Dalam galeri ini, menyajikan beberapa peninggalan sejarah yang berada di dalam Museum Lampung
Gambar 1. Kelompok 6 observasi Museum Lampung
Halaman utama Museum Lampung
Museum Lampung punya luas total sekitar 17.010 meter persegi, yang mencakup area bangunan dan halamannya. Halaman museum ini nggak cuma jadi ruang terbuka, tapi juga punya beberapa fasilitas pendukung buat pengunjung. Di halaman museum, pengunjung bisa nikmatin taman, lihat monumen atau patung, duduk santai di tempat istirahat, manfaatin tempat parkir yang luas, ikut acara di ruang terbuka, atau sekadar jalan-jalan di jalur pejalan kaki yang tersedia.
Gambar 2. Kelompok 6 observasi Museum Lampung
Naskah buku kulit kayu
Naskah yang ditulis di atas kulit kayu dengan aksara dan bahasa Lampung adalah salah satu warisan budaya tertulis yang unik dari masyarakat Lampung. Naskah ini jadi bukti gimana orang Lampung zaman dulu menyimpan dan mewariskan pengetahuan, sejarah, dan nilai-nilai budaya lewat tulisan dan bahasa daerah. Naskah di atas kulit kayu ini berkembang di masa lalu di kalangan masyarakat Lampung. Kulit kayu dipakai sebagai media menulis karena banyak tersedia di daerah itu dan lebih awet dibanding bahan lain kayak daun lontar. Tradisi ini muncul sebelum adanya kertas dan diperkirakan berlangsung selama beberapa abad. Biasanya, kulit kayu yang dipakai berasal dari pohon tertentu, misalnya pohon saeh (sejenis pohon beringin) yang seratnya kuat. Kulit kayu ini diolah dengan cara tradisional dulu, baru dipakai buat menulis. Naskah-naskah ini diperkirakan dibuat sekitar abad ke-19.
https://jim.iainkudus.ac.id/index.php/MINARET/article/view/2279
.
Gambar 3. Kelompok 6 observasi Museum Lampung
Benda - benda peninggalan Raden Intan II
Raden Intan II adalah pahlawan nasional dari Lampung yang berjuang melawan penjajahan Belanda di pertengahan abad ke-19. Beberapa peninggalan penting dari Raden Intan II bisa ditemukan di sekitar makamnya, yang sekarang jadi tempat wisata sejarah di Lampung Selatan. Di area makam ini ada museum mini yang nyimpen barang-barang bersejarah peninggalan beliau, kayak senjata yang dipakai buat melawan Belanda, termasuk meriam, lila, dan senapan. Museumnya ada di Benteng Cempaka, salah satu benteng pertahanan Raden Intan II waktu menghadapi serangan Belanda. Selain itu, di sana juga ada gundukan tanah yang katanya dulu dipakai sebagai benteng pertahanan buat lawan pasukan Belanda. Lokasi makam ini dekat sama Gunung Rajabasa, yang juga punya banyak bekas benteng-benteng perang lainnya.
