Museum Orang Biasa mengupayakan ruang bersama untuk merayakan sejarah orang biasa dan hak hidup warga. Sebagai ruang bersama, museum ini ingin mengingat orang biasa dan subjek-subjek yang dilupakan sejarah.
Praktik kami berkisar soal pengarsipan pengalaman orang biasa, suara warga, hingga isu-isu seputar kampung-kota. Museum ini bukan museum dalam makna kaku dan terbatas soal museum, museum ini juga tak ingin memuseumkan subjek.
Museum ini ingin jadi ruang bersama untuk warga dan orang biasa untuk mengarsipkan ingatannya, lalu mengadvokasi diri dan kelompok secara otonom. Museum ini semacam menjawab tantangan temporalitas tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan. Sebab, museum ini memiliki setidaknya tiga agenda utama, yaitu mengartikulasikan kembali (rewriting/reclaiming) sejarah orang biasa, mengarsipkan pengalaman sehari-hari warga, hingga mengupayakan ruang hidup bagi yang dipinggirkan.
Agenda mengartikulasikan sejarah orang biasa menjadi agenda pertama yang penting, sebab perspektif kelas dan subjek prekariat dalam historiografi Indonesia sangat diabaikan. Apalagi artikulasi epistemik yang menulis sejarah tentang dan dari posisi yang terpinggirkan. Selama ini historiografi dibangun oleh sejarah orang besar dan tokoh politik yang masyhur, sementara kami ingin menulis sejarah bersama, dari, dan untuk orang biasa.
Warga, orang-orang biasa, tidak perlu diwakili dan direpresentasi oleh siapapun, bersuara untuk dirinya. Subjek orang biasa selalu punya cara untuk mendefinisikan sejarah hidupnya. Kerja produksi pengetahuan kemudian hanya medium untuk resiliensi dan memperjuangkan pemberdayaan bersama — sebagai satu upaya guna membaca sekaligus merakit hari-esok-bersama yang berpijak dalam solidaritas.
Sebab, yang kita perlukan adalah visi temporal yang melampaui ruang-waktu masa lalu dan masa kini. Mengarsipkan adalah tindakan menulis ulang, merebut sejarah dan merakit masa depan bersama dalam solidaritas.
Museum ini berbasis di pasar, semua dilakukan dalam satu kios lapak di pasar. dengan dua bagian di dalamnya, yaitu ruang pengarsipan dan ruang pameran. Dengan semua itu, Museum Orang Biasa berupaya menjadi ruang untuk metode aktivisme harian dengan praktik sejarah publik dan inisiatif seni. Terutama dalam situasi non-hierarkis yang disemai bersama warga, orang-orang biasa, dan setiap orang yang merasa memilikinya.
Produksi pengetahuan kemudian jadi alat-senjata untuk memperkuat resiliensi dalam kerentanan dan keterpinggiran. Semua bentuk dokumentasi, semua obrolan, semua upaya pengarsipan yang dilakukan adalah bagian dari usaha untuk memetakan produksi pengetahuan paling tepat untuk warga sekitar.
Sebab tiap-tiap area, ruang, dan konteks memiliki masalah yang spesifik. Bentuk “museum” kemudian menjadi sangat multidimensional selain juga berbasis pada aktivisme sehari-hari, alih-alih sekedar program jangka pendek yang selesai dalam kurun waktu bulanan dan tahunan.
Sebab, yang kita perlukan adalah visi temporal yang melampaui ruang-waktu masa lalu dan masa kini. Mengarsipkan adalah tindakan menulis ulang, merebut sejarah dan merakit masa depan bersama dalam solidaritas.
Museum ini berbasis di pasar, semua dilakukan dalam satu kios lapak di pasar. dengan dua bagian di dalamnya, yaitu ruang pengarsipan dan ruang pameran. Dengan semua itu, Museum Orang Biasa berupaya menjadi ruang untuk metode aktivisme harian dengan praktik sejarah publik dan inisiatif seni. Terutama dalam situasi non-hierarkis yang disemai bersama warga, orang-orang biasa, dan setiap orang yang merasa memilikinya.