dihadapi Generasi Z di era digital. Penulis mengkritisi bagaimana kapitalisme digital dan promosi media sosial mempengaruhi integritas pendidikan, serta mengajak pembaca untuk mempertimbangkan pentingnya peran keluarga dan masyarakat dalam mendukung proses pendidikan. Dengan gaya penulisan yang reflektif dan berani, buku ini mengajak kita untuk berpikir lebih kritis mengenai arah kebijakan pendidikan di Indonesia dan bagaimana memperbaikinya untuk masa depan.
Judul: GORESAN PUAN: Antologi Puisi
Penulis: Alma Jasmine, Anggun Munan, Annisa Khaerani, Annisa Mudrika, Andini Rahmawati, Arinda Kumalasari, Aulia Rafika Husan, Daffa Nurif’at Addini, Dwi Setyowati, Falindao Paul, Farah Nurul Chaini, Hanifah Ridha Azzahra, Iik Nurul Fatimah, Karisma Nur Fitria, Konkuisnador, Larisa Danutami, Magda Bara, Maria Prudensia Angelika Hulir, Merta Merdeka, Mozza Dhiba, Narasri Sun, Noviani N.A., Nuke Kuni, Olivia Subandi, Pangesti, RC. Nurul A’la, Rieke. S, Rizky Aulia Isyatami Hidayat, Siti Salwa Khoirunnisa, Siti Wahyu Vitamagistra, Sri Yanti, Syafira Fauziyyah Kamilah, Widi Fajarwati, dan Winda Efanur F. S.
Editor: Eling Wening Pangestu dan Arina Rahmatika
Desain sampul: Pang
70 halaman, 13x19cm
Bookpaper, soft cover
Seluruh keuntungan penjualan buku ini akan didonasikan melalui Circle Institute untuk kegiatan nonprofit yang mendukung hak-hak perempuan.
***
GORESAN PUAN adalah kumpulan puisi yang menghadirkan suara perempuan dari berbagai latar belakang. Antologi ini menggambarkan pengalaman kekerasan, diskriminasi, patriarki, serta perjuangan untuk kebebasan dan keadilan yang dialami perempuan. Puisi-puisi ini mengeksplorasi dengan jujur dan berani bagaimana kekerasan fisik dan emosional mempengaruhi kehidupan perempuan, serta bagaimana diskriminasi gender dan patriarki membatasi kebebasan mereka.
Selain itu, buku ini menyoroti pengalaman personal perempuan, termasuk peran sebagai ibu, pekerja, dan individu merdeka, dengan empati dan kejujuran. Setiap puisi mencerminkan keberanian dan keteguhan hati perempuan dalam menghadapi tantangan hidup, menyoroti kebebasan berekspresi melalui cara berpakaian, dan perjuangan mereka dalam menghadapi tuntutan sosial. GORESAN PUAN adalah perayaan keberagaman pengalaman perempuan dan perjuangan kita di dunia modern.
#GoresanPuan
MERUNTUHKAN DINDING KELAS: Punk dan Pedagogi di Indonesia
Editor: Raden Arief Nugroho dan Muhammad Fakhran al Ramadhan
Prolog: Yuka Dian Narendra
Epilog: Oki Turatula Narendra
Penulis: M. Fahmi Nurcahya, Ralka Skjerseth, Rizky Hafiz Chaniago, Mohd Sufiean Hassan, Haddi Junaidi Kussin, Yulianus Febriarko, Muhammad Haikal, Biko Nabih Fikri Zufar, Eventus Ombri Kaho, Anwar Fahlevie, Nurul Ichlasiah Jaya, Yuka Dian Narendra, Dadang Dwi Septiyan, Oki Turatula Narendra Wigati
Layout: P. M. A. & Nabeela
Desain Sampul: Catur Sasongko
Diterbitkan oleh Penerbit Semut Api & Punk Scholars Network Indonesia
176 halaman, 15.5x23cm
Rp100.000
***
Murid bengal itu berkata, “ingin kuruntuhkan saja sekolah ini!”
Pengaruh global dari punk termanifestasi dalam berbagai bentuk dan cara, termasuk di dalam dunia pendidikan di Indonesia. Sekolah dan universitas layaknya penjara yang menciptakan individu tidak kritis dan kreatif agar tidak menjadi ancaman negara.
Saat para praktisi dan pembuat kebijakan yang terus mengkaji secara kritis praktik pedagogis, kebutuhan memahami permasalahan dari sudut pandang lain juga diperlukan. Buku ini mengungkap sejauh mana punk dapat memberikan alternatif dalam dunia pendidikan di Indonesia yang dihantui kebutuhan pasar dan industri.
PREKARIAT: Kelas Baru di Ujung Tanduk
Penulis: Guy Standing
(Diterjemahkan dari THE PRECARIAT: The New Dangerous Class (Special Covid-19), 2021, Bloomsbury Publishing, Britania Raya)
Penerjemah: Biko N. F. Z.
Editor: Panji M. A.
Layout: P. M. A. & Nabeela
Desain Sampul: @setengah.lima dan @pang.png
Penerbit Semut Api
260 halaman, 14x20,5cm
Rp75.000
*
Buku ini membahas tentang prekariat, kelompok massa yang mengalami peningkatan pesat dalam kehidupan yang rentan, dengan kontrak kerja fleksibel, dan berpindah-pindah pekerjaan yang tidak memberikan arti bagi kehidupan.
Mereka adalah kurir yang membawakan paket, ojek online yang mengantar penumpang, penjaga keamanan di mall, buruh migran, anak muda magang yang dieksploitasi, lansia yang bekerja di sektor informal, dan sebagainya.
Guy Standing sebagai penulis buku ini menyelidiki kelas baru yang sedang berkembang ini, yang frustasi dan marah, serta sering diabaikan oleh para politisi dan ekonom.
#PrekariatKelasBaruDiUjungTanduk #GuyStanding
Judul : Metanarasi Pendidikan Nasional
Penulis : Alfian Bahri, Dhia Al Uyun, Syarif Maulana, A. Idul Saputra, Ahmad Mujaddid, Alimul Ashar Alsiqra, Arman Maulana, Bahrul Amsal, Cecep Darmawan, Dhiaulhaq Mas’ud, Haykal Afdholidza Akbar, Hasrul, M. Dirga Rizkiansyah, Muh. Burhan Arief, Muhammad Yusril Taib, Muhammad Riszky, Rifki Aldi Sobirin, Syamsu Alam, Satriwan Salim, Dwi Rezki Hardianto, M. Yunasri Ridhoh, Panji Mulkillah Ahmad.
Editor : Dwi Rezki Hardianto dan M. Yunasri Ridhoh
Desain cover: Haykal Afdholidza Akbar
140 hlm, 15,5 x 23 cm
Bookpaper, Softcover
Rp100.000
Realitas pendidikan nasional saat ini dirasa diselenggarakan tanpa arah, hanya berdasarkan selera rezim berkuasa. Ketika rezim berubah, tata kelola pendidikan juga diubah. Maka gagasan peta jalan pendidikan nasional dinarasikan ke dalam buku ini, meski bukan peta jalan yang utuh. Buku ini merangkum beragam masukan atau gagasan alternatif dalam memandang situasi pendidikan nasional. Harapannya, inventarisir masalah dan beragam solusi yang ditawarkan dalam buku ini dapat menjadi pertimbangan dalam perancangan peta jalan dan kebijakan pendidikan ke depannya.
Metanarasi merupakan narasi luas yang mencakup sub-sub narasi dalam membangun narasi yang sangat besar dan terlegitimasi. Ide-ide dalam buku ini tidak hanya memproblematisir aspek-aspek permukaan, namun menggali akar persoalan tentang pendidikan nasional saat ini. Pendidikan nasional tidak hanya berbicara satu narasi saja yang terpisah-pisah, antara pendidikan tinggi, pendidikan dasar, pendidikan formal dan non formal, tentang kurikulum dan pedagogi, dsb. Metanarasi dalam buku ini membicarakan semua itu secara terpadu, nyaring, dan terhubung.
Judul : Kuasa Pemodal Media Lokal
Penulis : Dr. Mukhijab, MA
Prolog: Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si
Epilog: Prof. Dr.rer.soc. Masduki
Editor : Farras Pradana
Penata Letak : Nabeela
Desain Sampul : Pang
Jumlah halaman: xii + 183
Dimensi: 15,5 x 23 cm
ISBN: 9786239643522
Rp108.000
Di Daerah Istimewa Yogyakarta, seorang pemodal media dan istrinya mengikuti tiga kali Pemilihan Bupati Bantul (1999, 2005, dan 2010). Dalam usaha menjadikan dirinya sendiri dan keluarganya menjadi pemenang, pemodal media itu memanfaatkan media yang terafiliasi dengannya (Kedaulatan Rakyat) serta media yang tak berafiliasi dengannya (Radar Jogja). Buku ini mendedah kelindan hubungan rumit antara strategi pemodal media memanfaatkan konten media dalam kontestasi politik, serta relasi kuasa pemodal, kekuasaannya, dan media.
DILEMA PEREMPUAN ADAT
Penulis: Muallifah, Eling Wening Pangestu, Iik Nurul Fatimah, Hastangka, Sabar Budi Raharjo, Opik Abdurrahman Taufik, Seli Marlina, Ranta Butarbutar, Anang Sudigdo, Suhendi Syam, Andyka Candra Pratama, Geovany Seno Hermawan, Costantinus Ponsius Yogie Mofun, Farieda Ilhami Zulaikha, Moh Asman Novi Ambar, Heri Fathumulloh, Sani Hafiyyani Putri, Vita Sabrina Azda Laili, Firstdha Harin Regia R, Yayuk Windarti, Nabila B. Nayyirah, Rikar Sahetapy, Roland Alfredo, Yustina Sopacua, Anselmus A.Y Barung, Rifa Annisa
Editor: Eling Wening Pangestu dan Muhammad Haikal
140 halaman, 15.5x23 cm
Diterbitkan oleh Semut Api dan Yayasan Timur Malaka, 2024.
Rp85.000
Perempuan adat di Indonesia telah memainkan peran vital dalam melestarikan budaya dan kearifan lokal selama berabad-abad. Namun, seringkali tantangan yang mereka hadapi diabaikan, dari hak-hak dasar hingga partisipasi dalam pengambilan keputusan komunal. Buku ini mengungkap dinamika kompleks antara tradisi lokal dan tekanan modernisasi yang memengaruhi kehidupan perempuan adat, termasuk masalah sosial, ekonomi, dan ketidaksetaraan gender. Diharapkan buku ini akan meningkatkan kesadaran tentang masalah yang dihadapi perempuan adat dan mendorong dukungan serta pemahaman lebih lanjut terhadap upaya pemecahan masalah, sambil memperjuangkan suara mereka yang sering terpinggirkan untuk mencapai keberlanjutan budaya.
#DilemaPerempuanAdat
FEMINISME DAN NASIONALISME DI NEGARA DUNIA KETIGA
Penulis: Kumari Jayawardena
Penerjemah: Balqis Nabila Zahra
Desain Cover: Setengah Lima
350 halaman, ukuran 14x20cm
Cetakan Pertama, Februari 2024
ISBN 978-623-88706-4-6
Penerbit Semut Api
Yogyakarta, Indonesia
Diterjemahkan dari © Kumari Jayawardena, Feminism and Nationalism in the Third World, Verso Books, London & New York, 2016.
Rp120.000
Buku Feminisme dan Nasionalisme di Negara Dunia Ketiga telah menjadi landasan penting dalam sejarah gerakan perempuan di Asia dan Timur Tengah pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Kumari Jayawardena menampilkan feminisme yang berasal dari negara Dunia Ketiga, yang muncul dari perjuangan khusus perempuan melawan kekuasaan kolonial dan patriarki. Penulis melakukan studi atas berbagai sejarah perjuangan perempuan di berbagai negeri di Timur: Mesir, Iran, Turki, India, Sri Lanka, Tiongkok, Jepang, Korea, Filipina, Vietnam dan Indonesia.
