Tingkat Keanekaragaman Hayati Menurut UU nomor 5 tahun 1994, variasi atau keanekaragaman daianatara mahluk hidup baik daratan maupun lautan. jadi keanekaragaman hayati adalah keanekaragaman di antara makhluk hidup di semua wilayah, yaitu daratan, lautan, dan ekosistem akuatik lain, serta kompleks-kompleks ekologi yang merupakan bagian dari keanekaragamannya. Keanekaragaman ini meliputi keanekaragaman dalam spesies, serta keanekaragaman antara spesies dan ekosistem. Keanekaragaman hayati juga dapat diartikan sebagai keanekaragaman makhluk hidup di suatu lingkungan tertentu yang ditimbulkan oleh dua faktor, yaitu faktor gen (penentu sifat) dan faktor lingkungan (iklim, tanah, suhu). Ada tiga tingkatan dalam keanekaragaman hayati, yaitu keanekaragaman hayati tingkat gen, spesies, dan ekosistem.
Keanekaragaman Hayati Tingkat Gen Keanekaragaman hayati tingat gen merupakan keanekaragaman yang ditimbulkan oleh adanya variasi gen atau struktur gen dalam suatu spesies makhluk hidup. Gen merupakan faktor pembawa sifat keturunan yang terdapat dalam kromosom. Setiap susunan gen akan memberikan penampakan (fenotipe), baik anatomi maupun fisiologi pada setiap organisme. Perbedaan susunan gen akan menyebabkan perbedaan penampakan, baik pada satu sifat atau secara keseluruhan. Keanekaragaman hayati tingkat gen dapat ditunjukkan dengan adanya variasi dalam satu jenis (spesies). Keanekaragaman ini disebut varietas yang umumnya digunakan untuk tumbuhan atau ras yang umumnya digunakan untuk hewan dan manusia.
Ciri-ciri keanekaragaman hayati tingkat gen antara lain adalah memiliki nama ilmiah yang sama, memiliki perbedaan morfologi yang tidak terlalu mencolok, dan memiliki variasi. Berikut ini adalah contoh keanekaragaman hayati tingkat gen.
a. Keanekaragaman hayati tingkat gen pada tumbuhan
Padi (Oryza sativa) Beberapa varietas tanaman padi antara lain adalah padi rojolele, padi ciherang, padi ciliwung, padi cibogo, dan padi IR-64.
Mangga (Mangifera indica) Beberapa varietas tanaman mangga antara lain adalah mangga manalagi, mangga golek, mangga gedong, mangga cengkir, dan mangga arumanis.
Pisang (Musa paradisiaca) Beberapa varietas tanaman pisang antara lain adalah pisang raja sereh, pisang kepok, dan pisang ambon.
Durian (Durio zibethinus) Beberapa varietas tanaman durian antara lain adalah durian petruk, durian bawor, durian matahari, durian monthong, dan durian sememang.
Kelapa (Cocos nucifera) Beberapa varietas tanaman kelapa antara lain adalah kelapa kopyor, kelapa gading, dan kelapa hibrida.
Salak (Salacca edulis) Beberapa varietas tanaman salak antara lain adalah salak bali, salak pondoh, dan salak condet.
b. Keanekarahaman Hayati Tingkat Hewan
Kucing (Felis catus) Beberapa ras pada kucing antara lain adalah kucing anggora, kucing persia, kucing sphinx, dan kucing madura.
Kambing (Capra aegagrus) Beberapa ras pada kambing antara lain adalah kambing alpen, kambing etawa, kambing boer, dan kambing saanen.
Anjing (Canis familiaris) Beberapa ras pada anjing antara lain adalah anjing bulldog, anjing golden retriever, anjing herder, dan anjing pudel.
Sapi (Bos taurus) Beberapa ras pada sapi antara lain adalah sapi fries holland, sapi madura, dan sapi bali.
Ayam (Gallus gallus) Beberapa ras pada ayam antara lain adalah ayam cemani, ayam kate, ayam hutan, dan ayam kampung.
Peningkatan keanekaragaman hayati tingkat gen dapat terjadi melalui persilangan (hibridisasi) antarorganisme satu spesies yang berbeda sifat. Selain itu, peningkatan keanekaragaman juga dapat terjadi melalui domestikasi yang merupakan pembudidayaan hewan dan tumbuhan liar oleh manusia.
contoh keanekaragamn gen
a. durian petruk, durian montong
b. durian bawor dan durian belanda
Keanekaragaman Hayati Tingkat Spesies (Jenis) Spesies atau jenis adalah individu yang memiliki persamaan secara morfologis, anatomis, dan fisiologis. namun berbeda spesies dan tidak dapat dikawinkan. Individu dalam satu spesies dapat saling kawin dengan sesamanya sehingga menghasilkan keturunan yang fertil (subur) untuk melanjutkan generasinya. Keanekaragaman hayati tingkat spesies adalah perbedaan yang dapat ditemukan pada komunitas atau kelompok berbagai spesies yang hidup di suatu tempat. Keanekaragaman tingkat spesies yang tinggi umumnya ditemukan di tempat yang jauh dari kehidupan manusia, misalnya di hutan. Keanekaragaman hayati tingkat spesies menunjukkan keanekaragaman yang terdapat pada berbagai spesies makhluk hidup dalam genus yang sama atau famili yang sama. Pada berbagai jenis atau spesies tersebut, terdapat perbedaan-perbedaan sifat yang mencolok. Berikut ini adalah contoh keanekaragaman hayati tingkat spesies.
a. Keanekaragaman hayati tingkat spesies pada tumbuhan
Tingkat genus Keanekaragaman ini menggambarkan keanekaragaman hayati tingkat spesies, tetapi dalam genus yang sama. Pada tingkat ini, organisme memiliki nama genus yang sama, tetapi nama spesiesnya berbeda. Genus Ipomoea : ketela rambat (Ipomoea batatas) dan kangkung (Ipomoea crassicaulis). • Genus Ficus : beringin (Ficus benjamina) dan karet kebo (Ficus elastica). • Genus Capsicum : cabe rawit (Capsicum frustescens) dan cabe besar (Capsicum maxima). • Genus Solanum : kentang (Solanum tuberosum) dan terong (Solanum melongena). • Genus Averrhoa : belimbing manis (Averrhoa carambola) dan belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi). • Genus Citrus : jeruk bali (Citrus maxima), jeruk nipis (Citrus aurantifolia), dan jeruk manis (Citrus nobilis). • Genus Musa : pisang buah (Musa paradisiaca) dan pisang serat (Musa textilis).
