Discussion and Action Guide
Discussion and Action Guide
Film dokudrama menjadi pilihan utama sebagai genre film penciptaan karena keunggulannya yang tidak hanya informatif dan edukatif tetapi juga dramatis dengan penokohan karakter yang kuat sehingga menawarkan asosiasi dan prediksi dari narasi yang diceritakan. Salah satu contoh inspirasi film dokudrama adalah film The Social Dilemma (2020). Informasi yang disampaikan dalam film tersebut cukup rumit karena membahas mengenai artificial intelligence dan technological developments, bagi orang awam yang tidak memahami teknologi informasi ini cenderung susah dipahami. Dengan pendekatan film dokudrama, informasi dapat disampaikan secara persuasif dan kehadiran karakter mengajarkan penonton untuk memahami siapa, apa dan bagaimana semua bisa terpengaruh dan terjerumus dalam jerat candu media sosial. Tujuan ini yang ingin diraih dalam penciptaan film dokudrama, yaitu menjadi alat untuk mengajak orang berpikir, merefleksikan apa yang didapatkan setelah menonton film tersebut dan membuka ruang untuk diskusi selain juga untuk meningkatkan kemampuan literasi khususnya dalam bidang finansial dan kesehatan maternal. Berkaitan dengan fenomena sosial yang diangkat, beberapa contoh film yang diproduksi di Indonesia tersebut belum ada yang mengaitkan topik spesifik kehamilan usia muda dan risiko malnutrisi, sehingga fenomena ini menjadi sesuatu yang baru untuk diproduksi menjadi sebuah film dokudrama.
Perbedaannya dengan film fiksi dan non-fiksi, film dokudrama dilengkapi dengan media visual, discussion and action guide. Pedoman ini digunakan untuk memfasilitasi diskusi dan dialog terkait topik kehamilan muda, perempuan serta peran ibu dalam kehidupan berkeluarga. Ini menjadi bagian penting untuk menikmati film bukan lagi sebagai media entertainment tetapi juga media edukasi dimana informasi-informasi yang ada dalam film bisa dikaji lebih lanjut. Pedoman ini bisa dipakai dalam lingkup keluarga, komunitas maupun sekolah. Pedoman memaparkan pertanyaan-pertanyaan pemantik sehingga tujuan akhir film tidak hanya membuat audiens paham, melainkan juga peduli kemudian menjadi advokat dalam topik sosial ini.
Bagan Metodologi Penciptaan Dokudrama
Bagan Metodologi Penciptaan Dokudrama dengan
Framework Video for Change
Film dokudrama mengandung dua unsur yang harus ditentukan metode penceritaannya sehingga proses pemetaan masing-masing aspek fiksi maupun non-fiksi diperlukan untuk memperjelas rancangan film. Pada tahap ini ide penciptaan dirumuskan menjadi sebuah outline berbentuk tabel, di mana outline ini menjabarkan bagaimana sebuah fenomena sosial dituangkan dalam bentuk premis film dan penentuan karakter yang akan dipakai dalam penceritaan, selain itu latar belakang karakter diperkenalkan dan masalah-masalah yang dihadapi ditulis secara singkat.
Dokudrama meleburkan dan mensitesa suatu produk hybrid yang kemudian juga populer dengan nama dokufiksi. Dokudrama merepresentasikan fakta kemudian diorganisir ke dalam suatu materi visual yang estetik dengan memasukkan aspek narasi di dalamnya, elemen karakter hadir dalam ranah dokufiksi. Materi fakta dan data dapat disampaikan melalui: (1) komentar voiceover; (2) newsreel footage; (3) elemen gambar atau tulisan pendek yang menjabarkan elemen visualnya; (4) wawancara. Konsep riset, menuliskan sumber serta memberikan pernyataan resmi merupakan proses yang ditawarkan oleh film dokumenter. Sedangkan film drama memberikan konsep mise-en-scene atau yang sering dikenal dengan visualisasi yang diorganisir dalam sebuah frame, mulai dari adegan, karakter, penyutradaraan, kostum, pencahayaan serta setting.
Karya diciptakan melalui 3 tahapan utama perancangan film, mulai dari proses pre-produksi, produksi hingga paska-produksi sehingga menghasilkan sebuah film dokudrama. Kemudian setelah adanya film dokudrama akan dilakukan focus group discussion bersama pakar film untuk mengevaluasi hasil akhir sebelum film ditayangkan kepada khalayak luas.
Bagan Temuan Metode Penciptaan Dokudrama
Pada penciptaan film dokudrama ini, fase pre-konsep dan konseptual menjadi fase riset awal dimana ide inspirasi ditemukan. Pada fase pre-konsep, ide utama dan format dokudrama dipilih sehingga dapat diketahui riset topik apa selanjutnya yang menjadi nyawa dari penciptaan ini. Pada fase pre-produksi, produksi dan paska-produksi, dilakukan penulisan skenario untuk pembuatan konten, lalu syuting serta yang membawa sedikit perbedaan ada pada tahapan paska-produksi. Pada fase ini, kedua materi sekuens disunting terpisah sebelum dikompilasi menjadi masing-masing sekuens, dan difinalisasi dalam final sequences. Kemudian setelah itu baru dilakukan audio editing dan color correction atau yang sering disebut online editing.