PUSARAN JIWA
PUSARAN JIWA
Dalam pusaran warna yang membara
Jiwa melengkung di antara luka dan asa
Merah berteriak dari sudut langit
Membawa dendam yang belum selesai dititipkan malam
Kuning menyala seperti harapan terbakar
Tapi tetap ia bersinar, meski dalam lara
Biru bergelombang, mencoba menenangkan
Menjadi pelipur di tengah badai yang membatu
Aku jatuh ke dalam diriku sendiri
Di mana warna-warna itu bukan sekadar cat
Tapi amarah, cinta, takut, dan rindu
Berputar tanpa ujung, tak pernah lelah bertarung
Namun dari gelap, muncul cahaya
Bukan karena tenang tapi karena bertahan
Dan mungkin…itu arti hidup
Bukan untuk tenang, tapi untuk tetap berpijak
Meski dunia berputar terlalu cepat
April 2025
API YANG TAK BERNAMA
Merah tak lagi tentang cinta
Ia adalah teriakan yang terpendam
Retakan yang tumbuh dari diam
Dan luka yang menari tanpa malu di permukaan
Hitam menyelinap di sela-sela bara
Bukan untuk memadamkan, tapi untuk memperkuat nyala
Seperti bayangan yang tak mau pergi
Walau siang datang memaksa
Ini bukan kemarahan biasa
Ini adalah warisan dari luka-luka lama
Yang tak sempat kau ucapkan
Yang kau simpan seperti rahasia
Di bawah lidah, di balik dada
Dan kini kanvas pun terbakar
Bukan oleh api luar
Tapi oleh nyala dalam diri
Yang terlalu lama kau tutupi
April 2025
DI PUNCAK CIPTAANNYA
Di kala fajar menyentuh ufuk timur
Langkahku meniti sunyi lereng yang luhur
Kabut menari di antara pepohonan
Angin berbisik lirih dengan penuh kerinduan
Langit membentang bagai kanvas tak terhingga
Dilukis mentari dengan cahaya yang megah
Burung-burung bernyanyi dalam irama syahdu
Mengiringi jejakku menuju langit biru
Kugapai puncak, kuhirup udara murni
Segala letih terhapus, hati pun berseri
Di hadapanku terbentang karya agung nan suci
Lembah, awan, dan langit
Semuanya puji bagi Ilahi
Tiada kata cukup untuk melukis rasa
Kekaguman yang tumbuh di dada yang hampa
Betapa kecilnya aku di hadapan semesta
Namun jiwaku penuh, oleh kasih-Nya yang nyata
Di puncak ini, kutemukan damai
Bersujud dalam diam, hati pun terurai
Sungguh alam adalah firman yang hidup
Ciptaan Tuhan
Indah, agung, dan bersyukur kuhidup
April 2025
BAYANG YANG TAK PERNAH KUPELUK
Ada namamu di ujung malam
Bergaung pelan di dada yang diam
Tak pernah lantang, tak pernah terang
Hanya bisu yang setia kubawa pulang
Kupandangi senyummu dari kejauhan
Seperti mentari yang tak bisa kusentuh
Hangat… tapi jauh
Indah… tapi tak tergapai penuh
Aku berjalan bersamamu dalam bayang
Di lorong hati yang tak pernah kau tahu
Setiap kata yang ingin kusampaikan
Tersangkut malu, tenggelam waktu
Bukan karena tak cinta
Tapi karena takut kehilangan bayangan itu
Lebih baik diam dalam rindu
Daripada mengucap lalu tak bersisamu
Maka biarlah kau jadi rahasia
Yang kutulis diam-diam dalam puisi
Sebab tak semua cinta harus memiliki
Ada yang cukup dengan mencintai… dalam sunyi
April 2025
BISIKAN RINDU DI ANTARA PELUKAN
Kupeluk sahabat dalam tawa dan air mata
Menjalin asa dengan saudara di sisi meja
Mendidik anak didik dengan sabar dan cinta
Mereka kurawat sepenuh jiwa yang merdeka
Namun di setiap langkah yang kupinjamkan bahu
Terlintas kelalaian pada Pencipta yang agung
