Link AUDIO BOOK untuk mendengar Audio Penduluan Munson dan Lyman (untuk generasi cucuc cicit Op Ronitua
"Mudar ni halak Martyr, i do boan ni Huria ni Tuhan Jesus."
"Darah para martir, itulah yang membawa bertumbuhnya Gereja Tuhan Yesus."
Klik link ini unttuk mendownload lagu Roma 8:37. More than Conquerors, buku Munson dan Lyman. Oleh Cucu generasi ke 3 Goerge Munson yg meinginkan GEMBIRA krn MENANG DALAM KRISTUS. walaupun Munson dan Lyman sudah di bunuh di Lobu Pining Batak 1834.
klik link musik Roma 8:37
Sejarah Kekristenan di Tanah Batak tidak dimulai ketika Ludwig Ingwer Nommensen tiba di Silindung pada tahun 1862.
Jauh sebelumnya, beberapa misionaris telah berusaha memasuki pedalaman Batak. Di antara mereka, dua nama paling dikenang adalah Samuel Munson dan Henry Lyman. Keduanya mengorbankan hidup mereka pada tahun 1834 dalam sebuah tragedi yang kemudian menjadi salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah misi Kristen di Sumatra Utara.
Pengorbanan mereka bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan awal dari perubahan besar yang kemudian membuka jalan bagi keberhasilan pelayanan Nommensen.
DAFTAR ISI Singkat
Makna Spiritual: "More Than Conquerors" (Roma 8:37)
Profil Tokoh: Transformasi Radikal Munson dan Lyman
Misionaris Pendahulu: Richard Burton & Nathaniel Ward (1824)
Perjalanan Misi: Dari Boston Menuju Batavia (1833)
Eksplorasi Sumatra: Persiapan di Padang dan Sibolga
Kronologi Tragedi: Detik-Detik di Hutan Lobu Pining (28 Juni 1834)
Kemartiran, Kanibalisme, dan Kesaksian Si Jan
Ludwig Nommensen: Belajar dari Air Mata Pendahulu
Rekonsiliasi Agung 100 Tahun (1934)
Beasiswa Yale University yang Ditolak
Warisan Pelayanan Generasi George Munson
Judul narasi sejarah ini diangkat dari kitab suci Roma 8:37, yang dalam versi bahasa Inggris diterjemahkan menjadi ungkapan "More Than Conquerors". Konteks teologis di balik ayat ini sangatlah mendalam bagi perjalanan misi ini: pada ayat sebelumnya (Roma 8:36), Rasul Paulus memberikan gambaran tentang kondisi umat Tuhan yang "telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan" dan senantiasa berada dalam bayang-bayang bahaya maut sepanjang hari. Bagi George Munson, yang merupakan penulis buku biografi keluarga Munson, sosok Samuel Munson dan rekannya Henry Lyman secara harfiah telah memenuhi nubuatan tersebut ketika mereka menghembuskan napas terakhir di pedalaman hutan Sumatra.
Meskipun demikian, Paulus menegaskan bahwa di dalam segala penderitaan yang dialami, mereka tetap disebut sebagai "Lebih dari Pemenang" karena iman mereka tidak pernah terpisahkan dari kasih Allah yang kekal. Kematian tragis mereka di masa lalu tidaklah dipandang sebagai sebuah kekalahan telak, melainkan sebagai sebuah awal dari "pawai kemenangan" (triumphal march) spiritual yang membuka jalan lebar bagi masuknya cahaya Injil ke tengah-tengah masyarakat di Tanah Batak. Sebagai bentuk penghormatan dan pengakuan atas kemenangan iman tersebut, kalimat ini dipahat secara permanen pada batu nisan kenangan milik Henry Lyman yang terletak di Massachusetts, Amerika Serikat.
Buku tahun 2007: Bio Samuel Munson: More than Conauerors (Roma 8:37 - Menang dalam kasih Tuhan). Tentang misionaris awal ke Batak Silindung tarutung 1834. Pendeta Samuel Munson dan Pendeta Henry Lyman di bunuh dan di kanibal oleh pasukan batak di Lobu Pining, Adian Koting, Silindung tarutung 1834. Karena salah paham mengira mereka adlah mata mata "Sibontar Mata" Belanda.
Buku pertama tentang Martyr Pendeta Samual Munson dan Pendeta Henry Lyman yang di bunuh dan di kanibal di Sakka, Lobu Pining, Adiankoting, Tapanuli Utara Sumatera tahunb 1834. Dan buku terbit tahun 1857 di Amerika dan Eropa sehinga menjadi terkenal di dunia. Yang di pelajari di kuliah STT RMG Barmen Jerman oleh Nommensen.
Samuel Munson (1804–1834) lahir di negara bagian Maine dan harus menghadapi kenyataan pahit menjadi yatim piatu pada usia 10 tahun setelah sebuah wabah penyakit merenggut nyawa kedua orang tuanya sekaligus. Ia kemudian diadopsi dan tumbuh dewasa dengan karakter kepribadian yang tenang serta memiliki dedikasi yang sangat tinggi terhadap dunia ilmu pengetahuan, hingga akhirnya lulus dari Bowdoin College pada tahun 1829. Munson merasa terpanggil untuk mendedikasikan hidupnya sebagai misionaris setelah ia terinspirasi oleh sebuah ceramah mengenai misi penginjilan di kepulauan Hawaii.
Sementara itu, Henry Lyman (1809–1834) lahir di Massachusetts dengan latar belakang yang cukup kontras: pada masa mudanya, Lyman dikenal sebagai pemuda yang sangat bermasalah dan bahkan pernah menjadi pemimpin sebuah klub anti-Kristen saat ia menempuh pendidikan di Amherst College yang gemar menghina Alkitab. Ia mengalami sebuah momen konversi spiritual total setelah ia sembuh secara ajaib dari serangan penyakit tipus yang sangat mematikan pada tahun 1827, sebuah peristiwa yang ia yakini sebagai teguran langsung dari Tuhan agar ia mau mengabdikan seluruh sisa hidupnya untuk melayani bangsa-bangsa di wilayah terpencil.
Keduanya kemudian menempuh pendidikan misionaris yang ketat di Andover Theological Seminary, yang merupakan sekolah misionaris tertua di Amerika Serikat. Di lembaga tersebut, mereka tidak hanya diajarkan mengenai ilmu teologi, tetapi juga berbagai keterampilan praktis yang krusial seperti pengobatan medis, farmasi sederhana, dan keterampilan pertukangan untuk bertahan hidup. Mereka akhirnya diutus secara resmi oleh organisasi ABCFM (American Board of Commissioners for Foreign Missions), sebuah lembaga besar yang melatih para anggotanya untuk senantiasa siap menghadapi risiko kematian dalam tugas penginjilan di wilayah asing (Foreign Missions).