https://lampung.idntimes.com/travel/destination/tama-wiguna/fakta-unik-wisata-sejarah-makam-pahlawan-radin-inten-ii-di-lamsel
Uang kertas dan uang logam yang pernah beredar di Lampung
Sebagai bagian dari negara, Lampung juga mengalami perubahan sistem moneter sebelum dan sesudah kemerdekaan Indonesia. Pada masa penjajahan Belanda, mata uang yang dipakai di seluruh Hindia Belanda, termasuk Lampung, adalah mata uang yang diterbitkan oleh De Javasche Bank. Mata uang ini terdiri dari uang kertas dan koin, yang dipakai dalam perdagangan lokal dan regional di Lampung dan pulau-pulau lainnya. Saat Jepang menduduki Indonesia di Perang Dunia II, uang kertas dan koin Belanda udah nggak dipakai lagi. Jepang malah ngenalin mata uang baru yang disebut gulden Jepang, atau "uang invasi", yang dikenal dengan nama "uang Dai Nippon". Mata uang ini cepat melemah begitu Jepang mulai kalah perang. Setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, pemerintah Indonesia harus menghadapi tantangan besar untuk mengeluarkan mata uang baru. Pada 30 Oktober 1946, pemerintah Indonesia akhirnya mengeluarkan uang kertas pertama yang dikenal dengan ORI (Oeang Republik Indonesia). ORI ini beredar di wilayah yang dikuasai Republik Indonesia, termasuk Lampung, meskipun peredarannya terbatas. Nilainya bervariasi, dari 1 sen sampai 100 rupiah. Sementara itu, di daerah yang masih dikuasai Belanda setelah proklamasi, Belanda memperkenalkan mata uang baru yang disebut mata uang NICA (Netherlands Indies Civil Administration). Di Lampung, yang masih di bawah kekuasaan Belanda pasca Perang Kemerdekaan, juga beredar mata uang NICA. Di masa Orde Lama di bawah Presiden Sukarno, Indonesia mulai menstabilkan mata uangnya, dan di Lampung sudah pakai rupiah, mata uang Indonesia. Setelah reformasi, Bank Indonesia terus memperbarui desain dan simbol uang kertas dan koin yang beredar di seluruh Indonesia, termasuk Lampung.
https://katadata.co.id/ekonopedia/sejarah-ekonomi/6293ede343c32/mengenal-orida-mata-uang-yang-pernah-mewarnai-perjalanan-indonesia
Gambar 4. Kelompok 6 observasi Museum Lampung
Al-Qur'an Tulis Tangan
Al-Qur'an tulisan tangan yang ada di Museum Lampung adalah salah satu koleksi berharga yang nunjukin sejarah kedatangan dan penyebaran Islam di daerah ini. Al-Qur'an ini ditulis di atas kertas deluang, sejenis kertas tradisional yang terbuat dari kulit kayu. Selain itu, ada juga naskah-naskah lain yang ditulis menggunakan aksara Arab dan Lampung, yang nunjukin pengaruh budaya lokal yang berpadu dengan Islam. Sayangnya, banyak naskah ini yang nggak ada informasi soal tahun penulisannya. Selain Al-Qur'an, museum ini juga punya koleksi artefak bersejarah lain yang berkaitan dengan Islam, seperti kitab-kitab fiqh dan nahwu, peralatan rumah tangga yang dihiasi kaligrafi, serta prasasti dan benda peninggalan zaman Kerajaan Sriwijaya. Koleksi-koleksi ini menunjukkan gimana Islam dan budaya lokal Lampung saling memengaruhi sejak dulu.
https://khazanah.republika.co.id/berita/ncp2v5/menapak-jejak-islam-di-lampung-bagian-3habis
Gambar 5. Kelompok 6 observasi Museum Lampung
Arca prajnaparamita
Arca Prajnaparamita adalah salah satu patung terbaik dari zaman Jawa kuno yang menggambarkan Dewi Prajnaparamita, dewi kebijaksanaan transendental dalam ajaran Buddha Mahayana. Arca ini ditemukan di reruntuhan Cungkup Putri dekat Candi Singhasari, Malang, Jawa Timur, dan masyarakat setempat percaya kalau itu adalah perwujudan Ken Dedes, ratu pertama Singhasari. Ada juga yang berpendapat kalau arca ini menggambarkan Gayatri, istri Kertarajasa, raja pertama Majapahit. Arca Prajnaparamita ini dipahat dengan sangat halus, menampilkan dewi yang sedang meditasi di atas padmasana (duduk teratai) dengan wajah yang tenang dan penuh kebijaksanaan. Ia memegang bunga teratai biru dengan kitab suci di atasnya, yang melambangkan kebijaksanaan. Patung ini terbuat dari batu andesit abu-abu, dengan tinggi 126 cm, dan ada prabha (aura) di belakang kepalanya yang melambangkan kesuciannya. Arca ini pertama kali ditemukan pada tahun 1818.
