Langkah kaki jenjangnya membawa terus memasuki lorong penjara yang diterangi lampu seadanya, tak membuat pusing namun tetap menerangi dengan baik. Setelah menghabiskan seharian penuh di perpustakaan kuno membaca dan memastikan kembali kemampuannya, ia pun kembali ke penjara Daratan Ambrose memeriksa perkembangan penyelidikan, ditambah ia juga memeriksa keadaan terkini si gadis pemberontak yang sempat ia hisap energinya
Apakah aku benar menghisap energinya? Apa benar aku memiliki casa yang sama seperti Pangeran Azelo? Apa aku benar-benar memiliki kemampuan sebesar ini? Benar-benar tak bisa dipercaya. Seperti mimpi. Batinnya terus meyakinkan diri, walau ia benar-benar merasa tak percaya diri. Dengan sorot wajah dingin, ia memandang si gadis pemberontak yang hanya diam di pojokan.
“Samuel!” Astaga! Seharusnya suara voxlink adalah hal biasa yang didengar olehnya, namun ia selalu saja terkejut mendengar suara gadis itu. “Ada apa?”
“Kau dimana?! Kita perlu menguji kemampuanmu!”
“Menguji kemampuanku?!”
“Ya! Tadi aku sudah mendapatkan hasil tes pembacaan ingatan, dan hanya satu orang yang ingatannya tak terkunci. Bukankah salah satu kemampuan darker casa bisa membuka penguncian ingatan? Ayo coba untuk membuka ingatan mereka!”
“Aku bahkan tak tahu cara menggunakannya Relle.”
“Maka dari itu kita harus mencobanya! Kita bertemu di Markas Daratan Ambrose sekarang, tunggu disana! Aku akan tiba dengan cepat jadi pastikan kau juga sampai dengan cepat, okay? Sampai bertemu!” Samuel mengerjapkan netranya dengan cepat, gadis itu bahkan tak membiarkannya untuk berbicara satu kata pun.
“Aku memang sudah ada di Daratan Ambrose sedari tadi asal kau tahu saja, Mirelle Miranda.” Ia terkekeh pelan serta menggelengkan kepalanya. Seraya berjalan dengan cepat ke tempat yang menjadi pertemuannya dengan sang legendaris, ia terus terbayang bagaimana raut wajah gadis itu kala berbicara dengan nada cepat dengan suara melengkingnya. Membuat pikirannya mantap berkata. Sialan mengapa gadis legendaris itu menggemaskan sekali?
Dari kejauhan ia melihat gadis itu tersenyum lebar seraya berlari kecil menghampirinya, membuatnya ikut tertular senyum itu seraya ikut berjalan ke arah si gadis dengan tangan yang dimasukan ke dalam saku celana. Namun kala ia sudah dekat dengan Mirelle, tiba-tiba saja muncul seutas kertas yang terbentang lalu kembali tergulung rapi di hadapan gadis itu. Surat balasan dari teman penyihir Mirelle, datang.
“Bisakah kau tak selalu membuatku terkejut, Cassandra?!” Dengan langkah cepat ia mengajak Samuel pergi ke ruangan yang terlihat sepi dan rahasia. “Cassandra?”
“Sial, aku menyebutkan nama asli temanku. Ya sudahlah, untung hanya kau sendiri yang mendengarnya.”
“Halo! Red Rose! White Swan kembali! Aku telah melakukan beberapa penyelidikan disini bersama lelakiku, dan kami menemukan fakta baru bahwa kasus penculikan sepertinya tak hanya terjadi di dimensimu, karena nyatanya di dimensi kami juga terjadi, meskipun sepertinya tak sebanyak yang ada disana. Kami sempat beberapa kali bertanya dan ya, banyak penyihir menghilang disini.”
“Selain itu, salah satu rekanku yang merupakan penyihir hitam juga bersaksi bahwa beberapa minggu ini terdapat sebuah perkumpulan rahasia yang hanya diketahui dari mulut ke mulut. Katanya, pertemuannya tertutup sekali. Aku curiga pertemuan yang dimaksud adalah pertemuan kelompok pemberontak ini Relle. Surat terbaru darimu telah sampai. Sialan aku ikut kesal, jika mereka telah mengosongkan markas mereka, dan semakin kesal lagi saat kau bilang mereka lari ke teritori kami.”
“Kurasa ini sudah saatnya kita bertemu Relle, mari bertukar informasi secara menyeluruh dan mencari markas mereka disini bersama. Aku akan memberitahu petinggi secara rahasia, akan kukabari secepatnya jika telah mendapat perizinan ya. Janji tak akan lama, karena ini adalah darurat aku yakin mereka akan cepat memberi keputusan.”
“Ngomong-ngomong kau masih waras dan tak beruban bukan karena mengurusi masalah ini? Baiklah! Salam sejahtera, dari Si Cantik White Swan. Muaaach!” Mirelle kembali berpandangan dengan Samuel yang meringis pelan mendengar suara teman sang legendaris. “Apakah memang semua surat, harus ada akhiran seperti itu? Kalian para wanita sudah gila sekali.”