Tingkat famili • Famili Arecaceae : kelapa (Cocos nucifera), aren (Arenga pinnata), pinang (Areca catechu), dan kelapa sawit (Elaeis guineensis). • Famili Solanaceae : tembakau (Nicotiana tabacum), kecubung (Datura metel), cabe rawit (Capsicum frustescens), dan kentang (Solanum tuberosum). • Famili Papilionaceae : kacang tanah (Arachis hypogaea), kacang panjang (Phaseolus vulgaris), dan kacang hijau (Vigna sinensis). • Famili Poaceae : padi (Oryza sativa), jagung (Zea mays), dan alang-alang (Imperata cylindrica). • Famili Zingiberaceae : kunyit (Curcuma domestica) dan jahe (Zingiber officinalis).
b. Keanekaragaman hayati tingkat spesies pada hewan
Tingkat genus • Genus Felis : kucing leopard (Felis bengalensis), kucing rumahan (Felis silvestris), dan kucing hutan (Felis chaus). • Genus Panthera : harimau (Panthera tigris), singa (Panthera leo), dan cheetah (Panthera onca). • Genus Bos : sapi berpunuk (Bos indicus), sapi potong dan perah di Eropa (Bos taurus), dan sapi asli Indonesia (Bos sondaicus). • Genus Canis : coyote (Canis latrans), serigala abu-abu (Canis lupus), dan serigala merah (Canis rufus).
Tingkat famili • Famili Bovidae : sapi (Bos) dan kerbau (Bubalus). • Famili Canidae : serigala (Canis) dan rubah (Lycalopex). • Famili Felidae : kucing (Felis) dan harimau (Panthera).
citrus maxima
citrus aurantifolia
citrus nobilis
Ekosistem adalah suatu sistem ekologi akibat hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan lingkungannya, baik lingkungan yang terdiri dari sesama makhluk hidup (biotik) maupun lingkungan yang tidak hidup (abiotik). Keanekaragaman hayati tingkat ekosistem merupakan keanekaragaman yang terjadi karena perbedaan letak geografis. Perbedaan letak geografis menyebabkan perbedaan iklim. Selanjutnya, perbedaan iklim menyebabkan terjadinya perbedaan suhu, curah hujan, intensitas cahaya Matahari, dan lamanya penyinaran Matahari. Perbedaan perbedaan tersebut akan memengaruhi jenis-jenis flora (tumbuhan) dan fauna (hewan) yang menempati suatu daerah. Keanekaragaman jenis-jenis flora dan fauna yang menempati suatu daerah akan membentuk ekosistem yang berbeda.
Berikut ini adalah contoh keanekaragaman hayati tingkat ekosistem.
Ekosistem lumut (tundra) Ekosistem lumut merupakan ekosistem yang didominasi oleh tumbuhan lumut. Ekosistem ini terdapat di wilayah sekitar puncak gunung atau di daerah dingin sekitar kutub. Hewan yang hidup di ekosistem ini adalah hewan-hewan berbulu tebal seperti muscox (bison kutub), reinder (rusa kutub), dan beruang kutub.
Ekosistem hutan konifer Ekosistem hutan konifer merupakan ekosistem yang didominasi oleh tumbuhan yang berdaun seperti jarum, misalnya pinus atau cemara. Salah satu hewan yang hidup di daerah ini adalah beruang.
Ekosistem hutan hujan tropis Ekosistem hutan hujan tropis merupakan ekosistem yang ditumbuhi bermacammacam pohon, liana, dan epifit. Ekosistem ini terdapat di daerah tropis. Hewanhewan yang hidup di dalam ekosistem ini antara lain adalah kera dan burung.
Ekosistem padang rumput Ekosistem padang rumput merupakan ekosistem yang didominasi oleh rumputrumputan. Ekosistem padang rumput terdapat di wilayah kering pada ketinggian sekitar 4000 mdpl. Hewan-hewan yang hidup di ekosistem ini adalah mamalia besar, karnivora, dan herbivora.
Ekosistem gurun Ekosistem gurun merupakan ekosistem yang memiliki beberapa karakteristik, di antaranya adalah perbedaan suhu antara siang dan malam yang tinggi, angin yang kencang, beriklim panas, serta jarang hujan. Tumbuhan yang mendominasi ekosistem ini adalah kelompok xerofit seperti kaktus. Sementara hewan-hewan yang ada di ekosistem ini adalah reptil, mamalia kecil, dan burung.
Ekosistem pantai Ekosistem pantai merupakan ekosistem yang terdapat di daerah pantai. Ekosistem ini didominasi oleh formasi pes-caprae dan barringtonia yang berbentuk perdu atau pohon. Hewan-hewan yang hidup di ekosistem ini antara lain adalah serangga, burung pantai, dan kepiting.
nomor 1
Berikut ini merupakan faktor yang dapat menyebabkan munculnya keanekaragaman makhluk hidup adalah
a. faktor genetik dan faktor keturunan
b. faktor genetik dan faktor lingkungan
c. faktor fisiologis dan faktor fisiografik
d. faktor fisiologis dan faktor edafik
e. faktor luar dan faktor klimatik
nomor 2
B. TIPE TIPE EKOSISTEM KEANEKARAGAMAN HAYATI
a. Tipe-Tipe Ekosistem Darat I: Bioma Gurun, Padang Rumput, dan Savana Ekosistem darat (terestrial) merupakan ekosistem yang berada di wilayah daratan
Tipe-Tipe Ekosistem Darat I: Bioma Gurun, Padang Rumput, dan Savana Ekosistem darat (terestrial) merupakan ekosistem yang berada di wilayah daratan. Ciriciri ekosistem darat antara lain adalah memiliki lingkungan fisik berupa daratan, memiliki tipe struktur vegetasi dominan dalam skala besar, serta dihuni oleh tumbuhan dan hewan yang telah beradaptasi dengan lingkungan tersebut. Ekosistem darat dengan area yang sangat luas disebut bioma. Tipe bioma sangat dipengaruhi oleh iklim. Iklim sendiri dipengaruhi oleh letak geografis garis lintang dan ketinggian tempat dari permukaan laut. Nama bioma umumnya diberikan sesuai dengan vegetasi (tumbuhan) yang dominan di wilayah tersebut. Ada tujuh tipe bioma di bumi, yaitu bioma gurun, padang rumput, savana, hutan hujan tropis, hutan gugur, taiga, dan tundra.
Bioma Gurun
a. Ciri-ciri , Curah hujan sangat rendah, kurang dari 250 mm/tahun. 2.) Perbedaan suhu antara siang dan malam sangat besar. Saat malam suhu bisa mencapai 0o C dan saat siang suhu bisa mencapai 60o C. 3.) Kelembapan udara sangat rendah. 4.) Tanah tidak dapat menyimpan air dan sangat tandus. 5.) Kecepatan evaporasi sangat tinggi. 6.) Intensitas panas matahari tinggi. 7.) Air tanah cenderung asin, karena larutan garam dalam tanah cenderung tidak berpindah, baik karena pencucian oleh air maupun drainase.
b. Flora , 1.) Tumbuhan musiman adalah tumbuhan yang akan segera tumbuh apabila hujan turun. Umur tumbuhan ini relatif pendek, tetapi bijinya tahan lama. 2.) Tumbuhan menahun adalah tumbuhan yang memilki daun kecil atau tidak berdaun, berakar panjang, dan batangmya mempunyai jaringan semacam spons. Contohnya adalah kaktus, sukulen, pohon kurma, dan semak beracun.
c. Fauna , Hewan-hewan pada bioma ini umumnya bertubuh kecil, hidup di lubang-lubang, dan keluar mencari mangsa pada malam hari. Contohnya adalah tikus, ular, hamster, dan gebril.
