Tangan lembut nan lentik tanpa kain itu memeluk Samuel begitu erat, membuat tangan sang lelaki ikut melingkar memeluk sang gadis dengan sama eratnya. Dengan perlahan ia membungkus tubuh yang bergetar itu dalam dekapan hangatnya, mencoba menenangkan riuh badainya. Agar lebih hangat, ia kembali membungkus tubuh itu dengan selimut tebal di dekatnya mencoba meredakan rasa dingin yang gadisnya alami, walau ia tahu penyebab sesungguhnya bukanlah sebuah rasa dingin.
Setelah melakukan penyatuan pertama mereka, keduanya berbagi segala ingatan di masa lalu baik di masa sebelum maupun sesudah reinkarnasi mereka. Jadi kini tak ada lagi yang membatasi keduanya dalam hal ingatan, bak transparan dari segala sisi keduanya benar-benar mengetahui segala yang terjadi di masing-masing hidupnya. Entah itu hal suka maupun duka keduanya tahu itu.
Kini gadis itu mengetahui seluruh hal yang terjadi di hidup Samuel, begitu pula sebaliknya. Namun, kehidupan Samuel nampaknya benar-benar mengundang segala macam raut wajah yang dapat Mirelle pasang, terutama raut wajah sedih dan juga kemarahan.
Kehidupan Mirelle penuh gemerlap, bagai matahari yang terus bersinar kehidupannya diwarnai dengan kebahagiaan abadi persis seperti kehidupan Navenra dan Azelo muda ratusan tahun yang lalu. Sedangkan kehidupan Samuel, bagai badai yang tak pernah usai, kehidupannya dilanda kekacauan di umur yang begitu muda. Sepuluh tahun, Mirelle merasa kehidupan indah lelaki itu berhenti di umur sepuluh tahun. Tepat dihari kecelakaan Si Kembar Dé Milo yang menewaskan Hans Allerick Casa Dé Milo.
“Tidak! Tidak mungkin! Hans! Ya Tuhan putraku sayang, malangnya nasibmu.” Dalam pikirannya Mirelle melihat seorang wanita dewasa ambruk begitu saja walau pergelangan tangannya berhasil ditahan oleh sang suami. Itu Madam Lyra, ibu Samuel dan Hans dan ayah dari si kembar.
“Itu tak benar bukan ayah? Kembaranku, baik-baik saja bukan? Dia pasti dirawat di kamar lain.” Samuel muda terlihat ikut terpukul seraya mulai menangis histeris di depan kedua orang tuanya.
“Tidak Samuel, kembaranmu telah wafat sejak sampai di rumah sakit. Mereka sudah melakukan apapun untuk membuatnya kembali, tapi keadaan kembaranmu begitu parah. Dia tak bisa bertahan.” Bagai tersambar petir kencang Samuel merasa kehidupannya berhenti berputar, ia merasa saat itu juga jiwanya pergi sang kembaran dibawa sang kematian.
“Tidak mungkin, kembaranku tidak mungkin mati, Hans tidak mungkin meninggalkanku!”
“Hans sudah pergi ke tempat yang indah Sam, percayalah.”
“Tidak! Hans tidak mungkin sudah mati!”
ㅤㅤㅤㅤㅤ
Kehidupan Samuel kecil benar-benar dirundung kesedihan yang tak pernah usai. Segala macam permainan yang dulu ia mainkan bersama Hans kini harus ia mainkan sendiri dengan penuh kesedihan dan penderitaan. Ibunya sibuk berduka, ayahnya sibuk menenangkan sang ibu yang tampak gila. Sedangkan dirinya dibiarkan sendiri karena terlihat tampak menerima semua.
“Hans, anakku yang malang. Kembalilah sayang, ibu sangat merindukanmu.” Samuel menggelengkan kepalanya, ia berlari menuju kamarnya menyembunyikan diri di balik selimut. “Hans belum mati, tidak mungkin. Dia pasti hanya dibawa ke suatu tempat yang jauh untuk disembuhkan. Iya kan?”
“Untuk menjadi lebih kuat dan bebas. Jika maksudmu seperti itu mungkin benar.” Anak lelaki itu menghentikan tangisnya dan memperhatikan ke arah sekitarnya.
“Siapa disana?”