“Enak saja, itu adalah etika pertemanan kau tahu!” Samuel langsung dibuat bergidik ngeri. “Menjijikan!”
“Kau sialan!” Satu pukulan mendarat dengan indah di bahu Samuel, membuat lelaki itu meringis kesakitan. “Kau ringan tangan sekali, Mirelle!”
“Kau duluan yang meledekku,” ujar Mirelle keluar dari ruangan dengan senyuman manis. “Aku hanya mengatakan fakta.”
“Ngomong-ngomong beritahu aku jika dia sudah mengabarimu lagi, aku akan ikut bersamamu ke teritori mereka.” Diam-diam senyum Mirelle mengembang kecil begitu mendengarnya, membuat beberapa suara dalam kepalanya ikut bersorak heboh. “Tentu saja, aku memang akan mengajakmu. Mana mungkin kau tak ikut bersamaku.”
“Aku menugaskan Karen dan Aiden untuk memeriksa camp mereka di perbukitan Moonlight Hollow, kami mendapatkan petunjuk itu dari ingatan salah satu dari mereka yang tak terkunci,” ujar gadis itu seraya berteleport menuju penjara, ia menyerahkan surat hasil tes itu pada Samuel.
Seraya membaca hasil tes yang diberikan Mirelle, lelaki itu menganggukan kepalanya beberapa kali. “Oh woah, itu petunjuk yang luar biasa. Rupanya dia masih calon anggota, pantas saja ingatannya belum terkunci.”
“Aku akan memanggil Axel dan yang lainnya untuk bersiaga di sekitar penjara barangkali hal tak yang diinginkan terjadi. Dan, sepertinya ini tak akan sebentar Relle, aku belum pernah menggunakan kemampuan ini jadi aku akan menghabiskan banyak waktu untuk mencobanya kalau memang benar kemampuanku ini darker casa.” Lelaki itu menatap dalam gadis di hadapannya, dalam tatapannya sang legendaris menangkap keraguan dan ketidak percayaan diri sang pasangan sejiwa.
Dengan wajah yang begitu percaya diri Mirelle mengedikkan bahunya. “Tak masalah, dua jam tiga jam lima jam. Mari kita mencobanya bersama. Mari kita cari tahu, bagaimana kemampuanmu itu bekerja.” Entah mengapa hati lelaki berhati dingin itu menghangat begitu mendengarnya, mungkin karena terbiasa melakukan banyak hal sendiri dan kini seorang gadis mau melakukannya bersama tak dapat dipungkiri ia sedikit menyukai tindakan gadis itu. Walau sepertinya wajar saja jika seorang décasa legendaris mau melakukan hal itu demi mengayomi rakyatnya.
“Baiklah, mari kita mencobanya.” Putra Dé Milo itu menganggukan kepalanya lalu mempersilahkan sang legendaris memimpin jalan.
“Karena kita tak tahu sebesar apa kemampuanmu itu, dan efeknya apa untukmu dan si korban. Mari kita coba pada décasa lelaki dulu, bagaimana?” tanya Mirelle berusaha menyamakan langkahnya dengan sang pasangan sejiwa, membuat lelaki itu menganggukan kepalanya tanpa menunggu lama. “Itu ide yang bagus, aku setuju denganmu.”
Dan tibalah mereka di sel penjara pertama yang mereka lalui, seseorang lelaki yang tengah menunduk langsung menegakkan kepalanya kala melihat siapa yang datang. Senyumnya merekah kala kedua décasa warrior itu membuka pintu selnya, lelaki itu pasrah begitu salah seorang décasa warrior memasangkan borgol di tangannya.
“Kau tahu Sir Samuel, aku menunggu waktu untuk bertemu denganmu. Aku mengenalmu dengan baik. Aku juga mengenal kembaranmu dengan baik.” Ia berharap perkataan itu dapat memprovokasi lelaki Dé Milo itu seperti yang lalu, namun tampaknya lelaki itu sama sekali tak peduli, malah justru si legendaris lah yang memicingkan netranya dan sekilas memandang ke arah si rekan berharap mendapat jawaban.
“Aku akan membuatkanmu perisai agar suara lain tak mengganggumu, fokuslah pada percobaanmu Sam.” Mirelle langsung bereaksi kala lelaki itu memegang bahu si pemberontak.
“Kau tak mengingatku? Dulu sekali kita pernah bertemu, bersama dengan ayahmu, ayahku, tunggu apa kita harus menganggap lelaki sialan itu? Yang dulu begitu kau sayangi sampai kau berkata rela menukar jiwamu hanya untuk dirinya.” Samuel memicingkan netranya sesaat, namun selanjutnya ia kembali menunjukkan raut tak peduli dengan tangannya yang memegang kepala lelaki itu erat seraya memejamkan mata.
