Sekuel  -  Our Playground

“Perbedaan itu menyatukan, bukan?”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 




Draft 1 – Dokter & Arsitek

 

Keenan Ananta, jurusan Kedokteran, Universitas Sakura. Hal yang sangat membanggakan bagi, Bian. Mempunyai pacar (calon) dokter. Pilihan yang sangat tepat dimana tujuan hidup Keenan adalah mencari tau tentang sindromnya, Hypertymesia. Yang membuatnya seperti superhero dalam mengingat apapun, berkat itu juga Ia bisa menginjakkan kaki di fakultas ini.

 

Sekarang sudah setahun semenjak Keenan beranjak kuliah. Kehidupan mahasiswa yang sibuk belajar, presentasi hampir setiap hari, belajar kelompok dan tugas-tugas menumpuk tentunya menjadi hari-harinya. Rutinitas seperti itu melelahkan, namun selalu Ia lalu dengan senang hati karena dipenghujung hari akan selalu bertemu dengan Bian.

Cowok teknik, jurusan Arsitektur dengan flanel dan jeans kedodoran, yang selalu dipakainya ketika bertemu sehabis kelas. Beruntungnya sekampus bareng, jadi bisa makan siang bareng bahkan pulang bareng. Takdir namanya.

Setelah berpisah panjang, kini Koala pemalas dan Gadis agresif itu menjadi bersama setiap waktu.

 

Tak ada kata bosan, baik dari Keenan begitu pula, Bian. Bertemu setiap hari, meski jadi orang paling sibuk pun tetap diusahakan bertemu. Apa tidak bosan?

 

“Memiliki hubungan dengan Keenan, seperti menyelam dalam samudra luas. Dia menyimpan banyak sekali harta karun namun sangat tersembunyi. Jadi aku selalu penasaran, bagaimana ujung dari samudra itu. Belum juga aku sampai disana. Makanya tidak pernah bosan” kata Bian setelah berpacaran selama setahun.

 

“Lalu jika sudah sampai diujung, jadi bosan?” tanya Keenan.

 

“Aku tidak tahu. Tapi, aku jadi banyak tahu kamu, Nan. Gimana ya. Semakin aku tahu tentangmu, semakin banyak pintu-pintu yang terbuka. Kita bisa lebih explore lagi bukan?” sahut Bian.

 

“Apa iya”

“Jadi gaakan akan ada kata bosan gitu.” jawabnya

 

Keenan yang selalu memastikan setiap hal yang dilontarkan oleh Bian. Agaknya, trust issue-an ya anaknya.

 

“Gak!” sahut Bian dengan lugas.

“Tapi, kamu pernah bosan ga sih sama aku, Nan?” lanjut bertanya.

 

“Pernah! Aku sangat bosan dengan flanelmu!” jawab Keenan dengan raut kesal Keenan

 

“Yaelah!” memalingkan wajahnya

 

“Udah berapa kali aku mengajakmu belanja baju sih, Bian. Yang dipakai ini-ini aja!”

 

“Ya aku pakai mereka pas hari-hari spesial kita, Sayang!”

 

“Aduh keburu kekecilan bajunya kalau begitu!”

“Aku beliin kamu untuk aku bisa liat, Bian.” Sahut Keenan

 

“Tapi aku sayang, jadi memilih untuk disimpan”

 

“Ya, simpan yang lain kan bisa? Aku lho bukan kasih kamu baju doang?”

 

“Ehe, suka suka aku lah, wle!”

 

Mereka bahkan bisa meributkan hal-hal kecil seperti ini. Membuat hubungan itu tidak ada rasa bosannya. Jadi kesal tiba-tiba. Lalu marahan. Baikan kembali. Dan sayang-sayangan lagi. Jadi sangat berwarna.

 

“Eh, kamu ngomongin ini jadi keliatan aku ga ngasih apa-apa jir?”

 

“Ya sebutin lah”

 

“Apa aja ya?”

 

“Eum. Banyak!”

“Salah satunya, Dunia-mu.”

 

“Masa? Engga deh. Aku ga sekuat itu ngangkat dunia buat kamu. Globe aja mau?” Jawab Bian dengan bercanda.

 

“Mulai! Bian kamu itu jayus, jangan coba-coba nge-jokes!” Keenan menepis candaan Bian.

 

“Ih! Hargain kek”

“Tapi kamu selalu tertawa’kan tiap dengernya?!”

 

“Masa?”

“HAHAAHA” tawanya muncul yang sedari tadi ditahannya.

 

“Udah ya jangan denial” balas Bian

 

“Maaf bosku”

 

Bian lanjut menanyakan hal yang dilontarkan Keenan.

 

“Benarkah aku memberikan dunia padamu. Nan?” tanya Bian.

