SEMANGKUK 

Hari ini hari pertama Ramadan, anak-anak sudah mulai lesuh menanti beduk tak kunjung datang. Tanganku yang sedang memotong pisang kepok matang yang kupilih dengan saksama dari pasar tadi pagi. Kulitnya kekuningan dengan bintik hitam, pertanda manis sempurna. Setiap irisan yang jatuh ke dalam panci seolah membawa kenikmatan yang tiada tara.

Kolak pisang. Bukan makanan mewah, tapi di keluargaku, itu adalah lambang kebersamaan. Rasanya yang manis dan gurih itu membuat siapa saja yang makan akan merasa kekurangan. Kolak pisang jadi pembuka rasa dan juga pembuka hati.

Aku terus mengaduk perlahan. Suara kompor menderu lembut, uap panas naik bersama aroma manis gula merah dan daun pandan yang kusuruh anak-anak itu memetiknya pagi tadi. Di rak kayu sebelah panci, kudapati mangkuk bening kaca yang sudah siap diisi dengan kolak pisang yang lezat.

“Kakak masak kolak pisang ya?” Suara anak kecil yang tiba-tiba mengagetkan ku

Aku menoleh. Ilmi, adikku paling kecil yang sudah berdiri disebelahku dengan menjulurkan lidah, tidak sabar untuk mencicipi kolak yang manis itu.

“Iya, sabar ya sebentar lagi kita berbuka kok” ujarku

Ya, kolak pisang termasuk makanan kesukaan adikku, setiap kali aku membuatnya pasti selalu dia yang dahulu mencicipi nya, tapi karna sedang puasa dia tidak bisa mencicipi nya. Aku mulai berlari kecil kearah ruang tamu, kudapati mesin waktu yang tiap menitnya berputar cepat. 

Sebelum waktu berbuka, perlahan aku isi setiap mangkuk untuk diberikan kepada nenek dan tetangga rumahku. Setiap kali membuat makanan tak lupa untuk membagi kepada tetangga, meskipun tidak banyak tetapi mereka juga bisa merasakannya. 

“Kak, aku mau dong kolak pisangnya”

“Kak aku juga ya”

“Kak punyaku jangan lupa ya”

Semua sibuk dengan permintaannya masing-masing, bagaikan suara nyamuk yang hendak menyantap hidangannya. 

“Iya sabar, semua kebagian kok, tenang aja” aku menenangkan mereka

Mangkuk pertama, aku isi untuk bapakku, mangkuk kedua untuk ibuku, mangkuk ketiga dan seterusnya untuk adik-adik ku yang sudah tak sabar ingin menyantapnya. 

Tepat suara azan berkumandang, kami pun menyuap sendok pertama rasa manis santan dan pisang memenuhi mulutku, tapi yang hangat bukan hanya perut. Hatiku merasa bahagia semua orang suka dengan kolak pisang buatanku, jujur saja aku takut mereka tidak menyukainya karna ini pengalaman pertamaku membuat kolak pisang. 



KOKLAHari ini hari pertama Ramadan, anak-anak sudah mulai lesuh menanti beduk tak kunjung datang. Tanganku yang sedang memotong pisang kepok matang yang kupilih dengan saksama dari pasar tadi pagi. Kulitnya kekuningan dengan bintik hitam, pertanda manis sempurna. Setiap irisan yang jatuh ke dalam panci seolah membawa kenikmatan yang tiada tara.

Kolak pisang. Bukan makanan mewah, tapi di keluargaku, itu adalah lambang kebersamaan. Rasanya yang manis dan gurih itu membuat siapa saja yang makan akan merasa kekurangan. Kolak pisang jadi pembuka rasa dan juga pembuka hati.

Aku terus mengaduk perlahan. Suara kompor menderu lembut, uap panas naik bersama aroma manis gula merah dan daun pandan yang kusuruh anak-anak itu memetiknya pagi tadi. Di rak kayu sebelah panci, kudapati mangkuk bening kaca yang sudah siap diisi dengan kolak pisang yang lezat.

“Kakak masak kolak pisang ya?” Suara anak kecil yang tiba-tiba mengagetkan ku

Aku menoleh. Ilmi, adikku paling kecil yang sudah berdiri disebelahku dengan menjulurkan lidah, tidak sabar untuk mencicipi kolak yang manis itu.