Sepuluh tahun sebelum peristiwa tragis tahun 1834 terjadi, pasangan misionaris asal Inggris, Richard Burton dan Nathaniel Ward, sebenarnya telah merintis jalan masuk menuju pedalaman Silindung. Keberadaan mereka di masa lalu memberikan berbagai pelajaran berharga bagi para utusan yang datang kemudian. Kedua misionaris Inggris ini berhasil selamat dari ancaman maut karena mereka menerapkan strategi identitas yang sangat cerdas, yakni dengan selalu mengenakan atau membawa bendera Inggris di punggung mereka guna menegaskan kepada penduduk lokal bahwa identitas mereka adalah bangsa Inggris, bukan bangsa Belanda atau "Gumpeni" yang saat itu sangat dibenci dan dicurigai oleh masyarakat setempat. (Sumber: Buku More than Conquerors, Munson, 2007)
Melalui laporan perjalanan mereka, Burton dan Ward mencatat bahwa tewasnya Raja Sisingamangaraja X pada tahun 1820 akibat serangan pasukan Padri telah memicu krisis kepercayaan yang cukup besar di tengah masyarakat terhadap kekuatan hukum adat lama mereka. Situasi ini secara tidak langsung membuat masyarakat Batak mulai bersikap lebih terbuka terhadap ide-ide baru yang dibawa dari luar. Meskipun demikian, strategi penginjilan Burton dan Ward yang menggunakan analogi "Gembala dan Domba" pada saat itu ditolak mentah-mentah oleh para raja Batak, termasuk Raja Pintu Bosi Lumban Tobing, karena para pemimpin lokal tersebut merasa keberatan jika martabat mereka disamakan dengan seekor domba.
Burton & Ward dahulu memakai bendera Inggris ke Silindung Tarutung 1820. Dan diterima dengan baik oleh Rarja Pintu Bosi Tobing. Karena bukan Si Bontar Mata (Belanda)
Pada tanggal 10 Juni 1833, Samuel Munson bersama istrinya Abigail Johnson (Abby), serta Henry Lyman bersama istrinya Eliza Pond, bertolak dari Boston menggunakan kapal layar bernama Duncan. Perjalanan laut yang menantang selama lebih dari seratus hari tersebut dibiayai melalui sumbangan dari jemaat gereja serta penjualan berbagai sertifikat misionaris. Mereka akhirnya tiba dengan selamat di pelabuhan Batavia pada tanggal 30 September 1833.
Setibanya di tanah Jawa, mereka menetap di sekitar wilayah Koningsplein atau yang kini dikenal sebagai kawasan Lapangan Monas. Selama hampir satu tahun penuh di Batavia, kedua pasangan misionaris ini mendedikasikan waktu mereka untuk mempelajari bahasa Melayu dari para guru penduduk lokal setempat guna mempermudah komunikasi di masa depan. Selama masa tinggal mereka di Batavia, mereka mendapatkan banyak bantuan dan bimbingan dari para misionaris yang tergabung dalam London Missionary Society.
Salem Port, pelabuhan Boston, Massachusetts, tahun 1834. Dari pelabuhan ini Munson Lymen dan keluarga diberangkatkan ke Batavia, Hindia Belanda (Indonesia) selama lebih kurang 100 hari berlayar.
Memasuki tanggal 7 April 1834, Samuel Munson dan Henry Lyman memutuskan untuk memulai perjalanan eksplorasi menuju Sumatra, sementara para istri mereka ditinggalkan di Batavia demi alasan keamanan. Mereka sempat singgah di Padang dan kembali bertemu dengan Nathaniel Ward, yang memberikan peringatan keras mengenai besarnya kecurigaan suku Batak terhadap orang-orang asing berkulit putih.
Pada tanggal 17 Juni 1834, rombongan ini tiba di Pulau Poncan, Sibolga. Di sana, mereka mulai merekrut berbagai personil untuk mendampingi perjalanan ke pedalaman, yang terdiri dari seorang penerjemah bernama Datuk Mangkuta, koki, para kuli angkut, serta seorang pelayan setia yang bernama Si Jan. Meskipun Letnan Schack yang memimpin pos tentara Belanda di Sibolga telah memberikan saran agar rencana tersebut dibatalkan karena situasi keamanan di wilayah pedalaman yang tidak menentu, Munson dan Lyman tetap teguh pada pendirian mereka dan akhirnya berangkat menuju pedalaman pada tanggal 23 Juni 1834.
Rombongan tersebut menempuh rute perjalanan yang sangat berat dengan melintasi hutan belantara yang lebat dan pegunungan yang terjal. Mereka sempat singgah sejenak di desa Rampa dan mendapatkan sambutan yang ramah dari Raja Suasa Hutagalung, kemudian bermalam di wilayah Adiankoting di kediaman Amani Busir Hutabarat. Pada saat itu, situasi geopolitik di Tapanuli Utara memang sedang sangat mencekam akibat ancaman pasukan Padri dari arah selatan serta tekanan ekspansi tentara Belanda dari arah barat.
Pada hari Sabtu sore, tepatnya tanggal 28 Juni 1834 sekitar pukul empat sore, rombongan Munson dan Lyman sampai di sebuah kawasan benteng kayu di Lobu Sisangka (Lobu Pining). Di sana, mereka tiba-tiba dihadang oleh ratusan pasukan bersenjata di bawah komando Raja Panggalemei Tobing. Pasukan tersebut sebelumnya telah menerima perintah tegas untuk membunuh setiap orang asing berkulit putih yang tidak mampu berkomunikasi dalam bahasa Batak karena mereka dicurigai sebagai Gumpeni atau mata-mata tentara Belanda. Dalam suasana yang penuh tekanan tersebut, terjadilah sebuah kegagalan komunikasi yang sangat fatal: Munson dan Lyman berusaha menyampaikan bahwa mereka memiliki niat yang baik atau kegembiraan (warm feeling), namun ungkapan tersebut secara keliru diterjemahkan ke dalam bahasa setempat menjadi "mohop ni roha", yang justru memiliki arti "hati yang panas" atau penuh kemarahan.
Ilustrasi Rombongan perjalanan kaki di Haranggaol Toba pada tahun 1912
Sumber: KITLV Digital Library, Leiden University, Holland.
Henry Lyman menjadi orang pertama yang ditembak mati di lokasi kejadian, yang kemudian segera disusul oleh Samuel Munson yang ditombak hingga tewas dari arah belakang. Mengikuti kepercayaan primitif yang berlaku pada masa itu, jasad kedua misionaris tersebut dikanibal dalam sebuah ritual tertentu dengan keyakinan agar kekuatan atau wibawa (Sahala) yang mereka miliki dapat berpindah kepada para penyerang tersebut.
Si Jan, yang merupakan pelayan setia yang mendampingi mereka sejak dari Batavia, berhasil menyelamatkan diri dengan cara bersembunyi di balik semak-semak hutan sepanjang malam yang mencekam. Dari tempat persembunyiannya, ia dapat mendengar suara teriakan serta letusan senjata yang menandai berlangsungnya perayaan ritual kanibalisme terhadap majikannya. Setelah situasi dirasa aman pada pagi harinya, Si Jan segera melarikan diri kembali menuju Sibolga untuk memberikan laporan resmi mengenai tragedi berdarah tersebut. Kesaksian yang diberikan oleh Si Jan inilah yang kemudian menjadi dokumen sejarah penting dan dasar penulisan memoir kemartiran Munson dan Lyman yang tersebar luas ke seluruh dunia.