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Arca_Prajnyaparamita
Gambar 6. Kelompok 6 observasi Museum Lampung
Prasasti Bawang & Prasasti Bungkuk
Prasasti Bawang yang juga dikenal dengan nama Prasasti Hujung Langit, adalah salah satu simbol sejarah penting di Lampung. Teksnya ditulis dengan aksara Pallawa dan menggunakan bahasa Melayu Kuno. Prasasti ini ditemukan di Desa Haver Kuning dan diperkirakan berasal dari tahun 919 Saka, atau sekitar 997 Masehi. Teks ini diyakini berisi hibah tanah Sima, yang merupakan bentuk kepemilikan atau penguasaan tanah pada masa itu. Meskipun penulisan artikel ini agak panjang, informasi penting tetap bisa ditemukan.
Prasasti Bungkuk adalah artefak sejarah penting yang berasal dari Kerajaan Sriwijaya. Dokumen ini dianggap sebagai bukti kuat kekuasaan Sriwijaya di Sumatera. Berdasarkan informasi yang ada, dokumen ini berisi kutukan untuk pemberontak dan penentang kerajaan. Isi teks-teks tersebut mencerminkan kehidupan sosial dan hukum pada masa itu, serta menunjukkan bagaimana para penguasa Sriwijaya menggunakan kekuatan spiritual untuk menjaga stabilitas kerajaan.
https://semuatentangprovinsi.blogspot.com/2017/10/peninggalan-sejarah-provinsi-lampung.html
Gambar 7. Kelompok 6 observasi Museum Lampung
Lumpang Batu
Lumpang batu adalah salah satu barang yang ada di Museum Lampung dan termasuk bagian dari koleksi sejarah yang menggambarkan kehidupan masyarakat Lampung di masa lalu. Lumpang ini terbuat dari batu dan dipakai sebagai alat tradisional untuk menumbuk padi, bumbu, atau biji-bijian. Barang-barang seperti ini bisa ditemukan di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Lampung, karena sangat penting dalam kehidupan pertanian dan pekerjaan rumah tangga masyarakat agraris zaman dulu. Lumpang batu ini merupakan teknologi sederhana yang digunakan nenek moyang kita dalam kehidupan sehari-hari.
https://tambahpinter.com/koleksi-museum-lampung-dan-penjelasannya/
Gambar 8. Kelompok 6 observasi Museum Lampung
Peninggalan Fosil Homo Sapiens
Homo sapiens yang merupakan bagian penting dari sejarah manusia di Indonesia. Fosil ini menunjukkan keberadaan manusia purba yang hidup di wilayah Nusantara pada masa lalu. Homo sapiens adalah spesies manusia modern yang pertama kali muncul sekitar 200.000 tahun lalu, dan fosil-fosil yang ditemukan di Indonesia, termasuk di Lampung, membantu menggambarkan evolusi manusia di kawasan Asia Tenggara.
Selain itu, juga memamerkan artefak lain yang berkaitan dengan kehidupan zaman dahulu, seperti kapak bundar dan alat bertahan hidup lainnya yang digunakan oleh masyarakat zaman dahulu, yang menunjukkan gambaran kehidupan dan kehidupan masa lalu mereka. Kumpulan fosil ini menunjukkan perkembangan manusia dari zaman purba hingga zaman modern, menjadikan kajian evolusi manusia di Indonesia sangat bermakna.
https://pergimulu.com/museum-lampung/
Gambar 9. Kelompok 6 observasi Museum Lampung
Homo Erectus
Homo erectus adalah salah satu koleksi fosil manusia purba terbesar yang ada di Museum Lampung. Homo erectus ini merupakan nenek moyang manusia modern yang hidup antara 1,8 juta hingga 300.000 tahun lalu. Di museum ini, pengunjung bisa melihat berbagai koleksi yang menggambarkan kehidupan masyarakat zaman dulu, termasuk alat-alat yang digunakan dan fosil Homo erectus yang ditemukan di wilayah Sumatera. Museum Lampung nggak hanya menyimpan fosil Homo erectus, tapi juga memamerkan artefak lain dari dunia manusia purba, seperti kapak, kotak, dan keji. Koleksi ini memberikan gambaran tentang bagaimana Homo erectus hidup dan berinteraksi dengan lingkungannya pada masa lalu.