Feminisme dan Nasionalisme di Negara Dunia Ketiga pernah memenangkan penghargaan Feminist Fortnight Award di Inggris dan terpilih sebagai salah satu dari “20 Karya Klasik Feminis” oleh Ms. Magazine.
MERENCAH SILAM: Prospek Penyelesaian Tragedi 1965
Penulis: Manunggal K. Wardaya
Penyunting: Panji Mulkillah Ahmad
Desain Sampul: Dewi Pangesti (pang.png)
Cetakan Pertama, Februari 2024
xii+198 halaman, 15,5 x 23 cm
ISBN 978-623-88706-7-7
Penerbit Semut Api
Yogyakarta, Indonesia
Bekerja sama dengan media Mahasiswa Bergerak
Semarang, Indonesia
Rp95.000
Peristiwa 1965-1966 kerap diperbincangkan setiap tahun, tanpa publik mendapat titik terang bagaimana arah penyelesaiannya. Dalam buku ini, penulis berusaha menjelaskan prospek penyelesaian kasus kejahatan terhadap kemanusiaan dalam peristiwa 1965-1966. Dengan mempertimbangkan hukum hak asasi manusia internasional dan batasan hukum nasional Indonesia, bagaimana mekanisme hukum yang efektif untuk penuntutan pelaku kejahatan dalam peristiwa 1965-1966? Apakah hukum Indonesia mendukung penuntutan pelaku peristiwa tersebut? Bisakah diterapkan mekanisme Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi dalam menyelesaikan peristiwa tersebut? Buku ini juga membahas aspek-aspek penting, termasuk status hukum peristiwa 1965-1966, perlindungan masyarakat dalam konteks kejadian serupa, kapasitas Negara Indonesia dalam melaksanakan kewajibannya, dan penyelesaian pelanggaran hak asasi manusia.
NEGARA VS MASYARAKAT ADAT:
Studi Kritis tentang Kekerasan Negara Terhadap Hak Hutan Adat Masyarakat Suku Rejang Kepahiang
Penulis: Nadia Atika Amrin
Penerbit Semut Api
171 halaman, ukuran 14 x 20 cm
Bookpaper, soft cover
Rp75.000
Masyarakat hukum adat Rejang Kepahiang hidup turun temurun sejak nenek moyang mereka di tanah ulayat mereka. Namun Negara memiliki persepsi lain terhadap tanah ulayat tersebut. Perlahan, masyarakat Rejang Kepahiang tersingkir dari tanah mereka melalui serangkaian program Pemerintah, mulai dari transmigrasi, perubahan status kepemilikan, hingga sertifikasi tanah. Anasir budaya luar pun turut mengubah pola penghidupan masyarakat Rejang Kepahiang dari yang tadinya komunal dan semi-nomaden menjadi berlainan sama sekali. Dalam buku ini, penulis memotret kondisi masyarakat hukum adat Rejang Kepahiang berdasarkan observasi, wawancara, dan analisis yang mendalam.
PESTA PORA KEGAGALAN
Penulis: Terapi Minor
66 hlm, 13x19cm
Bookpaper, soft cover
Rp48.000
Buku puisi ini disusun penulis dari balik tirai besi, merayakan sekadar titik terendah dalam ruang hidup seorang insan. Suatu pesta pora kegagalan.
"Ada pesta yang hendak kurayakan, tetapi siapapula yang akan datang?
Adakah daripada kalian yang mengenali para pecundang?
Jika ada, beri kabar padaku segera! Aku hendak merayakan pesta
Kami orang gagal dan putus asa akan berkumpul ditengah kubangan penyesalan
Kami para pecundang akan menikmati tangis dengan tusukan pisau tanpa merasa kesakitan
Kami kumpulan orang aneh akan dikira sebagai sektarian yang usai pada dua puluh tujuh"
MADIUN MEMBARA: Gelora Revolusi Kemerdekaan Indonesia 1948-1949
Penulis: Sukaryanto
Penyunting: Alem Putra Arma
Desain Sampul: Gosal Enka
Tata Letak: P. M. A.
180 hlm, 14x20cm, Bookpaper, Soft cover
Rp78.000
Perang Kemerdekaan II merupakan perang yang mempunyai tujuan politis, yaitu menggagalkan upaya rekolonisasi Belanda atas wilayah Indonesia dan menuju terbentuknya kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia yang meliputi wilayah geografis Sabang sampai Merauke. Perang Kemerdekaan II itu juga merupakan salah satu (bukan satu-satunya) alat politik Republik Indonesia. Perang tersebut sebagai fenomena yang ada dan diakui eksistensinya dalam upaya mempertahankan keutuhan wilayah Indonesia.
Buku ini berisi pemahaman yang didasarkan fakta terhadap konteks perjuangan angkatan perang bersama rakyat pada Perang Kemerdekaan II yang penting bagi khazanah masyarakat Indonesia. Perang sebagai bagian dari perjuangan yang ikut menentukan keberadaan negara Republik Indonesia. Buku ini diharapkan mengisi khazanah pengetahuan tentang proses historis negara Republik Indonesia pada masa awal didirikan, khususnya Perang Kemerdekaan II dalam periode Revolusi Fisik (1945-1949).
REVOLUSI CHILI YANG DIKUDETA: Transisi Politik dari Allende ke Pinochet 1970-1990
Penulis: Irham Kahfi Yuniansah
Penyunting: Rachmad Ganta Semendawai dan Aisya Puja Ray
Desain Sampul: Dewi Pangesti (pang.png)
Tata Letak: P. M. A.
140 hlm,14x20cm, Bookpaper, Soft cover
Rp65.000
Kudeta terhadap pemerintahan yang berhaluan sosialis oleh militer yang didukung oleh Amerika Serikat dan sekutunya tidak hanya terjadi di Indonesia pada 1965-1966. Melainkan juga terjadi di negara-negara Amerika Selatan, salah satunya di Chili. Perbincangan di kalangan pemerhati sejarah belakangan ini menyebutkan adanya keterhubungan antara tragedi pembantaian massal 1965-1966 di Indonesia dan pembersihan kaum Kiri di Chili pada 1970-an, dengan Amerika Serikat sebagai dalangnya melalui operasi bernama "Metode Jakarta". Jika seluk-beluk peristiwa 1965-1966 di Indonesia telah banyak dibukukan, lain halnya dengan di Chili yang masih kurang mendapat sorotan di Indonesia. Buku ini berisi sejarah transisi politik dari rezim Allende yang sosialis ke rezim militeristik Pinochet melalui kudeta dan represi massal. Haluan kebijakan-kebijakan Allende yang bercorak sosialis pun diubah 180 derajat oleh Pinochet menjadi bercorak neoliberal yang berkiblat pada kepentingan imperialis Amerika Serikat.
Judul: Cara Merakit Dinamit dalam Lima Tarikan Nafas
Penulis: Dan Syahdan
vi+82 halaman, 13 x 19 cm
Bookpaper, Soft cover
Cetakan pertama, Juli 2023
Penerbit Ohara Books
Rp55.000
Buku ini tidak menggurui pembaca untuk merakit bom untuk meledakkan dada orang yang sedang jatuh cinta, memecahkan batu dalam tiap kepala orang menikah. Puisi di sini cara memotret berbagai situasi dan ruang Syahdan melalui tarikan nafasnya. Selamat membaca dan mengambil nafas.
#CaraMerakitDinamitDalamLimaTarikanNafas #DanSyahdan
LIKA-LIKU NDX A.K.A: Ortodoxa, Romantika, dan Musik Dangdut Hip Hop
Penulis: Edy Purwanto
vi+82 halaman, 15,5 x 23cm
Bookpaper, Soft cover
Cetakan pertama, Juli 2023
Penerbit Semut Api
Harga Rp65.000
Buku ini menyajikan kisah band hip hop dangdut asal Yogyakarta, bernama NDX A.K.A. Di era modernitas tingkat lanjut, NDX A.K.A terbentuk dengan semangat do it yourself (DIY). Buku ini menjelaskan bagaimana NDX A.K.A menyusun habitus bermusiknya, melahirkan spirit berkarya di industri musik, menciptakan strategi konversi melaui investasi simbolis dari lagu-lagu bernuansa romantika berbahasa Jawa, hingga melibatkan diri dalam jalinan organisasi sosial dan kepemudaan.
#LikaLikuNDXAKA #EdyPurwanto
Puisi Cinta Sehari-Hari
Timika Wijaya
Rp45.000
86 hlm, 12x18 cm
Penerbit Ohara Books
Kumpulan puisi ini ditulis dalam kurun waktu Januari 2022 hingga November 2022. Di keseharian saya, dari pagi hingga malam, saya berkegiatan seperti pemuda sebaya pada umumnya. Kerja, maen, nongkrong, ngobrol sana sini , bertemu orang-orang, mendengar dan melihat banyak hal. Aktivitas dan pengalaman sehari-hari tersebut kemudian coba saya abadikan dalam wujud puisi, lebih tepatnya dalam bahasa puisi-puisi cinta. Maka inilah, Puisi Cinta Sehari-hari. Selamat membaca!
Memori-Memori yang Cecer di Setapak Jalan
Penulis: Ranting Mangga
Penerbit: Ohara Books
Hardcover + isi full color
12x18 cm
Rp118.000
___
Memori-Memori yang Cecer di Setapak Jalan adalah sebuah jurnal catatan perjalanan seorang Ranting Mangga dalam menapaki kehidupannya baik sebagai anak, teman, kekasih, atau sebagai dirinya sendiri.
Tulisan-tulisan di dalam buku ini dilengkapi dengan potongan-potongan gambar dari jurnalnya. Bagi Ranting, puisi-puisinya selalu punya tempat dalam jurnalnya, dan jurnal itu sendirilah yang memberikan energi untuknya agar tetap berani menulis, berkarya, dan menjalani hidup dengan penuh kesadaran.
Buku ini adalah sinyal sekaligus ajakan untuk semua orang agar berani meyakini hidup yang meski kadang carut-marut, tapi tetap harus dijalani dengan penuh keberanian.
KENYATAAN ITU KON**L
Riak-Riak Nyinyir di Tengah Lautan Realitas
Penulis: Trio Muharam
122 halaman
12x18cm
Penerbit Ekonomi Kreatif
Rp75.000
-----
"Membaca buku ini membuat kita berani menertawai diri sendiri dan ditertawakan. Seperti sebuah perayaan kejujuran. Sebuah Festival Telanjang yang sangat wajar dan harusnya lumrah. Dasar. Namanya juga Trio."
- Chandra Prasetyo Purwakanti
"Karya-karya Trio diumpamakan sebagai lorong gelap pengap nan panjang bercerita tentang ketimpangan secara lantang. Dia tidak menawarkan banyak teka teki maupun diskursus panjang lebar didalam karyanya, malahan memberikan warna kelugasan dan curahan kejujuran gaya ekspresi dia yang membangun kesadaran perspektif kita sebagai apresiator lebih dalam menelisik semua tentang hakikatnya berkehidupan sosial."
- Mufti Priyanka alias Amenkcoy
"Buku ini punya sudut pandang yang menarik, sudut pandang umum yang sebenarnya orang-orang tahu tapi terlalu tabu untuk dibicarakan, buku ini menelanjangi semua pikiran-pikiran bodoh yang membelenggu kesadaran sosial palsu kita akibat kemajuan zaman, juga sosial media."
- Tuantigabelas, Rapper.
"Teks dan ilustrasi yang dihadirkan oleh Trio dengan kemahiran personalnya membuat narasi serta visual tersebut bergelombang menampar segala sisi bahkan jiwa. Pembaca pun diajak mengarungi kata perkata dan visual dewasa nan elegan. Memang kita harus menelanjangi sisi lain dari kenyataan hari ini, agar kita selalu mawas dan bercermin pada diri. Mungkin itu yang sedang diarungi oleh Trio dengan kemudi kreativitasnya yang bernas dan bertanggungjawab."