Ludwig Ingwer Nommensen lahir di Jerman tepat pada tahun yang sama dengan gugurnya Samuel Munson dan Henry Lyman, yakni pada tahun 1834. Di masa mudanya saat menempuh studi teologi di Jerman, Nommensen secara saksama mempelajari buku-buku memoir mengenai peristiwa kemartiran kedua pendahulunya tersebut guna menyusun strategi misi yang jauh lebih efektif dan adaptif. Sebelum berangkat ke pedalaman, Nommensen secara khusus mendalami bahasa serta adat istiadat Batak dari ahli bahasa ternama, Dr. Herman Neubronner van der Tuuk atau yang dikenal sebagai Ompu Pandortuk.
Nommensen kemudian menerapkan strategi yang dikenal dengan istilah Volks-kirche atau "Gereja Rakyat". Strategi ini sangat menekankan pada upaya merangkul budaya lokal ke dalam pelayanan gerejawi, yang menjadi alasan mengapa organisasi gereja Batak atau HKBP menggunakan istilah "Huria" yang berarti persekutuan umat. Pada tahun 1866, Nommensen menunjukkan keberaniannya dengan mendatangi secara langsung kediaman Raja Panggalemei di Lobu Pining. Berkat kemampuannya dalam berbicara bahasa Batak secara fasih, kecurigaan bahwa ia adalah seorang mata-mata Belanda berhasil dipatahkan, dan sang raja bahkan dilaporkan gemetar saat menyaksikan ada seorang kulit putih yang begitu menguasai bahasa dan adat istiadat bangsanya.
Puncak dari narasi sejarah yang penuh haru ini terjadi pada tahun 1934, bertepatan dengan peringatan satu abad peristiwa tragis di Lobu Pining. Acara rekonsiliasi bersejarah ini difasilitasi oleh Ephorus HKBP saat itu, Pendeta Landgrebe, dan dihadiri secara langsung oleh keturunan generasi keempat dari keluarga Munson dan Lyman yang datang jauh-hujung dari Amerika Serikat.
Sebagai simbol nyata dari semangat perdamaian dan penghapusan dendam masa lalu, kata "aufgegessen" yang dalam bahasa Jerman berarti "dimakan" atau "dikanibal", dihapus secara fisik dari permukaan batu memorial pertama tahun 1900 dengan menggunakan pahat. Sebuah prasasti baru kemudian diresmikan di lokasi tersebut dengan mencantumkan kalimat pengakuan iman yang berbunyi: "Darah para Martyr ini yang membawa gereja Tuhan Jesus". Momen ini menandai babak baru hubungan antara keturunan misionaris dan masyarakat setempat.
Dalam suasana rekonsiliasi yang penuh pengampunan tersebut, keluarga misionaris dari Amerika Serikat menawarkan sebuah kompensasi dalam bentuk bantuan pendidikan bagi keturunan masyarakat setempat: mereka menawarkan beasiswa bagi dua orang keturunan Raja Panggalemei untuk menempuh studi di almamater leluhur mereka, yakni Andover Theological Seminary. Pada masa itu, sekolah teologi tersebut telah resmi bergabung menjadi fakultas teologi di Yale University, salah satu universitas paling bergengsi di dunia.
Namun, tawaran beasiswa berharga tersebut akhirnya ditolak oleh pihak keturunan raja. Penolakan ini didasari oleh perasaan takut dan kecurigaan yang masih tersisa bahwa tawaran tersebut mungkin hanyalah sebuah kedok bagi keluarga misionaris untuk menuntut balas dendam atas peristiwa pembunuhan leluhur mereka saat para penerima beasiswa tiba di Amerika Serikat. Meskipun tawaran tersebut tidak diterima, hal itu tetap dicatat sebagai salah satu bentuk pengampunan Kristen yang luar biasa dari pihak keluarga martir.
George Munson, yang merupakan penulis dari buku sejarah keluarga ini, adalah misionaris generasi ketiga yang meneruskan api semangat pelayanan leluhurnya di kawasan Asia Tenggara. Ia mendedikasikan waktu selama dua puluh lima tahun masa pelayanannya di berbagai wilayah, termasuk di Hawaii, kemudian melayani sebagai direktur misi di Korea selama masa-masa perang yang sulit, hingga menjabat sebagai Presiden Misi Sabah di Borneo.
Sebelum memasuki masa pensiunnya pada tahun 1984, George Munson juga melakukan pekerjaan pelayanan misi perkotaan di wilayah San Francisco. Hingga saat ini, lokasi monumen peringatan Munson dan Lyman di Lobu Pining tetap dijaga dan dirawat dengan penuh ketulusan oleh keturunan generasi keenam dari Raja Panggalemei Tobing, yakni Bapak Binner L. Tobing. Kisah hidup dan pengorbanan Samuel Munson serta Henry Lyman menjadi bukti nyata bahwa jejak darah yang pernah tertumpah di lantai hutan Sumatra telah diubah oleh kasih Tuhan menjadi sebuah kemenangan iman yang abadi bagi seluruh bangsa Batak di kemudian hari.
Lehman, M. (1996). A biographical study of IL Nommensen..
Lyman, H. W. (1856). The martyr of Sumatra: A memoir of Henry Lyman. R. Carter.. (Buku ini ditulis oleh Hannah Willard Lyman, adik dari Henry Lyman, yang mengumpulkan surat-surat dan melakukan wawancara dengan rekan-rekan kuliahnya).
Munson, G. (2007). More than conquerors. TEACH Services, Inc.. George Munson adalah cucu generasi ke 5 dari Samuel Munson dan serang sarjana sejarah.
Parlindungan, M. O. (1961). Tuanku Rao.
Thompson, W. M. (1839). Memoirs of the Rev. Samuel Munson and the Rev. Henry Lyman, late missionaries to the Indian Archipelago. D. Appleton & Co..
Tim Nommensen. (1988). Ludwig Nommensen and the Batak church..
Wikipedia. (n.d.). Samuel Munson..
Berikut adalah biografi komprehensif dari Samuel Munson dan Henry Lyman berdasarkan sumber-sumber sejarah yang tersedia:
Samuel Munson lahir pada 23 Maret 1804 di New Sharon, Maine, Amerika Serikat. Masa kecilnya diwarnai dengan duka yang mendalam ketika ia menjadi yatim piatu pada usia 10 tahun setelah wabah penyakit merenggut nyawa kedua orang tuanya sekaligus. Ia kemudian diadopsi oleh teman ayahnya dan tumbuh menjadi pemuda dengan perilaku yang sangat baik dan disukai oleh orang-orang di sekitarnya.
Samuel menempuh pendidikan sarjana di Bowdoin College (1825–1829), di mana ia mengambil jurusan Liberal Arts. Panggilan misinya muncul pada tahun 1829 setelah ia menghadiri ceramah dari Pendeta Steward mengenai penginjilan di Kepulauan Hawaii yang saat itu masih menganut animisme. Untuk mewujudkan cita-citanya, ia melanjutkan studi ke Andover Theological Seminary dan lulus pada tahun 1832. Di sana, ia tidak hanya belajar teologi, tetapi juga keterampilan bertahan hidup dan medis dasar.
Setelah lulus, ia diterima sebagai anggota ABCFM (American Board of Commissioners for Foreign Missions). Ia menikah dengan Abigail Johnson (Abby) pada tahun 1833 sebelum akhirnya berlayar menuju Batavia (Jakarta) dan tiba pada 30 September 1833. Samuel Munson gugur sebagai martir pada 28 Juni 1834 di Lobu Pining, Sumatra, setelah ditombak mati karena dicurigai sebagai mata-mata Belanda.