Sang legendaris tersenyum kala Samuel sama sekali tak terganggu atas penuturan lelaki pemberontak itu. “Ya, seperti itu. Tetap fokuslah Sam, aku akan memberimu energi tambahan agar kejadianku yang lalu tak kau alami juga.” Tangan kanan gadis itu sudah bersiaga di belakang tubuh Samuel, bersiap memberikan energi tambahan pada lelaki itu
Entah apa maksud lelaki itu. Samuel, mari buat diri ini berguna untuk sang legendaris. Jika benar ia mengenalku dengan baik, dan pernah bertemu sebelumnya, mari buktikan padanya bahwa ini diri kita yang sebenarnya dan ia tak berhak menganggapnya dengan remeh. Batinnya berkata dengan jantung yang mulai berdegup begitu cepat.
Jika memang darker casa ini adalah kemampuan yang diperuntukkan untukku, maka izinkan aku menggunakan kemampuan ini dan membuatnya berguna. Tak peduli segelap dan sedalam apa, aku akan menggunakannya dengan baik dengan segala kerendahan hatiku. Demi membuka segala rahasia mereka. Demi Décasa Legendaris. Batin Samuel menekan tangannya di kepala si pemberontak di hadapannya.
Ia merasakan hatinya berdenyut sesak selama beberapa saat, kemudian ia merasa kekuatan merasuk tubuhnya dengan cepat. Mengisi pembuluh darah, pikiran, hingga hatinya. Mengisi ruang dingin nan kosong yang terkadang membuatnya dihantui rasa menyesakkan, melapisinya dengan perisai kokoh yang membuatnya tak dapat tersentuh dengan mudah. Tak sampai disitu, ia juga merasa kembali bugar setelah sempat dilanda rasa remuk yang tak berkesudahan.
“Lanjutkan, energiku akan membuatmu tetap bugar walau kau dibuat lemas hingga titik terdalam. Aku tak akan membiarkanmu runtuh. Samuel.” Bagai nyanyian surga, suara sang legendaris menyentuhnya dengan hangat bagai memberikannya sebuah tiupan kehidupan.
“Kau pemilik casa dark eye? Kau berniat membuka kunci ingatanku? Silahkan buka saja, bukalah jika kau bisa membukanya. Aku akan menyambutmu dengan baik Sir Samuel.” Seraya tertawa kencang lelaki itu memancing Samuel untuk menjelajahi ingatannya, ia bahkan tetap berani menatap netra sang Kapten Castiel walau netranya memejam.
Merasa ditantang seperti itu Samuel kian menekan kepala lelaki itu, lalu beberapa detik kemudian netranya terbuka lebar dengan sempurna menunjukan keseluruhan warna hitam dengan keabuan di tengahnya. Seraya menyunggingkan senyum miring lelaki itu berkata. “Baiklah, aku akan mengetuk pintu ingatanmu dengan meriah. Berjanjilah kau akan menyambutku dengan baik ya.”
Detik itu juga lelaki tersebut berteriak dengan begitu kencang hingga membuat langkah Axellio dan warrior lainnya yang sebelumnya berjalan dengan begitu santai dibuat berlari kencang karena terkejut dan penasaran dengan apa yang sesungguhnya terjadi. Bahkan Hans dan Freya yang baru saja sampai pun dibuat ikut panik dan segera menyusul untuk melihat apa yang terjadi. “Samuel. Sesuatu terjadi pada kembaranku!”
“Tunjukkan jika kau memang menyambutku dengan baik Tuan Muda Raghav, aku telah mengetuk pintu ingatanmu dengan begitu meriah.” Mirelle menganggukan kepalanya lalu tersenyum kecil, lelaki itu melakukannya dengan begitu baik. Maka dari itu ia akan memberikan energinya dengan sepenuh hati. Namun beberapa detik kemudian netranya berkilat emas. Tunggu, mengapa aku seperti melihat sekilas ingatan Samuel?
Bagai menggali dalam pikiran, bagai menarik dari tempat terdalam, Samuel lakukan demi membuka jawaban atas segala yang disembunyikan. Berbagai ingatan lelaki pemberontak tersebut merasuk pikirannya, dari mulai yang paling baru hingga yang sudah lama berlalu, dari yang membuatnya mengangguk dengan senyuman miring karena mendapatkan yang dicari, hingga ekspresinya berubah karena merasa melihat yang tak perlu. Tunggu. Dia anak dari seseorang yang membantu ritual kami? Dia mengetahui rahasia menjijikan itu? Mereka bergabung dalam pemberontakan?
Bagai memiliki keterkaitan, Samuel merasa ingatannya ikut terbuka lebar. Menunjukkan segala fakta yang ia ketahui, walau ia tak mengingatnya dengan jelas. Menunjukkannya segala yang ia sempat hindari dan lupakan, hingga membuatnya dapat kembali mengingat dengan begitu tajam. Menampilkan yang sebenarnya, tanpa bisa ia cegah meski sekalipun ia berkata tidak.
