Gunung Aseupan
Gunung Aseupan merupakan gunung berapi yang sudah tidak aktif. Namanya diambil dari bentuknya yang menyerupai "aseupan", alat tradisional dari bambu yang digunakan untuk menanak nasi dengan cara dikukus. Bentuk kerucut gunung ini memang menyerupai alat tersebut.
Gunung Aseupan memiliki keterkaitan erat dengan sejarah Islamisasi Banten, karena dikenal sebagai tempat berkhalwat (menyepi) para wali dan ulama dalam mencari kedekatan dengan Allah SWT. Dikenal dalam kisah para wali dan tokoh spiritual lokal, banyak yang menyebut gunung ini sebagai tempat bertapa atau memperdalam ilmu hikmah oleh para ulama terdahulu.
Dalam tradisi lokal, Gunung Aseupan sering dikaitkan dengan jalan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Oleh karena itu, banyak peziarah yang datang ke lereng gunung ini untuk berdoa dan berziarah. Beberapa sumber menyebutkan bahwa pangeran atau bangsawan dari Kesultanan Banten dahulu pernah menggunakan gunung ini sebagai tempat pertapaan sebelum melakukan tugas kenegaraan penting.
Gunung Karang
Gunung Karang adalah gunung berapi tipe stratovolcano yang secara geologis termasuk ke dalam jajaran pegunungan vulkanik di Pulau Jawa bagian barat. Meskipun termasuk gunung berapi, saat ini Gunung Karang tergolong tidak aktif atau tidak menunjukkan aktivitas vulkanik yang signifikan.
Gunung Karang memiliki nilai spiritual tinggi bagi masyarakat Banten, terutama bagi penganut tradisi kejawen dan masyarakat yang masih memegang adat lokal. Di lereng Gunung Karang terdapat tempat ziarah yang dikenal dengan makam Syekh Maulana Mansyur, seorang ulama besar yang sangat dihormati dan dianggap sebagai salah satu penyebar Islam di wilayah Banten.
Dalam sejarah kesultanan Banten, Gunung Karang dianggap sebagai tempat penting dalam konteks spiritual dan religius, karena dipercaya sebagai lokasi bertapa dan mencari ilmu spiritual para wali atau tokoh agama. Gunung ini juga menjadi sumber mata air dan keberlangsungan hidup masyarakat sekitarnya, karena banyak sungai kecil yang berhulu dari gunung ini.
Gunung Pulosari
Gunung ini adalah gunung berapi stratovolcano aktif, namun belum menunjukkan erupsi besar dalam sejarah tercatat modern. Gunung ini memiliki kawah aktif dan sering mengeluarkan asap sulfur ringan, yang menunjukkan aktivitas vulkanik ringan masih terjadi.
Gunung Pulosari merupakan gunung yang paling terkenal dalam sejarah spiritual dan religius di Banten. Gunung ini disebut-sebut sebagai gunung keramat oleh masyarakat setempat. Menurut sejarah lokal, Gunung Pulosari adalah tempat berkhalwat dan belajar spiritual Sultan Maulana Hasanuddin, putra dari Sunan Gunung Jati dan sultan pertama Banten. Ia diyakini mendapat ilham dan kekuatan spiritual dari tempat ini sebelum mendirikan Kesultanan Banten.
Kawasan ini juga dikenal sebagai pusat pengembangan tasawuf dan ilmu hikmah, dan banyak diceritakan dalam hikayat-hikayat lama sebagai tempat bertemunya para wali atau guru spiritual. Ada banyak petilasan (jejak sejarah atau tempat keramat) di sekitar lereng gunung ini, termasuk goa-goa kecil yang diyakini menjadi tempat pertapaan. Secara tradisional, pendakian Gunung Pulosari sering dikaitkan dengan ritual spiritual dan bukan sekadar aktivitas wisata alam biasa.