Henry Lyman lahir di Northampton, Massachusetts, pada 23 November 1809, sebagai anak sulung dari tiga bersaudara. Saat lahir, ia menderita sakit keras yang membuat dokter menyerah, namun secara ajaib ia sembuh setelah ayahnya berjanji akan menyekolahkannya di sekolah pendeta jika ia selamat. Meski demikian, masa remaja Henry justru diwarnai dengan pemberontakan; ia sering dihukum dan bahkan menjadi pemimpin klub anti-Kristen saat kuliah di Amherst College.
Transformasi spiritual Henry terjadi pada tahun 1827 setelah ia terserang penyakit tipus yang mematikan. Saat teman sekamarnya meninggal dan dokter sudah menyerah padanya, Henry mengalami kesembuhan ajaib yang ia yakini sebagai teguran Tuhan. Peristiwa ini membawanya pada konversi spiritual total. Ia lulus dari Amherst College pada 1829 dan melanjutkan studi ke Andover Theological Seminary, di mana ia menjadi rekan kuliah Samuel Munson.
Henry Lyman ditasbihkan sebagai pendeta misionaris pada 15 Oktober 1832 dan menikah dengan Eliza Pond pada 16 Mei 1833. Ia berangkat bersama keluarga Munson menuju Hindia Belanda untuk mengemban tugas misi. Henry Lyman menjadi korban pertama yang ditembak mati dalam tragedi di Lobu Pining pada 28 Juni 1834.
Berdasarkan sumber, berikut adalah detail mengenai keluarga mereka:
Samuel Munson: Menikah dengan Abigail (Abby) Johnson pada tahun 1833. Mereka memiliki anak-anak yang ditinggalkan di Batavia bersama ibu mereka ketika Samuel berangkat melakukan eksplorasi ke pedalaman Sumatra pada April 1834. Meskipun sumber tidak merinci nama-nama anak langsung dari Samuel Munson, disebutkan bahwa garis keturunannya terus berlanjut. Penulis buku More Than Conquerors, George Munson, merupakan generasi ketiga (cucu) dari garis keturunan Samuel Munson.
Henry Lyman: Menikah dengan Eliza Pond pada Mei 1833. Sama seperti keluarga Munson, Henry juga meninggalkan istri dan anak-anaknya di Batavia saat ia berangkat menuju Sumatra. Sumber-sumber yang ada tidak mencantumkan nama atau jumlah spesifik dari anak-anak langsung Henry Lyman.
Catatan Keturunan: Salah satu sumber menyebutkan bahwa George Munson (cucu Samuel) dan istrinya Naomi Bowers memiliki empat orang anak. Garis keturunan ini membuktikan bahwa meskipun Samuel Munson dan Henry Lyman tewas di usia muda (masing-masing 30 dan 24 tahun), keluarga mereka tetap bertahan dan meneruskan warisan pelayanan misionaris di Asia Tenggara.
Tahun & Peristiwa
1824 Richard Burton dan Nathaniel Ward tiba di Silindung
1833 Munson dan Lyman berangkat dari Boston
17 Juni 1834 Tiba di Sibolga
23 Juni 1834 Memulai perjalanan menuju Silindung
28 Juni 1834 Tragedi di Lobu Pining
1850 Ompu PANDORTUK (Dr Neubruner Van der Tuuk) tiba di Tanah Batak. Ahli bahasa dari Leiden University Belanda. Menguasai 20 bahasa suku-suku daerah di Indonesia. Orang pertama membuat kamus bahasa daerah dan kamus batak bahasa melayu. Karena jasa dia membuat banyak kamus bahasa suku suku dan bahas melayu, maka bahasa Indonesia semakin banyak di kuasai di daerah-daerah. Ompu PANDORTUK adalah gelar yang di berikan raja raja batak kepadanya karena ekpintarannya berbahasa batak walau orang Belanda. Ompu PANDORTUK atau Dr Neubreuner van der Tuuk adalah orang eropa pertama yang di izinkan melihat Danau Toba. Karena keyakinan batak dahulu, sipele begu, Danau Toba adalah rumah para dewa besar batak. Sehingga tidak boleh diganggu oleh orang asing.
1861 Van der Tuuk mengajar Nommensen dasar bahasa batak di Amsterdam sebelum berangkat dg kapal ke Padang dan Sibolga.
1862 Nommensen tiba di Padang dan ke Sibolga.
1863 Nommensen mendapat surat izin masuk kunjungan 2 minggu ke Silindung Tarutung, dari Gubernur Sumatear Barat Beladan di Padang.
1864 Nommensen mendapat surat izin menginjil dan menetap di Silindung Tarutung dari Gubernur Belanda di Padang Sumatera barat.
1866 Nommensen dari Pearaja Tarutung pergi naik kuda ke desa Sakka, Lobu Pining, Adian Koting, rumah dari Raja Panggalemei Tobing. Raja Panggalemei adalah pemipin pasukan yang terpaksa harus membunuh merek berdua karena tidak bisa bahas batak. Sehingga dicurigai sebagai si bottar bata gumpeni (mata mata kumpeni belanda). Nommensen datang ke desa Sakka karena kasihan pada keluarga Munson dan Lyman di Amerika. Dan ingin mencari kepastian kuburan kerangka -kerangka Martyr Samuel Munson dan Henry Lyman. Nomensen menemukan lokasi kerangka mereka dan diberi semacam tanda monumen batu, agar muda di ingat. Nommensen rekonsiliasi berdamai dengan Raja Panggalemei. Setelah itu, nama desa Sakka sudah tidak ada lagi, para raja raja batak di Silindung meminta desa itu di ganti namanya. Saat ini lebi dikenal sebagai Lobu Pining, Adian Koting Tapanuli Utara di Google Map.
1900 Memorial pertama dibangun oleh Nommensen.
1934 Peringatan 100 tahun kemartiran. Ephorus HKBP Dr. P. Landgrebe mengundang keluarga martyr Samual Munson dan Henry Lyman ke Lobu Pining, Kec Aidian Koting, Tapanuli Utara.
● Riwayat singkat Samuel Munson
● 1804, 23 Maret; Samuel Munson Lahir di New Sharon, Maine, Amerika Serikat.
● 1829 Samuel lulus Sarjana S1 Liberal Arts (BA) di Bowdoin College, Brunswick, Maine; Amerika Serikat.
● 1832 Lulus dari S1 Theology Andover;
● 1832 Berhasil lulus sidang menjadi anggota organisasi misionaris ABCFM (American Board of Commissioners for Foreign Missions).Dia harus mempresentasikan Thesis-nya di depan dewan dan dinyatakan lulus. ABCFM didirikan pada 1810. Saat itu ABCFM adalah suatu organisasi misionaris terbesar di Amerika. Misinya adalah menyebar misionaris ke seluruh dunia penyembah berhala di dunia terpencil. Banyak misionaris ABCFM yang sudah meninggal atau hilang dalam tugas di berbagai belahan dunia terpencil Afrika, Asia, Amerika, Pasifik dll.
● 1832, 11 October – Samuel Munson ditasbihkan (ordinasi) sebagai pendeta misionaris di Boston.
● 1833 - Menikah dengan Abby Johnson
● 1833, 10 Juni – Berangkat dari Boston Amerika ke Batavia (Jakarta) Hindia Belanda.