“Sesuatu yang tak ingin melihatmu sedih dan terpuruk tentu saja, jadi berhentilah menjadi lemah seperti itu Sam. Apa yang bisa kulakukan agar kau tak sedih? Kau ingin aku menghadirkan kembaranmu?”
“Kau bisa melakukannya?”
“Tentu, saat kau mulai kehilangan dirimu, Hans akan hadir mengambil alih tubuhmu.” Bagai sebuah khayalan yang jadi kenyataan Samuel kembali mendengar suara Hans di telinganya, suaranya persis seperti dirinya, wujud dalam pikirannya pun tampak seperti lelaki itu.
Dia benar-benar Hans, benar-benar kembarannya. Senyumnya merekah saat itu juga. “Kau pasti begitu merindukanku Sam, maaf meninggalkanmu. Ini aku, hadir untukmu.”
Dua anak lelaki itu kembali bermain bersama, walau beberapa maid di kediaman Dé Milo melihat lelaki itu bermain dan berbicara seorang diri dengan kepribadian yang berbeda. Namun yang jelas Samuel meyakini sang kembaran hidup, meskipun hanya di dalam pikirannya.
“Ayah! Hans kembali ayah! Hans ada dalam pikiranku. Dia masih hidup, dia tidak mati ayah.” Saking senangnya lelaki tertua Dé Milo itu bahkan sudah mengatakan pada ayahnya bahwa sang kembaran masih hidup.
“Mungkin memang ada cara agar ibumu baik-baik saja Sam. Jika memang Hans masih hidup, kita bisa membangkitkannya.”
“Apa maksudnya ayah?”
ㅤㅤㅤㅤㅤ
“Aku ingin mengambil alih tubuhmu bukankah tak apa? Kita berbagi tubuh sekarang, bukankah begitu kembar?”
“Tunggu, cara bicaramu tak seperti Hans, Hans tak seperti itu semuanya berbeda. Aku yang paling mengenal Hans, aku tahu bagaimana cara dia berbicara. Mana Hans! Mana kembaranku?!”
“Jadi aku kurang mendalami Hans ya? Baiklah kurasa aku harus jujur sekarang. Memang ada Hans sedari awal? Aku hanya bertanya apakah kau ingin aku menghadirkan Hans, bukan untuk mendatangkannya.” Samuel tersentak terkejut, dan peluh mulai membasahi tubuhnya.
“Apa maksudmu? Kau tak pernah mendatangkan Hans. Jadi selama ini?”
Samuel merasakan lelaki dalam pikirannya menganggukan kepala seraya tertawa pelan. “Aha, aku hanya mencoba untuk membuatmu lebih kuat. Apakah aku berlebihan? Apakah kau belum menerimanya? Kembaranmu itu sudah mati bung, tak bisa hidup lagi. Tapi sepertinya ibumu menganggapnya kembali hidup ya? Sama sepertimu, mungkin ada baiknya kau menerimaku saja jadi kembaranmu. Hans.” Selama ini, kembarannya tak pernah kembali dan ia hanya ditipu oleh rasa kalutnya.
“Kau bukan Hans. Pergi dari pikiranku.”
Suara dari dalam pikirannya tertawa mengejek. “Kau sudah menerimaku sedari awal bung, kau menyambutku dengan suka cita. Ini aku Hans, aku menjadi Hans untukmu.”
“Pergi dari pikiranku!”
“Sam kau, tega mengusirmu? Aku kembaranmu. Aku datang untukmu, aku datang untuk menjadi kembaranmu, menghapus kesedihanmu.”
“Kau menjadikannya lebih buruk! Hans tak seperti itu! Keluar dari pikiranku!” Samuel merasakan kepalanya akan pecah, suara dan tawa anak lelaki mirip Hans terus berdengung di telinganya.
ㅤㅤㅤㅤㅤ
Samuel tiga belas tahun menarik-narik pelan baju sang ayah, kala mereka tiba di sebuah gang sempit di kawasan Xamera yang ternyata menyimpan sebuah pintu rahasia yang hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu. “Kau tahu yah, sepertinya ini bukan ide yang bagus. Aku merasa ragu. Bukankah jika kita melakukannya, itu akan menyakiti Hans? Dan yang dalam pikiranku, aku rasa itu bukan Hans. Hans tak pernah menyakitiku yah. Itu bukan Hans yah.”