2. Bioma Padang Rumput (Stepa)
a. Ciri-ciri , 1.) Curah hujan tidak teratur, yaitu antara 250-500 mm/tahun. 2.) Porositas dan drainase tanah kurang baik, sehingga tumbuhan sulit untuk mendapatkan air. 3.) Berada di hamparan yang datar atau sedikit berbukit kecil. 4.) Terdapat di wilayah beriklim tropis hingga sedang.
b. Flora ,1.) Terdapat rumput-rumputan yang tidak diselingi kumpulan pepohonan, kalaupun ada hanya sedikit. 2.) Di daerah yang memiliki curah hujan tinggi, tumbuh rumput yang panjangpanjang seperti bluestem grasses. 3.) Di daerah yang memiliki curah hujan rendah, tumbuh rumput yang pendek pendek seperti grama grasses dan buffalo grasses.
c. Fauna Contoh hewan-hewan pada bioma ini adalah serangga, hewan pengerat, ular, burung, kanguru, bison, zebra, jerapah, serigala, singa, jaguar, kijang, dan cheetah.
3. Bioma Savana
a. Ciri-ciri , 1.) Curah hujan antara 900-1.500 mm/tahun. 2.) Memiliki dua musim, yaitu musim kering yang sangat panjang dan musim hujan yang sangat basah. Pada musim kering, curah hujan rata-rata hanya sekitar 100 mm. Sementara pada musim yang sangat basah atau disebut musim hujan, curah hujan rata-rata sekitar 500-1.000 mm. 3.) Lapisan tanahnya merupakan daerah resapan air dengan sistem pengairan yang baik. 4.) Terdapat kumpulan pepohonan yang berselang-seling dengan rerumputan.
b. Flora , 1.) Terdapat rumput-rumputan seperti suku Gramineae dan terkadang dijumpai suku Cyperaceae. 2.) Terdapat pohon seperti akasia, Eucalyptus, dan Corypha utan (gebang).
c. Fauna , Contoh hewan-hewan pada bioma ini adalah serangga, rayap, kuda, gajah, kijang, zebra, macan tutul, dan singa.
b. Tipe-Tipe Ekosistem Darat II: Bioma Hutan Hujan Tropis, Hutan Gugur, Taiga, dan Tundra
1. Bioma Hutan Hujan Tropis
a. Ciri-ciri , 1.) Curah hujan sangat tinggi, mencapai 2.000 mm/tahun. 2.) Matahari bersinar sepanjang tahun. 3.) Suhu rata-rata adalah 25o C. 4.) Kelembapan udara sangat tinggi. 5.) Terbentuk iklim mikro di bawah kanopi (tudung) pohon di tengah hutan.
b. Flora , 1.) Terdapat pohon-pohon tinggi yang mencapai 55 m dan berdaun lebat membentuk kanopi (tudung). 2.) Terdapat liana, yaitu tumbuhan yang merambat, misalnya rotan. 3.) Terdapat epifit, yaitu tumbuhan yang hidup menempel pada tumbuhan lain, misalnya anggrek, paku-pakuan, atau lumut.
c. Fauna , 1.) Terdapat hewan-hewan pemanjat, misalnya primata (siamang, orang utan, dan simpanse), tupai, serta ular. 2.) Terdapat hewan-hewan yang bisa terbang, misalnya kelelawar, burung, dan serangga. 3.) Terdapat hewan-hewan yang hidup di darat, misalnya babi hutan dan harimau.
2. Bioma Hutan Gugur
a. Ciri-ciri , 1.) Curah hujan antara 750 mm-1.000 mm/tahun. 2.) Memiliki empat musim, yaitu musim panas, musim gugur, musim dingin, dan musim semi. Masing–masing musim rata-rata berlangsung selama tiga bulan. 3.) Saat musim dingin, suhu mencapai –30o C. Sementara saat musim panas, suhu mencapai 30o C. 4.) Tanahnya cukup subur karena daun yang berguguran di tanah mengalami pembusukan dan membentuk humus.
b. Flora , Umumnya merupakan tumbuhan berdaun lebar seperti elm, beech, oak, dan maple. Tumbuhan-tumbuhan tersebut akan menggugurkan daunnya pada musim gugur untuk menghadapi musim dingin, yaitu saat air sulit diperoleh untuk proses fotosintesis. Pada musim semi menjelang musim panas, tumbuhan akan mulai bersemi.
c. Fauna Contoh hewan-hewan pada bioma ini adalah racoon, babi hutan, harimau, rusa, anjing hutan, beruang, musang, tupai, sigung, tikus kayu, bobcat, dan singa gunung. Mamalia-mamalia tersebut kebanyakan akan melakukan hibernasi selama musim dingin. Selain itu, hewan seperti tupai akan menyimpan makanannya untuk persediaan selama musim dingin
3. Bioma Taiga
a. Ciri-ciri 1.) Curah hujan sekitar 350-400 mm/tahun. 2.) Musim dingin mempunyai durasi yang cukup panjang, sedangkan musim kemarau sangat singkat. Pada musim dingin, lantai hutan tertutup es akibat turunnya salju yang lapisannya dapat mencapai 2 meter di bawah permukaan tanah. 3.) Lingkungan sangat lembap karena suhu yang dingin menyebabkan penguapan jarang terjadi. 4.) Perbedaan suhu antara musim panas dan musim dingin sangat tinggi. Pada musim panas, suhu berkisar antara -7°C sampai 21°C. Sementara pada musim dingin, suhu berkisar antara -54°C sampai -1°C. 5.) Merupakan daerah resapan air dan tanahnya bersifat asam.
b. Flora Bioma ini didominasi oleh pohon konifer. Sebagai contoh, pohon pinus dan cemara yang selalu hijau sepanjang tahun, meskipun dalam musim dingin dengan suhu sangat rendah. Pohon konifer memiliki struktur morfologi daun yang berbentuk seperti jarum dan akar yang kuat. Daun yang berbentuk jarum ini dilindungi oleh lapisan lilin.
c. Fauna Contoh hewan-hewan pada bioma ini adalah beruang hitam (grizzly), tupai, gagak hitam, kelinci snowshoe, kucing salju, burung-burung yang bermigrasi, rusa kutub, dan serigala. Pada bioma ini juga terdapat serangga yang mendominasi keadaan tertentu, seperti kumbang, semut, lebah, dan capung.