● 1833 – Tinggal di Batavia (Jakarta). Rumah kontrakan di perumahan tidak jauh dari lapangan Monas. (Buku Martyr of Sumatera, a Memoir of Henry Lyman, 1861)
● 1834, 7 Apr – Berlayar dari Batavia ke Padang (lihat peta)
● 1834, 29 Apr -Tiba di Padang Setelah 3 minggu berlayar.
● 1834, - Menetap selama 3 minggu di Padang. Dan belajar budaya batak pada Pdt. Nathaniel Ward. Pdt Ward sudah lebih dulu ke Silindung bersama Richard burton pada 1824. Men Pdt. Ward, batak terbuka pada kulit putih kecuali kulit putih Belanda.
● 1834, 11 Mei, berlayar dari Padang ke Nias dan Sibolga
● 1834, 17 Juni – Tiba di Pulau Poncan Sibolga. Esok harinya lanjut berlayar ke Kota Sibolga. (lihat peta)
● 1834, 23 Juni – Berangkat dari kota Sibolga berjalan kaki menuju Silindung (lihat peta)
● 1834, 28 Juni – Dicegat, dibunuh dan dikanibal di Lobu Pining, kec. Adian Koting, Tapanuli Utara. Di bunuh oleh pasukan raja Panggalemei Tobing karena di anggap si bontar mata GOMPENI (kulit putih kompeni mata mata tentara Belanda). Perintah raja Silindung, si Opat Pisori, semua kulit putih yang tidak dapat berbahasa batak dianggap mata-mata belanda dan harus dibunuh. Sesuai kepercayaan animisme berhala batak saat itu, daging musuh harus di kanibal agar kesaktian-nya berpindah kepada yang meng-kanibal. Budaya kejam Kanibal ini berhasil di hilangkan oleh Misionaris Nommensen puluhan tahun kemudian.
Samuel adalah anak dari ayah Samuel dan ibu Elizabeth Munson lahir pada 23 mar 1804 di New Sharon, Maine, Amerika Serikat.
Pada usia 10 tahun Samuel menjadi yatim piatu. Kedua orang tuanya meninggal saat wabah penyakit menyerang kota New Sharon. Selanjutnya Samuel diadopsi oleh teman ayahnya. Perilakunya yang baik menjadi disukai oleh sekelilingnya, walaupun dia anak adopsi.
Atas: Samuel Munson Kuliah s1 di Bowdoin University 1825- 1829
Pada tahun 1825 sampai dengan 1829 Samuel kuliah Sarjana S1 Liberal Arts di Bowdoin College (https://www.bowdoin.edu) di Brunswick negara bagian Maine. Bowdoin College didirikan oleh James Bowdoin, seorang negarawan Amerika, pada tahun 1794.
Lanjut Kuliah di STT Misionaris di Seminary Andover, Massachusetts, AS 1829
Ceramah pendeta misionaris di Hawaii ini juga yang membuat Samuel Munson tertarik melanjutkan sekolahnya ke STT (Sekolah Tinggi Theology) Misionaris di Seminary Andover, Massachusetts, AS. Jarak Kota Andover tidak terlau jauh dari rumahnya di New Sharon, negara bagian Maine, adalah kira-kira 250 km (171 Miles).
Seminari STT Missionari Andover, tertua di Amerika berdiri 1802. Pada tahun 1950an menjadi Yale Devine School, Yale University sampai saat ini. Sekolah Misionaris berbeda dengan sekolah pendeta. Sekola misionaris dipersiapkan untuk menginjil di pedalaman yang sangat berbahaya., Seperti Nommensen sekolah di STT Misionaris RMG barmen Jerman,
https://en.wikipedia.org/wiki/Andover_Theological_Seminary
STT Misionaris berbeda dengan ST Theology. STT Misionaris di persiapkan untuk menginjil di wilayah terpencil. Sehingga yang di ajarkan tidak hanya Theology (filsafat agama), tetapi juga cara bertahan hidup di wilayah terpencil. Misal, membangun konstruksi rumah, membuat obat, kesehatan dll. Dan ini juga mata pelajaran yang di ajarkan di STT Misionaris Jerman di Seminari RMG Barmen Jerman. Dimana Ludwig Nommensen kuliah dari 1857 – 1962.
Samuel Munson tamat dari Sekolah Tinggi Theology STT Misionaris di Seminary Andover pada 1832.
● Mulai Kerja di Organisasi Penginjil ABCFM
Dan setelah dari Seminari Andover dia berhasil di terima bekerja pada ABCFM (American Board of Commissioners for FOREIGN MISSIONS) di Boston, Amerika Serikat. ABCFM adalah organisasi misionaris paling tua di Amerika. ABCFM berdiri tahun 1810 di Amerika.
Tidak mudah untuk dapat di terima menjadi anggota organisasi misionaris ABCFM. Dia harus mempresentasikan dan publikasikan Thesis-nya di depan dewan ABCFM.
Dewan ABCFM inilah yang menentukan apakah calon anggota organisasi misionaris diterima atau tidak. Jika di terima maka akan diberi pendidikan tambahan berupa pendidikan medis dan farmasi obat. Kemudian di tasbihkan atau ordinasi sebagai pendeta misionaris. Dan akhirnya dikirim ke wilayah terpencil di seluruh dunia. Sehingga peluang hidup pendeta misionaris biasanya kecil. Misionaris berisiko mati sakit, dibunuh atau hilang selamanya.
ABCFM adalah organisasi yang merekrut dan mengirim para misionaris untuk memberikan pelayanan dalam bentuk pendidikan, rumah sakit dan penginjilan bagi penyembah berhala di wilayah terpencil di luar Amerika Serikat.
Karena ada kata FOREIGN MISSIONS (wilayah terpencil) pada nama ABCFM, maka misinya adalah penginjilan wilayah terpencil di luar Amerika. Artinya tugas ini mempunyai risiko tinggi dibunuh atau meninggal sakit atau kecelakaan pada saat tugas di wilayah terpencil. Sudah banyak misionaris dan istri serta anak-anak mereka meninggal di wilayah terpencil karena sakit atau di bunuh. Tapi mereka sudah menyerahkan jiwa mereka dan keluarganya pada penginjilan.
Sama halnya dengan pendeta misionaris Nommensen. Istri pertama, istri kedua dan anak anaknya meninggal sakit dan dibunuh. Istri pertama dia sakit keras di Pearaja pada 1877 dan akhirnya meninggal. Demikian jua anak anaknya banyak meninggal. Juga istri ke dua meninggal sakit pada 1910 di Sigumpar, dekat Balige Toba. Dua anak Nommensen dibunuh di Sibolga dan satu lagi hilang sebagai tentara saat Perang Dunia 1 di Jerman.
Tidak heran jika sedikit lulusan ST Theologia yang mau bekerja pada organisasi ini. Tetapi karena Munson sudah lulus dan menjadi anggota organisasi ABCFM, yang ada kata FM-FOREIGN MISSIONs (penginjilan terpencil asing). Maka mereka harus siap di tugaskan di wilayah terpencil asing di LUAR Amerika. Pekerjaan ini sangat berbahaya dan harus bersedia di korbankan demi tugas penginjilan.
