Arti Fardhu Kifayah
Fardhu Kifayah adalah kewajiban yang harus dilaksanakan oleh sekelompok orang dalam Islam untuk memenuhi tuntutan agama. Yusuf Qardhawi dalam bukunya Fiqih Jihad menjelaskan mengenai fardhu kifayah. Kewajiban ini terpenuhi jika ada satu atau sebagian orang yang telah melaksanakannya kemudian orang lain boleh meninggalkannya. Sebaliknya, jika tidak ada satu orang pun dalam kelompok tersebut yang melaksanakan tugasnya, maka seluruh anggota kelompok akan berdosa.
Secara harfiah, fardhu kifayah dapat diartikan sebagai "kewajiban kolektif". Hal ini sama halnya bermakna bahwa jika sebagian orang dalam masyarakat sudah memenuhi kewajiban ini, maka kewajiban tersebut dianggap telah terpenuhi untuk seluruh masyarakat. Dalam rangka menciptakan masyarakat yang adil, damai, dan sejahtera. Sehingga konsep fardhu kifayah memegang peranan yang sangat penting.
Contoh Fardhu Kifayah
Salah satu contoh penerapan Fardhu Kifayah dalam kehidupan umat Islam di antaranya:
Pemakaman Jenazah
Pemakaman jenazah adalah salah satu kewajiban umat Islam. Syaikh Abdurrahman Al-Juzairi dalam buku Fikih Empat Madzhab Jilid 2 menerangkan hukum mengantarkan jenazah menuju pemakaman adalah fardhu kifayah, layaknya memandikan jenazah, mengkafani, dan mensholatkannya. Jika sudah ada sebagian orang yang melaksanakan tugas tersebut, maka kewajiban tersebut tidak lagi harus dilakukan oleh yang lainnya. Dalam hal ini, tugas tersebut dapat dilaksanakan oleh keluarga dekat, teman, atau warga sekitar.
Salah satu contoh perkara yang memiliki hukum Fardu Kifayah adalah mengurus jenazah. Ketika ada seseorang yang meninggal, mengurus jenazah mulai dari memandikan, mengafani, menyolatkan hingga menguburkan, wajib dilakukan sebagian orang. Jika sudah ada sebagian orang, baik itu pihak keluarga maupun tetangga, maka telah gugurlah kewajiban itu bagi semua orang. Akan tetapi jika tidak ada satu orang pun yang mau mengurus jenazah tersebut, maka semua orang akan menanggung beban dosanya.
A. Memandikan Jenazah
Adapun tata cara memandikan jenazah sebagai berikut:
Menaruh mayat di tempat yang tinggi supaya memudahkan mengalirnya air yang telah disiramkan ke tubuh mayat.
Melepaskan pakaian mayat lalu ditutup dengan kain agar auratnya tidak terlihat, kecuali anak kecil.
Orang yang memandikan hendaknya menggunakan sarung tangan, terutama ketika menggosok aurat si mayat.
Mengurut perut si mayat dengan pelan untuk mengeluarkan kotorankotoran yang ada dalam perutnya, kecuali perut perempuan yang hamil.
Memulai membasuh anggota badan si mayat sebelah kanan dan anggota tempat wudhu.
Membasuh seluruh tubuh si mayat dengan rata tiga kali, lima kali, tujuh kali, atau lebih dengan bilangan ganjil. Di antaranya dicampur dengan daun bidara atau yang sejenisnya yang dapat menghilangkan kotoran-kotoran di badan mayat, seperti sabun,sampo, dan sebagainya.
Menyiram mayit berulang-ulang hingga rata dan bersih dengan jumlah ganjil. Waktu menyiram tutuplah lubang-lubang tubuh mayit agar tidak kemasukan air.
Jangan lupa membersihkan rongga mulut mayit, lubang hidung, lubang telinga, kukunya, dan sebagainya.
Yang terakhir, siramlah dengan larutan kapur barus atau cendana.
Untuk mayat perempuan setelah rambutnya diurai dan dimandikan hendaknya dikeringkan dengan semacam handuk lalu dikelabang menjadi tiga, satu di kiri, satu di kanan, dan satu di ubun-ubun, lalu ketiga-tiganya dilepas ke belakang.
Setelah selesai dimandikan, badan mayat kemudian dikeringkan dengan semacam handuk.
B. Mengkafani Jenazah
Siapkan kain kafan yang bersih, bagus, dan berwarna putih.
Bentangkan kain kafan sehelai demi helai, dengan lapisan paling bawah yang lebih lebar.
Taburi setiap lapisan kain kafan dengan kapur barus atau wangi-wangian.
Angkat jenazah dalam keadaan tertutup dengan kain dan letakkan di atas kain kafan.
Tutup lubang-lubang yang mungkin masih mengeluarkan kotoran dengan kapas.
Selimutkan kain kafan dengan cara yang lembut, mulai dari sebelah kanan yang paling atas, kemudian ujung lembar sebelah kiri.
Ikat kain kafan dengan tali yang sudah disiapkan sebelumnya di bawah kain kafan.
C. Menshalatkan Jenazah
Tata cara sholat jenazah adalah sebagai berikut:
Membaca niat sholat jenazah. Niat dibedakan berdasarkan jenis kelamin jenazah.
Berdiri jika mampu.
Melakukan takbiratul ihram sebanyak empat kali.
Membaca surah Al-Fatihah setelah takbir pertama.
Membaca sholawat nabi setelah takbir kedua.
Membaca doa untuk jenazah setelah takbir ketiga.
Melakukan takbir keempat.
Mengakhiri sholat dengan salam.
D. Menguburkan Jenazah
ata cara menguburkan jenazah dalam Islam adalah sebagai berikut:
Menggali liang kubur
Lubang kubur digali sedalam 1,8–2 meter, dengan lebar sekitar 50 cm, dan panjangnya lebih dari tinggi jenazah. Lubang kubur harus membujur dari utara ke selatan, dengan kepala jenazah berada di sisi utara.
Memasukkan jenazah
Jenazah dimasukkan ke dalam liang kubur dengan kepala terlebih dahulu, dari arah kaki kuburan. Saat memasukkan jenazah, bacakan "Bismillah wa 'ala millati Rasulillah" atau "Bismillah wa 'ala sunnati Rasulillah".
Membaringkan jenazah
Jenazah diletakkan dalam posisi miring di atas lambung kanan bagian bawah, dan menghadap kiblat.
Menutup liang kubur
Setelah jenazah diletakkan, liang kubur ditutup dengan papan kayu atau batu, kemudian ditimbun dengan tanah.
Menandai kubur
Setelah proses penguburan selesai, letakkan batu kecil di atas kubur dan siramkan air di atasnya.
Jadi Tujuan fardhu kifayah adalah untuk mewujudkan kebersamaan dan kesejahteraan seluruh anggota masyarakat. Fardhu kifayah merupakan konsep dalam Islam yang menyatakan bahwa suatu perbuatan wajib dilakukan secara bersama-sama. Jika salah satu orang sudah melaksanakan tugas tersebut, maka kewajiban tersebut sudah terpenuhi bagi seluruh umat.