Keanggunan Konya, Kota Tokoh Sufi Dunia
Di kota Konya inilah, tokoh sufi Jalaluddin Rumi menyebarkan ajaran cintanya.
OLEH HASANUL RIZQA
Berbagai manuskrip Arab dari masa lampau menyebutnya sebagai Quniya. Kota yang dimaksud saat ini lebih dikenal dengan nama Konya. Inilah salah satu kota tertua yang masih dihuni di dunia. Riwayat sejarahnya merentang sejak zaman tiga ribu tahun sebelum Masehi (SM).
CL Cahen dan Goodwin dalam Historic Cities of the Islamic World (2008) menerangkan, Konya mencapai puncak kegemilangan sejak diperintah Dinasti Seljuk. Pada abad ke-13, kota tersebut menjadi pusat peradaban Persia-Islam di tengah situasi ancaman serangan bangsa Mongol.
Banyak tokoh besar yang turut mendukung perkembangan itu. Di antaranya adalah penyari-sufi Jalaluddin Rumi. Karya agungnya, Matsnawi, digubahnya kala bermukim di kota seluas 38 ribu kilometer persegi itu.
Kini, Konya termasuk wilayah Republik Turki. Lokasinya berada di dataran tinggi Anatolia Tengah, atau sekitar 250 km dari arah selatan Ankara. Jauh sebelum Islam datang, daerah tersebut telah dikuasai berbagai rezim pemerintahan. Mulai dari bangsa Frigia, Persia, Hellenistik—melalui ekspansi Aleksander Agung pada abad keempat—hingga Romawi Timur atau Bizantium.
Alih-alih Konya, masyarakat Roma kala itu menamakannya sebagai Iconium. Barulah pada abad ke-11, orang-orang Turki di bawah bendera Kesultanan Seljuk berhasil merebut kawasan subur tersebut.
Menurut Cahen dan Goodwin, sejak 1190 Konya telah meneguhkan statusnya sebagai sebuah pusat peradaban Islam. Penguasa Seljuk tidak hanya mendirikan berbagai masjid besar di sana, tetapi juga madrasah, universitas, dan perpustakaan umum. Otoritas setempat juga mengizinkan dibukanya tempat-tempat perkumpulan kaum sufi (khanqah).
Umumnya, setiap khanqah selalu bersebelahan dengan masjid dan madrasah. Ekosistem itu terus dipelihara rezim-rezim sesudahnya, termasuk Daulah Turki Utsmaniyah yang berjaya sejak awal abad ke-14.
Popularitas Konya tak mungkin lepas dari ketokohan Jalaluddin Rumi. Sosok yang bernama asli Jalaluddin Muhammad itu sesungguhnya lahir di Balkhi, kini termasuk wilayah negara Afghanistan. Namun, ayahnya, Bahauddin Walad, kemudian memboyong keluarganya ke arah barat untuk menghindari invasi Mongol. Mereka lantas menetap di Konya yang saat itu dipimpin seorang penguasa Seljuk yang sangat mencintai ilmu pengetahuan, yakni Alauddin Kayqubad.
Sebagian besar hidup Rumi dihabiskan di Konya. Fokusnya tercurah untuk dunia tasawuf sejak kedatangan Burhanuddin Muhaqqiq—yang juga sahabat ayahnya—ke kota tersebut pada 1232. Ia sempat merantau ke luar daerah untuk belajar fikih mazhab Hanafi. Sesudah itu, dirinya kembali pulang untuk mengajar di Madrasah Khudavandgar.
Pada 1244, Rumi berjumpa dengan seorang salik misterius, Syamsi Tabrizi. Pertemuan itu berdampak begitu besar bagi kehidupannya kemudian. Ia tak hanya menjadi seorang alim yang memahami fikih dan tasawuf, tetapi juga sangat lancar menggubah karya sastra, untuk mengomunikasikan pelbagai hikmah sufistik kepada khalayak luas.
Rumi wafat pada 17 Desember 1273 di Konya. Lautan manusia mengiringi pemakamannya. Tidak hanya dari kalangan Muslim, tetapi juga komunitas Kristen dan Yahudi setempat. Hal itu menandakan sifat universal dari ajaran-ajarannya, yang termaktub dalam berbagai karya gubahannya.
Pemerintah kota Konya kemudian mendirikan bangunan besar yang meliputi makam Rumi dan Bahauddin Walad. Bangunan tersebut dilengkapi dengan kubah khas arsitektur Turki berwarna hijau toska. Dahulu, namanya adalah Yesil Turbe (Makam Hijau), tetapi kini lebih dikenal sebagai Museum Mevlana. Itu merujuk pada panggilan Rumi semasa hidupnya, “Maulana”.