Dasar mereka adalah Roma 8: 35-39 tentang Paul dan Domba Domba Sembelihan. Dan ini ditulis di batu kenangan Henry Lyman dan di buku memoir Samuel Munson, yang diambil dari perkataan Paulus di Roma saat akan di hukum mati penggal yaitu:
More than conquerors (kita lebih dari pada orang yang menang – Roma 8:37)
Dari setiap angkatan STT Misionaris di Seminari Andover, hanya 10% lulusan yang mau bekerja pada yayasan ABCFM. Karena risiko besar meninggal di bunuh saat menjalankan tugas misionaris di wilayah-wilayah terpencil di Afrika, Asia, Amerika Latin, Pasifik, dll. Dan justru risiko tewas saat menginjil inilah yang nantinya harus di hadapi oleh Samuel Munson dan Henry Lyman di Silindung Tapanuli Utara 1834.
FOREIGN Mission adalah semacam pemandu awal pembuka jalan kristen. Atau cikal bakal pemandu yang rela dikorbankan menjadi tumbal. Mereka sebagai cikal bakal harus rela dikorbankan agar dapat membuka jalan bagi misionaris selanjutnya. Yaitu dengan cara mempelajari kegagalan awal mereka. Selanjutnya di buat buku agar dapat di pelajari di sekolah-sekolah misionaris seperti Nommensen kuliah STT Misionaris Barmen 1857-1861.
https://en.wikipedia.org/wiki/American_Board_of_Commissioners_for_Foreign_Missions
Seminari Andover adalah seminar Misionaris yang tertua di Amerika, berdiri tahun 1807. Dan sejak 1965 bergabung dengan salah satu dari 10 universitas TOP DUNIA, yaitu YALE UNIVERSITY di Amerika dan menjadi fakultas Theologi Yale university, Amerika Serikat (https://divinity.yale.edu/admissions-aid/degree-programs-and-certificates/andover-newton-seminary-yale ).
https://divinity.yale.edu/
Sampul depan Buku More than Conquerors, Munson (Roma 8:37)
● Lanjut kursus obat medis di Boston 1832
Setelah di terima di organisasi misionaris ABCFM, Samuel masih ditugaskan untuk lanjut sekolah mengambil kursus obat-obatan medis di Boston dan kursus-kursus pelengkap lain. Samuel sedang di persiapkan untuk menghadapi risiko tinggi tugas di wilayah asing terpencil di LUAR Amerika dan Kanada.
● Di tasbihkan sebagai pendeta Misionaris, di Boston 1832
Samuel Munson ditasbihkan sebagai pendeta pada 1832 di gereja Boston. Dan dia kemudian menikah dengan Abby Johnson pada 1833
Angkatan pertama tasbih pendeta misionaris ABCFM , Boston 1812
● Berangkat dari Boston ke Batavia (Jakarta), 1833 (gambr bawah)
Selanjutnya pada 10 juni 1833, Samuel Munson dan Henry Lyman beserta istri mereka berangkat ke Batavia dengan kapal dari Boston. Setelah berlayar selama 100 hari lebih, mereka tiba di Batavia Hindia Belanda (Jakarta) pada 30 September 1833.
Pelabuhan Salem, Boston 1834. Kapal layar Amerika menuju Asia
Tahbis menjadi pendeta Misinari organisai ABCFM Boston, Amerika. yang kembali biasanya hanya 10%. Banyak tewas saat menginjil di pedalaman. Munson dan Lyman di tahbiskan di gereja Boston ini.
Kronologi Riwayat Henry Lyman
● 1809, 23 Nov., Henry Lyman lahir di Northampton, Massachusetts. Anak paling tua dari 3 bersaudara. Anak dari Theodore dan Susan w. Lyman.
● 1829 Henry Lyman lulus sarjana S1 dari Amherst College, Armherst, Massacusetts, Amerika Serikat.
● 1832, lulus S1 dari Sekolah Tinggi Theology Andover
● 1832 Berhasil lulus sidang menjadi anggota organisasi misionaris ABCFM (American Board of Commissioners for Foreign Missions).
● 1832, 11 Oktober- Ditasbihkan (ordinasi) sebagai pendeta misionaris di Boston.
● 1833 , 16 May, menikah dengan Eliza Pond di Boston, Amerika Serikat.
● 1833, 10 juni– Berangkat dari Boston Amerika ke Batavia (Jakarta) Hindia Belanda.
● 1833, 30 September, tiba di Batavia (Jakarta) setelah 100 hari lebih berlayar.
● 1833 – Tinggal di Batavia (Jakarta). Rumah kontrakan di perumahan tidak jauh dari lapangan Monas. (Buku Martyr of Sumatera, a Memoir of Henry Lyman, 1861)
● 1834, 7 Apr – Berlayar dari Batavia ke Padang (lihat peta)
● 1834, 29 Apr -Tiba di Padang Setelah 3 minggu berlayar.
● 1834, - Menetap selama 3 minggu di Padang. Dan belajar budaya batak pada Pdt. Nathaniel Ward.
● 1834, 11 Mei, berlayar dari Padang ke Nias dan Sibolga
● 1834, 17 Juni – Tiba di Pulau Poncan Sibolga. Esoknya lanjut ke Kota Sibolga. (lihat peta)
● 1834, 23 Juni – Berangkat dari kota Sibolga berjalan kaki menuju Silindung (lihat peta)
● 1834, 28 Juni – Bersama rekannya Pdt. Samuel Munson. Dicegat, dibunuh dan dikanibal di Lobu Pining, kec. Adian Koting, Tapanuli Utara.
● Masa kecil
Henry Lyman lahir di Northampton, Massachusetts pada 23 nov 1809. Anak paling tua dari 3 bersaudara. Anak dari Theodore dan Susan w. Lyman.
Saat lahir Henry langsung sakit keras. Dokter menyatakan sudah tidak ada harapan hidup lagi. Ayahnya berdoa agar bayi nya selamat dan berjanji akan mengirimnya ke sekolah pendeta. Dan ternyata anaknya, bayi Henry selamat dan hidup
Henry Lyman sangat bermasalah saat sekolah dan kuliah. Sering mendapat hukuman keras dari guru dan orang tuanya.
● Kuliah s1 di Amherst College 1826
Pp 38-86
Henry Lyman mulai kuliah s1 nya pada 1826 di Amherst College (www.amherst.edu). Amherst College adalah universitas yang didirikan pada tahun 1821. Dan merupakan salah satu dari universitas terkemuka di Amerika dengan tingkat seleksi ketat.
Selama 1 tahun pertama di kampus Henry Lyman banyak membuat masalah di kampus. Dia membuat klub anti-kristus, anti-agama, anti-alkitab. Dan dia terus menerus mengganggu dan menghina kelompok berdoa dan ceramah agama di kampus. Dia menjadi pemimpin klub anti agama di kampus.
Awalnya Henry Lyman tidak percaya akan isi alkitab. Suka melecehkan dan menghina alkitab, menertawakan teman-teman nya saat berdoa. Selama 1 tahun dia melakukan ini beserta rekan-rekannya sesama anti kristus. Tujuan dia adalah membuat sakit hati dan menghina mereka yang percaya alkitab.
Dia mengaku secara terbuka bahwa tidak setuju dengan isi alkitab dan suka menantang debat anti agama. Bahkan dia menantang dengan sopan salah satu dosen-nya yaitu Pendeta Jacob Abbot.