- Wanggi Hoed, Seniman Pantomim
HIJAB METAL: Pergulatan Identitas Perempuan Underground
Penulis: Rizky Hafiz Chaniago
Penerbit Semut Api
xii+132 halaman, 13x19cm
Bookpaper, soft cover
Rp65.000
Pasca jatuhnya rezim Soeharto di tahun 1998 di mana Indonesia masuk dalam era keterbukaan, sedikit demi sedikit subkultur metal diterima kalangan umum. Satu hal yang mencuri perhatian adalah munculnya suatu gelombang baru subkultur metal. Para kaum hawa mulai melebur dalam skena tersebut. Menariknya, bukan saja kalangan perempuan yang bermunculan dalam subkultur metal, namun juga partisipasi perempuan berhijab atau ‘hijabers’. Fenomena baru ini mencetuskan kontroversi karena penggabungan antara dua identitas yang saling bertolak belakang. Buku ini bertujuan memahami proses pembentukan, representasi dan implikasi identitas perempuan berhijab dalam subkultur metal.
"Terima kasih atas perilisan buku ini, semoga kedepannya bisa merubah sudut pandang masyarakat luas dan tidak ada diskriminasi terhadap kaum metalhead terutama hijabers. Jika dalam agama Islam hijab adalah kewajiban maka musik adalah media syiar." (Dikky Mochamad Dzulkarnaen (Okid)
“Gugat & Karinding Attack”)
"Sangat bangga dan berterima kasih banyak dengan dirilisnya buku ini. Karena kami wanita berhijab dapat memberikan nilai plus untuk musik metal, membuktikan bahwa musik metal tidak selalu identik dengan hal-hal ekstrim. Pesan saya, untuk wanita metalhead, teruslah berkarya dan berkreatifitas. Tunjukan wanita juga mampu untuk totalitas dalam bermusik. Tentu saja di barengi attitude yang baik juga." (Silvina Elya Mayasari (Maya).
"MORTALITY")
"Melalui buku ini penulis telah memberikan sebuah "ruang" kepada kaum perempuan, khususnya hijabers metal. Di sini dijelaskan, bagaimana mereka bercerita kemudian mendefinisikan peran mereka diantara stigma negatif yang ada. Tentang keberadaan, pergerakan dan harapan kaum perempuan di ranah musik bawah tanah yang sesungguhnya." (Fauziah Burhanudin
“Aktivis Komunitas Bawah Tanah”)
Judul: BAGAIMANA MEDIA SOSIAL MENGHANCURKANMU
Penulis: Eno Bening, dkk.
x+124 halaman, 13x19cm
Bookpaper, soft cover
Rp65.000
BAGAIMANA MEDIA SOSIAL MENGHANCURKANMU terbit di saat kebanyakan orang tidak bisa lepas dari media sosial. Buku ini adalah tentang ketidakmampuan masyarakat dalam membedakan antara dunia yang nyata dengan dunia media sosial. Ketidakmampuan itu pada gilirannya turut mengakselerasi kehancuran masyarakat.
Penulis juga mencoba membahas hal-hal di media sosial yang tanpa sadar mengubah perilaku kita sebagai manusia. Bagaimana banyak orang mengalami FOMO, oversharing, menganggap eksistensi di media sosial sebagai harga mati, bergesernya makna pertemanan, bergantungnya manusia pada gawai, dan hal-hal tak terbayangkan lainnya.
---
Bahan promo:
Quotes:
"Kita merupakan subjek sekaligus objek di hadapan dunia digital yang bahkan kita belum bisa memahami bahasa pengkodingan secara fasih."
"Media sosial dengan kemampuan simulasinya dapat membawa masyarakat menuju pada tahap banalitas."
"Sewaktu saya menulis skripsi pada tahun 2014, hiperrealitas belum sepenuhnya menguasai aspek-aspek sosial yang ada di dalam masyarakat. Masyarakat juga belum sepenuhnya masuk ke dalam realitas simulasi. Masyarakat masih berinteraksi dengan realitas yang sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari. Lalu dalam skripsi, saya mengatakan bahwa pemikiran Baudrillard tidak sepenuhnya salah. Teorinya dapat menjadi sebuah ramalan akan masa depan bilamana masyarakat lebih memilih untuk terus larut mengonsumsi informasi yang tidak bermakna.
Kini di tahun 2023, masyarakat ternyata semakin larut dalam simulasi dan hiperrealitas. Apa yang dahulu saya tulis pada 2014, kini semakin mendekati kenyataan. Terlalu banyak gejala-gejala yang menunjukkan kehancuran masyarakat atau katastrofe. Sewaktu 2014 di dalam skripsi, saya masih menulis bahwa ada kemungkinan untuk menggagalkan kehancuran. Namun kini sepertinya kehancuran itu tak terelakkan."
"Di era ketika eksistensi manusia secara umum tercermin dari kehadirannya di media sosial, maka ungkapan Rene Descartes, 'cogito ergo sum' atau 'aku berpikir maka aku ada' berubah menjadi 'aku di media sosial maka aku ada.'
Profil:
Eno Bening adalah social media strategist, wibu, gamer, dan merupakan lulusan Program Studi Filsafat Universitas Indonesia.
-----
Apa kaitan antara media sosial, hiperrealitas dan kapitalisme?
Hiperrealitas merupakan strategi dari kapitalisme saat mengalami overproduksi, sehingga memaksa masyarakat tidak lagi mengonsumsi yang senyatanya (komoditas). Kini di era digital, terutama di era media sosial, yang kita konsumsi merupakan tanda-tanda yang berserak, simulasi dan simulakrum tak terbatas, bahkan beragam bentuk hiperrealitas dalam visual maupun audiovisual di media sosial.
-----
Siapa Jean Baudrillard, yang pemikirannya digunakan dalam buku Eno Bening?
Jean Baudrillard (1929-2007) adalah filsuf dan sosiolog Prancis. Dia terkenal karena analisisnya tentang media, budaya kontemporer, dan komunikasi teknologi, serta perumusan konsepnya seperti hiperrealitas. Baudrillard menulis tentang beragam subjek, termasuk konsumerisme , kritik ekonomi , sejarah sosial , estetika , kebijakan luar negeri Barat , dan budaya populer.
MERETAS ATAU DIRETAS: Masa Depan Demokrasi, Kerja dan Identitas
Yuval Noah Harari dan Audrey Tang
Penerbit Semut Api
viii+76 halaman, 12x18cm, Bookpaper, Softcover
Harga Rp50.000
Perkembangan teknologi internet dan kecerdasan buatan berimplikasi pada disrupsi kehidupan manusia. Yuval Noah Harari dan Audrey Tang membahas fenomena tersebut pada berbagai ranah, mulai dari praktek berdemokrasi, ancaman otoritarianisme oleh negara maupun korporasi, pemaknaan atas orientasi seksual dan gender, hingga penanganan Covid-19. Dengan mengikuti diskursus mereka berdua, kita akan merasa seperti bayi penyu yang sedang mengarungi lautan probabilitas masa depan.
Yuval Noah Harari adalah profesor sejarah di Universitas Ibrani, Yerusalem. Ia dikenal atas berbagai pemikirannya tentang relasi antara manusia dengan kecerdasan buatan, semesta dan algoritma, dan sejarah umat manusia. Buku-bukunya yang terkemuka antara lain Sapiens (2014), Homo Deus (2016), dan 21 Lessons for 21 Century (2018).
Audrey Tang adalah Menteri Digital pertama di Taiwan yang menjabat pada 2016-2022, seorang hacktivist, anarkis, dan menempatkan diri sebagai seorang post-gender non-biner. Tang merupakan pendukung ide politik transparansi radikal, perangkat lunak terbuka, dan otodidakisme.
MELAWAN BAHASA PATRIARKI
Penulis: Ni Putu Sri Pratiwi
Detail: 13x19cm, 100 halaman, Bookpaper, Soft Cover
Rp50.000
Jika bahasa sendiri telah menjadi wahana komunikasi yang tak netral, mungkinkah tujuan komunikasi terwujud? Ahli bahasa telah jauh-jauh hari mengungkap ketidakadilan dalam bahasa itu sendiri, tepatnya bias-bias gender di dalamnya. Hal ini menjadi perhatian Luce Irigaray sekaligus berupaya ia carikan solusinya. Irigaray “secara tidak sengaja” mempelopori aliran baru feminisme, yakni feminisme posmodern. Perbedaan utama aliran ini dibandingkan berbagai aliran feminisme sebelumnya adalah fokus dan domain mereka pada ranah teks berikut bahasa.
"Buku ini dengan sangat baik menguraikan intisari pemikiran Luce Irigaray yang dikaitkan dengan kondisi yang dialami perempuan di masa sekarang. Penulis dalam bukunya tidak hanya memaparkan hasil penelitian dan menyimpulkan pemikiran feminisme postmodern Luce Irigaray terhadap aksi pembebasan bahasa patriarki" (Fitra Ningsih, International Student Ambassador University of Western Australia)
"Publikasi skripsi ini dalam format buku kiranya perlu dilakukan mengingat masih minimnya referensi mengenai pemikiran feminisme postmodern Luce Irigaray di tanah air." (Wahyu Budi Nugroho, Sosiolog Universitas Udayana, Direktur Sanglah Institute).
NEGARA: Sejarah Peranannya
Penulis: Peter Kropotkin
Penerjemah: Sengon Karta
Detail: 13x19cm, 100 halaman, Bookpaper, Soft Cover
Harga Rp55.000
Dalam buku ini, Kropotkin membahas secara rinci tentang cara kerja dan sifat Negara. Ia menunjukkan ada suatu masa di mana muncul kota-kota bebas di Eropa Abad Pertengahan yang warganya cukup egaliter dan saling bantu sama satu sama lain dalam urusan-urusan publik sehari-hari. Mereka memiliki wadah-wadah sosialnya sendiri yang bersifat independen berupa asosiasi, gilda, serikat, dsb. Namun peradaban maju dari kota-kota bebas ini kemudian dihancurkan oleh entitas politik bernama Negara, melalui serangkaian kampanye kematian dan penindasan, pedang dan tiang gantungan.
“Negara menuntut pribadi dan kepatuhan langsung subjeknya tanpa agen perantara”
“Saat ini, satu-satu arbitrator adalah Negara. Seluruh perselisihan lokal, terkadang masalah yang tidak penting, di kota terkecil dengan beberapa ratus penduduk, harus ditumpuk dalam bentuk dokumen tak berguna di kantor kerajaan dan parlemen.”
“Pendidikan yang kita semua terima dari Negara, di sekolah dan kemudian di dalam kehidupan kita, telah begitu merusak otak kita bahwa ide tentang kebebasan itu sendiri tersesat dan diparodikan ke dalam perhambaan.”
Seni & Kelas Pekerja
Penulis: Alexander Bogdanov
Penerjemah: Sengon Karta
Ukuran : 13x19 cm
Jumlah halaman 130 Halaman
Harga Rp60.000
"Yang utama dalam mempelajari Alexander Bogdanov ini adalah ciri menonjol sebagai manusia yang berdarah seni, sedang seniman di mana pun menganggap kebebasan adalah hal yang paling mulia. Demi kebebasan siap mati. Walau Alexander Bogdanov juga bukan politikus sembarangan. Namun Alexander Bogdanov memilih seni, seni kaum pekerja." - Soesilo Toer, Penulis.
"Satu-satunya jalan ke depan dalam realitas menyedihkan kita dari bencana ekologis, sosial, dan ekonomi yang intensif adalah melalui studi komprehensif dengan para pemikir holistik seperti Bogdanov, diikuti dengan melakukan keahlian masing-masing melalui praksis. Dan untuk alasan inilah saya dengan rendah hati menawarkan terjemahan bahasa Inggris asli dari pamflet Seni dan Kelas Pekerja." - Taylor R. Genovese, Ph.D Candidate at Arizona State University
Kutipan-kutipan:
“Budaya proletar pada dasarnya bukan ditentukan oleh perjuangan, melainkan oleh kerja, bukan oleh penghancuran, tetapi oleh kreativitas”
“Seni adalah organisasi gambaran hidup dan puisi adalah organisasi gambaran hidup dalam bentuk verbal.”