 

“Iya. Kamu masuk ke hidupku dengan membawa beragam hal-hal yang tak pernah aku tahu sebelumnya. Aku tak pernah seingin-tahu ini pada seseorang, kamu membuatku selalu bertanya-tanya, hal mengejutkan apalagi yang kamu ceritakan buatku besok? Sungguh menyenangkan” balas Keenan.

 

“Aku kayak pembawa gosip terhot ya”

 

“Nah, bener banget bang”

 

“Terima kasih sudah menerima bacotku, ku nantikan bacotmu itu juga, Nan.”

 

“Loh”

 

“Aku selalu takut setiap cerita banyak hal padamu. Aku tahu bagaimana sindrom itu menyiksamu. Kamu tak pernah cerita bagaimana menghadapi hal itu lagi semenjak kedatanganku. Kamu baik-baik saja, kan?”

 

Benar, bagaimana sindrom ajaib itu setelah kedatangan Bian. Tentunya masih menghantui Keenan. Namun, selama ini itu hanyalah rasa takut semata. Keenan menghindari banyak kesempatan dan hal-hal seru di dunia karena hal tersebut. Ia terlalu takut. Dunia semakin hari semakin membesar namun dia selalu berada dibagian terkecil dari dunia itu.

 

“Aku sangat jarang tersiksa olehnya lagi, Bian”

“Walaupun muncul sesekali, memori yang menyiksaku bukan memori tentang kamu. Aku sudah pernah bilang waktu itu. Memori darimu adalah satu-satunya yang bisa menghangatkan-ku. Jangan pernah takut untuk menceritakan apapun padaku, Bian.

Aku akan baik-baik saja, selagi itu adalah Kamu”

 

Bian lagi-lagi tersenyum. Reaksinya sama seperti saat di halte bus pinggir pantai saat itu.

 

“Makasi, sayang” jawab Bian.

 

“Aku terus menghindari banyak hal karena rasa takut. Kemudian itu menyisakan banyak ruang kosong di diriku. Dan disana adalah tempat-mu, jawaban dari doa-doaku selama ini. Aku tidak akan pernah menyesal dengan hidupku. Karena kamu adalah jawaban dari penantianku selama ini. Kamu mengisi setiap ruang kosong itu, Bian” Perkataan Keenan sekali lagi.

 

“Aku selalu bangga sama kamu, makasih udah selalu mengusahakan untuk hari ini dan seterusnya. Aku bangga padamu, Bu Dok!” sahut Bian.

 

Bian suka sekali memanggil Keenan dengan “Bu Dok” semenjak memasuki perkuliahan.

 

“Hihihi, ah belum. Masih lama Bu Doknya!”

 

“Halu gapapa, Nan. Tapi kamu mah pasti jadi dokter nanti, aku jamin!” jawab Bian

 

“Iya deh Bapak Arsitek!” tambah Keenan.

 

“Anjay. Coba bayangin, Nan”

“Nanti aku buatin rumah masa depan kita, disitu aku buatin klinik juga didepannya. Dan kantorku disamping klinikmu. Jadi kita gaakan kemana-mana, Nan. Seru deh kalo dibayangin”

 

“Oh jadi ini tujuanmu ambil Arsitektur? Biar ga jauh-jauh dariku?” sahut Keenan

 

“Ehe. Ketahuan deh…”

“Syukur kita bukan altlet dan reporter, Nan.”

 

“Hahaha, sial. Tiba-tiba banget ngomongin itu” Keenan tertawa lagi dengan hal random Bian.

 

“Tapi benerkan, bisa-bisa samaan lagi nasibnya”

 

“Eum berpisah gitu? Tanya Keenan.

 

“Mungkin?”

 

“Tapi, walau bukan atlet dan reporter, jika tuhan memisahkan. Ya tetap akan berpisah, Bian.”

 

“Jadi Dokter dan Arsitek ini bisa terpisah menurutmu?” tanya Bian.

 

“Bisa aja. Kamu tembokin aja antara klinik dan kantormu nanti, kepisah juga gak namanya” jawaban Keenan.

 

“Yaelah. Gua buatin pintu lebar-lebar kalo begitu, Nan!” sahut Bian.

 

Dan setiba-tiba itu membahas tentang perpisahan.

 

“Tapi kamu pernah berpikir, jika suatu saat kita mungkin berpisah?” Kata tak terduga itu keluar dari bibir Keenan.

 

“Buat apa aku berpisah dari kamu? Gila kali” jawab Bian.

 

“Siapa tahu, Bian”

 

Mereka berdua diam setelah membahas itu. Bian menjadi berpikir. Keenan juga. Mungkin kah dunia bisa memisahkan mereka, lagi?

 

 

Bersambung….