4. Bioma Tundra
a. Ciri-ciri 1.) Hampir seluruh wilayahnya tertutup salju/es. 2.) Permafrost merupakan keadaan di mana tanah di bawah permukaan bumi beku secara permanen. 3.) Memiliki musim dingin yang panjang dan gelap (kurang lebih 9 bulan), serta musim panas yang pendek dan terang (kurang lebih 3 bulan). 4.) Curah hujan tahunan sangat sedikit (kurang dari 250 mm/tahun), dengan kecepatan angin yang tinggi dan suhu yang dingin. Ada dua macam tundra, yaitu tundra Alpin dan tundra Arktik. 1.) Tundra Alpin merupakan tundra yang terdapat di puncak-puncak gunung, misalnya puncak gunung Jaya Wijaya. 2.) Tundra Arktik merupakan tundra yang terdapat di daerah kutub utara (Arktik), Rusia, Siberia, Canada, dan Finlandia.
b. Flora 1.) Tundra Alpin didominasi oleh rumput alang-alang, perdu, lumut daun, dan lichen. 2.) Tundra Arktik didominasi oleh lumut Sphagnum dan reindeer lichen. Selain itu, terdapat juga tumbuhan berbiji yang berumur pendek. Tumbuhan tersebut akan tumbuh pada musim panas dan mengalami dormansi selama musim dingin, misalnya willow dan birch.
c. Fauna Contoh hewan-hewan pada bioma tundra adalah rusa, kelinci salju, hewan-hewan pengerat, caribou, muskox, rubah, burung elang, beruang kutub, burung hantu, penguin, burung ptarmigan, paus beluga, dan paus narwhal
c. Tipe-Tipe Ekosistem Perairan (Akuatik) I: Ekosistem Air Tawar Ekosistem perairan (akuatik) merupakan ekosistem yang komponen abiotiknya sebagian besar terdiri dari air. Ekosistem ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
1. Lingkungannya didominasi oleh perairan. 2. Cahaya matahari terbatas. 3. Perubahan suhu tidak terlalu ekstrem. 4. Dihuni oleh makhluk-makhluk yang hidup di air atau amfibi.
Organisme yang hidup di ekosistem perairan dapat dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu sebagai berikut.
1. Plankton adalah organisme yang dapat bergerak dan berpindah tempat secara pasif karena pengaruh arus air. Plankton terdiri dari fitoplankton dan zooplankton. Contoh: alga uniseluler dan Protozoa.
2. Nekton adalah organisme yang bergerak aktif di dalam air (berenang). Contoh: ikan dan katak.
3. Neuston adalah organisme yang mengapung di permukaan air. Contoh: serangga air, teratai, dan eceng gondok.
4. Bentos adalah organisme yang berada di dasar perairan. Contoh: udang, kepiting, dan cacing.
5. Perifiton adalah organisme yang melekat pada organisme lain. Contoh: alga dan siput
Ekosistem perairan dibedakan menjadi dua macam, yaitu ekosistem air tawar dan ekosistem air laut.
Pada sesi ini, yang akan kita bahas adalah ekosistem air tawar.
1. Ciri-ciri ekosistem air tawar Ekosistem air tawar memiliki ciri-ciri sebagai berikut. a. Salinitas (kadar garam) sangat rendah, bahkan lebih rendah daripada sitoplasma makhluk hidup. b. Dipengaruhi oleh iklim dan cuaca, sehingga variasi suhu antara siang dan malam rendah. c. Penetrasi (masuknya) cahaya matahari terbatas.
2. Pembagian ekosistem air tawar Berdasarkan keadaan airnya, ekosistem air tawar dibagi menjadi dua macam, yaitu ekosistem air tawar lentik dan ekosistem air tawar lotik.
a. Ekosistem air tawar lentik merupakan ekosistem yang airnya tenang dan tidak ada aliran air. Contoh: danau dan rawa.
b. Ekosistem air tawar lotik merupakan ekosistem yang airnya mengalir searah
Berdasarkan intensitas cahaya yang masuk ke dalam air, ekosistem air tawar dibagi menjadi tiga zona, yaitu zona litoral, zona limnetik, dan zona profundal.
a. Zona litoral adalah daerah dangkal yang dapat ditembus oleh cahaya matahari hingga dasar perairan. Pada zona ini, terdapat banyak organisme fotosintetik (produsen).
b. Zona limnetik adalah daerah terbuka yang jauh dari tepian sampai kedalaman tertentu yang masih dapat ditembus oleh cahaya matahari. Di daerah ini, masih terdapat organisme produsen.
c. Zona profundal adalah daerah dalam yang tidak dapat ditembus oleh cahaya matahari. Di daerah ini, tidak dapat ditemukan organisme fotosintetik (produsen), tetapi dapat ditemukan hewan pemangsa dan organisme pengurai
Contoh ekosistem air tawar
a. Ekosistem danau Ekosistem danau termasuk ekosistem air tawar lentik, yaitu ekosistem yang airnya tenang, tanpa aliran air. Ekosistem danau memiliki komponen biotik dan abiotik yang relatif stabil. Kehidupan di perairan danau dipengaruhi oleh cahaya matahari yang masuk ke dalam air. Di daerah yang terkena cahaya matahari, yaitu zona litoral dan limnetik, berlangsung proses fotosintesis. Sementara itu, di daerah yang tidak tertembus oleh cahaya matahari, yaitu zona profundal, proses fotosintesis tidak berlangsung.
b. Ekosistem sungai Ekosistem sungai termasuk ekosistem air tawar lotik, yaitu ekosistem yang memiliki aliran air searah dari hulu menuju ke hilir. Pada ekosistem sungai, aliran air menyebabkan pengikisan tanah yang mendorong peristiwa sedimentasi. Selain itu, juga akan memengaruhi suplai oksigen dan ketersediaan hara bagi tumbuhan. Kecepatan aliran air di beberapa bagian sungai berbeda-beda. Aliran yang terjadi di bagian pinggir umumnya lebih lambat karena adanya gesekan dengan dinding sungai. Akibatnya, alga dapat menempel di bebatuan, tumbuhan dapat menancapkan akarnya, dan hewan-hewan bisa hidup di dasar sungai tanpa terbawa aliran air.
d. Tipe-Tipe Ekosistem Perairan (Akuatik) II :
A. Tipe-Tipe Ekosistem Perairan (Akuatik) II :
Ekosistem Perairan Laut
1. Ciri-Ciri Ekosistem Air Laut Ekosistem air laut memiliki ciri-ciri sebagai berikut. a. Memiliki kadar garam (salinitas) yang tinggi. b. Tidak dipengaruhi oleh iklim dan cuaca. c. Habitatnya saling berhubungan antara laut yang satu dan laut lainnya. d. Memiliki variasi perbedaan suhu antara permukaan dan kedalaman tertentu. Suhu permukaan lebih tinggi daripada suhu kedalaman tertentu. e. Memiliki arus laut yang pergerakannya dipengaruhi oleh arah angin, perbedaan densitas (massa jenis), gaya gravitasi, air, suhu, tekanan, dan gaya tektonik batuan bumi.