“Penyair mungkin, apalagi, secara ekonomi tidak termasuk dalam kelas pekerja; tetapi jika mereka telah membiasakan diri mereka secara mendalam dengan kehidupan kolektif, jika mereka benar-benar dan dengan tulus menjiwai aspirasi mereka, cita-cita mereka, cara berpikir mereka, jika mereka bersukacita dalam kegembiraan kelas pekerja dan menderita di atas penderitaan mereka—dengan kata lain, jika mereka melebur ke dalamnya dengan segenap jiwa mereka—maka mereka mampu menjadi juru bicara artistik proletar, seorang organisator atas kekuatan dan kesadarannya dalam bentuk puisi.”
“Penyair tidak memiliki hak untuk tidak menghormati kematian orang-orang hebat yang membuka jalan bagi kita dan mewariskan jiwa mereka kepada kita—orang-orang, yang dari kubur, mengulurkan tangan membantu kita dalam meraih cita-cita.”
INDONESIA DI MATAKU
Penulis: Henk Sneevliet
Penerjemah: Raden Welling Praheningtyo
Editor: Panji M. A.
Desain sampul: Aray
90 halaman, 12x18cm
Harga Rp45.000
Sneevliet adalah orang Belanda yang anti-kolonialisme Belanda, seorang komunis, dan antifasis. Di Indonesia, dia bisa dibilang adalah orang yang paling awal melakukan kerja-kerja agitasi dan propaganda politik berdasarkan ajaran komunisme. Dia mendirikan Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV) yang kemudian bertransformasi menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Dia adalah guru bagi tokoh-tokoh pergerakan kiri yang anti-kolonial di era kebangkitan nasional seperti Semaoen, Mas Marco Kartodikromo, Darsono, Alimin, dan Tan Malaka. Perhatiannya pada kemerdekaan rakyat Indonesia dituliskannya dalam buku ini, yang bersumber dari esai-esai Sneevliet yang ditulis pada 1926 dan 1936. Buku ini berisi pandangan Sneevliet tentang kondisi rakyat Indonesia di bawah represi dan eksploitasi kolonial Belanda, dan analisis Sneevliet tentang potensi revolusioner pada elemen-elemen rakyat Indonesia.
SEPETAK TANAH YANG DIMENANGKAN: Gerakan Petani Cipari Reklaiming Hak Atas Tanah Trukah
Penulis: Jarot Santoso
Editor: Biko NFZ
Penata letak: Nabeela
Desain sampul: Catur Sasongko
148 halaman, 13x19cm
Harga normal Rp65.000
Buku ini menelaah gerakan petani Cipari dalam menuntut hak atas tanah trukah dari pencaplokan tanah dengan skema HGU yang dilakukan PT Rumpun Sari Antan. Dibandingkan dengan kasus-kasus yang sama terjadi di tempat lain, gerakan yang dilakukan para petani Cipari menuai hasil. Mereka memperoleh hak milik atas tanah. Menggunakan perspektif gerakan sosial yang meliputi political opportunity structure, mobilizing structure, dan teori budaya, buku ini mengurai tentang dinamika gerakan petani Cipari sejak kolonial, pascakemerdekaan, zaman Orde Lama, Zaman Orde Baru hingga memasuki era Reformasi.
Buku ini tidak sekedar melakukan penjelasan tentang gerakan petani Cipari semata. Buku ini juga memberikan refleksi kritis atas beberapa perspektif gerakan sosial. Melalui buku ini, terbaca pendekatan gerakan sosial yang sangat menekankan aspek struktural relatif tidak memadai untuk menjelaskan gerakan petani Cipari. Selain memberikan informasi berharga tentang gerakan petani, apa yang diurai dalam buku ini bermanfaat bagi dosen, aktivis gerakan sosial, mahasiswa, pegiat LSM, pejabat pemerintah, dan khalayak luas yang berminat pada kajian sosiologi, terutama, sosiologi pertanian, gerakan sosial, dan dinamika desa.
PUNK (KOK) MUSLIM: Tinjauan Antropologis Saling Pengaruh Punk dan Kesalehan di Jawa
Penulis: Élise Imray Papineau
Penerjemah: Biko Nabih Fikri Zufar
Editor: Balqisnab
Penata Letak: Nabeela
Desain Sampul: Vaghov
x+188 hlm, 14x20cm
Harga normal Rp80.000
*
Pada 1990-an, musik punk mulai masuk ke dalam masyarakat Indonesia. Bertepatan dengan perjuangan politik nasional melawan rezim Orde Baru Presiden Soeharto, punk dengan cepat diadopsi sebagai titik temu mengekspresikan ketidakpuasan terhadap pemerintah represif saat itu. Pada 2018, dua dekade setelah jatuhnya Soeharto, punk terus memikat dengan sikap bebas, gaya non-konformis, dan etos independennya. Namun di Jawa, pulau sentral di Indonesia, punk memiliki fungsi baru dan agak tidak terduga: dakwah. Tren muslim punk mengungkapkan bahwa kelompok agama konservatif mengadopsi etos punk dan citra pendakwah, bahwa semakin banyak punk menjadi otoritas agama, dan bahwa pasar yang berkembang menjadikan simbol punk dan Islam menjadi komoditas. Saling pengaruh aneh antara punk dan Islam menimbulkan banyak pertanyaan tentang apa artinya menjadi punk dan menjadi muslim, tidak hanya di era budaya konsumen dan globalisasi, tetapi juga di saat kebangkitan Islam.
Berdasarkan hasil kunjungan etnografis selama tiga bulan di Jawa, buku ini mempertanyakan cara punk Jawa mengartikulasikan Individualisme punk dengan normativitas Islam. Singkatnya, fenomena punk muslim mengajak kita untuk menilai kembali batasan-batasan diskursif yang biasa kita gunakan untuk membatasi dunia retorika 'punk' dan "Islam', serta membuka perdebatan baru tentang parameter dan paradoks dakwah punk. Buku ini menganalisis dan menegaskan keterkaitan dinamis antara agama, ekonomi pasar, dan budaya populer di abad 21.
*
Tentang Penulis
Élise Imray Papineau adalah seorang etnografer, karyanya berkutat seputar praksis aktivis. Saat ini sedang mengambil gelar PhD di Griffith University (Brisbane, Australia). Penelitiannya saat ini berfokus pada perempuan yang terlibat dalam aktivisme akar rumput di Australia, Indonesia, dan Filipina dengan mengeksplorasi politik komunitas berbasis gender, strategi kreatif resiliensi, dan peran DIY. Dia menyelesaikan M.Sc. dalam Antropologi di Universitas Montreal dengan pe nelitian bertemakan Punk Muslim di Indonesia, yang menjadi dasar penulisan buku ini. Dia yakin bahwa pedagogi radikal berkontribusi pada keadilan sosial lokal melalui proyek DIY. Di pekerjaannya, dia juga sebagai organisator dalam sebuah komunitas dan mengkoordinasikan proyek kerajinan akar rumput bernama Punks For The Planet. Sejak 2019, ia secara konsisten terlibat dalam kampanye aksi langsung dan proyek bantuan lokal di Brisbane. Di luar komunitas aktivisme akar rumput dan skena punk, minat penelitiannya mencakup politik gaya hidup radikal, studi feminis dan queer, studi gerakan sosial, teori moral, debat kritis seputar metode etnografi, studi sosial budaya dan sosial-politik di Asia Tenggara.
*
Kutipan-kutipan:
"Fenomena muslim Punk tidak hanya sebagai respons terhadap kebangkitan Islam secara global, tetapi juga merepresentasikan pasar keislam-islaman yang tumbuh di negara-negara berkembang seperti Indonesia."
"Bagi sebagian orang, punk rock adalah agama, dan agama adalah budaya pop. Bagi yang lain, klaim ini menghina Tuhan. Hubungan seseorang dengan yang Ilahi terlalu pribadi, fana dan ru mit untuk analisis konseptual determinatif."
"Punk muslim tidak hanya menarik bagi para punk yang ingin menjadi lebih selaras dengan arus utama, tetapi juga bagi pemuda muslim yang ingin memisahkan diri dari publik dominan."
"Tren muslim punk adalah salah satu dari banyak kasus yang mengajak kita untuk membayangkan kembali kesalehan muslim di abad ke-21."
HEGEMONI TENTARA (Cetakan Kedua)
Penulis: Muhammad Najib Azca
Kata Pengantar: Hebert Feith
Editor: Farras Pradana
Penata letak: Nabeela
Desain sampul: Aray
262 halaman, 14x20cm
Harga normal Rp100.000
Belakangan, pemerintah memunculkan wacana membangkitkan Dwifungsi TNI. Dalihnya memberdayakan perwira di jabatan sipil, misalnya kementerian. Meski Dwifungsi TNI atau ABRI telah dihapus, agaknya masih banyak kalangan yang merindukannya. Meski begitu, banyak pula yang mungkin belum begitu memahami hakikat dan riwayat Dwifungsi ABRI itu sendiri.
Buku ini merupakan kajian soal Dwifungsi ABRI pada menjelang Orde Baru berakhir. Penulis menggunakan sosiologi pengetahuan dan perspektif korporat. Penulis mewawancarai lima purnawirawan ABRI dengan pangkat terakhir perwira yang tersebar di empat angkatan. Buku ini membahas doktrin dan implementasi Dwifungsi ABRI, yang mencakup dasar legitimasi, sifat temporer atau permanen, kepentingan korporat, dan pandangan tentang supremasi sipil; dan pembahasan soal implementasi Dwifungsi ABRI yang mencakup realitas dominasi ABRI dalam lingkungan sosial-politik, dinamika antara individu dan lembaga ABRI, praktik hubungan antara ABRI dengan Birokrasi, Golkar, Legislatif, dan Presiden.
*
Tentang Penulis
Muhammad Najib Azca adalah dosen senior di Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada (UGM). Pria kelahiran Pekalongan, 6 Mei 1968 ini mendapatkan gelar sarjana sosiologi dari UGM pada 1996, master dari Australian National University pada 2004, dan doktor dari Universiteit van Amsterdam pada 2011. Ia juga mantan jurnalis di tabloid DeTIK (1993-1994), ADIL (1994-1998) dan DeTAK (1998-2000). Peminat bidang kajian sosiologi politik, konflik, perdamaian, gerakan sosial dan studi kepemudaan ini merupakan pendiri dan sekaligus direktur Youth Studies Centre (YouSure) di Fisipol UGM pada 2011-2022. Ia juga menjadi Kepala Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) UGM pada 2017-2022.
*
Kutipan-kutipan:
"Adanya peran sosial-politik ABRI akan cenderung membawa serta proses ketegangan permanen di dalam tubuh ABRI; antara tarikan ke arah kebebasan dan ketertiban, antara dorongan ke arah pemeliharaan dan pengubahan, antara aspirasi kemandirian dan tendensi kepatuhan, antara spirit “pragmatisme” dan “idealisme”, dan seterusnya. Tanpa pengelolaan yang memadai dan mencukupi terhadap dinamika tersebut, ABRI akan selalu menjadi titik-picu persoalan yang cukup rawan mengingat ABRI adalah satu-satunya kekuatan sosial-politik yang bersenjata."
"Secara teoritis tidak ada perkecualian, termasuk ABRI, bahwa ada kelompok sosial-politik yang “unik dan superior” sehingga tidak mempunyai keinginan dan kepentingan sendiri. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa ABRI sebenarnya memiliki kepentingan, tujuan, dan sikap politik tersendiri, yang suatu ketika bisa identik dengan kepentingan mayoritas publik (melalui konsensus demokratis dengan kelompok-kelompok lain) dan pada ketika yang lain bisa berbeda—seperti juga kelompok-kelompok sosial-politik yang lain."
