Kita bisa melihat karena ada cahaya. Cahaya itu punya banyak sifat, lho! Misalnya, cahaya merambat lurus, bisa dipantulkan (seperti saat bercermin), bisa menembus benda bening (seperti kaca jendela), bisa dibiaskan (makanya sendok dalam gelas terlihat bengkok), bisa diuraikan (jadi pelangi!), dan bisa membentuk bayangan kalau terhalang benda.
Cahaya merambat lurus → Contohnya sinar matahari masuk lewat celah jendela.
Cahaya dapat dipantulkan → Seperti saat kita bercermin.
Cahaya bisa menembus benda bening → Misalnya kaca bening atau plastik transparan.
Cahaya bisa dibiaskan (dibelokkan) → Misalnya sendok dalam air terlihat bengkok.
Cahaya bisa diuraikan → Jadi pelangi! Karena cahaya putih terdiri dari banyak warna.
Cahaya yang terhalang benda akan membentuk bayangan → Bentuk dan ukuran bayangan bisa berubah tergantung posisi cahaya dan benda.
Mata kita bisa melihat karena cahaya masuk ke dalam mata dan diteruskan ke otak. Bagian-bagian penting mata seperti kornea, lensa, retina, dan saraf mata bekerja sama agar kita bisa melihat benda dengan jelas. Pupil kita juga bisa mengecil atau membesar tergantung terang atau gelapnya cahaya.
Mata bisa melihat karena cahaya dipantulkan dari benda ke mata.
Bagian-bagian mata yang terlihat:
Alis & bulu mata → Melindungi dari keringat dan debu.
Pupil & iris → Mengatur banyaknya cahaya yang masuk.
Sklera → Bagian putih mata, pelindung utama.
Bagian dalam mata:
Kornea & lensa → Memfokuskan cahaya.
Retina & saraf mata → Mengubah cahaya menjadi sinyal ke otak.
Proses Melihat: Benda → Cahaya masuk → Lensa memfokuskan → Retina → Otak menerjemahkan → Kita bisa melihat.
Bunyi itu berasal dari benda yang bergetar, dan bisa merambat lewat udara, air, atau benda padat. Bunyi juga bisa dipantulkan (menjadi gema atau gaung), atau diredam oleh benda lunak seperti karpet dan busa. Tinggi rendah bunyi dipengaruhi oleh cepat lambatnya getaran, sedangkan keras pelannya dipengaruhi oleh besar kecilnya getaran.
Bunyi tidak bisa merambat di ruang hampa.
Bunyi memerlukan media untuk merambat: udara (gas), air (cair), dan benda padat.
Benda padat adalah perambat bunyi paling baik karena partikelnya rapat.
Berbeda dari cahaya yang merambat lurus, bunyi bergerak ke segala arah.
Contoh: Suara bel sekolah terdengar dari berbagai sudut ruangan.
Disebut juga frekuensi bunyi.
Ditentukan oleh:
Cepat lambatnya getaran → Getaran cepat = bunyi tinggi (misalnya peluit), getaran lambat = bunyi rendah (misalnya drum).
Panjang-pendeknya benda → Benda pendek menghasilkan nada lebih tinggi.
Tegangan → Semakin tegang (contoh senar gitar), nada semakin tinggi.
Disebut juga volume suara.
Ditentukan oleh:
Besar kecilnya getaran → Getaran kuat = suara keras, getaran lemah = suara pelan.
Gaya yang digunakan → Pukulan keras pada drum menghasilkan suara lebih keras.
Terjadi ketika bunyi mengenai permukaan keras (tembok, batu).
Ada dua jenis pantulan bunyi:
Gema: bunyi pantulan terdengar setelah bunyi asli selesai.
Gaung: bunyi pantulan terdengar sebelum bunyi asli selesai.
Permukaan lunak seperti karpet, bantal, busa menyerap bunyi dan meredam pantulan suara.
Itulah sebabnya gedung bioskop dilapisi busa dan karpet untuk meredam suara dan mencegah gema.
Telinga menangkap bunyi melalui proses bertahap:
Daun telinga → Saluran telinga → Gendang telinga → Tulang pendengaran → Rumah siput → Saraf ke otak.
Gendang telinga bergetar saat terkena suara.
Suara keras bisa merusak telinga! Perlu dijaga dengan tidak mendengar musik terlalu kencang.
Polusi suara bisa membuat stres, gangguan tidur, dan gangguan pendengaran.