“Bukankah kita sudah sepakat? Mari melakukannya untuk ibu Sam, kau tak ingin membuat ibumu bersedih kan? Kau bilang sendiri pada ayah. Hans atau bukan, dia mirip sepertimu dan Hans, dan dia adalah satu-satunya yang bisa kita pakai.” Reganta, sang keluarga kepala Dé Milo berkata dengan wajah penuh kecemasan, terlihat ragu namun tetap teguh maju. “Dia begitu bahagia begitu kau beritahu Hans ada dalam pikiranmu, kau tak ingin menghancurkan kebahagiaannya kan?”
“Satu-satunya hal yang mirip darinya dan Hans adalah suara ayah, mereka tidak sama. Dia bukan Hans. Aku lebih baik menukar jiwaku untuk kembaranku daripada harus berurusan dengan dia ayah, dia bahkan membuatku gila dalam pikiranku.”
“Maka dari itu kita keluarkan dari pikiranmu nak, ayo kita mencobanya dulu Samuel.”
“Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin itu terjadi? Mengapa bisa ayahmu melakukan hal itu Sam? Itu sangat terlarang Samuel, dan mengapa juga Madam Lyra harus mengacuhkanmu seperti itu? Jangan larang aku untuk mengatakan bahwa dia seorang ibu yang buruk, beraninya dia memperlakukan buruk mateku!” Samuel menepuk bahu Mirelle mencoba menenangkan gadis itu, walau berulang kali ia mengacak rambutnya dan juga menggigit bibirnya sebagai tanda perasaan kesal juga kecewa.
“Itu masa lalu, Relle. Tak apa. Bukankah semuanya sudah berlalu sekarang? Aku pun sudah menerima semuanya, bahkan pasrah menerima bajingan itu mencuri identitas dan segala tentang kembaranku.” Lelaki itu bergerak mengusap lembut bahu Mirelle beberapa kali dan mencium keningnya.
“Seharusnya aku datang lebih cepat, seharusnya aku hadir di hidupmu lebih cepat. Padahal kita saling bertemu di masa itu, padahal aku mengagumimu Sam, mengapa kita tidak—” Samuel terus menenangkan sang gadis yang mulai kehilangan sebuah ketenangan, seraya menyatukan kening keduanya lelaki itu berkata. “Sstt, segala hal yang terjadi adalah sebuah takdir yang memang harus terjadi Relle, tak ada yang menyangka jika di masa lalu kita hanya dipertemukan untuk saling memandang. Namun yang teepentingnya kita sudah bertemu bukan sekarang?”
Netra Mirelle yang menyiratkan kesedihan mulai tertaut pada netra sang mate yang menatap begitu hangat dan teduh, mencoba menenangkannya dengan segala yang ia bisa. Membuatnya terus bertanya mengapa bisa ada seorang yang sebegitu kuatnya walau hal malang menerpa hidupnya berkali-kali.
“Aku hampir memelukmu lagi dulu, kau menarik perhatianku. Lagi dan lagi.” Sang legendaris memejamkan netranya seraya mengelus pipi sang lelaki, mengirimkan banyak kekuatan yang ia punya. Memancing Samuel untuk ikut memejamkan netranya dengan tangan yang tak berhenti mengusap lengan sang gadis dengan kepala yang terangguk beberapa kali. “Kau sama bersinarnya seperti yang dulu di mataku Relle, kau selalu bersinar.”
Mirelle kecil dipaksa ibunya untuk ikut menemaninya datang ke sebuah pertemuan para madam yang rutin dilaksanakan setiap bulannya. Biasanya memang sang kakak yang menemani yaitu Hilda Vallera Casa Dé Luca namun untuk yang kali ini gadis itu berhalangan hadir untuk menghadiri acara baletnya, maka dari itulah kini Mirelle lah yang diseret untuk hadir bersama ibunya. Umumnya di pesta itu para madam hanya mengobrol dan menikmati kudapan juga teh hangat, namun untuk yang kali ini mereka juga menggelar sebuah tukar kado yang meriah dan diikuti banyak anak mereka.