"Mungkinkah Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) kembali ke tangsi (back to the barracks)? Mungkinkah ABRI tak lagi terjun ke bidang sosial-politik, dan hanya menggeluti urusan-urusan kemiliteran saja? Pertanyaan bernada menggugat seperti itu pada masa Orde Baru (Orba) bukanlah sesuatu yang populer, bahkan bukan mustahil bakal didakwa sebagai “subversif”. Mengapa? Karena mempersoalkan peran sosial-politik ABRI dan menginginkannya kembali ke barak bukan saja akan dianggap mempertanyakan “kenyataan”, tetapi lebih jauh bisa dituduh menggugat kemapanan sebuah “kebenaran”."
"Secara ringkas dapat dikatakan bahwa: pada mulanya Dwifungsi ABRI adalah semacam “ideologi operasional”, yang kemudian berkembang menjadi “ideologi korporat” dan akhirnya, melalui krisis politik yang tinggi dan proses politik yang rumit, menjadi “ideologi politik”."
"Dwifungsi ABRI juga memuat suatu definisi mengenai kenyataan, bahwa ABRI memiliki sekaligus fungsi sebagai kekuatan hankam dan kekuatan sosial-politik. Tentu, definisi ini bukannya sesuatu yang tak berkait dengan kepentingan kekuasaan; tanpa pengakuan (dan pembenaran) bahwa ABRI memiliki fungsi hankam dan fungsi sosial-politik, maka ABRI tidak bisa berperan menjadi kekuatan sosial-politik—apalagi untuk menjadi dominan. Jika definisi itu tidak diakui dan dibenarkan, maka gugurlah seluruh peran sosial-politik yang dilakukan oleh ABRI."
"Kemanunggalan ABRI dengan rakyat selama masa Revolusi Kemerdekaan Republik Indonesia dan keberadaan ABRI sebagai tentara rakyat sering kali dikonstruksikan sebagai kenyataan sejarah yang memberi legitimasi bagi Dwifungsi ABRI."
"Dalam sebuah situasi permusuhan atau perseteruan, sebuah peristiwa yang sama bisa dikonstruksikan sebagai hal yang berbeda (dan bahkan berkebalikan) oleh kedua kelompok yang bertikai: bagi yang satu “perjuangan suci” bagi yang lain “pemberontakan keji”; bagi yang satu disanjung sebagai “pahlawan”, bagi yang lain dihujat sebagai “pengkhianat”."
"...kemunculan Dwifungsi ABRI bukan merupakan hasil dari pengujian metodologis dan ilmiah, melainkan hasil kemenangan dari suatu proses politik."
"Orde Barunya Soeharto diorganisasikan dengan mensinergikan tiga kekuatan: birokrasi sipil, struktur teritorial Angkatan Darat, dan Golkar. Dwifungsi ABRI dioperasionalkan oleh sinergi tiga kekuatan ini yang menciptakan kontrol tersentral dalam masyarakat Indonesia." (Made Supriatma, dalam Postscriptum Hegemoni Tentara)
Penulis: Yohanes Marino
Editor: Balqisnab
Desain Sampul: Gosal
vi+116 hlm, 14x20cm
Harga Rp50.000
Jogja darurat klitih! Klitih menjadi hal yang mengkhawatirkan, bahkan cenderung mengancam bagi Yogyakarta. Rasa penasaran timbul ketika membayangkan tentang bagaimana subjektivitas (yang berarti juga permasalahan identitas) dalam pelaku klitih ini terbangun. Ini penting dilakukan karena di dalam proses pembentukan subjek inilah kita dapat melihat klitih secara personal dan tidak lagi hanya dibingkai secara struktural namun juga masuk ke dalam individu yang melakukannya. Untuk mengetahui subjektivitas dalam diri pelaku klitih ini, maka diperlukan pendekatan psikoanalisis yang memiliki ruang yang sanggup mewadahi kecurigaan saya terhadap fenomena ini. Buku ini akan menjadi sebuah jalan tersendiri untuk melihat lagi fenomena klitih ini, yang ternyata lebih kompleks dari apa yang terlihat. Solusi yang moralistik dan tindakan represif yang dilakukan oleh pihak-pihak yang terkait (sekolah dan kepolisian), masih berada pada satu sisi dan tidak mencoba memahami fenomena ini secara lebih luas. Dengan memahami subjektivitas dari pelaku, maka kita akan memahami pula mengenai bagaimana pelaku sendiri mungkin juga menjadi korban dari struktur yang lebih luas.
Profil penulis:
Lahir di Balikpapan pada tanggal 25 September 1991. Pernah mengenyam pendidikan keguruan di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Setelahnya ia pernah bekerja di SMA Sedes Sapientiae Semarang pada tahun 2015-2017. Selama menjadi guru inilah ia tertarik untuk lebih mendalami kasus-kasus kenakalan remaja. Penulis akhirnya memutuskan untuk melanjutkan studinya di Kajian Budaya Universitas Sanata Dharma dengan mengambil klitih sebagai topik bahasannya. Topik ini diambil berdasarkan keresahan pribadi penulis tatkala bertemu dengan anak-anak nakal di sekolah. Kekerasan dan anak muda selalu menjadi topik yang menarik baginya untuk dikulik terus-menerus sebab di sanalah rekam jejak dinamika masyarakat dapat ditelusuri.
Quotes:
"Lembaga pendidikan formal yang semakin 'techno-scientist' menjadikan subjek-subjek tidak memiliki ruang untuk bermain dan berekspresi."
"Anak-anak ini ternyata merasa belum cukup diakui oleh orang tua mereka, yang seharusnya memberikan mereka 'rumah'."
"Apa yang terjadi selama ini justru sebaliknya, mereka dilemparkan kembali ke dalam ruang-ruang yang sempit dan tak bersuara."
Blurb:
"Buku ini mengajak kita melihat persoalan klitih di Yogyakarta dengan lebih bijak. Klitih merupakan persoalan yang kompleks, bukan semata-mata masalah kriminalitas remaja. Salah satu temuan penting yang dikemukakan dalam buku ini adalah para remaja pelaku klitih merasa tidak mendapatkan rumah yang nyaman dan kasih sayang yang cukup, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Inilah PR kita bersama: bagaimana menjadikan Yogya sebagai rumah yang "berhati nyaman". (Joko Pinurbo, penyair)
"Buku ini mengajak kita untuk melihat fenomena klitih dengan cara pandang lebih kritis dan jernih. Bahwa klitih bukan melulu tentang keberadaan remaja-remaja tanggung yang sedang cari perhatian lalu memilih membacok orang secara acak di jalanan. Ia terhubung dengan beragam hal, termasuk perubahan kota Yogyakarta yang perlahan menggerus ruang-ruang ekspresi publik". (Arham Rahman, kurator)
Penulis: Noam Chomsky
Kata Pengantar: Robert W. McChesney
Penerjemah: Ani Mualifatul Maisyah
188 halaman, 14x20cm
Harga Rp75.000
Dalam Profit Over People, Noam Chomsky mengkaji neoliberalisme; sistem ekonomi dan kebijakan-kebijakan politik pro-korporat yang kini mengobarkan suatu bentuk perang kelas di seluruh dunia. Chomsky mengkritik tirani minoritas yang merestriksi arena publik dan memberlakukan kebijakan-kebijakan yang menggelembungkan kesejahteraan pribadi, sering kali dengan sangat mengabaikan konsekuensi-konsekuensi sosial dan ekologisnya.
Profit Over People mempersembahkan pandangan-pandangan Chomsky tentang filosofi pasar bebas, kontrol korporat terhadap opini publik, dan dampak yang tak diberitakan dari kekuatan-kekuatan serta kebijakan-kebijakan non-demokratis seperti Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Dana Moneter Internasional (IMF), Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA), Perjanjian Multilateral di bidang Investasi (MAI)—serta gerakan perlawanan yang meluas dan sering kali muncul untuk menentangnya.
Chomsky menawarkan harapan mendalam bahwa aktivisme sosial bisa merebut kembali hak-hak rakyat sebagai warga negara ketimbang sebagai konsumen, mendefinisikan kembali demokrasi sebagai sebuah gerakan global, bukannya sebuah pasar global.
Profil penulis:
NOAM CHOMSKY adalah seorang aktivis politik terkemuka dunia, penulis dan profesor linguistik di Massachussets Institute of Technology, tempat ia mengajar sejak tahun 1955. Chomsky telah banyak menulis dan mengajar di bidang linguistik, filsafat, dan politik. Beberapa karya-karyanya yaitu Powers and Prospects; World Orders, Old and New; Deterring Democracy; Manufacturing Consent (with E.S. Herman); and Year 501: The Conquest Continues. Upaya-upaya Chomsky demi demokrasi yang lebih baik dirayakan dengan gerakan-gerakan perdamaian dan keadilan sosial seluruh dunia.
Kutipan-kutipan:
"Globalisasi dihasilkan dari pemerintah yang sangat kuat, terutama Amerika Serikat, memasukkan kesepakatan perdagangan dan konsensus-konsensus lainnya ke dalam perdebatan rakyat dunia demi memudahkan korporasi dan segelintir kaum kaya untuk menguasai perekonomian negara-negara di seluruh dunia tanpa perlu menunaikan kewajiban terhadap rakyat negara-negara tersebut."
"Alih-alih membangun warga negara, demokrasi neoliberal malah memproduksi konsumen. Alih-alih membentuk komunitas, demokrasi neoliberal malah membangun pusat-pusat perbelanjaan."
"Singkatnya, demokrasi neoliberal adalah debat remeh-temeh atas isu-isu minor oleh pihak-pihak yang pada dasarnya menjalankan kebijakan-kebijakan probisnis serupa terlepas dari apapun perbedaan-perbedaan formal dan perdebatannya."
"Korporasi-korporasi besar memiliki banyak sumber daya untuk mempengaruhi media dan membebani proses politik, dan mereka bertindak seperti itu."
"McNamara memiliki pujian khusus bagi pelatihan perwira-perwira militer Indonesia di universitas-universitas Amerika Serikat, “faktor yang sangat signifikan” dalam menetapkan “elit politik baru Indonesia” (militer) di jalur yang tepat."
Harga Rp65.000
Judul: Kerentanan Radikalisme Gerakan Kerohanian Islam
Penulis: Muhamad Supraja, dkk.
Editor: Biko NFZ
Desain Sampul: Tutus Adi Pambudi
Penata Letak: Ka
Cetakan pertama, 2022
xiv+140hlm, 14x20cm
Buku ini merupakan hasil penelitian yang mencoba mengungkap dan membahas gerakan kerohanian islam yang bernaung di bawah organisasi intra sekolah. Akibat kelemahan yang dimiliki pihak sekolah dan keterbatasan pengetahuan serta wawasan keislaman siswa, penceramah yang dihadirkan banyak diisi oleh mereka yang berideologi salafi dengan kecenderungan literer, eksklusif, dan memihak pada revivalisme islam.
Harga Rp50.000
Judul: Duapuluh Puisi Cinta dan Satu Nyanyian Putus Asa
Penulis: Pablo Neruda
Penerjemah: Saut Situmorang
Penyunting: Sengon Karta
Desain sampul: Aray
Tata letak: Ka
vi+62 halaman, 13x19cm
Bookpaper, softcover
Pablo Neruda dianggap sebagai salah satu penyair berbahasa Spanyol terbesar pada abad ke-20. Tulisan-tulisannya merentang dari puisi-puisi cinta yang erotik, puisi-puisi yang surealis, epos sejarah, dan puisi-puisi politik, hingga puisi-puisi tentang alam dan laut. Novelis Kolombia, Gabriel García Márquez menyebutnya "penyair terbesar abad ke-20 dalam bahasa apapun". Pada 1971, Neruda dianugerahi Penghargaan Nobel dalam Sastra.