“Iya, sabar ya sebentar lagi kita berbuka kok” ujarku

Ya, kolak pisang termasuk makanan kesukaan adikku, setiap kali aku membuatnya pasti selalu dia yang dahulu mencicipi nya, tapi karna sedang puasa dia tidak bisa mencicipi nya. Aku mulai berlari kecil kearah ruang tamu, kudapati mesin waktu yang tiap menitnya berputar cepat. 

Sebelum waktu berbuka, perlahan aku isi setiap mangkuk untuk diberikan kepada nenek dan tetangga rumahku. Setiap kali membuat makanan tak lupa untukuntukngat untukuntukng membagi kepada tetangga, meskipun tidak banyak tetapi mereka juga bisa merasakannya. 

“Kak, aku mau dong kolak pisangnya”

“Kak aku juga ya”

“Kak punyaku jangan lupa ya”

Semua sibuk dengan permintaannya masing-masing, bagaikan suara nyamuk yang hendak menyantap hidangannya. 

“Iya sabar, semua kebagian kok, tenang aja” aku menenangkan merekaangkuk pertama, aku isi untuk bapakku, mangkuk kedua untuk ibuku, mangkuk ketiga dan seterusnya untuk adik-adik ku yang sudah tak sabar ingin menyantapnya. epat suara azan berkumandang, kami pun menyuap sendok pertama rasa manis santan dan pisang memenuhi mulutku, tapi yang hangat bukan hanya perut. Hatiku merasa bahagia semua orang suka dengan kolak pisang buatanku, jujur saja aku takut mereka tidak menyukainya karna ini pengalaman pertamaku membuat kolak pisang.

Kolak pisang. Bukan makanan mewah, tapi di keluargaku, itu adalah lambang kebersamaan. Rasanya yang manis dan gurih itu membuat siapa saja yang makan akan merasa kekurangan. Kolak pisang jadi pembuka rasa dan juga pembuka hati.

Aku terus mengaduk perlahan. Suara kompor menderu lembut, uap panas naik bersama aroma manis gula merah dan daun pandan yang kusuruh anak-anak itu memetiknya pagi tadi. Di rak kayu sebelah panci, kudapati mangkuk bening kaca yang sudah siap diisi dengan kolak pisang yang lezat.

“Kakak masak kolak pisang ya?” Suara anak kecil yang tiba-tiba mengagetkan ku

Aku menoleh. Ilmi, adikku paling kecil yang sudah berdiri disebelahku dengan menjulurkan lidah, tidak sabar untuk mencicipi kolak yang manis itu.

“Iya, sabar ya sebentar lagi kita berbuka kok” ujarku

Ya, kolak pisang termasuk makanan kesukaan adikku, setiap kali aku membuatnya pasti selalu dia yang dahulu mencicipi nya, tapi karna sedang puasa dia tidak bisa mencicipi nya. Aku mulai berlari kecil kearah ruang tamu, kudapati mesin waktu yang tiap menitnya berputar cepat. 

Sebelum waktu berbuka, perlahan aku isi setiap mangkuk untuk diberikan kepada nenek dan tetangga rumahku. Setiap kali membuat makanan tak lupa untuk membagi kepada tetangga, meskipun tidak banyak tetapi mereka juga bisa merasakannya. 

“Kak, aku mau dong kolak pisangnya”

“Kak aku juga ya”

“Kak punyaku jangan lupa ya”

Semua sibuk dengan permintaannya masing-masing, bagaikan suara nyamuk yang hendak menyantap hidangannya. 

“Iya sabar, semua kebagian kok, tenang aja” aku menenangkan mereka

Mangkuk pertama, aku isi untuk bapakku, mangkuk kedua untuk ibuku, mangkuk ketiga dan seterusnya untuk adik-adik ku yang sudah tak sabar ingin menyantapnya. 

Kolak pisang. Bukan makanan mewah, tapi di keluargaku, itu adalah lambang kebersamaan. Rasanya yang manis dan gurih itu membuat siapa saja yang makan akan merasa kekurangan. Kolak pisang jadi pembuka rasa dan juga pembuka hati.

Aku terus mengaduk perlahan. Suara kompor menderu lembut, uap panas naik bersama aroma manis gula merah dan daun pandan yang kusuruh anak-anak itu memetiknya pagi tadi. Di rak kayu sebelah panci, kudapati mangkuk bening kaca yang sudah siap diisi dengan kolak pisang yang lezat.