Aku sibuk menyalakan lilin kebaikan sesama
Hingga lampu di hatiku padam, lupa kepada-Nya
Ampun … bisikku lirih dalam sunyi malam
Akan kutautkan kembali doaku pada Sang Pemilik
Karena merawat manusia adalah mencintai Tuhan
Dan setiap urat kasih pasti berawal dari rahmat-Nya
April 2025
CINTA YANG TAK PERNAH PUDAR
Sudah lama aku pendam dalam sunyi
Rasa yang tak pernah terucap
Seperti hujan yang jatuh di malam kelam
Diam, namun meneteskan rindu yang tak pernah hilang
Mungkin waktu telah mengubah banyak hal
Namun cinta ini tetap tak berubah
Seperti bintang yang setia menyinari langit
Meski malam berganti, ia tetap di sana
Aku mengenang senyummu yang pertama kali
Dan bagaimana dunia terasa lebih indah
Dengan hanya sekilas pandang dari matamu
Seperti mimpi yang tak pernah kutinggalkan
Cinta ini tak pernah pudar oleh waktu
Meski jarak memisahkan langkah kita
Ia tumbuh dalam kesendirian
Menanti waktu yang tak pasti
Berharap dalam sepi
Kini
aku masih di sini
Di tempat yang sama
Dengan hati yang tak pernah berpaling
Menunggu… meski tak ada kepastian
Karena cintaku padamu tetap tak pernah berubah
April 2025
GUNDAH DI BALIK MERAH PUTIH
Di sudut malam kota yang remang
Kumenatap langit penuh pertanyaan
Tegak bendera namun hati meradang
Kapan janji mengakar di jalan?
Anak muda ini menatap deru knalpot
Mendengar tangis aspal yang retak
Menyusuri luka di wajah negeri
Mencari jejak harapan yang pernah lenyap
Aku rindu senyum petani di sawah basah
Mata mereka berkata tentang janji panen
Namun debu kota menutup harapan
Dan suara mereka tenggelam dalam bising
Di dadaku bergemuruh kegelisahan:
Apakah tugasku hanya mengeluh?
Ataukah engkaulah senjata pena dan kata
Mengukir perubahan dengan kepercayaan dan tekad?
Biarlah pena ini berdansa di kertas
Membentang mimpi di atas kepedihan
Karena pemuda tak boleh diam meratap
Saat darah merah putih masih berdegup di nadi
April 2025
LAYAR-LAYAR YANG MEMBUNGKAM NURANI
Di tengah sorot layar yang tak pernah padam
Pemuda itu berdiri
Sendiri dalam diam
Menatap jari-jemari yang sibuk bersuara
Tapi lidah-lidah membatu di dunia nyata
Ia lihat
Perempuan-perempuan menari di umpan
Mengumbar indah yang semestinya disimpan
Mencari "suka", menjemput "pujian"
Namun kehilangan cahaya dalam pandangan Tuhan
Dan suara-suara lantang di balik akun palsu
Berani mengutuk, mencaci, merasa tahu
Tapi saat kebenaran berdiri di depan pintu
Mereka membisu… menunduk malu
Dunia kecil dalam genggaman tangan
Telah mengikat jiwa dalam candu perlahan
Hingga lupa dunia yang nyata
Hingga lupa siapa dirinya sebenarnya
Pemuda itu hanya bisa menggigit gelisah
Ingin berteriak, tapi takut dianggap salah
Namun dalam dadanya tumbuh satu doa:
“Semoga nurani mereka kembali berbicara"
April 2025
TONG KOSONG NYARING BUNYINYA
Bersuara lantang bak petir membelah
Omong besar seolah dunia ia gilas
Sok keras seakan baja di dada
Padahal hanya bayang tak berisi nyata
Katanya bisa menantang badai
Menyindir, menertawakan tanpa ampun
Tapi saat ujian benar datang mengintai
Nyali menguap
Tinggal diam dan bingung
Langkahnya tegap hanya saat aman
Sorot matanya tajam kala lawan tak melawan
Namun begitu ujung tantangan menyala