"Di puncak nyalanya kesepianku memanjang dan membara, tangan-tangannya berputar bagai orang tenggelam. kukirimkan tanda merah ke mata kosongmu yang baunya seperti laut atau pantai dekat mercusuar. Hanya kegelapan yang kau simpan, perempuanku yang jauh, dari tatapanmu kadang pantai yang menakutkan muncul." - Pablo Neruda
Harga Rp50.000,-
Judul: CILAKA (Dramaturgi)
Penulis: Panji Gozali
x+68 halaman, 14x20cm
Bookpaper, Soft cover
Cetakan pertama, 2022
Penerbit Semut Api
Naskah ini dibuat dengan semangat bermain-main, dalam pengertian naskah ini berupaya menghadirkan kejenakaan, kelucuan-kelucuan, melalui beberapa cara. Dimulai dengan penamaan tokoh: Kantal, Kintil, Kuntul dan Kentel. Huruf vokal ‘o’ tidak ikut disertakan karena akan mengacu pada alat kelamin pria. Tetapi barangkali pembaca akan tergelitik sebab asosiasi mereka dengan sangat mudah akan melayang ke arah sana. Di tengah kondisi negara kita yang masih penuh dengan persoalan politik, sosial dan budaya, masyarakat barangkali sering mengumpat. Cara Penulis mengatasnamakan tokoh dengan panggilan-panggilan yang berasosiasi terhadap alat kelamin seperti menyimpan kemuakan terhadap kondisi politik, sosial dan budaya kita saat ini. Sebagaimana disampaikan oleh salah satu tokoh, “Anggota Dewan yang berjumlah sekian, bolos ra-pat!” Ah, klise. Ini kan sama saja seperti kumpulan mahasiswi dan mahasiswa itu dengan segala tetek bengek idealismenya yang mabuk jamu plastik item, sambil teriak-teriak bela rakyat.” Naskah ini berisi kritik kepada berbagai pihak lewat cara komikal-verbal dan penuh gimmick.
Harga Rp90.000,-
Beli di: Tokopedia atau kirim pesan via Instagram atau Whatsapp
Judul: Anak-Anak Neoliberal, Pembentukan Imaji Identitas Anak Indonesia pada Iklan
Penulis: Arizal Mutahir
Editor: Biko NFZ
Sampul: Wanted Terror Kota
Layout: Melani
viii+264hlm, 14x20cm
Cetakan pertama, 2022
ISBN 978-623-99680-0-7
Dunia anak Indonesia kian hari kian dikepung oleh produk budaya populer. Kondisi tersebut hingga merambah asupan primer anak dalam bentuk iklan. Buku ini berupaya melihat bagaimana konstruksi dan rekonstruksi anak Indonesia melalui gambaran yang terdapat dalam iklan, terutama pada iklan susu formula. Bahwasanya iklan-iklan susu formula selain menjual produk juga menampilkan gagasan tentang apa, siapa dan bagaimana (imaji) anak Indonesia. Mengambil tayangan iklan-iklan susu formula sebagai bahan kajian, Arizal Mutahir hendak menunjukan bahwa ada perubahan tentang apa, siapa dan bagaimana menjadi anak Indonesia.
Harga Rp55.000,-
Beli di: Tokopedia atau kirim pesan via Instagram atau Whatsapp
Judul: Mengeja Praktik Pedagogi di Indonesia
Penulis: Muhamad Supraja
Editor: Biko NFZ
Sampul: Yasnia Amira Alfa
Layout: Nabeela
vii+107hlm, 13x19cm
Cetakan pertama, 2022
ISBN 978-623-97170-8-7
Pendidikan formal sampai saat ini masih dipercaya masyarakat sebagai salah satu sarana ampuh untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan dalam hidup bermasyarakat. Mengapa? Karena dengan pendidikan formal seseorang atau masyarakat dapat memilih untuk melakukan proses reproduksi sosial atau mengembangkan otonomi relatif dalam kehidupan sosialnya. Kecenderungan umum masyarakat mengikuti arus reproduksi sosial yang digerakkan berbagai kekuatan kuasa sosial, meskipun sebagian kecil ada yang berupaya mengembangkan arus otonomi relatif bagi cara pandangnya.
Banyak kritik atas pendidikan formal atau lembaga sekolah, karena keberadaan sekolah sering kali mereduksi makna pendidikan yang begitu kaya dan luas. Sekolah, dari jenjang paling rendah hingga paling tinggi justru membuat wawasan pengetahuan masyarakat menjadi sempit, dangkal dan reduksionistik, padahal keberadaan lembaga sekolah hanya merupakan satu bentuk saja dari pendidikan.
Terlepas dari kritik “menyegarkan” dan “pesimistik” atas lembaga sekolah khususnya Pendidikan Tinggi (PT), buku ini dengan data yang ada menggambarkan dan melihat berlangsungnya proses mobilitas sosial maupun kultural para pengajar di dalamnya.
Harga Rp43.000,-
Beli di: Tokopedia atau kirim pesan via Instagram atau Whatsapp
Judul: SEDIA PUISI SEBELUM HUJAN (Kumpulan Puisi)
Karya: Mahesa Jenar
Sampul: Tutus @setengahlima
vi+54 halaman
Cetakan pertama, 2022
Penerbit Semut Api
ISBN 978-623-99680-1-4
Dengan menyebut nama keindahan yang maha asri dan bijaksana,
bersamaan dengan lahir-nya kumpulan puisi ini dalam bentuk buku.
Dengan penuh kegembiraan dan beberapa kegetiran, buku puisi
ini semoga bukan hanya menjadi payung untuk kesenduhan-mu.
Tetapi untuk memayungi seluruh gerimis dan badai pada negri ini.
“Aku meminjam ingatanmu, untuk aku yang amnesia.
Pelan-pelan ingatanku merantau jauh ke ruang memorimu,
dan ingatan bertengger diatasnya. Antara ingatan dan ingatan,
kenanganlah yang seringkali menjadi kamus-kamus tentang
---(kehilangan).”
Harga Rp58.000,-
Beli di: Tokopedia atau kirim pesan via Instagram atau Whatsapp
Judul: Djalan Baru
Karya: Julian Ranik
Tebal 114 halaman, 13x19cm
Penyunting: Lane
Penata letak: Melani
Sampul: Tasya Safira x Faisal Yongkru
Cetakan pertama, 2022
Penerbit Semut Api
Seorang pria dihadapkan pada sebuah pertanyaan yang muncul dari tempat paling merah, paling marah, paling sepi dari dirinya, "Untuk apa aku hidup". Pertanyaan yang muncul dan menguat seiring berjalannya hari, seiring ia menghadapi kehidupan kota yang carut-marut, negara yang alpa, dan cinta yang patah. Berbekal itu semua, ia pergi bersama Vespanya dari Bogor hingga entah kemana. Sambil meninggalkan kehidupannya yang muram, ia ingin menyembuhkan luka dan melempangkan laku ke arah Djalan Baru.
Harga Rp55.000,-
Beli di: Tokopedia atau kirim pesan via Instagram atau Whatsapp
Judul: INTELEKTUAL KOLEKTIF PIERRE BOURDIEU: Sebuah Gerakan Ilmiah Melawan Dominasi
Penulis: Arizal Mutahir
144 halaman, 14x20cm
Penyunting: Biko Nabih Fikri Zufar
Tata letak: Ka
Sampul: naufalhlm
ISBN 978-623-97170-6-3
Bagi Bourdieu, intelektual menanggung kepentingan universal—mempertahankan kebenaran dan keberpihakan pada yang tertindas. Tugas paling utama bagi intelektual adalah mempertahankan otonomi sebagai intelektual—merdeka sebagai intelektual dalam berkarya dan menyuarakan kepentingan kelompok yang terpinggirkan oleh kuasa ekonomi dan politik. Bourdieu menyerukan perlawanan dengan suatu gerakan yang dinamakan intelektual kolektif.
Harga Rp68.000,-
Beli di: Tokopedia atau kirim pesan via Instagram atau Whatsapp
Judul: Rumah Kedua Ibu (Kumpulan Cerpen)
Penulis: Udiarti
Editor: Farras Pradhana
Cetakan kedua, 2022
190 halaman, 13 x 19 cm
Rumah Kedua Ibu berisi 14 cerpen yang menyoroti kehidupan perempuan secara lebih subtil, tokoh perempuan digambarkan sebagai karakter yang tegar dan mandiri.
Lebih daripada itu, yang menarik, tokoh perempuan ditempatkan dalam situasi dan keadaan yang unik sehingga pembaca akan diajak memahami cara berpikir si tokoh, dan terhanyut dalam alur cerita.
"Yang menarik dari cerita-cerita Udiarti adalah yang dibangun dari imajinasi yang erotik, brutal, gelap dan ngilu — dan masing-masing dikisahkan dengan lugas, tak dramatik, bahkan seakan-akan cuek. Mereka menerabas zona yang lazim dalam karya-karya penulis perempuan (faktor 'perempuan' di sini penting disebut, sebab memang dari sisi itu Udiarti berkisah), dengan tokoh pelacur kelas menengah yang dibujuk dengan puisi, perempuan dengan fantasi gila, gadis yang menyeret (mungkin kata ini hanya metafor) ibunya ke alam baka, penari kraton setengah baya yang bercinta tanpa harapan dengan pemuda umur 20 tahun, guru yang terpaksa membunuh murid kesayangannya sendiri…" (Goenawan Mohamad, Sastrawan)
"Udiarti piawai bercerita melalui tokoh-tokohnya yang kuat, mengusik kita dengan realitas kehidupan, menelanjangi sisi gelap manusia, sekalipun dengan alam pikir surealisme yang dingin. Membaca cerita-cerita di Rumah Kedua Ibu membuat saya menyadari betapa asingnya (kadang kala) seorang manusia terhadap 'rumah'-nya sendiri." (Angelina Enny, Penulis)
"Sebagaimana teater, kumpulan cerpen ini penuh dengan suprise, mendadak mencengangkan sekaligus ngeri dalam dada. Tokoh-tokohnya hidup dalam suspense imaji kehidupan yg liar, dingin, buas, seringkali seksi, dan tentu saja: tragis. Yg menarik adalah Udi menulis pengalaman perempuan-perempuan --pelacur, orang gila, penari, kekasih, ibu, anak, penjaga losmen-- ini dengan gamblang, lugas, dan tegas: bahwa kisah gelap dan berlubang adalah juga milik perempuan, yang dengan pilihannya sendiri telah dilalui dan dilampaui sekaligus." (Luna Kharisma, Sutradara Teater)
Harga Rp80.000,-
Beli di: Tokopedia atau kirim pesan via Instagram atau Whatsapp
AGENDA PARADIGMATIK PEMBANGUNAN DAERAH
Penulis: Firman Nugraha
Kata Pengantar: Prof. Purwo Santoso
Penyunting: Panji Mulkillah Ahmad
Sampul: Naufal Halim @naufalhlm
250 halaman
Cetakan pertama, 2022
Penerbit Semut Api
ISBN 978-623-97170-9-4
Buku ini ditulis berdasarkan kegelisahan penulis mengenai realitas pembangunan daerah di era otonomi daerah yang telah diposisikan semakin vital pasca reformasi 1998. Dalam rentang waktu lebih dari dua dasawarsa ini penyelenggaraan otonomi daerah tampak seperti mengalami stagnasi. Desain tata kelola pemerintahan daerah telah berubah, namun perilaku pelaksanaan pembangunan daerah nampak belum beranjak dari cara berfikir lama di mana birokrasi merupakan entitas yang kaku, lambat, memiliki sumber daya manusia rendah, tidak profesional, minim inovasi, kurang kreativitas dan tidak adanya determinasi kebijakan yang progresif-transformatif.