2. Pembagian Wilayah Laut Berdasarkan intensitas cahaya yang masuk ke dalam air, ekosistem air laut dibagi menjadi tiga zona, yaitu zona fotik, zona disfotik, dan zona afotik.
a. Zona fotik merupakan daerah yang dapat ditembus oleh cahaya matahari dengan kedalaman kurang dari 200 meter. Pada daerah ini, banyak terdapat organisme produsen.
b. Zona disfotik (twilight) merupakan daerah dengan kedalaman 200-2.000 meter. Daerah ini dihuni oleh hewan pemangsa dan hanya sedikit ditemukan organisme produsen.
c. Zona afotik merupakan daerah yang gelap karena tidak dapat ditembus oleh cahaya matahari. Daerah ini memiliki kedalaman lebih dari 2.000 meter. Pada zona afotik, tidak terdapat organisme produsen, yang ada hanyalah hewan pemakan dan pengurai.
Berdasarkan tingkat kedalaman dan jaraknya dari pantai, ekosistem air laut dibagi menjadi empat zona, yaitu zona litoral, zona neritik, zona batial, dan zona abisal.
a. Zona litoral atau disebut juga daerah pasang surut merupakan daerah yang terendam air saat pasang naik dan menjadi seperti daratan saat air surut. Pada daerah ini, terdapat bermacam-macam hewan seperti bintang laut, bulu babi, udang, kepiting, dan cacing laut.
b. Zona neritik merupakan daerah dasar laut yang memiliki kedalaman kurang dari 200 meter. Daerah ini dapat ditembus oleh cahaya matahari hingga ke dasarnya. Oleh karena itu, pada daerah ini banyak ditemukan ganggang dan ikan.
c. Zona batial merupakan daerah dengan kedalaman 200-2.000 meter. Pada zona ini, banyak ditemukan ikan, tetapi tidak ditemukan produsen.
d. Zona abisal merupakan daerah palung laut dengan kedalaman lebih dari 2.000 meter. Daerah ini dihuni oleh hewan predator, detritivor (pemakan sisa organisme), dan juga pengurai.
Berdasarkan wilayah permukaannya secara horizontal, ekosistem air laut dibagi menjadi lima daerah, yaitu epipelagik, mesopelagik, batiopelagik, abisalpelagik, dan hadalpelagik.
a. Epipelagik merupakan daerah yang berada di antara permukaan dan kedalaman sekitar 200 meter.
b. Mesopelagik merupakan daerah dengan kedalaman 200-1000 meter
c. Batiopelagik merupakan daerah lereng benua dengan kedalaman 1000-4000 meter.
d. Abisalpelagik merupakan daerah yang mempunyai kedalaman 4000-6000 meter.
e. Hadalpelagik merupakan daerah laut yang paling dalam dengan kedalaman lebih dari 6000 meter
Jenis-Jenis Ekosistem Air Laut Ekosistem air laut dapat dibedakan menjadi ekosistem pantai, ekosistem estuaria, ekosistem terumbu karang, dan ekosistem laut dalam.
Jenis-Jenis Ekosistem Air Laut Ekosistem air laut dapat dibedakan menjadi ekosistem pantai, ekosistem estuaria, ekosistem terumbu karang, dan ekosistem laut dalam.
a. Ekosistem pantai Pantai merupakan daratan yang berbatasan dengan laut. Akan tetapi, ekosistem pantai menjadi ekosistem laut karena makhluk hidup yang ada di pantai juga dapat tinggal di laut. Contohnya adalah kepiting dan kerang.
Ekosistem pantai dibedakan menjadi dua jenis, yaitu ekosistem pantai berpasir dan ekosistem pantai berbatu.
Ekosistem pantai berpasir Ekosistem pantai berpasir terdiri dari hamparan pasir yang selalu terkena ombak. Di daerah ini, angin bertiup sangat kencang dan sinar matahari bersinar kuat pada siang hari. • Flora : didominasi oleh vegetasi dari formasi pes-caprae dan formasi barringtonia. Formasi pes-caprae terdiri dari tanaman berbatang lunak dan berbiji, seperti Ipomoea pes-caprae, Vigna marina, dan Spinifex littoreus. Sementara itu, formasi barringtonia terdiri dari perdu atau pohon, seperti Terminalia catappa, Hibiscus tiliaceus, Barringtonia asiatica, Hernandia, dan Erythrina. • Fauna : kepiting dan burung.
Ekosistem pantai berbatu Pada ekosistem pantai berbatu, terdapat banyak bongkahan batu berukuran besar dan kecil yang berserakan. • Flora : ganggang cokelat dan ganggang merah. • Fauna : siput, kerang, kepiting, dan burung.
b. Ekosistem estuaria Ekosistem estuaria adalah ekosistem yang berada pada pertemuan antara sungai dan laut. Ekosistem estuaria memiliki salinitas yang lebih rendah daripada air laut, tetapi lebih tinggi daripada air tawar. Ekosistem estuaria dibedakan menjadi dua jenis, yaitu ekosistem padang lamun dan ekosistem hutan mangrove (bakau).
Ekosistem padang lamun, merupakan ekosistem pantai yang biasanya ditumbuhi seagrass (lamun). Seagrass adalah tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang memiliki rhizoma, daun, dan akar sejati. Seagrass hidup terendam di dalam laut dan beradaptasi secara penuh di perairan yang salinitasnya cukup tinggi atau hidup terbenam di dalam air. Seagrass membentuk hamparan seperti padang rumput di bawah permukaan air. Ciri-ciri ekosistem padang lamun adalah berada di perairan dangkal yang berlumpur dan mengandung pasir, memiliki suhu antara 20-30º C, memiliki kadar garam antara 25-35 per mil, dan memiliki kedalaman yang tidak lebih dari 10 m. • Flora : lamun (seagrass) dari anggota famili Hydrocharitaceae, misalnya Halophila dan dari famili Potamogetonaceae, misalnya Zostera. • Fauna : duyung (Dugong dugong), bulu babi (Tripneutes gratilla), kepiting renang (Portunus pelagicus), udang, dan penyu.
