“ICOR yang rendah mencerminkan efisiensi penggunaan modal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Di Papua, rasio ICOR rata-rata sebesar 3,86 selama 2010–2019 menunjukkan bahwa efisiensi investasi mulai membaik. Bahkan, pada 2019 tercatat ICOR negatif –1,75, menandakan output tetap tumbuh meski investasi menurun — ini indikasi bahwa sektor ekonomi bekerja lebih optimal.”
— Marsi Adi Purwadi (Dosen FEB Universitas Cenderawasih) dan Fandini Diamona Jamaluddin (Mahasiswa FEB Universitas Cenderawasih),
Analisis ICOR terhadap Efisiensi Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Papua
“ICOR merupakan indikator penting untuk mengukur efisiensi investasi daerah. Semakin rendah nilai ICOR, semakin efisien penggunaan modal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Di Sumatera Utara, meskipun masih terdapat ketimpangan antar wilayah, tren penurunan ICOR di sejumlah kabupaten/kota menunjukkan adanya perbaikan efisiensi investasi—khususnya pada daerah yang mampu mengelola potensi dan teknologi secara tepat.”
— Masta Juwita Gurning dan Rita Herawaty Bangun, Fungsional Statistisi, Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara,
Incremental Capital Output Ratio: Efisiensi Investasi Perekonomian Kabupaten/Kota di Sumatera Utara
“Nilai ICOR yang tinggi menandakan investasi belum efisien, karena dibutuhkan lebih banyak modal untuk menghasilkan tambahan output. Selama 2015–2019, ICOR Kota Semarang cenderung tinggi, rata-rata sebesar 11,15—jauh dari ambang ideal 3–4. Namun, tren penurunan dari tahun ke tahun menunjukkan adanya perbaikan efisiensi, terutama pada sektor pertanian yang tercatat paling efisien dibanding sektor lain.”
— Muhamad Yamani, Fungsional Statistisi di BPS Kota Semarang,
Analisis Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Kota Semarang