JAMBU METE
(Anacardium occidental)
(Anacardium occidental)
Tanaman Jambu Mete
Sumber : dokumen pribadi Oleh Delia Agustina
Kingdom: Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Sapindales
Famili : Ancardium
Genus : Ancardium
Spesies : Anacardium occidentale
Lokal : Jambu Mete
Lokasi Tumbuhan :
Halaman Selatan Gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Ponorogo
Tanaman Jambu Mete
Sumber : dokumen pribadi.
Jambu mete merupakan salah satu jenis tanaman tropis yang berasal dari Brazil dan tersebar di berbagai wilayah salah satunya adalah Indonesia. Pohon ini termasuk genus Anacardium dalam famili Anacardiaceae yang terdiri dari 60 genus dan 400 spesies, dalam bentuk pohon maupun perdu (Kadir, dkk: 2020). Pohon jambu mete dapat ditemukan pada ketinggian antara 1-1.200 mdpl. Pohon jambu mete dapat tumbuh dengan baik di daerah beriklim kering dengan curah hujan > 500 mm per tahun. Pohon ini memiliki ketinggian mencapai 8-12 m (Nurjanah dan Abdinegari: 2013). Pohon jambu mete memiliki cabang dan ranting yang banyak berwarna cokelat tua. Batang berkayu dan juga bergetah. Percabangan dimulai dari bagian pangkalnya (Amelia: 2021). Daun pohon jambu mete bertangkai pendek dan berbentuk lonjong (bulat telur) dengan tepi daun berlekuk-lekuk, dan guratan rangka daunnya terlihat jelas. Pohon jambu mete mulai berbunga pada umur 3-5 tahun. Bunga jambu mete berukuran kecil, beraroma harum dan berjumlah banyak (Susanto: 2016). Beberapa bagian pohon jambu mete dapat digunakan sebagai sumber bahan obat tradisional seperti daun, dan buah semu. Daun jambu mete mengandung sejumlah senyawa seperti flavonoid, fenolat dan tanin.
Akar Tanaman Jambu Mete
Sumber: https://youtu.be/OR9ozyCUgUA?si=-Vwt5ZvG UF-0MS5y
Akar merupakan organ multiseluler yang menambatkan tumbuhan vascular ke dalam tanah, mengabsorbsi air dan mineral, dan juga menyimpan karbohidrat. Secara morfologi, struktur akar terdiri dari leher akar, batang akar, dan ujung akar. Leher akar dikenal dengan nama ilmiah yaitu collum yang merupakan pangkal tumbuhnya akar, yang dekat dengan permukaan tanah dan tersambung langsunuug dengan pangkal batang. Batang akar (corbus radicis) yaitu bagian akar yang terdapat anatara leher akar dan ujung akar. Ujung akar (apec radices) yaitu bagian akar yang paling muda, tersusun dari jaringan yang masih dapat melakukan pertumbuhan. Bagian akar yang letaknya paling ujung terdapat tudung akar (calyptra), terdiri dari jaringan yang berguna untuk melindungi ujung akar yang masih muda. Tudung akar berfungsi sebagai pelindung ujung akar dalam menembus tanah (Wahyuni, dkk: 2022). Pohon jambu mete merupakan akar tunggang (radiax primaria) yang tumbuh tegak lurus dan akar yang tumbuh mendatar berwarna coklat (Amelia: 2021). Terdapat banyak akar lateral dengan berbagai ukuran bercabang dari akar tunggang. Akar pohon jambu mete merupakan akar tunggang yang bercabang berbentuk kerucut panjang, tumbuh ke bawah, bercabang banyak dan cabangnya bercabang lagi, sehingga memperluas daerah perakaran yang dapat menyerap air dan unsur hara.