Ekosistem hutan mangrove , merupakan ekosistem yang didominasi oleh tumbuhan bakau (mangrove). Ciri-ciri dari ekosistem ini adalah berupa wilayah tanah yang tergenang secara periodik, berlumpur, sangat dipengaruhi oleh pasang surut air laut, serta terdiri dari campuran air tawar dan air asin (payau). • Flora : tumbuhan bakau. Ciri-ciri dari tumbuhan bakau adalah memiliki akar yang kuat dan rapat untuk bertahan di lingkungan berlumpur dan berombak, memiliki akar napas untuk mengambil oksigen langsung dari udara, serta memiliki buah dengan biji vivipar (disebut juga tumbuhan vivipari). Biji vivipar adalah biji yang sudah berkecambah dan berakar panjang saat masih berada di dalam buah. Biji ini akan tumbuh langsung jika jatuh ke dalam lumpur. Contoh: Rhizophora, Sonneratia, Bruguera, Avicennia, dan Nypa. • Fauna : burung, biawak, buaya, ikan, kerang, siput, kepiting, dan udang.
c. Ekosistem terumbu karang merupakan ekosistem yang dihuni oleh terumbu karang. Terumbu karang adalah sekumpulan hewan yang bersimbiosis dengan sejenis alga yang disebut Zooxanthellae. Terumbu karang terdapat di perairan yang jernih dengan sinar matahari dapat menembus air laut. Ciri-ciri ekosistem terumbu karang adalah memiliki suhu tahunan rata-rata 23-25o C, memiliki salinitas antara 32-35%, serta memiliki kedalaman yang kurang dari 25 meter dengan intensitas cahaya 15-20%. Fauna yang mendominasi ekosistem ini adalah Coelenterata, hewan spons (Porifera), Mollusca (kerang siput), bintang laut, ikan, dan ganggang.
d. Ekosistem laut dalam merupakan ekosistem yang berada di laut dalam atau palung laut. Ekosistem ini gelap gulita karena tidak dapat ditembus oleh cahaya matahari. Ciri-ciri ekosistem laut dalam adalah memiliki tekanan hidrostatik yang tinggi, memiliki kadar oksigen yang rendah, memiliki suhu yang umumnya seragam dengan kisaran 1–3o C, memiliki salinitas yang cukup tinggi, dan memiliki sirkulasi air yang sangat lambat. • Flora : di laut dalam tidak terdapat organisme produsen. • Fauna : ikan yang pada penutup kulitnya mengandung fosfor, sehingga dapat bercahaya di tempat gelap (bioluminisensi) dan ikan predator.
Flora Indonesia memiliki keanekaragaman hayati sangat tinggi, baik jenis-jenis flora maupun faunanya. Menurut Indonesian Center for Biodiversity and Biotechnology (ICBB), meskipun luas daratan Indonesia hanya 1,3% dari total luas daratan dunia, tetapi banyak spesies di dunia yang hidup di Indonesia. Indonesia juga memiliki sejumlah spesies endemik tertinggi di dunia, karena banyaknya pulau yang terisolasi dalam waktu yang lama. Contoh spesies endemik adalah Barbourula borneoensis (katak tanpa paru-paru) di Kalimantan, Eos cyanogenia (nuri sayap hitam) di Teluk Cendrawasih Papua, Varanus komodoensis (komodo) di Pulau Komodo, Pongo pygmaeus (orang utan) di Kalimantan, Leucopsar rothschildi (jalak bali) di Bali, dan Nisaetus bartelsi (elang jawa) di Jawa.
Flora Indonesia termasuk dalam flora malesiana yang penyebarannya meliputi Malaysia, Indonesia, Filipina, Papua Nugini, dan kepulauan Solomon. Menurut Van Welzen dan Silk, botanis Belanda yang melakukan penelitian pada tahun 2009, flora malesiana terbagi menjadi flora dataran Sunda, flora dataran Sahul, dan flora di daerah tengah (Wallace) yang sangat khas dan endemik.
1. Flora dataran Sunda Dataran Sunda meliputi wilayah Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Bali. Wilayah ini memiliki curah hujan yang sangat tinggi, sehingga terdapat banyak hutan dengan pohon yang besar dan kecil. Tumbuhan yang mendominasi wilayah ini adalah tumbuhan dari famili Dipterocarpaceae seperti kayu meranti (Shorea sp.), kayu kapur (Dryobalanops aromatica), kayu garu (Gonystylus bancanus), dan keruing (Dipterocarpus applanatus). Selain itu, terdapat juga tumbuhan pemakan serangga dari famili Nepenthaceae, seperti kantong semar (Nepenthes gymnaphora). Di wilayah dataran Sunda terdapat tumbuhan khas, yaitu Rafflesia arnoldi yang penyebarannya meliputi wilayah Sumatra, Kalimantan, dan Jawa.
2. Flora dataran Sahul Dataran Sahul meliputi wilayah Maluku dan Papua. Di wilayah ini, terdapat hutan musim dengan ciri-ciri antara lain adalah daun-daun tanaman berguguran pada musim kemarau, pohon-pohonnya lebih rendah daripada pohon hutan hujan tropis, pohon-pohonnya lebih jarang, dan ketinggian pohonnya sekitar 12-35 m. Contoh tumbuhan yang ada di wilayah ini adalah sagu (Metroxylon sagu) dan tumbuhan dari famili Myristicaceae, seperti Myristica fragrans (pala). Tumbuhan khas pada dataran 7 Sahul adalah matoa (Pometia pinnata).
3. Flora di daerah tengah (Wallace) Daerah tengah (Wallace) meliputi Sulawesi dan Nusa Tenggara. Di wilayah ini, terdapat daerah padang rumput yang diselingi oleh pepohonan atau disebut dengan savana. Contoh tumbuhan yang hidup di daerah tengah adalah pohon Eucalyptus.
Fauna Penyebaran fauna di Indonesia dipengaruhi oleh faktor geografis dan peristiwa geologi. Para ahli berpendapat bahwa tipe fauna di kawasan Indonesia bagian barat mirip dengan fauna di benua Asia (Asiatis), sedangkan tipe fauna di kawasan Indonesia bagian timur mirip dengan fauna di benua Australia (Australis).
Menurut Wallace dan Weber, daerah persebaran fauna di Indonesia dapat dibagi menjadi tiga kawasan, yaitu kawasan Indonesia bagian barat, kawasan peralihan, dan kawasan Indonesia bagian timur. Wilayah-wilayah ini dibatasi oleh dua garis pembagi, yaitu garis Wallace dan garis Weber. Garis Wallace memisahkan kawasan Indonesia bagian barat (Asiatis) dengan kawasan peralihan. Sementara garis Weber memisahkan kawasan peralihan dengan kawasan Indonesia bagian timur (Australis).