“Huh sejujurnya aku malas sekali datang ke acara seperti ini, anak-anak teman ibu tak ada yang kukenal, satupun tak ada yang kukenal. Menyebalkan sekali.” Mirelle mencebikkan bibirnya seraya melangkah menuju tempat makanan untuk mengisi waktu bosan. Daripada menunggui ibunya mengobrol, bukankah lebih tepat untuknya mencoba banyak cemilan lezat ini dan menilainya satu persatu.
“Mari kita mulai dengan kue lemon ini— aduu-hh. Tidak kah dia melihat aku yang sebesar dan secantik ini? Mengapa dia tetap menabraknya seolah aku ini tak terlihat sih?! Ah kue lemonku! Untungnya tidak terkena dress mahal ini.” Saat itu juga Mirelle tak dapat lagi menahan wajah kesalnya, berani-beraninya anak lelaki itu menabraknya seolah gadis cantik sepertinya ini transparan.
“Apakah dia itu tak memiliki mata?! Gadis cantik seperti ini mana mungkin tak terlihat?” Netranya langsung melebar kala melihat tangan terulur mencoba membantunya. “Kau baik-baik saja? Apakah ada yang terluka? Aku minta maaf soal Hugo tadi, dia sedang menghindari sesuatu. Sini aku bantu kau berdiri.”
Bagai terhipnotis Mirelle menggapai tangan itu tanpa berusaha menolak sedikitpun. “Aku. Baik-baik saja.” Ia melihat lelaki itu yang mulai menyunggingkan senyumnya kala ia menganggukan kepalanya dan mulai bangkit tanpa kesusahan sedikitpun. “Senang mendengarnya, sekali lagi aku minta maaf atas apa yang temanku lakukan ya.”
“Sam, ayo! Gawat sekali jika Madam Alzheyra menemukan Hugo.” Mirelle melihat seorang lelaki dengan wajah yang sama seperti lelaki di hadapannya dengan surai pirang mengajak lelaki itu untuk pergi. Sam? Namanya Sam? Tunggu, aku belum mengajaknya berkenalan.
“Kalau begitu sampai nanti, semoga harimu menyenangkan.” Dan Mirelle yakini itu adalah pertemuan pertama dan terakhirnya dengan lelaki itu karena setelahnya mereka tak bertemu kembali, atau mungkin sekedar melihatnya sepihak. Lelaki itu bagai ditelan bumi.
Ketika ingatan itu singgah di pikiran Samuel, ia baru menyadari bahwa gadis itu adalah Mirelle. Dengan rupa yang sama cantiknya seperti kini, dengan surai panjang yang sama lembutnya dengan saat ini, juga netra yang memandangnya hangat dan teduh sama seperti kini. Jika saja dapat kembali, Samuel mungkin akan mengajaknya berkenalan, karena nyatanya gadis itu masih sama menarik dan bersinarnya seperti pertama kali mereka bertemu di masa lalu. Rasa kala melihatnya pun bagai sebuah oasis indah yang memaksanya untuk menetap lebih lama jika saja sang saudara kembar tak mengajaknya untuk pergi dan melupakan banyak kata di kepalanya untuk hanya sekedar bertanya nama atau marga gadis itu.
Memang benar, saat itu mereka hanya ditakdirkan untuk saling memandang, saling menyapa, dan saling memastikan bahwa keduanya hidup dan berpijak di masa yang sama. Hanya saling menunjukan bahwa benang takdir yang dibentangkan tetap tertaut bagai sebuah simpul mati yang mengikat keduanya.
“Aku tak akan membiarkanmu menghadapinya lagi sendiri Sam, aku berjanji akan selalu berada di sampingmu.” Samuel menganggukan kepalanya seraya mencium kening sang gadis lama. “Ya aku pun Relle, aku tak akan lagi membiarkan siapapun mencoba menyakitimu lagi. Kau bisa pegang kataku erat-erat.”
ㅤㅤㅤㅤ
𝐌 𝐈 𝐑 𝐄 𝐋 𝐋 𝐄ㅤ𝐌 𝐈 𝐑 𝐀 𝐍 𝐃 𝐀
┗━━━━━━━━━━━━━━┛
Cassiofields, Décasa Dimension.