“Kakak masak kolak pisang ya?” Suara anak kecil yang tiba-tiba mengagetkan ku

Aku menoleh. Ilmi, adikku paling kecil yang sudah berdiri disebelahku dengan menjulurkan lidah, tidak sabar untuk mencicipi kolak yang manis itu.

“Iya, sabar ya sebentar lagi kita berbuka kok” ujarku

Ya, kolak pisang termasuk makanan kesukaan adikku, setiap kali aku membuatnya pasti selalu dia yang dahulu mencicipi nya, tapi karna sedang puasa dia tidak bisa mencicipi nya. Aku mulai berlari kecil kearah ruang tamu, kudapati mesin waktu yang tiap menitnya berputar cepat. 

Sebelum waktu berbuka, perlahan aku isi setiap mangkuk untuk diberikan kepada nenek dan tetangga rumahku. Setiap kali membuat makanan tak lupa untuk membagi kepada tetangga, meskipun tidak banyak tetapi mereka juga bisa merasakannya. 

“Kak, aku mau dong kolak pisangnya”

“Kak aku juga ya”

“Kak punyaku jangan lupa ya”

Semua sibuk dengan permintaannya masing-masing, bagaikan suara nyamuk yang hendak menyantap hidangannya. 

“Iya sabar, semua kebagian kok, tenang aja” aku menenangkan mereka

Mangkuk pertama, aku isi untuk bapakku, mangkuk kedua untuk ibuku, mangkuk ketiga dan seterusnya untuk adik-adik ku yang sudah tak sabar ingin menyantapnya. 

Tepat suara azan berkumandang, kami pun menyuap sendok pertama rasa manis santan dan pisang memenuhi mulutku, tapi yang hangat bukan hanya perut. Hatiku merasa bahagia semua orang suka dengan kolak pisang buatanku, jujur saja aku takut mereka tidak menyukainya karna ini pengalaman pertamaku membuat kolak pisang. 

Kolak pisang. Bukan makanan mewah, tapi di keluargaku, itu adalah lambang kebersamaan. Rasanya yang manis dan gurih itu membuat siapa saja yang makan akan merasa kekurangan. Kolak pisang jadi pembuka rasa dan juga pembuka hati.

Aku terus mengaduk perlahan. Suara kompor menderu lembut, uap panas naik bersama aroma manis gula merah dan daun pandan yang kusuruh anak-anak itu memetiknya pagi tadi. Di rak kayu sebelah panci, kudapati mangkuk bening kaca yang sudah siap diisi dengan kolak pisang yang lezat.

“Kakak masak kolak pisang ya?” Suara anak kecil yang tiba-tiba mengagetkan ku

Aku menoleh. Ilmi, adikku paling kecil yang sudah berdiri disebelahku dengan menjulurkan lidah, tidak sabar untuk mencicipi kolak yang manis itu.

“Iya, sabar ya sebentar lagi kita berbuka kok” ujarku

Ya, kolak pisang termasuk makanan kesukaan adikku, setiap kali aku membuatnya pasti selalu dia yang dahulu mencicipi nya, tapi karna sedang puasa dia tidak bisa mencicipi nya. Aku mulai berlari kecil kearah ruang tamu, kudapati mesin waktu yang tiap menitnya berputar cepat. 

Sebelum waktu berbuka, perlahan aku isi setiap mangkuk untuk diberikan kepada nenek dan tetangga rumahku. Setiap kali membuat makanan tak lupa untuk membagi kepada tetangga, meskipun tidak banyak tetapi mereka juga bisa merasakannya. 

“Kak, aku mau dong kolak pisangnya”

“Kak aku juga ya”

“Kak punyaku jangan lupa ya”

Semua sibuk dengan permintaannya masing-masing, bagaikan suara nyamuk yang hendak menyantap hidangannya. 

“Iya sabar, semua kebagian kok, tenang aja” aku menenangkan mereka

Mangkuk pertama, aku isi untuk bapakku, mangkuk kedua untuk ibuku, mangkuk ketiga dan seterusnya untuk adik-adik ku yang sudah tak sabar ingin menyantapnya. 

Tepat suara azan berkumandang, kami pun menyuap sendok pertama rasa manis santan dan pisang memenuhi mulutku, tapi yang hangat bukan hanya perut. Hatiku merasa bahagia semua orang suka dengan kolak pisang buatanku, jujur saja aku takut mereka tidak menyukainya karna ini pengalaman pertamaku membuat kolak pisang. 



nya. epat suaaku juga bisa mgi kep