“Ka tahu yah, sepertinya ini bukan ide yang bagus. Aku merasa ragu. Bukankah jika kita melakukannya, itu akan menyakiti Hans? Dan yang dalam pikiranku, aku rasa itu bukan Hans. Hans tak pernah menyakitiku yah.” Jelas! Ini jelas ingatan masa lalunya. Mengapa tak ada yang memberitahunya jika melakukan proses pembukaan ini akan membuat ingatannya ikut terbuka juga?!
“Seharusnya bukan seperti itu cara kerjanya nak. Tapi kau membuka ingatan salah seorang dari masa lalumu secara kebetulan dan membuat ingatanmu ikut terbuka, kau harus menghadapinya. Kau harus menghadapinya dengan gagah berani dan berdamai dengannya. Kau bisa, pasangan jiwamu bersamamu nak.”
“Bukankah kita sudah sepakat? Mari melakukannya untuk ibu Sam, kau tak ingin membuat ibumu bersedih kan? Kau bilang sendiri pada ayah. Hans atau bukan, dia mirip sepertimu dan Hans, dan dia adalah satu-satunya yang bisa kita pakai.”
“Aku lebih baik menukar jiwaku untuk kembaranku daripada harus berurusan dengan dia ayah, dia bahkan membuatku gila dalam pikiranku.”
“Maka dari itu kita keluarkan dari pikiranmu nak, ayo kita mencobanya dulu Samuel.”
Aku benar-benar tak kuat jika harus kembali mengingatnya dengan jelas, tolong samarkan! Samarkan! Batin Samuel berbicara dengan begitu resah dan kacau. Suara kesakitan mulai terdengar dari bibirnya, meski ia mencoba menahannya dengan menggigit bibir, tangannya kian mencengkram erat kepala lelaki pemberontak itu, membuat teriakan dan rintihan kesakitan itu terus terdengar begitu menyakitkan.
“Samuel akhiri Samuel, ini sudah melewati batas.” Mirelle menekan erat bahu Samuel, seraya menepuk bahu lelaki itu beberapa kali.
“Samuel Zadkiel! Tolong hentikan!” Hans menggigit bibirnya resah kala mendengar seruan kencang Mirelle yang tengah menenangkan sang kembaran, tanpa pikir panjang ia masuk ke dalam sel penjara menyusul Samuel kembarannya dan si gadis legendaris.
“Hentikan Samuel! Jangan gila! Kau bisa menyakiti dirimu sendiri!” Mirelle menoleh sekilas melihat Hans yang tampak begitu berbeda dari yang biasanya, dengan sekilas ingatan Samuel yang merasuk pikirannya ia dapat menebak sesuatu hal besar terjadi di masa lalu dan ini benar-benar begitu serius tak tampak baik.
Teriakan kembali terdengar dari bibir Samuel, membuat Mirelle dirundung sesak yang begitu menyakitkan. Apa kutukan kesakitan pasangan sejiwa itu mulai berlaku padanya dan Samuel? Jadi benar Samuel adalah pasangan jiwanya? “Samuel!”
Apa yang harus aku lakukan?! Bagaimana cara menghentikannya?! Ini sangat menyakitkan! Apa yang harus aku lakukan untuk menghilangkannya?! Tekanan di punggung Samuel kini telah berganti jadi remasan kencang pada coat yang dipakai lelaki itu. Jika ia merasakan nyeri semenyakitkan ini pada dada dan kepalanya, bagaimana Samuel yang merasakannya langsung?
“Dia harus menghadapinya Mirelle, dia harus berdamai dengan masa lalunya.”
Tidak! Ia belum sanggup menghadapinya! Aku tak akan membiarkannya seperti ini! Ingatan itu akan menghancurkannya, ingatan itu akan menghancurkan pasangan jiwaku! Jangan gila!
Mirelle menutup netra Samuel dengan tangan kirinya, menutupi netra hitam yang terus menatap tajam dengan keabuan di tengahnya, lalu kembali menekan tangan kanannya di punggung lelaki itu memberikannya energi tambahan. “Bisakah kau kembali Samuel? Cukup untuk yang satu ini! Sangat cukup! Tolong dengarkan aku.”
“Samuel Zadkiel Casa Dé Milo!” Saat itu juga Samuel merasa waktunya berhenti sejenak, saat itu juga ia merasa segala ingatan yang terputar di kepalanya berubah berganti dengan wujud lelaki dan gadis dengan baju zirah perang yang saling bergenggaman tangan dengan kening yang bersatu saling berpasrah diri.
Ia mengenalnya, amat mengenalnya. Karena itu adalah dirinya dan Mirelle. Jantungnya dibuat berdegup tenang, wajahnya bagai kembali disapa angin yang menenangkan. Mengapa ia bersama dengan Mirelle? Ingatan siapa yang ia lihat? Apakah ini ngatan Mirelle?
“Mari berjuang dan bertahan hidup, sayang. Kau sudah berjanji padaku untuk hidup dua ratus tahun.”
“Denganmu, bahkan beribu tahun pun aku akan hidup. Sayangku.”
