Merapi tidak lepas dari sumbu imajiner Yogyakarta dengan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai pancernya. Sumbu imajiner ini terbentang dari Parangkusumo (Laut Kidul) - Panggung Krapyak - Kraton - Tugu Pal Putih - dan Gunung Merapi. Filosofi ini terbagi menjadi 2 aspek, Yaitu Jagad Alit dan Jagad Ageng.

Jagad Alit, mengurai proses awal hingga akhir kehidupan manusia dengan segala perilaku yang lurus hingga terpahaminya hakekat hidup, digambarkan dari Panggung Krapyak - Kraton - Tugu Pal Putih.

Jagad Ageng, mengurai tentang hidup dan kehidupan masyarakat, dimana sang pemimpin masyarakat siapapun dia senantiasa harus menjadikan hati nurani rakyat sebagai istri pertama dan utamanya guna mewujudkan kesejahteraan lahir batin bagi masyarakat dengan keteguhan dan kepercayaan bahwa hanya satu pencipta yang Maha Besar. Jagad Ageng digambarkan dengan garis imajiner dari Parangkusumo - Kraton - Gunung Merapi.

Nawang Jagad menjadi simbol perwakilan sumbu imajiner di sisi utara Yogyakarta, dimana masyarakat dapat menikmati dengan tetap menjaga kelestarian alam di lereng Merapi.