https://museum.kemdikbud.go.id/museum/profile/uptd%20museum%20negeri%20provinsi%20lampung
Gambar 10. Kelompok 6 observasi Museum Lampung
Lava Bomb
Lava bomb yang dipamerkan di Museum Negeri Lampung "Ruwa Jurai" adalah salah satu koleksi yang berhubungan dengan geologi, terutama sejarah letusan hebat Gunung Krakatau pada tahun 1883. Lava bomb ini adalah batuan vulkanik yang terbentuk saat lava panas dan cair terlontar dari gunung berapi, kemudian mendingin di udara sebelum jatuh kembali ke bumi. Bentuknya yang padat dan ukurannya yang bervariasi membuatnya jadi bukti penting dari aktivitas vulkanik di masa lalu. Di museum ini, lava bomb menjadi bagian dari koleksi yang menunjukkan fenomena alam luar biasa itu, memberikan pengunjung pemahaman tentang sejarah geologi di wilayah Lampung, yang terdampak oleh letusan Krakatau. Koleksi ini juga menjadi cara untuk mengingatkan kita tentang kekuatan alam yang bisa memengaruhi kehidupan manusia, terutama bagi yang tinggal di sekitar kawasan vulkanik.
https://www.jelajahlampung.com/museum-lampung/
Gambar 11. Kelompok 6 observasi Museum Lampung
Tembikar nasional masyarakat Lampung
Tembikar khas masyarakat Lampung adalah salah satu warisan budaya Indonesia yang sangat berharga, terutama dalam hal kerajinan tangan. Tembikar ini merupakan hasil dari tradisi kerajinan tanah liat yang sudah ada sejak berabad-abad di wilayah Lampung, dan masih terus dilestarikan oleh masyarakat adat setempat.
https://ejournal.brin.go.id/nw/article/view/5634
Gambar 12. Kelompok 6 observasi Museum Lampung
Pelaminan adat Lampung Sai Batin
Adat Sai Batin adalah salah satu dari dua sistem besar di Lampung, selain ritual Pepadun, dan pelaminan adat ini menjadi simbol dari nilai-nilai tradisional yang kaya akan budaya. Pernikahan adat Sai Batin biasanya digunakan dalam acara besar seperti pernikahan dan begawi (upacara adat besar). Sai Batin sendiri adalah sistem feodal di mana pemimpin atau raja turun-temurun (dikenal juga sebagai Sai Batin) memiliki kekuasaan besar dengan struktur hierarki yang kuat. Karena itu, pelaminan Sai Batin dirancang dengan sangat indah dan penuh simbol status sosial. Balai Perkawinan Adat Sai Batin Lampung yang ada di Museum Lampung menampilkan kebudayaan dan sistem sosial masyarakat Lampung. Dengan desain yang cantik dan simbolik, pelaminan ini mencerminkan status sosial, keluhuran, dan kehormatan dalam budaya Sai Batin. Altar ini menjadi harta budaya yang sangat berharga, menggambarkan kehidupan masyarakat Lampung serta usaha mereka dalam melestarikan warisan budayanya.
Gambar 13. Kelompok 6 observasi Museum Lampung
Perahu Lesung
Perahu lesung adalah salah satu artefak penting yang menggambarkan kehidupan laut dan budaya masyarakat Lampung di masa lalu. Perahu ini sudah lama digunakan sebagai alat transportasi oleh masyarakat di sekitar saluran air, sungai, danau, hingga lautan, terutama di daerah pesisir atau dekat sungai dan danau. Selain menjadi peninggalan sejarah, perahu lesung juga menjadi simbol warisan dan keterampilan tradisional masyarakat Lampung. Meskipun terlihat sederhana, perahu ini sangat fungsional dan menunjukkan betapa masyarakat Lampung sangat bergantung pada lingkungan, terutama air, untuk kelangsungan hidup mereka.