Tiba-tiba setelah 1 tahun kuliah, Henry sakit berat. Dia menderita sakit Typhus. Rumah tempat dia dan teman nya indekost terserang Typhus. Semua penghuni kena penyakit Typhus termasuk dia. Bahkan teman indekost nya meninggal.
Dokter menyerah dan menyuruh Henry segera pulang ke rumahnya di Northhampton agar dirawat oleh orang tuanya. Di rumahnya dia di rawat oleh Dr Flint. Tapi setelah dirawat 1 minggu demam nya malah semakin buruk. Dokter Flint sudah menyerah, segala usaha dan pengobatan telah diberikan tapi demam tidak sembuh. (Sumber Buku The Sumatra Conquerer: Herny Lyman, 1861).
Tiba-tiba setelah satu minggu terjadi keajaiban. Kesehatan Henry membaik, dan demam berkurang. Dan akhirnya sembuh.
Henry Lyman merasa dia kena hukuman kutuk dari Tuhan tapi masih dimaafkan untuk hidup, kecuali teman kuliahnya yang sudah meninggal.
Kesembuhan nya ini, pada musim semi 1827, membuat dia berjanji pada Tuhan. Bahwa dia akan merubah cara hidupnya dan tidak lagi melawan, menghina dan berbagai perbuatan melawan terhadap isi alkitab.
Suatu saat pada 17 April 1827, tiba-tiba Henry merasa tidak semangat lagi bergabung dengan sahabat-sahabatnya sesama anti-kristus. Dan dia juga sudah tidak berminat lagi bergabung dengan mereka untuk lanjutkan debat-debat anti-kristus.
Sampai satu hari dia bersumpah tidak akan makan dan minum jika tidak bisa memahami agama. Karena takut dosa nya tidak akan di ampuni lagi.
Henry Lyman mendatangi rektornya dan memberitahukan keadaannya. Dia memberitahukan sumpahnya tidak akan makan minum sebelum memahami alkitab. Karena merasa sudah sangat berdosa menghina, melawan, menertawakan alkitab. Rektor menyarankan agar Lyman membaca alkitab, Lukas 15-19; Roma 8-9; Isaiah 43-45. Rektor juga meminta agar dia tetap makan dan minum menjaga kesehatannya.
Setelah berdoa bersama rektor, dia pulang dan membaca alkitab tersebut. Tetapi rasa penuh kesalahan, penuh dosa dan tidak mungkin bisa di ampuni tetap ada dan sangat itu membebani nya.
Banyak sahabatnya memberi saran agar membaca alkitab. Sudah di lakukan berkali-kali tetapi tidak berdampak, tidak mengurangi beban rasa bersalah nya. Dan dia mulai bingung sendiri apa yang harus di lakukan?
Dia mulai merasakan bahwa semuanya bukan bergantung usaha dia, tapi hanya bergantung dari kemurahan Tuhan. Sejak itu Henry berubah total. Dia mulai hidup dengan keyakinan beragama. Dan sejak itu juga dia berpikiran untuk menjadi penginjil ke para penyembah berhala di wilayah terpencil.
Dalam surat ke sahabatnya, pada tahun terakhir di universitas, Henry menyebut:
“..bagaimana mungkin penyembah berhala dapat mengerti Alkitab jika tidak ada yang mau mengabarkan isi alkitab ke wilayah terpencil di dunia ini?..”
Ini adalah awal pikiran Henry untuk menjadi misionaris di wilayah terpencil dan siap mengahdapi risiko berat akan kehilangan nyawa.
Pada tahun 1829 Henry menamatkan kuliah sarjana s1 nya di Amherst College. Dan sesuai janjinya bahwa dia akan mengabdikan dirinya pada Tuhan sebagai misionaris penginjil di wilayah terpencil. Dia memutuskan untu lanjut kuliah menjadi pendeta misionaris di STT Misionaris terkenal di Amerika. Yaitu Andover Theological Seminary di kota Andover, Maine, Amerika serikat.
● Kuliah s1 Profesi Misionaris di Andover Seminary
Pada 1829 Henry melanjutkan studi di STT Theology terkenal di Amerika yaitu Andover Theological Seminary. Saat ini Andover Seminary sudah menjadi fakultas Theology dari YALE University. Demikian juga Samuel Munson menjadi rekan kuliah pada STT Theology yang sama yaitu STT Andover Seminary.
Pada 10 Feb 1830 Henry menulis surat kepada orang tuanya. Dia menyatakan akan menjadi misionaris bagi mereka yang masih menyembah berhala di wilayah terpencil. Dan dia juga menyatakan kemungkinan akan meninggal lebih dahulu di wilayah terpencil itu. Dan dia sudah siap untuk berkorban untuk penginjilan. Dia berharap orang tua nya mengerti.
Program kuliah di Andover Seminary adalah 4 tahun. Pada 1832 dia lulus dari STT Andover Seminary dan bekerja pada organisasi Misionaris ABCFM (American Board of Commissioners for Foreign Missions).
Thesis Henry Lyman adalah tentang kekejaman ibu -ibu penyembah berhala di wilayah terpencil. Karena mereka bersedia membunuh anak-anaknya untuk di korbankan kepada dewa – dewa mereka. Dan ini dilakukan dengan senang hati.
● 1832 Henry Lyman di tasbihkan sebagai Pendeta
Pada 15 Oktober 1832 Henry Lyman di tasbihkan sebagai pendeta misioanaris dan siap ditugaskan menginjil di wilayah terpencil di dunia. Untuk itu organisasi ABCFM menugaskan nya untuk belajar tentang obat-obat medis di Boston.
● Henry Lyman melamar pada organisasi misionaris asing ABCFM
Untuk menjadi anggota organisasi misionaris ABCFM, Lyman harus mempresentasikan Thesis nya tentang Kekejaman ibu-ibu penyembah berhala di wilayah terpencil. Sama seperti rekan kuliahnya Samuel Munson, dia harus mempresentasikan Thesis nya di depan dewan organisasi misionaris ABCFM. Dan dia berhasil di terima sebagai anggota.
● Henry Lyman menikah dengan Eliza Pond
Pada 16 May 1833 Henry Lyman menikah dengan Eliza Pond.
Munson dan Lyman Bekerja pada organisasi Misionaris ABCFM
Akhirnya mereka berdua, Henry Lyman dan Samuel Munson sudah diterima berkerja pada Organisasi yayasan Misionaris di Amerika yaitu ABCFM (American Board of Commissioners for Foreign Missions). Organisasi misionaris ini bertugas mengirim pendeta-pendeta misionaris ke penyembah berhala di wilayah-wilayah terpencil di dunia ini.
Terutama wilayah-wilayah yang masih menganut kepercayaan animisme dengan mengorbankan nyawa manusia dan anak-anak kecil untuk mendapat berkat leluhur. Termasuk wilayah terpencil di Asia, Afrika, Pasifik dll.
Dan pada masa dulu, Batak Silindung (Tarutung) dan Toba terkenal dengan penyembah berhala dan suka mengorbankan nyawa manusia dan anak-anak kecil untuk mendapat berkat dari para dewa -dewa leluhur. Misal pengorbanan untuk memperoleh berkat panen, berkat sehat, berkat tanah subur, berkat kekuatan magis dll.