“Aku rasa bukti pembacaan ingatan dari Lady Mirelle dan juga yang rekan-rekan warrior yang lain sudah sangat kuat untuk langsung mendepak Madam Agacia dari posisinya terkini, lagipula beberapa hari ini juga dia tak terlihat di lingkungan kementerian tanpa keterangan.” Beberapa pejabat tinggi kementerian pertahanan menganggukan kepalanya.
“Dari dokumen yang Lady Mirelle dapat dari divisi pengawasan strategis soal perjalanan bisnis palsu saja, itu memang sudah sangat mencurigakan. Keparat sekali ternyata dia adalah orang penting di kelompok pemberontak itu.” Salah seorang pejabat tinggi wanita membanting map ke meja seraya mengacak rambutnya kasar.
“Lalu bagaimana dengan rekannya Sir Arthur? Perlu kita tindaklanjuti juga? Dia terlihat bersih.” Sir Xabian dan Mirelle tak menggelengkan kepala maupun menganggukan kepalanya. “Masih sangat abu-abu, karena dia juga sering menghilang akhir-akhir ini. Namun, aku maupun rekan-rekan warrior yang lain sama sekali tak melihat keberadaannya bersama dengan anggota kelompok pemberontak. Jadi, kami belum bisa memastikannya.”
“Jika dia muncul kembali, kita harus segera menindaklanjutnya. Setidaknya kita bisa memanfaatkannya untuk mengetahui pergerakan terbaru mereka.” Mirelle menganggukan kepalanya, meskipun sejujurnya dia cukup yakin bahwa Sir Arthur sepertinya tak terlibat dalam hal ini.
“Oh ya Sir Xabian sempat mengajukan agar aktivitas portal dibatasi atau nonaktifkan sementara. Aku setuju mengenai hal itu. Banyaknya portal buatan membuat mereka bergerak begitu bebas, bahkan sampai ke dimensi manusia. Dengan menutup seluruh portal di dimensi kita untuk sementara waktu, kita dapat membatasi ruang gerak mereka. Mereka sudah memanfaatkan terlalu banyak fasilitas umum kita.” Para pejabat tinggi terlihat mengangguk menyetujui penuturan Mirelle.
“Itu adalah tindakan terbaik yang bisa kita lakukan sekarang, kita harus membicarakannya bersama dewan agung kerajaan dan Raja Finneas II secepatnya, agar dapat cepat terlaksana.”
“Kita juga harus menyampaikan nama semua para petinggi kementerian yang terlibat dengan kelompok pemberontak itu, jadi atur lebih lanjut mengenai pertemuan dengan seluruh menteri yang ada kaitannya dengan nama-nama yang kita pegang. Sampaikan pada mereka bahwa menteri pertahanan dan Lady Supreme Décasa Legendaris perlu bertemu dengan mereka secepatnya.” Menteri pertahanan Sir Laurentin berkata dengan lugas.
“Kurasa kita juga perlu bersiap karena penyerangan bahkan perang bisa terjadi kapan saja mengingat mereka tengah merekrut banyak anggota baru, hingga sampai ke dimensi penyihir. Bukan tidak mungkin kedepannya mereka merekrut bangsa werewolf dan vampire, terlebih kamp pelatihan mereka terletak dekat dengan perbatasan bangsa décasa dan bangsa werewolf.”
Sir Laurentin menghela nafas kasar mendengar penuturan Mirelle. “Kirim secepatnya berita ini pada Dewan Konferensi Perdamaian. Pertemuan bangsa-bangsa harus segera dilakukan agar kita memiliki banyak waktu dan bersiap dengan segala kemungkinan yang dapat terjadi kedepannya.”
“Sepertinya hanya itu yang bisa kusampaikan di pertemuan kali ini, segala informasi terbaru akan aku sampaikan segera,” ujar Mirelle menatap beberapa orang disekitarnya dengan hormat.
“Terima kasih atas semua informasinya lady, laporan ini benar-benar begitu berarti bagi kita semua. Lalu lady, meneruskan atas apa yang disampaikan oleh Raja Finneas II, bahwa Yang Mulia memberikan wewenang penuh kepada Lady Mirelle untuk membentuk pasukan sendiri, yang terdiri dari para warrior yang lady percayai. Hal ini merupakan bentuk perhargaan atas kesiapsiagaan Lady Mirelle dalam menangani seluruh permasalahan ini, semoga keputusan ini membuat Lady Mirelle semakin bersemangat dalam menghadapi tantangan yang ada.” Penuturan tersebut benar-benar menjadi berita baik untuk Mirelle, tentu dengan cepat gadis itu mengucapkan banyak terima kasih sebelum Sir Laurentin meninggalkan ruangan lebih dulu.