Struktur anatomi akar terdiri dari epidermis, korteks, endodermis, dan silinder pusat (stele). Epidermis akar (kulit luar) terdiri dari selapis sel yang tersusun rapat, dinding sel tipis dan mudah dilalui oleh air. Sel-sel epidermis akan bermodifikasi membentuk rambut-rambut akar. Korteks akar (kulit pertama) terdapat ruang-ruang antarsel. Korteks memiliki fungsi sebagai tempat menyimpan cadangan makanan. Endodermis akar terdiri dari selapis sel yang tebal. Endodermis berperan sebagai pengatur jalannya larutan yang diserap dari tanah masuk ke silinder pusat. Stele akar (silinder pusat) tersusun atas perisikel (perikambium), xylem (pembuluh kayu), dan floem (pembuluh tapis) (Abdullah, dkk: 2007). Akar pohon jambu mete tumbuh dengan cepat dan mampu menembus tanah berbatu. Akar yang berumur sekitar 3,5 tahun dan tumbuh tegak lurus dapat mencapai kedalaman 2,3 m dengan diameter 8,8 cm pada kedalaman 46 cm. Akar yang tumbuh mendatar dapat menjulur sampai 5,6 m dengan diameter 7,5 cm pada jarak 80 cm. Akar memanjang dalam radius dua kali lebih lebar dari kanopi, menyebar dan berkembang secara vertikal pada kedalaman yang signifikan (Yani, dkk: 2023)
Batang Tanaman Jambu Mete
Sumber: dokumen pribadi.
Batang merupakan salah satu organ yang sangat penting pada tumbuhan, tempat melekat dan tumbuhnya organ lain. Pohon jambu mete termasuk tumbuhan dikotil, batang berkayu (lignosus) keras dan kuat yang memiliki cabang dan ranting yang banyak berwarna cokelat tua. Batang berkayu, bergetah dan percabangan dimulai dari bagian pangkalnya. (Amelia: 2021). Pada batang pohon jambu terdapat kambium pembuluh (Taylor, dkk: 2009).
Secara anatomi batang pohon jambu mete terdiri dari epidermis, korteks, dan stele. Epidermis batang (kulit luar) terdiri dari satu sel yang tersusun rapat dan tidak terdapat rongga antarsel. Dinding sel sepidermis menebal dan dilapisi kutikula. Lapisan epidermis berfungsi sebagai lapisan pelindung. Korteks batang (kulit pertama) tersusun dari beberapa lapis sel yang memiliki dinding tipis dan memiliki vakuola besar. Lapisan korteks paling dalam terdiri dari sel-sel yang memiliki bentuk dan susunan khas yaitu floeterma. Stele batang (silinder pusat) merupakan bagian terdalam dari batang. Pada bagian silinder pusat batang terdapat berkas-berkas pembuluh angkut yaitu xilem di bagian dalam dan floem di bagian luar (Abdullah, dkk: 2006).
Daun Tanaman Jambu Mete
Sumber: dokumen pribadi
Daun merupakan modifikasi dari batang, merupakan bagian tubuh tumbuhan yang paling banyak mengandung klorofil sehingga kegiatan fotosintesis paling banyak berlangsung di daun. Fungsi daun, antara lain sebagai tempat berlangsungnya fotosintesis, menyerap CO2 dari udara, sebagai tempat pengeluaran air melalui transpirasi dan gutasi, serta untuk respirasi. Daun tanaman jambu mete merupakan daun tunggal dan upihnya keras seperti kulit. Daun jambu mete tumbuh pada cabang dan ranting secara berselang seling. Pada daun pohon jambu mete merupakan tempat berlangsungnya proses asimilasi. Proses asimilasi dalam daun ini menghasilkan zat-zat yang diperlukan tanaman untuk pertumbuhan vegetatif (batang, cabang, dan daun) dan pertumbuhan generative (bunga, buah, dan biji). Daun jambu mete berbentuk bulat panjang hingga oval dan membulat atau meruncing pada bagian ujungnya. Tepi daun berlekuk-lekuk dan guratan tulang daunnya terlihat jelas (Hidayat dan Napitupulu: 2015).
