RANGKUMAN MATERI
Ada sebagian orang menerima pewartaan Yesus, di antaranya adalah sebagai berikut.
Orang miskin dan sederhana. Mereka inilah yang merasakan secara langsung pewartaan Yesus baik melalui kata-kata maupun melalui mukjizat-Nya. Yesus bagi mereka adalah pembela dan penyelamat. Yesus adalah Mesias yang dinantikan untuk melakukan keadilan dan pembelaan-Nya. Mereka rela meninggalkan segala-galanya untuk mengikuti Yesus.
Para pendosa yang mau bertobat. Mereka adalah orang yang harus dijauhi, disingkirkan, dan dikucilkan dari kehidupan masyarakat. Siapa pun yang bergaul dengan mereka dianggap najis. Namun Yesus berkenan datang kepada mereka, Yesus mau bergaul dengan mereka. Sikap Yesus ini tentu saja sangat mengejutkan para pendosa dan mengagetkan para imam dan ahli Taurat. Dalam hal ini Yesus mau menegaskan, soal kesetaraan di hadapanAllah. BagiYesus, orang yang baik dan yang jahat dalam arti tertentu sama kedudukannya di hadapan Allah, sama-sama dicintai Allah, sama-sama anak Abraham. Karena kesamaan itulah, mereka pun mempunyai hak atas Kerajaan Allah.
Orang-orang sakit. Mereka inilah yang secara langsung merasakan kebahagiaan dan kegembiraan atas pewartaan Yesus, terlebih dengan mukjizat penyembuhan-Nya. Kedatangan Yesus telah membawa harapan baru bagi mereka yang sakit. Dengan cara itu Yesus telah menunjukkan diri-Nya sebagai penyelamat, Sang Pembebas. Yesus mewartakan Allah yang Maha Pengasih.
Kaum wanita dan anak-anak. Tradisi bangsa Yahudi menempatkan kaum wanita dan anak-anak sebagai warga masyarakat kelas dua, keberadaannya berada di bawah dominasi kaum laki-laki. Mereka merasa menjadi warga masyarakat yang tidak diperhitungkan. Yesus berkenan hadir, peduli, dan meninggikan derajat mereka. Yesus memuji persembahan seorang janda miskin (Mrk. 12:41-44), Yesus memperlakukan secara manusiawi terhadap perempuan yang kedapatan berzina (Yoh. 8:2-11), dan Yesus mau menerima anakanak dengan senang hati (Mat. 19:13-15). Dengan demikian mereka sungguh merasa mendapatkan perhatian dari Yesus secara utuh. Karena sikap Yesus yang peduli kepada mereka, maka mereka pun mengikuti dan melayani-Nya.
Ada sebagian orang yang menolak pewartaan Yesus, di antaranya sebagai berikut.
Para imam dan ahli Taurat. Mereka menganggap diri yang paling tahu dan paling mengerti mengenai aturan-aturan suci dan kehendak Allah yang benar. Kehadiran Yesus membuka kekeliruan mereka dalam menafsirkan kehendak Allah yang sejati. Mereka merasa kehilangan wibawa dan mulai berkurang pengikutnya, sehingga mereka merasa makin terancam oleh kehadiran Yesus.
Orang-orang Farisi. Bagi mereka kehadiran Yesus dianggap akan merusak tatanan hidup sosial dan kemasyarakatan yang sudah mapan. Mereka mengecam sikap Yesus yang menyembuhkan orang padahari Sabatdanmembiarkanmurid-murid-Nyamemetik gandum pada hari Sabat.
Para penguasa.Bagimereka, kedudukan, kehormatan,dankekuasaan lebih penting dibandingkan tunduk kepada kehendak Allah. Yesus sering mengecam mereka, sehingga mereka merasa kedudukan, kehormatan, dan kekuasaannya terancam oleh kehadiranYesus.
Orang-orang kaya dan mapan. Kabar Sukacita Kerajaan Allah yang diwartakan oleh Yesus rupanya sulit diterima oleh mereka. Kerajaan Allah yang diwartakan oleh Yesus menuntut keberanian untuk meninggalkan segala-galanya termasuk meninggalkan harta benda, kekayaan, dan kemapanan hidup. Sementara itu, mereka masih mengikatkan diri pada harta kekayaannya.