“Raja pada eramu benar-benar baik sekali Relle, aku sangat-sangat iri. Jujur sekali.”
“Sangat berbeda dengan eramu bukan? Dia bahkan merasa kalah saing kepopulerannya denganmu.”
“Diamlah sir, aku benar-benar tidak dalam kondisi perasaan yang baik sekarang.”
“Dia pasti iri sekali.”
“Pilihlah warrior yang kau percayai nak. Namun, berhati-hatilah dalam memilih karena kita tak tahu bagaimana hatinya, semua bisa berubah kapan saja tanpa kita sadari dan ketahui.” Mirelle menganggukan kepalanya ini mungkin menyangkut pasukan dalam perang nanti jadi ia harus sangat berhati-hati dalam memilih, dan tidak gegabah dalam mengambil keputusan.
“Mirelle, nak. Kau diminta untuk segera bertemu dengan tiga Hireuia Agung bersama pasanganmu, Samuel, secepatnya setelah kalian tiba di Dimensi Décasa. Aku sebenarnya ingin memberitahumu lebih awal mengenai hal ini, tetapi rapat tadi dimulai lebih cepat dari perkiraan, membuatku mau tak mau harus menundanya. Kabari aku segera waktunya, karena beberapa orang penting perlu hadir disana seperti orangtuamu, dan orangtua matemu.” Mirelle sempat memasang wajah bingung, sebelum akhirnya ia mendengar suara di kepalanya mulai berbicara.
“Bangsa décasa harus mengetahui apa yang terjadi, terutama terkait peristiwa reinkarnasi ini. Karena itu kami mengirimkan sejumlah informasi pada Hireuia Agung. Mengenai pasangan sejiwa, hal ini memang wajib disampaikan. Kau tentu mengingat era Putri Navenra bukan? Bagaimana Navenra dan Azelo diberitahukan perihal hubungan sejiwa mereka? Hal ini turun temurun untuk dilakukan. Pemberitahuan seperti ini diperlukan untuk mencegah siapapun yang mencoba untuk menjodohkanmu dengan pria lain, ataupun bersikap lancang untuk mendekatimu.”
Oh baiklah, itu memang sudah terjadi. Woah. Jujur saja aku merasa tersindir. Mirelle berusaha menelan salivanya dengan susah payah, mengingat kejadian ibu sang sahabat Madam Eliora yang berusaha menjodohkannya dengan Dimitris.
“Maka dari itu kami segera melakukannya.”
“Oh baiklah Sir Xabian, aku akan membicarakannya dengan Samuel untuk mengatur waktu longgar kami. Akan kuberitahukan secepatnya untuk waktu tepatnya.” Pria paruh itu mengangguk kecil lalu meninggalkan Mirelle lebih dulu.
“Sepertinya sebentar lagi bangsa décasa akan geger karena mengetahui kebenaranku dan Samuel, termasuk keluargaku juga. Helena pasti berisik sekali, aku curiga bahkan Karenina sudah membocorkannya pada Helena dan Bellanca.” Terdengar kekehan pelan dari beberapa selenarca yang membuat Mirelle hanya bisa menghela nafas lelah.
ㅤㅤㅤㅤ
𝐌 𝐈 𝐑 𝐄 𝐋 𝐋 𝐄ㅤ𝐌 𝐈 𝐑 𝐀 𝐍 𝐃 𝐀
┗━━━━━━━━━━━━━━┛
Seorang lelaki bersurai pirang bernama belakang Dé Milo menyunggingkan senyumnya, kala melihat sang décasa legendaris duduk dengan diam memandangi gelas berisi soda dingin dengan es batu kristal yang masih utuh di dalamnya. Sepertinya semesta tengah berpihak padanya sekarang, karena ia selalu bermimpi untuk bisa mendekati gadis itu merebutnya dari sang kembaran seperti yang ia lakukan di masa lalu, selama ini ia sulit sekali untuk melakukannya. Tapi itu tak berlaku untuk sore ini. Karena sore ini adalah keberuntungan jadi miliknya.