Apa ini? Apa yang ku lihat? Apakah maksud dari semua ini? Mengapa aku dan Mirelle? Namun ingatannya kembali berganti pada saat keduanya bergelut panas di sebuah ranjang berwarna emas dengan seprai merah yang begitu mewah. Saling menggigit, menarik serta mendorong dengan kuat menyambut sebuah kenikmatan besar, menarikan sebuah tarian tanpa pedang untuk menyambut sebuah kekuatan besar.
Tunggu! Mengapa aku melihat ini? Ini bukan ingatan Mirelle bukan? Mengapa ada aku di dalamnya? Lalu ingatan tersebut kembali memudar dan digantikan dengan apa yang sebelumnya ia lihat, membuatnya kembali di landa rasa menyesakkan dengan cepat. Beberapa detik kemudian rasa tenang kembali menyapanya dan terus berganti dengan begitu cepat.
“Kau harus kembali sebelum energi sang legendaris benar-benar habis untuk menyelamatkanmu, nak.”
“Ya ya, tentu saja. Ia sudah merasakan apa yang kau rasakan dan kini dia akan menghabiskan seluruh energinya untukmu. Kau mau membiarkannya begitu saja? Sangat tidak gentle!” Samuel melepaskan pegangan tangannya pada lelaki itu membuatnya langsung terkulai lemas jatuh di lantai, sedangkan dirinya memegangi telinganya karena pening mendengar segala cuitan yang entah dari mana itu berasal.
Dengan segera Mirelle memerintahkan rekannya untuk mengurus si pelaku pemberontak sementara ia berusaha mennyadarkan sang pasangan. Pada akhirnya Freya ikut masuk ke dalam berusaha ikut memeriksa keadaan. “Samuel!”
“Mirelle, ada apa dengan Samuel?” Gadis legendaris tersebut tak menjawab penuturan sang rekan, tangannya dingin bergetar dilanda panik yang tampak tak berkesudahan. Netra lelaki itu memejam dengan tangan yang mengepal di kedua telinganya.
“Samuel! Samuel kembali! Kau dengar suaraku bukan?” Di raupnya wajah yang mulai tampak pucat itu, dan diusapnya dengan penuh kelembutan. Bagai disambar petir, Mirelle melihat wujud lelaki dan gadis dengan baju zirah perang yang saling bergenggaman tangan dengan kening yang bersatu saling berpasrah diri.
“Mari berjuang dan bertahan hidup, sayang. Kau sudah berjanji padaku untuk hidup dua ratus tahun.”
“Denganmu, bahkan beribu tahun pun aku akan hidup. Sayangku.”
Dari situ ia dibuat sadar bahwa lelaki itu benar-benar pasangan jiwanya. Setengah bagian dirinya, yang kan terikat dalam kutukan dan kenikmatan bersama di sepanjang hidupnya.
“Terkadang untuk kami para décasa legendaris dan orang-orang tertentu, penglihat tersebut bukan hanya sebuah mimpi di siang bolong nak. Barangkali itu sebuah petunjuk.”
“Sir Gideon benar, kau akan menemukan jawabannya di buku yang telah Mirelle baca nak, dan barangkali kau sadar sebenarnya kami telah menunjukkan banyak petunjuknya.”
“Samuel! Kembalilah sekarang juga!” Saat itu pula Samuel langsung membuka netranya dan langsung dihadapkan dengan netra seorang gadis berwarna emas yang yang tengah menangkup pipinya dengan kepanikan yang begitu melanda.
Ia lihat Hans tak jauh dari posisinya dengan Freya di sampingnya, sepertinya ia benar-benar tak terkendali hingga membuat banyak orang hadir dan berada disisinya.
“Syukurlah kau kembali. Terima kasih, terima kasih.” Gadis itu menenggelamkan wajahnya di ceruk lehernya, memeluknya erat dengan penuh kehangatan, memeluknya seolah tak ada hari esok. Sedangkan kini dirinya hanya terdiam berusaha mencerna semuanya. Namun pelukan hangat itu membuatnya tak tahan untuk segera membalasnya, menjatuhkan segala lelahnya di ceruk leher gadis itu, serta mengeluarkan segala gundahnya, juga menelisik maksud dari penglihatannya.
“Syukurlah kau tak apa, Sam. Syukurlah.” Hans menghela nafas lega, mendudukan dirinya di lantai.
“Kau gila?! Kau mengeluarkan kemampuanmu pada warrior itu? Woah, syukurlah kau tak apa, Sam. Syukurlah.” Ia mengenalnya, ia mengenal baik kata-kata itu. Dalam diam netranya timbul dari balik ceruk leher sang legendaris menatap sekilas sang kembaran. Mengapa ia tampak seperti benar-benar Hans? Oh tidak, seperti ini lagi, dia salah makan lagi.
ㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤ
𝐌 𝐈 𝐑 𝐄 𝐋 𝐋 𝐄 𝐌 𝐈 𝐑 𝐀 𝐍 𝐃 𝐀
┗━━━━━━━━━━━┛
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Samuel hanya dapat duduk memandang kosong suasana sekitarnya, kala ia selesai melakukan pemeriksaan kesehatan oleh Mirelle dan beberapa healer lainnya. Pikirannya masih begitu berantakan setelah kejadian yang hampir merenggut kewarasannya itu. Terkadang memikirkan hal di masa lalu yang kini sudah terekam jelas di ingatannya tak mau terlupa, kadang memikirkan perubahan Hans yang membuatnya kembali bertanya-tanya, dan kadang memikirkan apa maksud dari segala yang terlihat dibenaknya juga suara di kepala yang masih sulit diterima di akalnya.
Sir Gideon? Aku mendengar seseorang di kepalaku memanggil nama Sir Gideon, bukankah Sir Gideon adalah keturunan legendaris ketiga dalam sejarah? Mengapa bisa ada di pikiranku? Aku benar-benar sudah gila. Kewarasanku tadi sepertinya benar-benar direnggut seluruhnya. Samuel menggelengkan kepalanya lalu menundukannya. Kepalanya benar-benar dirundung pening sekarang.
Ia menoleh cepat kala mendengar pintu terbuka dan menampilkan Mirelle yang terlihat lebih segar dengan surai yang terikat rapi oleh pita, tangan kanannya membawa sebotol ramuan yang sudah ia kira adalah ramuan penambah energi. Sial, dulu ia memberikannya pada Mirelle kini terjadi sebaliknya.
“Ramuan penambah energi untukmu, aku tambah juga beberapa bahan khusus yang dapat membugarkan tubuh, dan menenangkan pikiranmu. Minumlah sekarang, aku meraciknya sendiri untukmu.” Dengan senyuman lembut gadis itu menyerahkan botol kecil itu padanya.
Ia menganggukan kepalanya dan menerima botol itu dengan cepat, tak mau membuat gadis itu menunggu lama. “Terima kasih Relle.”
Seraya meminum ramuan itu, gadis legendaris tersebut terus menatapnya dengan intens seolah jika pandangannya beralih sekejap Samuel akan langsung hilang dari radarnya. Sejujurnya, hal itu membuat dirinya sedikit lebih gugup dan cepat meminum ramuan seraya memejamkan netranya. Walau dikenal dingin, rasanya siapapun pasti akan tak karuan jika ditatap dalam-dalam oleh si keturunan legendaris.
“Kau tak apa Sam? Apakah kepalamu masih pusing? Apakah dadamu masih sesak?” Ia menaikkan alisnya bingung, bagaimana bisa gadis itu tahu apa yang dirasakannya tadi? Namun pada akhirnya ia hanya menggelengkan kepalanya cepat. “Sekarang aku sudah merasa lebih baik, kau tak perlu khawatir.”
“Bagaimana mungkin aku tak khawatir begitu mendengar kau berteriak kencang dan terlihat sangat kesakitan, hm? Kau bahkan sulit sekali untuk aku sadarkan. Raut wajahmu terlihat begitu tersiksa, teriakanmu mungkin terdengar hingga ke lantai atas saking kencangnya,” ujar Mirelle dengan wajah yang begitu panik, setiap katanya diwarnai penekanan bagai sebuah kewajiban untuk didengar.
“Aku sudah tak apa Relle, kau bisa melihatnya sendiri bukan? Aku sudah baik-baik saja sekarang.” Samuel menjelaskan seraya menunjukkan tubuhnya yang jauh lebih bugar.
“Sebenarnya apa yang terjadi, Sam? Mengapa kau bisa menjadi seperti itu?” Samuel hanya diam tak tahu harus mengatakan apa, karena ini terjadi terlalu tiba-tiba untuknya ia pun tak pernah menyangka semuanya akan terbuka lebar seperti ini. Beberapa menit kemudian ia baru mengangkat suaranya. “Berkaitan dengan ingatanku yang terkunci dan ikut terbuka saat proses pembukaan ingatannya itu.” Hanya mengatakan yang seperlunya dan menyembunyikan sisanya, untuk saat ini.
“Ingatanmu pernah dikunci?” tanya Mirelle melebarkan netranya, lelaki itu menganggukan kepalanya sekali. “Jauh lama sekali, ketika aku masih kecil.”
Mirelle menganggukan kepalanya mengerti ucapan Samuel. Kemudian ia pun melangkah maju mendekatkan dirinya, lalu bergerak memeluk lelaki itu erat melepaskan segala riuh rasa khawatirnya. “Aku merasakan sesak dan sakitnya Sam, aku benar-benar tak tahu harus melakukan apa lagi agar membuatmu cepat sadar.”
“Seharusnya aku tak memaksamu untuk melakukan ini, andai saja aku tak memaksamu melakukan pembukaan ingatan itu mungkin kau tak akan berakhir seperti ini.” Samuel melebarkan netranya tak menyangka sang legendaris akan mengatakan hal seperti itu. Dengan cepat ia menggelengkan kepalanya lalu menatap lembut netra gadis yang sebelumnya memeluknya itu. “Mirelle, dengar. Aku melakukan ini, karena aku pun ingin melakukannya. Aku ingin membuat casaku berguna, aku ingin mencari tahu bagaimana casaku bekerja. Ini sama sekali bukanlah kesalahanmu.”