Sesuatu yang dialami Yesus dalam mewartakan Kerajaan Allah dapat dialami oleh siapa pun. Orang yang berbuat baik belum tentu akan diterima dengan baik, kadang-kadang menerima penolakan yang menyakitkan. Terhadap berbagai penolakan yang menimpa diri-Nya, Yesus tidak bersikap memusuhi. Dengan penuh kasih dan kesabaran Yesus menghadapi reaksi penolakan tersebut, disertai dengan penuh penyerahan Diri secara total kepada kehendak Bapa-Nya (lih. Mat. 5:43).
Mereka yang menolak pewartaan Yesus merasa takut kehilangan simpati, kehilangan kepercayaan, berkurangnya lahan nafkah mereka, seperti para imam dan tua-tua Yahudi serta orang Farisi. Oleh karena itu, mereka berupaya mencari-cari kesempatan untuk mempersalahkan Yesus. Mereka mencari pembenaran dengan memutarbalikkan hukum yang suci dan menghasut masyarakat dengan pandangan yang sesat. Makna penderitaan yang dialami oleh Yesus pertama-tama merupakan konsekuensi dari tugas perutusan-Nya untuk melaksanakan kehendak Bapa dengan mewartakan dan menegakkan Kerajaan Allah di dunia.
Nilai-nilai yang terkandung dalam sengsara dan wafat Yesus adalah hendaknya kita menjalani hidup dengan mempunyai tujuan yang jelas. Dalam meraih tujuan tersebut pastilah kita harus berjuang untuk mewujudkannya, sekalipun harus menderita.
Yesus menderita mempunyai tujuan yang jelas, yakni mewartakan Kerajaan Allah. Karena tujuan yang jelas inilah, maka Yesus bertanggung jawab dan rela berkorban tanpa pamrih serta setia sampai wafat, menyerahkan semuanya kepada kehendak Tuhan. Dalam penderitaanNya,Yesus tidak egois hanya memikirkan penderitaan yang Ia alami,tetapi Ia tetap mewartakan Kabar Sukacita kepada mereka yang membutuhkan, walaupun Ia sendiri sedang mengalami penderitaan. Hal yang sungguh luar biasa dalam diri Yesus adalah di saat Ia sudah berada di atas kayu salib, Ia tidak menghujat ataupun menyumpahi orang-orang yang telah menyalibkan-Nya. Sebaliknya, justru mendoakan mereka.
Keteladanan Yesus dalam menghadapi penderitaan tampak dalam beberapa peristiwa berikut ini.
Yesus menghibur wanita-wanita yang menangisi-Nya, “Hai putriputri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu” (Luk. 23:28).
Yesus meyakinkan para prajurit dan orang-orang yang mengikut jalan salib bahwa beban salib yang dipikulnya adalah ringan, karena cinta-Nya yang begitu besar kepada manusia dan percaya bahwa Allah Bapa-Nya selalu menyertai-Nya.
Penderitaan merupakan bagian tidak terpisahkan dari hidup manusia. Hampir semua orang mengalami, walau dengan kadar dan bentuk yang berbeda. Penderitaan ditanggapi orang secara berbeda.
Sikap negatif dalam menghadapi penderitaan misalnya putus asa, menyalahkan diri sendiri atau orang lain, bahkan menyalahkan Tuhan dengan bertindak tidak adil.
Sikap positif dalam menghadapi penderitaan misalnya berusaha tetap tabah, menjalaninya dengan sabar dan tegar, serta lebih mendekatkan diri pada Tuhan.
Dua peristiwa penting sebelum sengsara dan wafat Yesus yaitu sebgaia berikut.
Sebelum menderita sengsara, Yesus meminta para murid-Nya untuk mempersiapkan Perjamuan Paskah bersama.
Setelah mengadakan Perjamuan Paskah, Yesus ditemani para muridNya pergi ke Taman Zaitun untuk berdoa mendekatkan diri pada Bapa-Nya.