“Terlihat seperti sedang dalam kondisi yang tak baik, kau baik-baik saja lady?” Namun berbeda dengan yang sebelumnya kala mereka bertugas bersama untuk menggagalkan ritual, gadis itu tampak kurang bersahabat sekarang. Terlihat ia sama sekali tak menjawab penuturannya.
“Terlihat seperti butuh ditemani, aku akan duduk disini. Mungkin saja membuat suasana hatimu lebih baik.” Mirelle hanya menatapnya sekilas kala ia menyunggingkan senyumnya dan bergerak duduk di samping gadis itu.
“Terima kasih tapi aku tak butuh ditemani, khususnya oleh dirimu. Kau ingin aku dimusuhi temanku sendiri?” Hans terkekeh pelan mendengar kewaspadaan si gadis legendaris. “Menjadi décasa legendaris membuatmu jadi lebih sedikit waspada rupanya. Santailah lady legendaris, aku hanya menemanimu sebagai rekan kerjamu. Tentu saja temanmu itu tak akan mungkin marah.”
“Perlahan lalu kau akan merebutnya dari kembaranmu, seperti yang lalu bukan begitu? Rasanya aku sedikit familiar akan hal itu. Dulu kau menawari Freya hanya sebagai teman bicara untuknya bukan?” Mirelle menaikkan sebelah alisnya lalu pada akhirnya menatap lama ke arahnya.
“Kau butuh teman bicara? Aku mungkin bisa menemanimu disini, kau juga boleh menceritakan keluh kesahmu mengenai kembaranku, mungkin itu membuatmu lebih baik Frey.” Hans tiba-tiba saja melihat kejadian di masa lalu dari hanya menatap mata Mirelle saja. Ini kejadian yang lalu. Bagaimana Mirelle bisa mengetahuinya?
Keparat kau sialan! Oh tidak suara itu datang lagi. Jangan. Jangan sekarang. Ia benar-benar harus mencari cara agar ‘dia’ tak bisa menyentuh tubuh ini lagi. Bagaimana jiwanya bisa datang kembali?
“Merebut? Mirelle, kau terdengar seolah aku melakukan sesuatu yang jahat.” Putra Dé Milo itu terkekeh pelan. “Freya membutuhkan seseorang yang mengertinya, mendengarkannya. Aku hanya berada disana ketika dia membutuhkan seseorang untuk mendengarkan, dan dia merasa lebih aman denganku. Aku tidak menawarkan apa-apa Mirelle. Aku hanya menjadi lebih, hadir. Bukankah itu yang Samuel tak bisa lakukan saat itu?”
Kau benar-benar merusak identitasku! Bajingan! Kepala Hans benar-benar begitu berat sekarang, ia mencoba menahannya dengan susah payah.
Sang legendaris tertawa pelan mendengarnya. “Kau benar-benar terdengar sama persis seperti yang ada dalam ingatan Samuel, Hans.”
“Benarkah kau Hans?” Bagai ditinju di bagian dada, Hans merasa begitu sesak tak tertahan. “Tentu saja aku Hans, siapa lagi kalau bukan aku?”
Ia harus dapat kembali menguasai tubuh ini secara penuh. Harus.
Di lain sisi Mirelle semakin yakin bahwa memang benar ini bukan jiwa Hans yang asli, selama ini itu bukan jiwa Hans yang sebenarnya. Karena memang Hans yang asli telah wafat. Jadi saat itu juga ia putuskan untuk bangun dari duduknya dan mendekat ke arah lelaki itu. “Kau kira aku tak mengetahui rahasia terdalammu? Aku tahu semuanya, semuanya tanpa terkecuali. Kau benar-benar mencuri identitas kembaran Samuel sir, kau merusak citra baiknya. Kau tak layak untuk semua orang panggil Hans.”
Celaka décasa legendaris mengetahuinya, membuatnya terdiam beberapan saat dengan tawa kencang terus terdengar memenuhi indra dengarnya.
“Kau. Menyiksa pasangan sejiwaku dengan kehadiranmu. Kau pikir aku akan mengampunimu?”
