Desa Botumoito adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Botumoito, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo. Desa ini memiliki sejarah yang unik, terkait dengan pengungsian dari Limutu akibat perang. Secara geografis, desa ini berada di wilayah yang memiliki potensi perikanan budidaya.
Gambaran Umum Desa Botumoito:
Sejarah:
Desa Botumoito terbentuk dari pengungsi yang datang dari Limutu pada tahun 1870, akibat perang antara Panipi dan Limutu. Mereka datang dengan perahu dan mendarat di teluk yang kemudian dikenal sebagai "Patoa Bindalo" (Pelabuhan Botumoito).
Geografis:
Desa Botumoito terletak di Kecamatan Botumoito, Kabupaten Boalemo. Desa ini memiliki luas wilayah sekitar 12.874.629 ha/m2.
Kondisi Sosial:
Desa Botumoito memiliki jumlah penduduk 2.586 jiwa. Terdapat beberapa dusun di desa ini, yaitu Dusun I Patoabindalo, Dusun II Botuduluwo, dan lainnya.
Pekerjaan:
Sebagian besar penduduk desa bekerja sebagai petani dan nelayan.
Potensi:
Desa Botumoito memiliki potensi perikanan budidaya yang cukup besar, dengan komoditas unggulan seperti kerapu, kepiting, dan ikan kakap, serta bandeng, udang vaname, dan nila salin.
Potensi Perikanan Budidaya:
Potensi Lahan: ± 2.975 Ha untuk budidaya kerapu, kepiting, dan ikan kakap.
Potensi Lahan: ± 785,4 Ha untuk budidaya bandeng, udang vaname, dan nila salin.
Sarana dan Prasarana: Terdapat Karamba Jaring Apung (KJA) untuk budidaya.
Desa Botumoito memiliki potensi yang cukup besar dalam sektor perikanan, didukung oleh kondisi geografis wilayahnya.
POTO PEMDES BOTUMOITO
Pada tahun 1870 datang pengungsi dari Limoetoe (Limboto) diakibatkan perang antara Panipi dan Limoetoe, mereka datang dengan menggunakan kenderaan Oetaeya (Perahu Layar) dan berlabu diteluk Patoa Binthalo (Pelabuhan Botumoito). Setelah mereka berlabu dan turun ke darat, mereka mendapat jejak-jejak kaki disekitar pelabuhan dan disinyalir sebagai milik bajak laut Mindanao dan Palopo karena dilihat dari ukuran jejak kaki yang besar. Bajak laut Mindanao dan Palopo terkenal sebagai bajak laut yang jangkoeng, bengis dan kanibal, keberadaan jejak kaki bajak laut tidak mengurungkan niat mereka untuk masuk lebih dalam lagi di areal sekitar teluk Patoa Binthalo.
Sebelumnya dekat teluk Patoa Binthalo terdapat dua batu hitam besar yang oleh mereka untuk menambatkan perahu layar. Batu besar hitam ini kemudian digunakan oleh mereka sebagai nama tempat yang mereka temukan yakni Botumoito (Batu Hitam).
Setelah melakukan perjalanan, mereka kemudian mendapatkan areal yang cocok untuk dijadikan sebagai pemukiman dan pertanian. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun. Pemukiman yang tadinya hanya beberapa keluarga saja, bertambah banyak dengan datangnya generasi yang lain. Karena jumlah penduduk semakin bertambah mereka kemudian menyepakati untuk menjadikan area tersebut sebagai daerah pemerintahan yang namanya kampung Botumoito. Yang dikepalai oleh kepala kampung yang bernama Hatama pada tahun 1873. Agama mereka adalah Islam dan adat yang dipakai adalah adat yang dibawa dari limboto.