Buku ini hadir membawa misi perubahan, menawarkan narasi pembangunan dengan gagasan-gagasan paradigmatik tentang bagaimana arah baru pembangunan daerah dewasa ini. Otonomi daerah telah mengalami revitalisasi sejak reformasi bergulir di tahun 1998. Perlu diketahui pula, bahwa sebagian besar tulisan ini berangkat dari refleksi penulis atas dinamika pembangunan daerah di mana penulis beraktualisasi, yaitu Kota Banjar, Jawa Barat. Buku ini merupakan karya perdana penulis, berisikan sekitar 24 tema yang mencerminkan dimensi-dimensi penting dalam pembaharuan kebijakan pembangunan daerah.
Harga Rp45.000,-
Beli di: Tokopedia atau kirim pesan via Instagram atau Whatsapp
Penulis : Wiliam Yanko
Penerjemah dan Editor: Biko NFZ
Cetakan pertama, 2022
Spesifikasi : 76 Halaman, 12 x18 cm
Buku ini menyelidiki hubungan antara hip hop di Indonesia pada 1990–an, dengan bagaimana penindasan Orde Baru membantu menciptakan gaya hip hop sopan dan samar yang unik di Indonesia.
Buku ini juga memberikan analisis teks kritis di samping interogasi atas pengalaman penulis di Indonesia, dengan mengeksplorasi lebih jauh hubungan antara musik hip hop dan penindasan di Indonesia pada periode 1990–an.
Harga Rp75.000,-
Beli di: Tokopedia atau kirim pesan via Instagram atau Whatsapp
Penulis: Biko Nabih Fikri Zufar
Epilog: Herry Sutresna
a.k.a Ucok Homicide
Prolog: Aris Setyawan
Editor: Farras Pradhana
200 hlm, 14x20cm
Cetakan kedua, 2022
Pada masa Orde Baru, kultur rap dijadikan sebagai instrumen perlawanan terhadap ketidakadilan yang dilakukan oleh rezim. Salah satu grup rap yang mengusung perlawanan tersebut yaitu Homicide.
Lewat lirik-liriknya, Homicide mengkritik Orde Baru Soeharto, di seputar kesenjangan sosial dan ekonomi, pemerintahan otoritarian, fanatisme agama, gaya hidup perkotaan, serta pengawasan negara terhadap masyarakat. Usaha pembedahan makna pada buku ini dengan menggunakan metode filsafat hermeneutika dan sosiologi sastra.
Bahwa di tengah masyarakat hari ini yang ditodong ancaman otoritarianisme dan dihimpit relasi kapitalistik, skena rap hari ini agaknya memerlukan penemuan kembali ruh perlawanannya.
Harga Rp58.000,-
Beli di: Tokopedia atau kirim pesan via Instagram atau Whatsapp
MENUJU ILMU SOSIAL PROFETIK
Penulis: Dr. Muhamad Praja, S.H., S.Sos., M. Si.
Penyunting: Biko NFZ, M.A.
Desain Sampul: @naufalhalim
Penata Letak: KA
14x20cm, 122 halaman
Buku ini merupakan sebuah upaya akademis dalam rangka mengembangkan Ilmu Sosial Profetik (ISP) yang dasar-dasar epistemologi dan metodologinya telah dirumuskan oleh Kuntowijoyo pada 1980–an. Sebagai sebuah gerakan keilmuan alternatif, ISP harus terus-menerus didialektikakan dengan berbagai filsafat ilmu dan perspektif sosial yang ada, agar dapat terus berkembang dalam semesta ilmu sosial.
Dalam proses dialektika yang perlu dilakukan tanpa henti ini banyak pertayaan yang kemudiaan muncul, baik itu menyangkut seberapa jauh dan dalam sumber pengetahuan yang ditawarkan ISP dapat dioperasikan dalam wacana teori sosial. Lalu varian teori sosial apa saja yang relevan dan perlu dikembangkan. Metode penelitian seperti apa saja yang dapat digunakan untuk mengoperasikan ISP. Dan tentunya yang terakhir adalah implikasi sosial seperti apa yang muncul akibat penerapan ISP bagi masyarakat serta lingkungan akademik yang berdisiplin mengembangkannya.
Penulis adalah Doktor Sosiologi di Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada. Pada 2010, penulis pernah mendapat kesempatan melaksanakan program Sabbatical Leave yang disponsori oleh DIKTI di The International Institute for Short Term Education and Sabbaticals Leaves at Al-Mustafa International University (ISTES), dan Department Sociology and Social Planning University of Shiraz, Iran.
Harga Rp60.000,-
Beli di: Tokopedia atau kirim pesan via Instagram atau Whatsapp
Judul: MATEO
Pengarang: Mayesharieni
Penyunting: Balqisnab
Penerbit Semut Api, 2022
160 halaman, 13x19cm.
Tidak pernah terbesit di dalam hidupku jika akan mengalami hubungan seperti ini.
Aku memiliki seorang kekasih yang berbeda kewarganegaraan denganku. Dan keterbatasan bahasa bisa jadi adalah masalah dalam hubungan ini.
Tunggu. Kekasih?
Siapa sebenarnya kekasihku? Apakah Mateo? Atau Bayu yang berjanji menikahku?
Apa sebenarnya arti kekasih? Apakah kekasih adalah seperti bagaimana cara Mateo menyukaiku? Atau seperti Bayu yang terpaksa membohongi dirinya demi bisa menikahiku?
Calon suamiku bilang mencintaiku, lalu kenapa ada jarak yang terbentang begitu panjang antara aku dan dia? Dan bahkan hatiku mengatakan bahwa ia mengerti bahwa cinta yang terus ia katakan adalah sebuah kemarahan atas hubungan ini.
Dan Mateo. Meski perasaannya jujur, namun ia tidak pernah mengatakan bahwa ia mencintaiku. Mateo hanya menyukaiku, dia menganggapku lovers! Sedang aku? Aku harus terus berbohong bahwa rasa cintaku padanya tidak ada. Aku harus terus berbohong agar kami bisa tetap bersama.
Lalu, bagaimana hubungan ini akan berjalan? Apakah Bayu benar-benar akan menikahiku? Apakah Mateo akan terus menganggapku sebagai lovers-nya? Entahlah.
"Kurasa bukan hanya cinta yang tak adil terhadap perempuan, kehidupan pun sama." - Mayesharieni dalam Mateo
Harga Rp38.000,-
Beli di: Tokopedia atau kirim pesan via Instagram atau Whatsapp
Judul: Pekerja dan Serikat Pekerja
Milton Friedman
Penerjemah: PMA
Desain sampul: @setengah.lima
Penerbit Semut Api, 2021
Spesifikasi: 75 halaman, bookpaper 72gsm, 12x18cm, soft cover.
Milton Friedman mengulas tentang para pekerja di Amerika Serikat yang tak ubahnya seperti kapitalis, yang sama-sama memiliki hasrat untuk mengejar kepentingan diri. Hal itu didasarkan pada fenomena perkembangan serikat pekerja di Amerika Serikat yang sukses dalam meningkatkan kesejahteraan bagi anggotanya. Friedman juga membandingkan nasib pekerja di negara penganut pasar bebas seperti di Amerika Serikat justru memiliki kebebasan berserikat yang lebih besar daripada di negara-negara sosialis.
Milton Friedman, ekonom Amerika penerima Penghargaan Nobel dalam Ilmu Ekonomi pada 1976. Ia adalah intelektual pemikiran ekonomi neoklasik di Universitas Chicago. Ide-idenya tentang moneterisme, perpajakan, privatisasi dan deregulasi mempengaruhi kebijakan pemerintah Amerika Serikat, terutama selama tahun 1980-an.
Harga Rp50.000,-
Beli di: Tokopedia atau kirim pesan via Instagram atau Whatsapp
Judul: Rasionalitas dan Fondasi Sosial Musik
Penulis: Max Weber
Penerjemah: Biko NFZ
Penerbit Semut Api, 2021
Spesifikasi: 110halaman, bookpaper, 14x20cm, soft cover.
Studi mengenai hubungan antara musik dengan masyarakat memiliki ikatan yang tidak pernah dapat dipisahkan. Di dalam musik terdapat elemen sosial, karena musisi bukanlah suatu entitas di luar masyarakat. Artinya musisi sendiri menjadi bagian dari anggota sosial masyarakat yang akan terus saling mempengaruhi secara rasional.
Max Weber mencoba memproblematisir antara musik dan sosial tidak hanya sebatas permukaan atau luaran saja. Cara pendalaman (verstehen) ia gunakan untuk menggali makna-makna yang terkandung di dalam musik dan teknis bermusik yang merupakan pengaruh dari sosial. Weber tidak hanya melihat konteks bermusik di Barat saja–meskipun mayoritas membahas musik di Barat–namun juga menyebutkan konteks di Timur, yang di dalamnya termasuk Asia.
Harga Rp55.000,-
Beli di: Shopee atau kirim pesan via Instagram atau Whatsapp
Judul: WAJAH YANG HILANG: Kumpulan Cerpen
Penulis: Muhammad Yasir
Penerbit: Semut Api, April 2021
142 halaman, 13x19, bookpaper, soft cover
Kumpulan cerita pendek Wajah Yang Hilang merupakan penggambaran tentang lunturnya moralitas manusia dan alam sehingga menciptakan ketidakselarasan kehidupan—manusia merusak alam dengan segala upaya dan alam membalas dengan peristiwa-peristiwa kerusakan. Namun manusia senantiasa berdalih bahwa immoralitas tersebut sebagai perwujudan cita-cita berkehidupan maju dan modern.
Cerita-cerita dalam buku kumpulan cerpen Wajah Yang Hilang tidak hanya berhenti sampai di sana. Dalam beberapa cerita, terdapat upaya pengarsipan cara rezim yang berkuasa mencoba untuk membenturkan kaum intelektual dengan represifitas melalui kebijakan dan Undang-Undang (UU) yang fasis dan berpihak kepada kaum kapitalis dan borjuis. Selain itu berupaya memunculkan konteks autokritik terhadap pola perlawanan yang digencarkan oleh angkatan muda Indonesia. Perempuan tidak luput pula dibahas dengan penggambaran posisi kaum perempuan dan gerakannya. Senantiasa mengalami sub-alternasi atau penindihan dalam gerakan perlawanan bersama, bahkan bukan hanya di dalam gerakan perlawanan. Melainkan hal itu juga terjadi dalam proses dinamika sosial-budaya masyarakat Indonesia. Hal itu menyebabkan, perempuan dianggap sebagai manusia kelas dua.
Buku kumpulan cerita pendek Wajah Yang Hilang ini adalah potret jujur akan kehilangan. Dan semua orang mencari-cari akan kehilangannya. Semua orang pernah merasakan kehilangan dan mengalami kebingungan saat hendak mencarinya. Sadarkah, bahwa masyarakat telah banyak mengalami kehilangan—apalagi kita. Beberapa berhasil ditemukan dalam buku kumpulan cerita pendek, semoga menemukan!
Profil Penulis: Muhammad Yasir lahir pada 18 Agustus 1994 di Danau Sembuluh. Ia memulai proses kreatifnya dalam dunia Sastra Indonesia di Yogyakarta bersama Gerakan Literasi Indonesia (GLI) atau Neo-GLI. Pada tahun 2014 bersama ESBUMUS yang bersayap di Urut Sewu, ia mulai melakukan penghayatan terhadap penindasan yang terjadi, hingga ia bertemu dengan Penyair Saut Situmorang yang menempanya. Setelah mendapatkan predikat Sarjana Sastra Indonesia, ia kembali ke kampung halamannya.
Harga Rp60.000,-
Beli di: Tokopedia atau kirim pesan via Instagram atau Whatsapp
Sekelompok Babi dan Rumah-Rumah
Penulis: Farras Pradana
Penyunting: Balqis Nabila Zahra
Penerbit Semut Api, Juli 2021
161 halaman, 14x20cm, Bookpaper, Softcover
Seorang di penjara menemukan celah untuk kabur, tapi memilih untuk tidak melakukannya. Perempuan yang mendadak datang meminta menginap. Anak perempuan yang memohon kepada kekasihnya. Pemuda yang pulang untuk mendapati kedua orang tua dan adik perempuannya dalam hubungan yang berbeda. Seorang yang terlambat datang ke tempat ritual. Siswa yang kembali ke ruang kelas untuk menjumpai mayat seorang siswi. Waktu setengah jam yang bolak-balik dan terasa bertumpuk. Seorang mencari siapa yang dibunuhnya. Perbincangan editor buku dengan penulis di rumah besarnya. Kepulangan seseorang yang hanya sekejap. Pertemuan di penjara yang menguak jalinan masa lalu. Nomor yang berarti bagi sebuah pasangan.