Seseorang yang kini kita tahu bukan sosok kembaran Samuel yang asli itu tertawa pelan, seraya ikut mencondongkan wajahnya ia bertanya. “Mengampuni? Untuk apa aku membutuhkan ampunanmu? Hanya karena kau seorang décasa legendaris?”
Seraya menenangkan detakan liar jantungnya, dengan sedikit ketakutan juga kepanikan akibat diguncang dari berbagai sisi ia kembali berkata. “Kau bicara seolah-olah aku merampas sesuatu yang masih dimiliki seseorang yang masih hidup. Hans yang asli telah mati, Mirelle. Tak ada apapun di dalam tubuh ini saat aku bangkit, dan Samuel sendiri yang meminta Hans untuk kembali. Maka dari itu aku hadir, walau tak jadi Hans sesungguhnya. Apakah aku salah? Aku hanya berusaha untuk menghiburnya. Aku hanya mengambil alih tempat yang ditinggalkan oleh si pemilik asli tubuh ini. Mengapa kau menyebutnya pencurian?”
Kau! Memanfaatkan kesedihan dan keterpurukan kembaranku! Sialan! Denyut di kepala si Putra Dé Milo kian mulai menyita kewarasannya, membuatnya harus mati-matian mempertahankan kehadirannya kini.
“Kau memanfaatkan keterpurukan dan rasa kehilangan seorang anak kecil lelaki! Jika kau memang berniat menghibur, tentu semuanya tak akan berakhir seperti ini!” Mirelle menjambak rambut lelaki itu dengan tenaga besarnya.
“Semua memiliki harga yang wajib dibayar, aku menghibur pasangan sejiwamu maka ia harus menganggapku Hans. Sekarang kau menyebutku menyiksa pasangan sejiwamu? Bukankah lebih menyakitkan bagimu jika Samuel benar-benar terpuruk sendirian setelah kehilangan kembarannya? Aku membuat tawanya jadi nyata kala itu Relle. Berterima kasihlah padaku.” Lelaki itu tertawa kencang melihat kemarahan si legendaris.
“Kau membuat semuanya kian bertambah buruk, sialan!” Dengan kencang Mirelle menekan dada Hans hingga lelaki itu terdorong ke belakang.
“Oh Relle, kau sepertinya benar-benar mengeluarkan jiwa peniru itu. Kau menyalin darksoul casa yang mana?”
“Kuacungi jempol untuk sikap beraninya menantang seorang décasa legendaris, dia benar-benar tak takut apapun.”
“Jika jiwanya sudah didorong keluar seperti ini, bukankah berarti sekarang tubuh ini kosong?” Netra Mirelle melebar mendengarnya. Tunggu. Bukankah seharusna aku tak melakukan ini? Ini bisa jadi berita baik dan buruk untuk banyak pihak!
“Kau benar-benar mengeluarkannya? Dia tampak kembali sadar.” Tak hanya Mirelle dan para selenarca yang melebarkan netra, di hadapannya Hans juga ikut melebarkan netranya beberapa detik kemudian ia mengerjapkan netranya dan menatap Mirelle dengan tatapan kagum.
“Kau mengeluarkannya? Aku bisa menguasai kembali tubuh ini secara penuh.” Hans memperhatikan tubuhnya, membuat Mirelle juga para selenarca hanya bisa menganga tak mengerti apa yang terjadi dan memperhatikan lelaki itu dengan begitu lamat. “Hah?”
“Dia tampak seperti Hans yang kau temui waktu itu, saat dia mengajak Samuel pergi setelah membantumu.”
“Dia sama hangatnya dengan Hans yang mengkhawatirkan Samuel kala lelaki itu hilang kendali, nak.”
“Tunggu! Maksudmu ini jiwa Hans yang asli Sir Gideon?!”
“Sulit dipercaya, tapi itulah hal yang paling masuk akal.”
“Apa maksudmu? Itu sama sekali tak masuk akal!”
“Kau Hans Allerick Casa Dé Milo, kembaran Samuel?”
𝐌 𝐈 𝐑 𝐄 𝐋 𝐋 𝐄 𝐌 𝐈 𝐑 𝐀 𝐍 𝐃 𝐀
❝𝓓𝒆𝒄𝒂𝒔𝒂 𝓛𝒆𝒈𝒆𝒏𝒅𝒂𝒓𝒊𝒔❞
┗━━━━━━━━━━━━━━┛