“Tapi aku yang mendorongmu untuk melakukan itu.” Netra keduanya saling mengikat dengan dalam, tak ada yang mampu membuatnya berpaling, tak ada yang mampu membuatnya terlepas. Samuel menganggukan kepalanya. “Dan akhirnya kita tahu bagaimana kemampuan ini bekerja.”
Samuel menarik sang legendaris duduk di pangkuannya dengan lembut. “Cepat atau lambat aku akan seperti itu karena membuka penguncian ingatannya Relle, karena dia sudah mengenalku kala aku kecil. Ingatan kami berkaitan maka dari itu aku bereaksi seperti itu dan ikut membuka ingatanku.”
“Jadi maksudmu, kau mungkin tak akan bereaksi jika bukan dia yang kau buka ingatannya?” Lelaki bermarga Dé Milo itu menganggukan kepalanya. “Tapi bukankah kita akan membuka penguncian ingatan pemberontak yang lainnya? Maka dari itu cepat atau lambat ingatanku akan ikut terbuka, meskipun dia bukanlah orang pertama yang aku buka penguncian ingatannya.”
“Kau tak harus membuka ingatan yang lainnya lagi. Sudah cukup dia saja.” Gadis itu memeluk erat leher lelaki di hadapannya, membiarkan wajahnya tenggelam dalam ceruk si Kapten Castiel dan perlahan nyaman dengan wewangian segar yang membuatnya tenang.
Tindakan gadis itu membuat darah Samuel berdesir hebat, netranya memejam sesaat kala kulitnya bersentuhan lembut dengan milik sang legendaris, memaksanya untuk ikut mengukung gadis itu dalam rengkuhan hangat yang kan membuatnya terbang tak menapak tanah. Belum lagi wewangian yang dipakai gadis itu membuatnya dimabuk gila tak ingin berhenti menciumnya. “Mana bisa seperti itu! Kau tak penasaran dengan ingatan yang lainnya? Aku benar-benar penasaran, aku akan membukanya satu persatu nanti.”
“Apakah kau bisa menjamin untuk pembukaan kunci ingatan yang selanjutnya kau tak akan bereaksi seperti itu lagi? Jika ya, aku akan mengizinkanmu. Namun jika kau ragu, aku tak akan segan-segan untuk mengatakan tidak!” Sial, Samuel hanya diam tak bersuara karena ia sendiri masih ragu. Tadi adalah pertama kali untuknya, mana mungkin ia bisa menjamin yang selanjutnya sementara ia sendiri masih dalam proses mempelajarinya.
“Bilang ya, bilang ya, bilang ya. Kami yang akan menjamin itu tak terjadi.” Ia benar-benar sudah gila, ia mendengar suara itu lagi. Suara yang tahu dari mana asalnya.
“Oh Relle, sekarang kau mementingkan urusan pribadimu? Dia harus melakukan itu agar kita dapat mengetahui petunjuk lainnya. Jangan egois!”
“Semua décasa legendaris memang selalu egois ya di awal pengikatan dengan pasangan jiwanya. Aku pun dulu seperti ini. Aku juga diamuk seperti ini dulu relle.”
“Enak saja! Hanya kau, Jasper dan Mirelle sekarang. Kami tidak seperti ini.”
“Ya, aku akan menjaminnya. Jadi izinkan aku untuk membuka ingatan mereka lagi Relle,” sahut Samuel dengan tegas, menghentikan pembicaraan para selenarca di kepalanya. Netranya menatap dalam sang legendaris, seolah tak ada keraguan di matanya.
“Oh dia mengikuti saran kita, itu bagus.”
“Jika salah satu dari mereka kembali memanggil namamu, aku akan langsung menyeretmu keluar karena itu berarti dia mengenalmu. Seperti tadi.” Mirelle menatap tajam, sedangkan Samuel hanya terkekeh pelan. “Ya, deal. Tapi aku pastikan tak ada lagi yang mengenalku.”
“Kita lihat nanti.” Gadis bermarga Dé Luca itu mengedikkan bahunya, membuat Samuel hanya tersenyum kecil memandang dengan intens. Gadis itu benar-benar mengkhawatirkannya, ia merasa hangat sekali.
Lalu kemudian netranya memicing menyadari hal yang sedari tadi membuatnya bingung. “Kau bilang tadi kau merasakan sakit yang kurasakan? Apa itu benar Relle? Kau merasakan kepalamu sakit? Dadamu sesak?” tanya lelaki itu memicingkan netranya. Dan dengan cepat Mirelle menganggukan kepalanya. “Ya, aku merasakannya. Benar-benar merasakannya.”
“Mana mungkin bisa seperti itu.”