Pupus semua mentalnya lari tanpa suara
Lidahmu tajam tapi hatimu rapuh
Sok jagoan padahal nyalimu lumpuh
Belajarlah diam lalu buktikan
Daripada banyak bicara tapi hanya bayangan
April 2025
SENJA DI JOK BELAKANG
Di senja jingga yang mulai merunduk
Seorang pemuda melaju pelan
Membonceng wanita yang baru dikenalnya
Angin berbisik, jantung berdebar pelan
Helai rambutnya menari bebas
Menyentuh pipi, mencuri degup dada
Tawa kecilnya mengalun ringan
Bagai lagu yang belum pernah didengar namun terasa indah
Tak banyak kata terucap
Namun diam pun terasa hangat
Seolah roda motor memutar rasa
yang tumbuh diam-diam tanpa aba-aba
Dia tak tahu arah hati wanita itu
Tapi senyumnya cukup jadi peta
Dan tangan yang menggenggam erat di pinggangnya
Jadi kompas menuju cinta yang baru tercipta
Malam pun turun perlahan
Lampu kota temani langkah mereka
Dan di balik helm dan jaket yang sederhana
Ada hati pemuda yang kini tak ingin sendiri saja
Sebab sekali boncengan itu
Cukup buatnya jatuh
Bukan karena jalan berliku
Tapi karena cinta yang datang tanpa rencana
Tapi terasa begitu nyata
April 2025
DI UJUNG KAIL
Di ujung kail
Bukan hanya umpan yang terikat
Tapi sabar yang tak berbatas
Dan harap yang menggantung diam di antara riak
Aku lemparkan senyap ke tengah arus
Bukan untuk menantang alam
Tapi untuk belajar dari heningnya waktu
Bahwa tidak semua hal harus cepat sampai
Kadang tak ada hasil
Kadang ikan menghampiri
Seperti hidup—lelah tak selalu berbuah pasti
Namun bukankah rezeki bukan tentang seberapa kuat menarik
Melainkan seberapa tulus hati menanti?
Angin mengusap wajahku
Air berbisik pelan:
"Yang mencari dengan tenang, akan pulang dengan tenang pula"
Dan aku duduk
Mendengarkan dunia yang tak pernah berteriak
Memancing mengajariku:
Bahwa tak semua hasil bisa diraih
Tapi setiap usaha adalah doa yang diam-diam dijawab
Oleh tangan yang tak terlihat tapi selalu dekat
April 2025
NYALA TAK PERNAH PADAM
Di rahim malam yang paling sunyi
Terbit nyala, kecil, nyaris tak bernama
Namun di dalamnya sebuah janji:
Bahwa gelap pun bisa dikalahkan cahaya
Langkahku mungkin retak di batu-batu waktu
Tapi tekadku mengakar menembus tanah beku
Pada tiap luka kusematkan harapan
Pada tiap jatuh kutempa keberanian
Angin meneriakkan keputusasaan
Tapi dadaku menjawab dengan dentang keberanian
Karena perjuangan bukan sekadar menuju akhir
Melainkan menjaga nyala
Agar tak hancur saat getir
Tak kuminta jalan tanpa duri
Hanya hati yang terus berani berdiri
Sebab dalam setiap remang dan hujan
Ada cahaya yang lahir dari keteguhan
April 2025
PADA SENYAP YANG MEMBATU
Di antara jeda yang tak terbaca
Kita bersua dalam sunyi yang bicara
Kau hadir seperti aksara purba
Yang disembunyikan malam dalam dada
Cinta
Bukan gema yang mengulang suara
Tapi embun yang bersetia pada luka
Ia tak menuntut musim berganti warna
Cukup setia bahkan saat tak dipinta
Aku menulismu di nadi
Dengan tinta yang kutetes dari hati:
Bukan sekadar rindu yang fana
Melainkan arti dari kata "ada"
Bila kelak dunia menua dan retak
Dan kata-kata kita jadi debu tak berjejak
Ketahuilah
Cintaku bukan sejarah:
Ia puisi
Yang ditulis waktu di langit merah
April 2025