Cerita-cerita dalam kumpulan cerpen ini sarat akan perasaan kalah, namun seketika digeruduk oleh gerombolan gegap gempita yang artifisial, dan mengantar pembaca pada ujung jalan buntu.
Harga Rp45.000,-
Beli di: Tokopedia atau kirim pesan via Instagram atau Whatsapp
Judul: Siapa Layak Mendapatkan Penghargaan Nobel (Kumpulan Puisi)
Penulis: Yasuo Huang
iv+66 halaman, Juli 2021
Yasuo Huang adalah pegiat teologi yang lahir di Surabaya, Jawa Timur. Alumus STT Amanat Agung, Jakarta. Novel pertamanya berjudul Gaduh dalam Nyenyat (2020). Pernah berkontribusi dalam antologi puisi Puisi Pembebasan dan Puisi Pembebasan 2.
Harga Rp45.000,-
Beli di: Tokopedia atau kirim pesan via Instagram atau Whatsapp
Judul: MOZAIK (Antologi Puisi)
Penulis: Sengon Karta
Penerbit Semut Api, 2021
146 halaman, book paper, soft cover
Antologi Puisi Mozaik adalah cara Sengon Karta mengumpulkan ingatan-ingatan dari perjalanan hidup yang telah dilaluinya. Bersentuhan dengan beragam dinamika fenomena sosial di masyarakat. Berisikan kurang lebih 80-an puisi, semuanya ditulis tanpa rencana, dan menggunakan gawai sebagai pirantinya. Membaca Antologi Puisi Mozaik seperti hanyut ke dalam konteks peristiwa yang disajikan oleh Sengon Karta. Kebanyakan peristiwa di dalamnya ditulis dengan rima dan irama ciri khas dari Rap. Sebagian puisi di dalamnya juga menjadi sebuah album musik rap dengan judul yang sama. Projek berbeda sekaligus penyajian dengan cara berbeda, menghasilkan perbedaan rasa ketika menikmatinya secara bersamaan. Buku puisi ini juga disusun secara gaduh, karena hampir kebanyakan menangkap potret kekacauan yang terjadi di masyarakat (penindasan, eksploitasi sumber daya alam, ketimpangan gender, dsb). Jangan terkejut saat membacanya dan menemukan banyak ketidakteraturan di tiap puisinya. Lewat Antologi Puisi Mozaik ini, Sengon Karta bermaksud memberikan sumbangan kecil terhadap besarnya dunia sastra.
Penulis seorang alumni Sosiologi dan masih melanjutkan studinya di sebuah kampus di Yogyakarta. Pernah terlibat dalam aktivisme sosial di beberapa organisasi dan aliansi di Purwokerto dan Yogyakarta. Membubuhkan puisi-puisinya di judul antologi bersama, yaitu; "Aksara Jejak Kita", "Sejuta Sajak Abadi", "Bersajak Dalam Buku", dan "Lolongan Lorong Negeri". Menerjemahkan buku berjudul "Meretas atau Diretas". Alasan menggunakan nama pena “Sengon Karta” tentu bukan tanpa sebab. Nama tersebut untuk terus mengingatkan kepada siapa pun mengenai kasus peradilan sesat terhadap Sengkon dan Karta, tepatnya tahun 1974 di Bekasi. Serta terus mengingatkan bahwa ketidakadilan tetap hidup ketika ketimpangan dipelihara.
Harga Rp50.000,-
Beli di: Tokopedia atau kirim pesan via Instagram atau Whatsapp
Judul: Tongue In Your Ear
Karya: Saut Situmorang
Penerbit Semut Api
75 halaman, 14x21cm
Bookpaper, Softcover
Tongue In Your Ear berisi kumpulan puisi berbahasa Inggris karya Saut Situmorang, yang ia tulis pada 1989 hingga 2000-an. Sebagian besar puisi-puisi ini ditulis semasa ia merantau ke Selandia Baru.
Harga Rp54.000,-
Beli di: Shopee atau kirim pesan via Instagram atau Whatsapp
Judul: Mengutuk Stalin
Pengarang: Nikita Khrushchev
Penerbit: Semut Api
Spesifikasi: 140 halaman, 13x19cm, bookpaper, softcover
Berat: 150 gram
Di hadapan peserta Kongres ke-20 Partai Komunis Uni Soviet, Nikita Khrushchev membongkar kekejian eks pemimpin besar Uni Soviet, Joseph Stalin. Selama kepemimpinan Stalin, Uni Soviet mengalami kemajuan ekonomi, teknologi, militer, dan kebudayaan yang amat pesat. Namun penghargaan atas kemajuan itu oleh Stalin disematkan semata-mata pada dirinya pribadi, bukan pada rakyat Uni Soviet. Stalin dengan sadar membangun kultus individu, dan seiring dengan itu menyingkirkan siapa pun yang tak sependapat dengannya melalui metode teror dan represi massal.
Keistimewaan buku ini dibandingkan oleh buku-buku lain yang juga membahas tentang Stalin ialah, bahwa fakta-fakta dalam buku ini disampaikan sendiri oleh Khrushchev selaku petinggi Uni Soviet, sehingga bisa menjadi rujukan yang valid bagi penelitian sejarah. Pidato Khrushchev dalam buku ini disebut oleh berbagai media barat sebagai pidato yang, “mengubah sejarah dunia.”
Harga Rp45.000,-
Beli di: Tokopedia atau kirim pesan via Instagram atau Whatsapp
Judul: MERETAS ATAU DIRETAS: Masa Depan Demokrasi, Kerja dan Identitas
Yuval Noah Harari dan Audrey Tang
Penerjemah: Sengon Karta
Penerbit Semut Api, November 2020
80 halaman, 13x19cm, Bookpaper, Softcover
Perkembangan teknologi internet dan kecerdasan buatan berimplikasi pada disrupsi kehidupan manusia. Yuval Noah Harari dan Audrey Tang membahas fenomena tersebut pada berbagai ranah, mulai dari praktek berdemokrasi, ancaman otoritarianisme oleh negara maupun korporasi, pemaknaan atas orientasi seksual dan gender, hingga penanganan Covid-19. Dengan mengikuti diskursus mereka berdua, kita akan merasa seperti bayi penyu yang sedang mengarungi lautan probabilitas masa depan.
Yuval Noah Harari adalah profesor sejarah di Universitas Ibrani, Yerusalem. Ia dikenal atas berbagai pemikirannya tentang relasi antara manusia dengan kecerdasan buatan, semesta dan algoritma, dan sejarah umat manusia. Buku-bukunya yang terkemuka antara lain Sapiens (2014), Homo Deus (2016), dan 21 Lessons for 21 Century (2018).
Audrey Tang adalah Menteri Digital pertama di Taiwan yang menjabat sejak 2016, seorang hacktivist, anarkis, dan menempatkan diri sebagai seorang transgender non-biner. Tang merupakan pendukung ide politik transparansi radikal, perangkat lunak terbuka, dan otodidakisme.
Harga Rp68.000,-
Beli di: Shopee atau kirim pesan via Instagram atau Whatsapp
Judul: Mahasiswa Bergerak: Perlawanan Mahasiswa Sejak NKK/BKK Sampai Kejatuhan Rezim Orde Baru 1978-1998
Penulis: Andika Ramadhan F
Penerbit Semut Api
ISBN 978602519811
182 halaman, 14x21cm, bookpaper, softcover
Dilatarbelakangi oleh arus Gerakan Anti-Pemerintah pada tahun 1978, rezim Orde Baru berusaha membungkam gerakan mahasiswa dengan cara membubarkan Dewan Mahasiswa pada tahun 1978 dan memenjarakan tokoh-tokoh mahasiswa yang terlibat dalam protes Anti-Soeharto.
Setelah itu, Orde Baru mengeluarkan kebijakan NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus dan Badan Koordinasi Kemahasiswaan) untuk mematikan gerakan mahasiswa secara sistemik. Di bawah aturan NKK/BKK, kampus mengalami kepasifan politik yang amat parah. Gerakan mahasiswa pun lumpuh selama beberapa tahun.
Namun, kejatuhan Soeharto pada tahun 1998 menjadi bukti bahwa rezim Orde Baru tak pernah berhasil mematikan gerakan mahasiswa secara utuh, mengingat kejatuhan Soeharto itu dipelopori oleh arus gerakan mahasiswa.
Lalu seperti apa gambaran kondisi kampus pasca NKK/BKK? Apa yang dilakukan oleh para mahasiswa ketika rezim Orde Baru semakin keras menindak gerakan mereka? Lalu, apa yang sebenarnya dibangun oleh mahasiswa selama puluhan tahun sehingga rezim Orde Baru bisa runtuh pada tahun 1998?
Buku ini menjadi penting untuk dibaca dan dijadikan bahan diskusi untuk mengetahui secara mendalam strategi dan taktik yang dibangun gerakan mahasiswa.
Harga Rp50.000,-
Beli di: Tokopedia atau kirim pesan via Instagram atau Whatsapp
Judul: Materialisme Dialektis dan Historis
Penulis: Joseph Stalin
104 hlm, 13x19cm
Bookpaper, Softcover
Di Indonesia, kita mengenal inti filsafat Marxisme adalah Materialisme Dialektika dan Materialisme Historis, yang biasa disebut MDMH atau MDH. Banyak yang mengira istilah MDH dibakukan oleh Karl Marx dan Friedrich Engels. Faktanya, baik Marx maupun Engels tidak pernah membakukan istilah MDH. Konsepsi filsafat Marx dan Engels tersebar dalam berbagai karya yang terpisah. Adalah Joseph Stalin yang pertama kali mengkodifikasi atau membakukan ajaran Marxis dalam istilah MDH. Buku Materialisme Dialektis dan Historis adalah salah satu karya Joseph Stalin tentang filsafat Marxisme yang diajarkan di sebagian besar negara sosialis pada masanya dan ke kader-kader organisasi Kiri di berbagai belahan dunia.
MDH dapat digunakan sebagai alat analisis untuk menyingkap penindasan dan penghisapan dalam masyarakat kapitalis hari ini yang makin menunjukkan watak beringasnya. Tidak hanya itu, MDH juga menawarkan cara berpikir yang ilmiah dan sistematis untuk membaca gerak zaman ke depan.
Harga Rp40.000,-
Beli di: Shopee atau kirim pesan via Instagram atau Whatsapp
Judul: Pascamodernisme dan Masyarakat Konsumer
Penulis: Fredric Jameson
Penerjemah: Saut Situmorang
Penerbit: Semut Api
Ketebalan: ix+40 halaman, Bookpaper
Dimensi: 12 x 18 cm, Softcover
Berat: 100 gram
Buku ini merupakan upaya Fredric Jameson untuk memperjelas konsep pascamodernisme. Tujuannya untuk menunjukkan bagaimana pascamodernisme bertentangan dengan modernisme tidak hanya dalam tema seni dan sastra, tetapi juga bagaimana perbedaan ini muncul pada budaya secara umum. Seni, sastra, hingga intelektualitas kekiniannya sudah tidak memedulikan bentuk secara formal. Seni dan sastra mengalami perubahan bentuk dari sebelumnya ketika modernisme. Kekhasan dari bentuk seni dan sastra menurut Jameson ia sebut sebagai pastiche, dengan gejala-gejala skizofrenia secara substansial. Di bawah rezim pascamodernisme, seni dan sastra kemudian tampil sebagai komoditas yang bermuara pada akumulasi kapital.