Gambar 14. Kelompok 6 observasi Museum Lampung
Alat musik tradisional Lampung kulintang atau talo balak
Kulintang mulai dikenal di Lampung sekitar abad ke-IV hingga V Masehi. Gamelan adalah alat musik sejenis xilofon yang berasal dari skala brak Lampung Barat. Alat musik ini terbuat dari bambu betung dan disusun menjadi enam nada, yaitu: Do, Re, Mi, Sol, La, Si, dan Do. Gamelan juga ditemukan dalam relief Candi Borobudur yang berasal dari abad ke-VIII Masehi (Prof. Margaret J.K, 1983). Gamelan merupakan alat musik pukul, yang bunyinya dihasilkan dari ketukan atau pukulan pada badan alat musik. Alat ini sering dimainkan bersama dengan sekhdam untuk mengiringi lagu, sastra lisan, dan tari dalam upacara adat.
Gambar 15. Kelompok 6 observasi Museum Lampung
Maket dari prosesi adat begawi cakak pepadun
Maket atau replika prosesi adat Begawi Cakak Pepadun adalah gambaran visual dari salah satu prosesi adat penting di Lampung. Maket ini menggambarkan rasa hormat masyarakat Pepadun terhadap tradisi dan pengakuan status sosial dalam upacara serta perayaan sakral. Dalam konteks sejarah, model ini membantu melestarikan tradisi dan menjadi sarana bagi generasi muda untuk belajar tentang kekayaan budaya Lampung. Maket adalah model tiga dimensi dari suatu bangunan, objek, atau proses yang dibuat untuk mewakili sesuatu secara realistis. Dalam budaya Lampung, maket yang menggambarkan prosesi Begawi Cakak Pepadun sering digunakan sebagai alat untuk mengajarkan dan melestarikan budaya, membantu generasi muda memahami makna dan proses yang terjadi dalam prosesi tersebut. Biasanya, maket ini menampilkan berbagai aktivitas, tokoh-tokoh penting, serta praktik budaya seperti pakaian adat, rumah adat (lamban), dan simbol-simbol yang digunakan selama prosesi.
Gambar 16. Kelompok 6 observasi Museum Lampung
Lumbung Padi
Lumbung padi yang ada di halaman Museum Lampung adalah contoh arsitektur tradisional masyarakat Lampung. Lumbung ini digunakan untuk menyimpan hasil beras dan memiliki peran penting dalam kehidupan petani Lampung. Biasanya, tempat penyimpanan beras ini terletak dekat dengan bangunan-bangunan tua.
https://pergimulu.com/museum-lampung/
Gambar 16. Kelompok 6 observasi Museum Lampung
Rumah Kenali ( Lambang Pesagi )
Rumah ini berasal dari Pekon Kenali, yang terletak di Kecamatan Belalau, Kabupaten Lampung Barat. Rumah tradisional yang dikenal dengan nama "Lemban Pasagi" ini sudah ada sekitar 300 tahun dan merupakan rumah pedesaan tua. Meskipun sudah sangat tua, rumah ini tetap kokoh meski pernah mengalami gempa yang melanda wilayah Lampung Barat. Rumah Kenali yang ada di Museum Lampung memiliki nilai sejarah dan budaya yang sangat penting karena mewakili arsitektur tradisional Lampung serta kehidupan masyarakat Lampung di masa lalu. Bangunan ini dirancang dengan pondasi yang tahan terhadap gempa, mencerminkan bagaimana masyarakat setempat beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Selain itu, rumah ini juga menjadi saksi sejarah kehidupan sosial dan budaya di Lampung yang sudah berlangsung selama berabad-abad.
https://yopiefranz.com/2017/01/lebih-dekat-dengan-koleksi-museum-lampung/
Gambar 17. Kelompok 6 observasi Museum Lampung
Prosesi upacara kematian Lampung
Di masyarakat Lampung, ketika seseorang meninggal, ada tradisi yang dilakukan seperti tahlilan, kemudian dilanjutkan dengan niga hari, tujuh hari, empat puluh hari, nyeratus, dan nyeribu. Tradisi ini mirip dengan yang ada di masyarakat Jawa, namun di Lampung, jenazah ditutup dengan kain khusus yang disebut limor, serta dilengkapi dengan alat lain seperti pedupan. Pedupan adalah alat untuk meletakkan dupa atau kemenyan di dekat jenazah.