Pohon jambu mete memiliki pangkal daun yang tumpul. Daging daun merupakan bagian helai daun yang terdapat di antara sistem pertulangan daun. Bagian ini disusun oleh jaringan epidermis dan mesofil. Mesofil yang terdiri dari jaringan parenkima, selain berfungsi sebagai tempat fotosintesis juga dapat berfungsi sebagai tempat menyimpan air maupun tempat menyimpan cadangan makanan. Pada mesofil dapat dijumpai tulang daun, maupun jaringan penguat. Pada daging daun jambu mete terdapat banyak tulang daun dan serat sklerenkima sehingga menyebabkan daun menjadi kaku. Daun jambu mete berukuran panjang 10-20 cm, lebar 5-10 cm, dan panjang tangkai daun 0,5 - 1 cm. Tulang-tulang daun jambu mete menyirip. Daun jambu mete yang telah tua berwarna hijau gelap, sedangkan daun yang muda berwarna cokelat kemerah-merahan hingga hijau pucat (Kristiana: 2004).
Secara anatomi daun tersusun atas epidermis yang berkutikula dan terdapat stomata atau trikoma yang letaknya lebih banyak dan tersebar pada permukaan bawah daun. Pada pohon jambu mete sistem jaringan dasar (mesofil) dapat dibedakan atas jaringan pagar (palisade) yang terdiri dari sel-sel yang berbentuk silindris, tegak, tersusun rapat dang mengandung kloroplas. Bunga karang (jaringan spons) terdiri dari sel-sel yang bentuknya tidak teratur, terdapat ruang antarsel (sel tidak rapat) dan sedikit mengandung kloroplas. Sistem berkas pembuluh terdapat di dalam tulang-tulang daun yang terdiri atas xylem dan floem (Abdullah, dkk: 2007).
Bunga Tanaman Jambu Mete
Sumber: dokumen pribadi.
Bunga merupakan organ reproduksi seksual atau generatif pada tumbuhan berbiji yang berasal dari modifikasi tunas (batang dan daun). Bunga dari jambu mete berumah satu yang memiliki 2 kelamin yaitu jantan dan betina atau disebut juga bunga sempurna. Bunga jambu mete termasuk bunga majemuk yang berbentuk panicula (ibu tangkai mengadakan percabangan monopodial) dan bermunculan di ujung ranting. Dalam satu panicula terdiri dari bungan jantan dan bunga hermaprodit (berkelamin dua). Bunga hermaprodit lebih besar ukurannya dari bunga jantan. Baik bunga jantan maupun hermaprodit memiliki benang sari sebanyak 8-11 buah. Namun, benang sari yang subur hanya 1-2 buah dan selebihnya steril. Kedua jenis bunga juga memiliki bakal buah, tangkai putik, dan kepala putik. Akan tetapi putik bunga jantan mengalami rudimenter (Susanto: 2016). Mahkota pada bunga jambu mete berjumlah lima helai. Mahkota bunga jambu mete berwarna putih strip merah (pink) dan merah keseluruhannya. Pohon jambu mete mulai berbunga umumnya pada umur 3 - 5 tahun. Bunga jambu mete ukurannya kecil, memiliki aroma harum, dan jumlahnya sangat banyak. Dalam penyerbukan, angin kurang berperan dalam proses penyerbukan putik pohon jambu mete, yang lebih berperan dalam penyerbukan ini yaitu serangga karena serbuk sari jambu mete pekat dan berbau sangat harum (Suhadi: 2007).