“Kenyataannya, itu memang terasa sampai diriku. Mau bagaimana lagi.” Mirelle mengedikkan bahunya santai, sedangkan lelaki di hadapannya hanya dapat menatap bingung. “Mengapa bisa seperti itu? Tidak mungkin”
“Itu terjadi pada kami para décasa legendaris dan pasangan sejiwanya.” Sang legendaris mengalungkan kedua tangan di lehernya, menatapnya penuh kelembutan. Membangkitkan sekelebat kata-kata yang ia rasa pernah ia dengar sebelumnya. Pasangan sejiwa?
“Seharusnya bukan seperti itu cara kerjanya nak. Tapi kau membuka ingatan salah seorang dari masa lalumu secara kebetulan, dan membuat ingatanmu ikut terbuka, kau harus menghadapinya. Kau harus menghadapinya dengan gagah berani dan berdamai dengannya. Kau bisa, pasangan jiwamu bersamamu nak.”
Tidak mungkin. Bukankah pasangan jiwa hanya berlaku bagi para werewolf? Sejak kapan bangsa décasa juga mendapat karunia itu. Seraya menggelengkan kepalanya, ia terkekeh pelan. “Itu tidak mungkin, bukankah pasangan jiwa hanya berlaku bagi para werewolf?”
“Aku sudah bilang padamu sebelumnya Sam. Besok-besok kau harus banyak membaca buku dan merasakannya sendiri.” Lelaki bermarga Dé Milo itu memicingkan netranya berusaha mencerna maksud penuturan sang legendaris.
“Kau harus memegang kata-kata yang kau ucapkan dulu, dan jangan berani untuk pergi kemana-mana. Kau harus menepati janjimu itu.”
“Memangnya siapa yang akan pergi?”
“Kuharap kau tak akan menyesali perkataanmu begitu kau mengetahuinya.”
Apa ini berkaitan dengan gambaran ingatan yang ia lihat tadi? Mengenai dirinya dan Mirelle yang ada dalamnya? Ini masih sulit dipercaya, sangat sulit dipercaya. Dan sialnya, degupan jantungnya kian terasa kencang sekarang, desiran darahnya kian hangat kala gadis itu menatap dalam netranya. Apakah itu nyata? Apakah lelaki sedingin dan tak diharapkan sepertinya menjadi pasangan jiwa sang legendaris?
“Mirelle.”
“Ya?”
“Apa itu benar?”
“Mungkin kita akan menemukan jawaban pastinya setelah melakukan hal ini.” Dengan perlahan gadis itu menyatukan ranum merahnya dengan bibir sang rekan dengan penuh kelembutan, membuat keduanya dilanda buncah bahagia yang tak berkesudahan, bak dua bintang yang bertabrakan hingga mencipatakan sebuah ledakan. Begitu merasa utuh, begitu mendamba sebuah kenikmatan yang hanya bisa mereka dapatkan dengan saling berpagut erat.
Saling menyesap lembut, mendamba sebuah oksigen yang hanya bisa didapatkan dikala mereka bertaut. Saling mencari jawaban atas apa yang membuat mereka penasaran. Dan benar, benar apa yang telah Mirelle baca sebelumnya. Dikala bibir berpagut, maka gambaran masa depan akan datang menyambut. Kini keduanya dapat melihat dengan jelas bersama masa depan mereka, yang saling melangkah bersama, yang saling menggenggam takdir bersama, yang hadir dalam arena perang bersama dengan jari bertaut begitu erat.
“Kau milikku, Samuel. Milikku.” Si gadis legendaris kian memeluk erat leher sang pasangan jiwa, dan Samuel yang kian menarik sang legendaris erat dengan pinggang yang diremas kian lembut. lumatan mereka kian dalam, mencipatakan suara decakan dan desahan samar yang terasa begitu indah untuk didengar. Semakin gila kala dilanjutkan, karena terasa sangat memabukkan.
Mirelle jelas mengetahui mengapa hal itu bisa terjadi, karena sesuai yang ia baca. 'Ciuman pertama décasa legendaris dan pasangan jiwanya adalah penanda resmi pertama yang dilakukan bak pembuka gerbang hubungan sakral mereka. Akan terasa begitu memabukkan karena ini kali pertama mereka bertautan dan saling menjatuhkan kehidupan. Jika bangsa werewolf menggigit leher untuk menandai pasangan mereka, maka keturunan legendaris bangsa décasa akan berciuman untuk menandainya. Biasanya setelah ciuman ini, tato tanda matahari dan sabit akan muncul di bagian tubuh keduanya'
“Sial, kau benar-benar memabukkan Mirelle.”
𝐌 𝐈 𝐑 𝐄 𝐋 𝐋 𝐄 𝐌 𝐈 𝐑 𝐀 𝐍 𝐃 𝐀
❝𝓓𝒆𝒄𝒂𝒔𝒂 𝓛𝒆𝒈𝒆𝒏𝒅𝒂𝒓𝒊𝒔❞
┗━━━━━━━━━━━━━━┛