1. Kawasan Indonesia bagian barat (Asiatis) Fauna tipe Asiatis memiliki daerah persebaran yang meliputi Sumatra, Jawa, Bali, dan Kalimantan. Ciri-ciri fauna di wilayah ini adalah sebagai berikut. a. Banyak terdapat mamalia bertubuh besar, seperti gajah, harimau, macan tutul, beruang, badak Jawa, dan banteng. b. Banyak terdapat primata, seperti orang utan, wau-wau, lutung, monyet, dan bekantan. c. Banyak terdapat burung dengan bulu tidak berwarna-warni, seperti burung hantu, burung gagak, burung jalak, dan burung elang. Selain itu, terdapat sedikit burung dengan bulu berwarna-warni, seperti merak. d. Terdapat jenis-jenis reptil seperti buaya, ular, tokek, kadal, biawak, bunglon, dan kura-kura. e. Banyak terdapat jenis ikan air tawar
2. Kawasan peralihan (Austral-Asiatis) Fauna tipe peralihan atau Austral-Asiatis memiliki daerah persebaran yang meliputi Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara, serta sejumlah pulau kecil di sekitar pulaupulau tersebut. Fauna di wilayah ini memiliki perbedaan dengan fauna Asiatis dan Australis. Oleh karena itu, fauna Austral-Asiatis dianggap sebagai fauna asli Indonesia atau bersifat endemik, karena tidak ditemukan di negara lain. Contoh fauna tipe peralihan atau Austral-Asiatis adalah komodo (Varanus komodoensis), babirusa (Babyrousa babirussa), burung maleo (Macrocephalon maleo), kuskus (Ailurops ursinus), dan anoa (Bubalus depressicornis).
3. Kawasan Indonesia bagian timur (Australis) Fauna tipe Australis memiliki daerah persebaran yang meliputi Pulau Halmahera, Buru, Seram, Saparua, Haruku, Kepulauan Aru, dan Papua. Ciri-ciri fauna di wilayah ini adalah sebagai berikut. a. Banyak terdapat hewan berkantong, seperti kanguru (Macropus giganteus), kanguru pohon (Dendrolagus ursinus), walabi (Dorcopsulus vanheurni), dan oposum layang (pemanjat berkantong). b. Banyak terdapat burung dengan bulu berwarna-warni, seperti cendrawasih (Paradisaea rudolphi), kasuari (Casuarius casuarius), kakaktua (Cacatua moluccensis), Gouravictor (sejenis merak dengan mahkota), raja udang, dan nuri. c. Banyak terdapat mamalia yang berukuran kecil, seperti nokdiak (landak irian) dan beruang madu. d. Terdapat sedikit jenis ikan air tawar. Fauna endemik di kawasan Indonesia bagian timur adalah cendrawasih, landak irian, dan kasuari.
Keanekaragaman hayati memberikan banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Manfaat tersebut antara lain adalah sebagai berikut.
Sebagai sumber pangan Berikut ini adalah tumbuhan dan hewan yang dimanfaatkan sebagai sumber pangan. 1.) Makanan pokok Makanan pokok sebagian besar orang Indonesia adalah nasi yang diperoleh dari tanaman padi (Oryza sativa). Selain itu, ada juga masyarakat yang makanan pokoknya berupa jagung, singkong, dan sagu. 2.) Sayuran Contoh : sawi, kubis, wortel, buncis, kacang panjang, bayam, kangkung, dan terong. 3.) Buah-buahan Contoh : pisang, apel, jeruk, mangga, semangka, pepaya, dan melon. 4.) Umbi-umbian Contoh : singkong, ubi jalar, lobak, talas, bawang merah, dan bawang putih. 5.) Rempah-rempah Contoh : merica, ketumbar, pala, dan cengkeh. 6.) Aneka daging dan ikan Contoh : sapi, kambing, kelinci, ayam, itik, ikan bandeng, ikan mas, ikan lele, belut, kepiting, udang, kerang, dan rajungan.
Sebagai bahan obat-obatan Berikut ini adalah tumbuhan dan hewan yang dapat dijadikan sebagai bahan obatobatan. 1.) Buah merah (Pandanus conoideus) yang dapat digunakan sebagai obat kanker, kolesterol, dan diabetes. 2.) Mengkudu (Morinda citrifolia) yang dapat digunakan untuk menurunkan tekanan darah tinggi. 3.) Kina (Cinchona calisaya, Cinchona officinalis) yang dapat digunakan untuk obat malaria. 4.) Madu dari lebah yang dapat digunakan untuk meningkatkan daya tahan tubuh manusia. 5.) Ular yang bagian daging dan lemaknya dapat digunakan untuk mengobati penyakit kulit seperti gatal-gatal.
Sebagai bahan kosmetik Berikut ini adalah tumbuh-tumbuhan yang bisa digunakan sebagai bahan kosmetik. 1.) Bahan wewangian (parfum), contoh : mawar, melati, cendana, kenanga, dan kemuning. 2.) Bahan penghitam rambut, contoh : urang-aring, daun mangkokan, minyak kelapa, pandan, dan lidah buaya. 3.) Bahan penghalus kulit, contoh : bengkuang, alpukat, kemuning, dan beras
Sebagai sumber sandang Berikut ini adalah tumbuhan dan hewan yang bisa digunakan sebagai sumber sandang. 1.) Bahan pakaian, contoh : kapas, rami, sisal, pisang hutan, dan jute. 2.) Bahan pembuat pakaian adat, misalnya pada suku Dani, yaitu tanaman labu air (Lagenaria siceria) yang digunakan untuk membuat koteka pria, serta wen (Ficus drupacea) dan kem (Eleocharis dulcis) yang digunakan untuk membuat pakaian adat wanita. 3.) Bahan pakaian dari hewan, contoh : ulat sutra untuk membuat kain sutra, serta kulit sapi dan kambing untuk membuat tas, sepatu, dan jaket.
Sebagai sumber papan Berikut ini adalah tumbuhan yang bisa digunakan sebagai sumber papan. 1.) Bahan pembuat rumah, contoh : kayu jati, kelapa, keruing, nangka, rasamala, ulin, meranti, dan bambu. 2.) Bahan pembuat rumah adat, contoh : daun lontar dan gebang yang digunakan untuk atap dan dinding rumah di Pulau Timor dan Alor, serta palem seperti nipah yang digunakan untuk membuat rumah di Sumatra dan Kalimantan. f. Sebagai sumber plasma nutfah Plasma nutfah adalah bagian tubuh tumbuhan, hewan, atau mikroorganisme yang mempunyai fungsi dan kemampuan mewariskan sifat. Setiap organisme yang masih bersifat liar atau sudah dibudidayakan oleh manusia mengandung plasma nutfah. Plasma nutfah akan mempertahankan mutu sifat organisme dari generasi ke generasi. Contohnya, padi rojolele akan mewariskan sifat pulen dan rasa enak.
Sebagai aspek budaya Beberapa ritual keagamaan dan kepercayaan, upacara adat, dan pesta tradisional menggunakan tumbuhan dan hewan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut. 1.) Budaya nyekar (ziarah kubur) pada masyarakat Jawa menggunakan bunga mawar, kenanga, melati, dan kantil. 2.) Upacara ngaben di Bali menggunakan bermacam-macam tumbuhan untuk wewangian seperti kenanga, melati, cempaka, pandan, sirih, dan cendana 3.) Umat Islam menggunakan hewan sapi, kambing, domba, dan kerbau untuk melaksanakan hari raya kurban. 4.) Umat Nasrani menggunakan pohon cemara untuk perayaan Natal.