Secara anatomi bagian bunga terdiri dari ibu tangkai bunga atau tangkai induk (pedunculus) merupakan cabang kelanjutan dari sebuah ranting pohon untuk menuju bunga. Tangkai bunga (pedicellus) berfungsi sebagai penopang dan penghubung antara tangkai dan juga ranting. Dasar Bunga (receptacle) berfungsi sebagai tempat melekatnya mahkota bunga. Daun tangkai bunga (brachteola) adalah bagian bunga berupa daun yang yang berfungsi sebagai daun pelindung. Mahkota bunga (corolla) bagian paling luar dari sebuah struktur keseluruhan bunga, yang biasanya memiliki warna yang cerah dan juga menarik. Kelopak bunga (sepal) adalah bagian bunga yang berupa kuncup saat bunga belum mekar. kelopak bunga berfungsi membantu menjaga bunga yang belum mekar. Benang Sari (stamen) adalah bagian yang sering disebut sebagai alat kelamin jantan sebuah bunga yang berfungsi untuk membantu proses reproduksi dan juga perkembangbiakan di sebuah bunga, yang nantinya dapat menumbuhkan tanaman baru. Stamen (Benang sari) terdiri dari 3 bagian utama yaitu tangkai sari (filamen), serbuk sari (polen), kepala sari (anthera).
Buah Tanaman Jambu Mete.
Sumber: dokumen pribadi.
Buah merupakan perkembangan lebih lanjut dari bakal buah. Buah biasanya membungkus dan melindungi biji. Buah jambu mete terdiri dari dua bagian, yaitu buah semu yang mirip jambu air dan buah sejati yang berbentuk ginjal yang kulitnya sangat keras dan bijinya berkeping dua mengandung getah. Bagian buah semu sebenarnya adalah tangkai buah yang membesar seolah-olah daging buah normal oleh karena itu, bagian ini disebut buah semu. Daging buah tebal, banyak mengandung air, berserabut, berkulit tipis, dan memiliki rasa yang sepat (Susanto:2016). Pohon jambu mete termasuk tumbuhan biji tertutup (Angiospermae) (Ibrahim:2018). Buah jambu mete termasuk kelompok buah batu, berbentuk seperti ginjal, tertanam pada bagian ujung buah semu, dan berwarna hijau hingga cokelat keabu-abuan.
Buah jambu mete terdiri atas tiga lapisan, yaitu lapisan pericarp atau luar (A), lapisan kernel (B) dan lapisan teste atau kulit ari (C).
Tanaman jambu mete dikenal sebagai tanaman multiguna karena hampir seluruh bagian tanamannya memiliki manfaat. Kulit batang dimanfaatkan sebagai obat diare dan obat kumur untuk penderita sariawan dan obat anti ngengat. Air dari rebusan akar jambu mete dimanfaatkan sebagai obat pencahar. Buah semu jambu mete baik dikonsumsi karena memiliki kandungan vitamin C yang tiga kali lebih tinggi dari kandungan vitamin C jeruk. Daun jambu mete (tua) digunakan untuk mengobati penyakit eksim serta sebagai obat luka bakar. Daun jambu mete juga memiliki beberapa khasiat diantaranya sebagai obat luka bakar, diare, penyakit kulit, hipertensi dan diabetes melitus. Daun jambu mete yang muda sering digunakan sebagai lalapan atau sayur. Pada beberapa penelitian daun jambu mete juga terbukti dapat menghambat pertumbuhan mikroba (Amelia:2021).
Pohon jambu mete berasal dari negara Brazil bagian timur laut di wilayah antara hutan hujan Atlantik dan Amazon. Kawasan ini merupakan habitat hutan kering atau hutan savana. Pohon jambu mete diperkenalkan ke Asia dan Afrika oleh penjelajah Eropa pada abad ke-16 (Oliveira, dkk: 2020). Pohon jambu mete dapat ditemukan pada ketinggian antara 1-1.200 mdpl. Pohon ini dapat tumbuh dengan baik di daerah beriklim kering dengan curah hujan > 500 mm per tahun.
Amelia, Resky. (2021). Perbandingan Tingkat Polimorfisme Marka Rapd dan Issr Untuk Seleksi Marka Pada Jambu Mete (Anacardium occidentale). Skripsi. Universitas Hasanuddin Makassar.