Dengan wafat-Nya, dapat dikatakan bahwa Yesus menjadi korban kebencian dan permusuhan para pemimpin agama Yahudi. Yesus disingkirkan atas nama hukum Allah. Pembunuhan terhadap Yesus adalah pembunuhan keagamaan. Namun, dasar yang sesungguhnya adalah pewartaan Yesus yang dianggap berbahaya bagi kedudukan dan kuasa para pemimpin agama Yahudi. Dalam agama Yahudi yang dapat mengampuni dosa hanyalah Allah. Oleh karena itu, ketika Yesus menyembuhkan orang lumpuh disertai dengan ungkapan "Dosamu sudah diampuni" dianggap menghujat Allah, sebuah kesalahan yang tidak terampuni bagi bangsa Yahudi. Hukuman bagi orang yang menghujat Allah adalah mati.
Allah solider dengan nasib manusia yakni kematian. Wafat Yesus merupakan tanda agung hadirnya Kerajaan Allah, artinya Yesus berserah sepenuhnya pada kehendak Allah hingga wafat, sebagaimana didoakan dalam doa Bapa Kami, "Jadilah kehendak-Mu, datanglah Kerajaan-Mu."
Yesus sepenuhnya mengikuti kehendak Allah, bukan kemauan-Nya sendiri.
Sebagai murid-Nya, kita harus belajar dari sikapYesus dalam menghadapi penderitaan yaitu sebagai berikut.
Tetap tabah dalam menghadapi penderitaan, disertai sikap penyerahan diri kepada Tuhan.
Berani menghadapi risiko demi menegakkan kebenaran dan keadilan.
Menunjukkan solidaritas terhadap mereka yang miskin, menderita, tertindas. dan membutuhkan pembebasan dalam hidupnya.
Bagi sebagian besar masyarakat pada saat itu, wafat Yesus dianggap sebagai kegagalan. Perjuangan dan karya Yesus dianggap sia-sia dan musnah seiring kematian-Nya. Namun dengan peristiwa kebangkitanNya dari alam maut, Allah membalikkan semua pemikiran itu. Kebangkitan Yesus membuat kehadiran-Nya tidak lagi terbatas ruang dan waktu. Ia hadir di mana-mana dalam hati semua murid-Nya.
Kebangkitan Yesus merupakan pembenaran dari Allah terhadap sabda dan karya-Nya; pembenaran terhadap perjuangan Yesus. Kebangkitan Yesus juga memberikan harapan baru bagi umat manusia, bahwa ada harapan yang lebih baik setelah kematian di dunia ini.
Beberapa bukti peristiwa kebangkitan Yesus sebagaimana dikisahkan dalam Kitab Suci yaitu sebagai berikut.
Pada saat para murid melihat kubur Yesus terbuka dan kosong (Yoh. 20:1-10).
Kain kafan Yesus yang tertinggal.
Berita malaikat yang mengatakan Yesus sudah bangkit.
Yesus menampakkan Diri kepada murid-murid-Nya (Yoh. 20:19-23).
Yesus menampakkan Diri kepada Tomas (Yoh. 20:24-29).
Yesus menampakkan Diri di jalan Emaus (Luk. 24:13-35).
Makna kebangkitan Yesus adalah sebagai berikut.
Kebangkitan Yesus merupakan pembenaran dari Allah terhadap sabda dan karya-Nya, pembenaran terhadap perjuangan Yesus Kristus. 2
Kebangkitan Yesus adalah permulaan dari corak kehidupan baru, kelahiran baru, dan permulaan suatu kehidupan yang lebih mulia.
Nilai-nilai yang terkandung dari makna kebangkitan Yesus bagi kita yakni kita bangkit dari kelemahan dan dosa untuk meninggalkan cara hidup yang lama menuju hidup yang baru, dengan sikap peduli terhadap orang lain, tidak mudah menyalahkan orang lain, tidak mudah putus asa dan percaya, serta menjadi orang yang selalu bersyukur dan mudah berterima kasih