Sebagai sumber ilmu pengetahuan Tumbuhan dan hewan merupakan sumber ilmu pengetahuan. Dengan mengembangkan ilmu pengetahuan, kehidupan manusia akan lebih sejahtera. 1.) Tumbuhan Contoh: pengembangan cara mencangkok untuk perkembangbiakan vegetatif, penyilangan untuk mendapatkan keturunan yang unggul, serta pengembangan kultur jaringan untuk mendapatkan keturunan baru dalam jumlah besar dan cepat. 2.) Hewan Contoh: pengembangan cara budidaya ikan untuk mendapatkan panen yang banyak dan pengembangan inseminasi buatan untuk mendapatkan hewanhewan ternak yang unggul.
Sebagai penyeimbang lingkungan Keanekaragaman hayati merupakan penyeimbang ekosistem yang penting. Jika terjadi penghilangan sebagian dari keanekaragaman hayati tersebut, ekosistem menjadi tidak seimbang. Contohnya adalah keberadaan hutan hujan tropis yang merupakan penyedia oksigen sekaligus mengurangi karbon dioksida. j. Sebagai sumber keindahan Keanekaragaman hayati bisa menjadi sumber keindahan, baik berupa tumbuhan maupun hewan. Berikut ini adalah tumbuhan dan hewan yang dapat digunakan sebagai sumber keindahan. 1.) Tanaman hias, contoh : mawar, anggrek, dan aneka bonsai tanaman. 2.) Hewan peliharaan, contoh : love bird, kenari, atau beo yang dapat dinikmati keindahan bulu atau suaranya.
2. Dampak Positif atau Dampak yang Menguntungkan Kegiatan manusia yang dapat melestarikan keanekaragaman hayati antara lain adalah sebagai berikut. a. Pelaksanaan penghijauan atau reboisasi di kawasan hutan yang rusak. b. Pengendalian hama secara biologi untuk mengurangi penggunaan pestisida. c. Penebangan hutan terencana, dengan cara tebang pilih dan tanam kembali. d. Pemuliaan tanaman dan hewan baru dengan tetap melestarikan keberadaan tanaman dan hewan lokal. e. Melakukan usaha pelestarian alam secara in situ dan ex situ
Dewasa ini banyak kegiatan manusia yang berdampak terhadap keanekaragaman hayati, baik berdampak negatif maupun berdampak positif.
Dampak Negatif atau Dampak yang Merugikan Berkurangnya keanekaragaman hayati disebabkan oleh kerusakan ekosistem. Kegiatan manusia yang dapat merusak ekosistem antara lain adalah sebagai berikut.
Ladang berpindah Selain menghilangkan berbagai jenis tumbuhan, ladang berpindah juga dapat merusak struktur tanah.
Intensifikasi pertanian adalah peningkatan hasil pertanian dengan cara pemupukan, penggunaan insektisida atau pestisida, penggunaan bibit unggul, dan mekanisasi pertanian.
Intensifikasi perikanan adalah peningkatan hasil perikanan dengan cara pembukaan hutan mangrove untuk usaha tambak, pembuangan limbah dari tambak intensif, dan budidaya perikanan di waduk/danau/teluk yang tidak terkendali.
Penemuan bibit tanaman dan hewan baru yang dapat mendesak keberadaan tanaman dan hewan lokal.
Perburuan liar dan penangkapan ikan dengan cara-cara yang tidak tepat.
Penebangan liar yang menyebabkan hutan-hutan menjadi gundul.
Industrialisasi yang dapat mengurangi areal hutan dan menimbulkan berbagai pencemaran, baik pencemaran udara, tanah, maupun air.
2. Dampak Positif atau Dampak yang Menguntungkan Kegiatan manusia yang dapat melestarikan keanekaragaman hayati antara lain adalah sebagai berikut.
Pelaksanaan penghijauan atau reboisasi di kawasan hutan yang rusak.
Pengendalian hama secara biologi untuk mengurangi penggunaan pestisida.
Penebangan hutan terencana, dengan cara tebang pilih dan tanam kembali.
Pemuliaan tanaman dan hewan baru dengan tetap melestarikan keberadaan tanaman dan hewan lokal.
Melakukan usaha pelestarian alam secara in situ dan ex situ
Penurunan keanekaragaman hayati dapat dicegah dengan cara melakukan pelestarian (konservasi) keanekaragaman hayati. Tujuan dari konservasi keanekaragaman hayati adalah sebagai berikut.
Menjamin kelestarian fungsi ekosistem sebagai penyangga kehidupan.
Mencegah kepunahan spesies yang disebabkan oleh kerusakan habitat dan pemanfaatan yang tidak terkendali.
Menyediakan sumber plasma nutfah untuk mendukung pengembangan dan budidaya kultivar-kultivar tanaman pangan, obat-obatan, maupun ternak.
Konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia diatur oleh UU nomor 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya dan UU nomor 23 tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup. Pada peraturan tersebut, ada tiga asas, yaitu tanggung jawab, berkelanjutan, dan bermanfaat. Konservasi dapat dilakukan secara in situ maupun ex situ.
Konservasi in situ adalah usaha pelestarian yang dilakukan di habitat aslinya, misalnya perlindungan terhadap komodo di Pulau Komodo.
Konservasi ex situ adalah usaha pelestarian yang dilakukan di luar habitat aslinya, misalnya perlindungan orang utan di kebun binatang.
Usaha perlindungan alam bertujuan agar keanekaragaman hayati, khususnya di Indonesia tidak berkurang. Perlindungan alam dapat dibagi menjadi dua, yaitu perlindungan alam umum dan perlindungan alam dengan tujuan tertentu.
1. Perlindungan alam umum
Perlindungan alam umum merupakan suatu kesatuan usaha perlindungan flora, fauna, dan tanah di suatu wilayah tertentu. Perlindungan alam umum dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu perlindungan alam ketat, perlindungan alam terbimbing, dan taman nasional.
Perlindungan alam ketat adalah perlindungan terhadap keadaan alam tanpa campur tangan manusia. Tujuan perlindungan ini adalah untuk penelitian dan kepentingan ilmiah. Contohnya, cagar alam Gunung Tangkoko di Sulawesi Utara.
Perlindungan alam terbimbing Perlindungan alam terbimbing adalah perlindungan alam yang dibina oleh para ahli. Contohnya, kebun raya Bogor.
Taman nasional adalah perlindungan alam yang menempati suatu daerah luas, dan tidak boleh ada rumah tinggal maupun bangunan industri. Taman nasional dimanfaatkan untuk pendidikan, budaya, dan rekreasi alam tanpa mengubah ekosistem. Contohnya, taman nasional komodo di Nusa Tenggara Barat.
SILAHKAN KERJAKAN TUGAS 3 DARI BAB KENAKARAGAMAN HAYATI, BOLEH MENGERJAKAN MAKSIMAL 2 KALI
Bagi anak anakku yang masuk kedalam 5 besar nilai tertinggi akan mendapatkan nilai tambahan untuk ulangan harian keanekaragaman hayati