Gambar Bagian-bagian daun Jambu mete. https://novibiologi.blogspot.com/2 011/08/daun.html . Diakses pada 16 Oktober 2023, pukul 13.10 WIB
Gambar bunga majemuk. https://www.scribd.com/document/381049980/Bunga-Majemuk . Diakses pada 16 Oktober 2023, pukul 13.16 WIB
Gambar lapisan kacang mete. https://ejournal.uajy.ac.id/7895/3/BL201205.pdf. Diakses pada 16 Oktober 2023, pukul 13.30 WIB
Gambar akar Jambu Mete. https://youtu.be/OR9ozyCUgUA?si=-Vwt5ZvGUF-0MS5y. Diakses pada 16 Oktober 2023, pukul 13.45 WIB
Gambar struktur akar Jambu mete. https://biologi indonesia.blogspot.com/2015/09/akar-tumbuhan-struktur-marfologi.html. Diakses pada 16 Oktober 2023, pukul 13.56 WIB
Gambar struktur batang dikotil. http://kanntongilmudunia.blogspot.com/2018/12/struktur morfologi-dan-anatomi-batang.html . Diakses pada 16 Oktober 2023, pukul 14.00 WIB
Hidayat, Syamsul dan Napitupulu, Rodame Monitorir. (2015). Kitab Tumbuhan Obat. Jakarta Timur: AgriFlo.
Ibrahim, Muslimin. (2018). Perubahan Konsepsi IPA. Sidoarjo: Zifatama Jawara.
Kadir, dkk. (2020). Analisis Pengaruh Alat Modifikasi Kacip Kulit Buah Jambu Mete Geledong (Anacardium Occidentale L.) Terhadap Mutu Jambu Mete. Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Pertanian, 1 (1), 38.
Kristiana, Deasy. (2004). Analisis Flavonoid Dalam Ekstrak Bunga, Daun, dan Buah Semu Jambu Mete (Anacardium Occidental L.) Secara Spektrofotometri Uv-Vis. Skripsi. Universitas Islam Indonesia Jogjakarta.
Nurjanah, Nunung dan Abdinegari, Nur Ihsan Sari. (2013). Ancaman Dibalik Segarnya Buah & Sayur. Jakarta: Puspa Swara.
Oliveira, Nathalia Nogueira. (2020). Kacang Mete dan Apel Mete: Tinjauan Pemantauan Ilmiah dan Teknologi Di Seluruh Dunia. Jurnal Tekonologi Sains Pangan, 57 (1).
Suhadi, Octen. (2007). Budi Daya Jambu Mete. Jakarta: Azka Press.
Susanto, Eko Bagus. (2016). Eksplorasi Tanaman Jambu Mete (Annacardium occidentalle L.) Pada Beberapa Daerah Sentra Di Pulau Madura. Skripsi. Universitas Brawijaya.
Taylor, Thomas N., dkk. (2009). Paleobotany. Jerman: Academic Press.
Wahyuni, Tri Putri, dkk. (2022). Morfologi Tumbuhan. Sumatera Barat: PT. Global Eksekutif Teknologi.
Winata, VY. (2015). Kualitas Biskuit Dengan Kombinasi Tepung Kacang Mete (Annacardium occidentale L.) dan Tepung Kulit Singkong (Manihot esculenta). Skripsi. Fakultas Teknobiologi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Yogyakarta
Yani, Irma Eva, dkk. (2023). Bahan Makanan Bersumber Dari Kacang- kacangan. Sumatera Barat: Global Eksekutif Teknologi.
Jurusan Tadris Ilmu Pengetahuan Alam
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Institut Agama Islam Negeri Ponorogo
Jalan Pramuka No. 156, Ronowijayan, Siman, Tonatan, Kec. Ponorogo, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur 63474, Indonesia. (0352) 481277
Email : ipa@iainponorogo.ac.id