Pada thn 1832 keduanya di tasbih kan sebagai pendeta di kota Boston.
Pada bulan Feb 1832 mereka berdua menerima tugas misionaris dari American Board of Commissioners for Foreign Missions (ABCFM).
Gambar gereja Park street church boston, MA, (bawah)
Berlayar dari Boston ke Batavia (Jakarta), 1833
Pada 1833 organisasi misionaris ABCFM di Boston memberikan tugas kepada Pendeta Misionaris Lyman dan Munson untuk melakukan eksplorasi ke Pulau Jawa di Hindia Belanda saat itu.
Mereka bersama istri nya berangkat dengan kapal dari Boston pada 10 Juni 1833. Dan Tiba di Batavia, 100 hari lebih pelayaran, pada 30 September 1833.
Pendeta Samuel Munson dan Henry Lyman Berlayar dari Boston Amerika ke Batavia Hindia Belanda 1833 slema 100 hari lebih. Bersamas istri mereka. Dan tingal di Batavia. Mengontrak rumah di dekat Istana (Harmoni) (Sumber buku Memoir Samuel Munson & Hynry Lyman , 1860)
● Memorial Henry Lyman di Amerika
Setelah keluarga mengetahui kematian Henry Lyman dan Samuel Munson di Lobu Pining Taput 1834, maka keluarga Henry Lyman membuat batu kenangan Henry Lyman di Amerika. Pada tahun 1834 keluarga sudah rela jasad Henry Lyman tidak akan mungkin di temukan lagi.
Dan memang setelah 1834 perang antara raja-raja batak utara dengan Belanda dan pasukan Padri Bonjol masih terus berlangsung sampai tahun 1900an. Sehingga tidak mungkin lagi bagi keluarga untuk datang ke Sibolga, Pantai Barat Sumatera Belanda.
Setetlah 100 tahun kemudian, pada 1934, keturunan generasi ke 4 Henry Lyman dan Samuel Munson baru dpat datang ke Lobu Pining untuk acara kebaktian peringatan 100 tahun meninggal. Acara kebaktian 100 tahun yang di prakarsai oleh Ephorus HKBP – RMG Jerman Pdt. Landgrebe (1932-1938).
Yang dapat dilakukan keluarga hanya membuat batu nisan kenangan di kuburan kota kelahiran Henry Lyman yaitu Northampton, Hampshire county, Massachusetts, Amerika Serikat. Batu nisan kenangan ini ditanam di area kuburan Bridge Street Cemetery, Northampton. Kuburan ini terkenal dengan banyaknya kuburan para misionaris yang meninggal maupun yang hilang di berbagai dunia.
Foto Batu kenangan Henry Lyman di Northampton (Bawah)
Batu Memori Keangan di kota kelahiran Henry Lyman didirikan pada tahun 1834.
Dari buku Memoir Henry Lyman, 1861, kalimat yang ditulis keluarga di batu kenangan tersebut adalah sbb:
---
In Memory of
Rev Henry Lyman
son of
Theodore & Susan W Lyman
a missionary
of the American Board
who with his associate
Rev Samuel Munson
suffered a violent death
from the BATTAHS
in Sumatra
June 28, 1834
aged 24
More than conquerors (Roma 8:37)
---
Batu kenangan Henry Lyman dalam bahasa Indonesia:
Untuk mengenang Pdt Henry Lyman
Anak dari Theodore & Susan W Lyman
Seorang misionaris dari American Board
Yang dengan rekannya Pdt. Samuel Munson
mati dengan cara kasar oleh bangsa batak di Sumatera.
Pada 28 Juni 1834.
Usia 24 tahun.
We are Conquerors : Tidak ada kuasa atau mahluk yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah dalam Jesus . Kita lebih dari menang dalam kasih NYA (Roma 8:37-39)
Keluarga memilih lokasi batu kenangan Henry Lyman didirikan di sebelah misionaris terkenal dari suku Indian Amerika yaitu Pendeta misionaris David Brainerd (1718-1747). Brainerd menginjil dengna kuda sejauh 5.000 km mengelilingi suku Indian di Amerika.
https://en.wikipedia.org/wiki/David_Brainerd
Pdt. Misionaris Brainerd meninggal pada 1747 pada usia 29 tahun. Disebelah makamnya adalah makam tunangannya Jerusha Edwards (1730 – 1748). Jerusha adalah seorang guru di wilayah Indian Amerika, yang merawat selama Brainerd sakit TBC dan ikut tertular dan kemudian meninggal juga.
Hannah Lyman (1816 – 1871) adalah adik perempuan Henry Lyman. Juga seorang misionaris diakones guru. Dia mengabdi di Kanada dan meninggal juga karean sakit TBC di Kanada pada usia 45 thn). Perjuangan misionaris diakones mengajar nya di Kanada hargai pemerintah dengan mendirikan Monumen dan dana Bea Siswa Hanna Lyman untuk mahasiswa Universitas McGill , Canada.
Lukisan Batu kenangan Henry Lyman di samping makan Pdt Misionaris Indian David Brainerd (Bawah)
Kanan: Monumen Henry Lyman di Massachuseetts didirikan 1834. Setalh keluarga rela Henry tidak akan ditemukan lagi. Sampai tahun 1866 Nommensen mendirikan Batu memori di atas kuburan belulang Munson dan Lyman di Lobu Pining, Adiankoting, Tapanuli Utara. 20 km dari Tarutung.
Menang dalam Kristus (We are more than conquerors - Rome 8::37)
Roma 8:35-39
Konteks Domba Domba sembelihan (Korban demi Menang dalam Kristus)
8:35 Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?
8:36 Seperti ada tertulis: "Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan"
8:37 Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.
8:38 Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang,
8:39 atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita
Kiri < para raja raja batak membersihkan batu memorial diatas kuburan Munson Lyman tahun 1920. (Sumber foto: Digital Library , Leidden University, Netherland). Kanan: Foto Bat memorial setalh di perbaiki oleh Ephorus HKBP Ds. Paul Landgrebe pada tahun 1934 sampai kini.
Ephorus HKBP, Ds. GHM Siahaan, pada tahun 1984, memimpin acara kebaktian 150 tahun (1834- 1984) peringatan Martyr (Korban) Pdt. Samuel MUNSON dan Pdt. Henry LYMAN di Lobu Pining, Adiankoting, Tapanuli Utara. Kira kira 20 km dari Tarutung. Ds. GHM Siahaan adalah anak paling tua dari Op. Ronitua (Gr. DM Siahaan).
Kiri ke kanan: op. Jansen Tambunan, Tambunan, Maringan Tambunan, OB Siahaan (anak dari op. Ronitua) dan F. Tambunan (anak dari Op. Jansen Tambunan). Ziarah ke makam Munson dan Lyman di Lobu Pining, Adiankoting, Taput, 1957,
Tokoh Utama
Richard Burton
Nathaniel Ward
Herman Neubronner van der Tuuk
Samuel Munson
Henry Lyman
Ludwig Ingwer Nommensen
Periode Waktu
1824 – Burton dan Ward
1833 – Berangkat dari Boston
1834 – Martir di Lobu Pining
1850 – Van der Tuuk tiba di Tanah Batak
1862 – Nommensen tiba
1866 – Rekonsiliasi
1934 – Peringatan 100 Tahun