Auguste Comte 19 Januari 1798 – 5 September 1857) adalah seorang filsuf Prancis yang dikenal karena memperkenalkan bidang ilmu sosiologi serta aliran positivisme. Melalui prinsip positivisme, Comte membangun dasar yang digunakan oleh akademisi saat ini yaitu pengaplikasian metode ilmiah dalam ilmu sosial sebagai sarana dalam memperoleh kebenaran. Comte juga merupakan tokoh yang pertama menciptakan istilah sosiologi, sehingga ia mendapat julukan sebagai Bapak Sosiologi Dunia.
Comte lahir di Montpellier, sebuah kota kecil di bagian barat daya dari negara Prancis. Setelah bersekolah disana, ia melanjutkan pendidikannya di École Polytechnique di Paris. École Polytechnique saat itu terkenal dengan kesetiaannya pada gagasan republikanisme dan filosofi proses. Pada tahun 1816, politeknik tersebut ditutup untuk re-organisasi. Comte pun meninggalkan École dan melanjutkan pendidikannya di sekolah kedokteran di Montpellier.
Ia menikahi seorang wanita bernama Caroline Massin. Comte dikenal arogan, kejam dan mudah marah sehingga pada tahun 1826 dia dibawa ke sebuah rumah sakit jiwa, tetapi ia kabur sebelum sembuh. Kemudian setelah kondisinya distabilkan oleh Massin, ia mengerjakan kembali apa yang dulu direncanakannya. Namun sayangnya, ia bercerai dengan Massin pada tahun 1842 karena alasan yang belum diketahui. Saat-saat di antara pengerjaan kembali rencananya sampai pada perceraiannya, ia mempublikasikan bukunya yang berjudul Le Cours de Philosophie Positivistic.
Pada tahun 1844, Comte menjalin kasih dengan Clotilde de Vaux, dalam hubungan yang platonis. Setelah Clotilde wafat, kisah cinta ini menjadi quasi-religius. Tak lama setelahnya, Comte menerbitkan bukunya yang berjudul Système de politique positive (1851-1854).
Comte wafat di Paris pada tanggal 5 September 1857 dan dimakamkan di Cimetière du Père Lachaise.
Comte melihat satu hukum universal dalam semua ilmu pengetahuan yang kemudian ia sebut sebagai 'hukum tiga fase'. Melalui hukumnya ia mulai dikenal di seluruh wilayah berbahasa Inggris (English-speaking world); menurutnya, masyarakat berkembang melalui tiga fase: Teologi, Metafisika, dan Positif (atau sering juga disebut "tahap ilmiah").
Tahap Teologi dilihat dari sudut pandang Prancis abad ke-19 sebagai pendahuluan Abad Pencerahan, di mana tempat manusia dalam masyarakat dan pembatasan masyarakat terhadap manusia dirujuk kepada Tuhan. Manusia secara membabi buta percaya pada apa pun yang diajarkan nenek moyangnya. Dia percaya pada kekuatan supernatural. Fetishisme memainkan peran penting pada masa ini.
Pada tahap Metafisika, Comte tidak mengacu pada Metafisika Aristoteles atau filsuf Yunani kuno lainnya. Sebaliknya, gagasan ini berakar pada permasalahan masyarakat Perancis setelah Revolusi Prancis tahun 1789. Tahap Metafisika ini melibatkan pembenaran atas hak-hak universal yang berada pada tingkat yang lebih tinggi daripada wewenang penguasa manusia mana pun untuk melawannya, meskipun hak-hak tersebut tidak mengacu pada sesuatu yang sakral, lebih dari sekadar metafora. Tahapan ini disebut tahap investigasi, karena masyarakat mulai berpikir dan bertanya, meskipun tidak ada bukti kuat yang diberikan. Tahap investigasi merupakan awal dari dunia yang mempertanyakan otoritas dan agama.
Dalam tahap Ilmiah, yang muncul setelah kegagalan revolusi dan kegagalan Napoleon, masyarakat dapat menemukan solusi terhadap masalah-masalah sosial dan melaksanakannya meskipun terdapat proklamasi hak asasi manusia atau ramalan kehendak Tuhan. Sains mulai menjawab pertanyaan secara menyeluruh. Dalam hal ini, dia mirip dengan Karl Marx dan Jeremy Bentham. Pada masanya, gagasan tahapan Ilmiah ini dianggap mutakhir, meskipun dari sudut pandang selanjutnya, gagasan tersebut turunan dari fisika klasik dan sejarah akademik.
Beberapa sumbangsih pemikiran Comte antara lain:
Ia mengatakan bahwa ilmu sosial harus didasarkan pada Pengamatan, perbandingan, eksperimen, dan metode historis secara sistematik
Ia menyumbangkan pemikiran yang mendorong perkembangan sosiologi yang dikenal dengan hukum kemajuan manusia atau hukum tiga jenjang. Ia mengatakan bahwa dalam menjelaskan gejala alam dan gejala sosial, manusia akan melewati tiga jenjang berikut ini:
Jenjang teologi: segala sesuatu dijelaskan dengan mengacu kepada hal-hal yang bersifat adikodrati.
Jenjang metafisika: pada jenjang ini manusia memahami sesuatu dengan mengacu kepada kekuatan-kekuatan metafisik (kebatinan) atau hal-hal yang abstrak ( tak dapat disentuh, diraba, dirasa, ataupun dilihat)
Jenjang positif: gejala alam dan sosial dijelaskan dengan mengacu kepada deskripsi ilmiah
Ia mengatakan bahwa sosiologi merupakan ratu ilmu-ilmu sosial dan menempati peringkat teratas dalam hierarki ilmu-ilmu sosial.
Ia membagi sosiologi kedalam dua bagian besar, yaitu statika sosial (social statics) yang mewakili stabilitas dan kemantapan dan dinamika sosial (sosial dynamics) yang mewakili perubahan
Comte kemudian membedakan antara sosiologi statis dan sosiologi dinamis. Sosiologi statis memusatkan perhatian pada hukum-hukum statis yang menjadi dasar adanya masyarakat. Sosiologi dinamis memusatkan perhatian tentang perkembangan masyarakat dalam arti pembangunan. Oleh karena itu, tokoh ini lazim dikenal sebagai Bapak Sosiologi.
Rintisan Comte tersebut disambut hangat oleh masyarakat luas, tampak dari tampilnya sejumlah ilmuwan besar di bidang sosiologi. Mereka antara lain Pitirim Sorokin, Herbert Spencer, Karl Marx, Emile Durkheim, George Simmel, dan Max Weber (semuanya berasal dari Eropa). Masing-masing berjasa besar menyumbangkan beragam pendekatan mempelajari masyarakat yang amat berguna untuk perkembangan Sosiologi. (https://id.wikipedia.org/wiki/Auguste_Comte)