Meski terlihat menakjubkan di langit malam, meteor bisa menjadi ancaman serius jika ukurannya cukup besar dan tidak habis terbakar di atmosfer. Sejarah mencatat peristiwa ledakan udara seperti di Chelyabinsk, Rusia tahun 2013, yang menyebabkan lebih dari 1.000 orang terluka akibat gelombang kejut dari ledakan meteor.
Pemantauan Objek Langit
Lembaga antariksa seperti NASA, ESA, dan BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) secara aktif memantau Near-Earth Objects (NEOs), yaitu benda langit yang melintas dekat orbit Bumi. Di Indonesia, BRIN menggunakan teleskop dan sensor untuk memonitor objek luar angkasa yang berpotensi memasuki atmosfer (BRIN, 2021).
Negara-negara maju telah mengembangkan sistem early warning berbasis sensor infrasonik dan satelit untuk mendeteksi meteor yang meledak di udara. Data dari NASA's Center for Near Earth Object Studies (CNEOS) memungkinkan peringatan cepat dan pemetaan lokasi ledakan atmosfer (NASA, 2023). Indonesia sendiri masih dalam tahap pengembangan sistem ini namun memiliki potensi besar melalui BRIN dan jaringan observatorium lokal.
Masyarakat memiliki peran penting dalam melaporkan fenomena langit seperti kilatan terang atau suara dentuman. BRIN mengimbau publik untuk melaporkan fenomena langit yang tidak biasa agar dapat dianalisis oleh astronom (BRIN, 2021). Pelibatan masyarakat menjadi kunci pengamatan lapangan dan dokumentasi awal.
Beberapa meteorit telah ditemukan di Indonesia dan diteliti untuk mengetahui asal-usul dan kandungan mineralnya. Penelitian ini penting karena meteorit membawa informasi tentang komposisi awal tata surya (Yulianto & Prihantoro, 2018). Bahkan, ditemukan pula senyawa organik sederhana dalam meteorit yang membuka peluang studi asal-usul kehidupan (Hermawan, 2012).
Langkah paling ambisius datang dari misi DART (Double Asteroid Redirection Test) oleh NASA, yang berhasil mengubah lintasan asteroid kecil pada 2022. Misi ini menjadi tonggak awal pertahanan planet jika di masa depan asteroid besar benar-benar mengancam Bumi (NASA, 2022).