Menyambut Ramadan dengan Perencanaan yang Bijak
Menjelang bulan Ramadan, keluarga Rafi mulai bersiap-siap. Ibu membuat daftar kebutuhan agar ibadah selama Ramadan berjalan lancar. Mereka ingin berbelanja dengan bijak supaya tidak boros.
Ibu mencatat beberapa kebutuhan pokok:
Beras 10 kg seharga Rp14.000 per kg
Gula 3 kg seharga Rp15.000 per kg
Minyak goreng 4 liter seharga Rp18.000 per liter
Kurma 2 kotak, masing-masing Rp35.000
Rafi membantu Ibu menghitung total belanja mereka.
Harga beras: 10 × Rp14.000 = Rp140.000
Harga gula: 3 × Rp15.000 = Rp45.000
Harga minyak: 4 × Rp18.000 = Rp72.000
Harga kurma: 2 × Rp35.000 = Rp70.000
Total belanja = Rp140.000 + Rp45.000 + Rp72.000 + Rp70.000 = Rp327.000
Ayah memberikan anggaran sebesar Rp350.000 untuk belanja persiapan Ramadan.
Rafi kemudian menghitung sisa uang:
Rp350.000 – Rp327.000 = Rp23.000
Ibu tersenyum dan berkata, “Sisa uang ini bisa kita tabung atau gunakan untuk bersedekah. Ramadan adalah waktu yang tepat untuk berbagi.”
Mendengar itu, Rafi mengusulkan membeli 5 bungkus takjil sederhana untuk dibagikan kepada tetangga yang membutuhkan. Jika satu bungkus takjil harganya Rp4.000, maka:
5 × Rp4.000 = Rp20.000
Masih ada sisa Rp3.000 yang bisa dimasukkan ke celengan sedekah keluarga.
Dari kegiatan ini, Rafi belajar bahwa numerasi tidak hanya tentang berhitung, tetapi juga tentang membuat keputusan yang bijak, mengelola uang, dan berbagi dengan orang lain—terutama di bulan penuh berkah seperti Ramadan.
selanjuta mari kita lakukan refleksi yuk smandu warriors dengan klik Pertanyaan numerasi ini