Lama kutatap lamat sorot matamu yang menuduh penuh tuntut. Kupenjam mata sebentar, meneduh dari tuntutan-mu yang buat sesak dada.
“Jadi apa?” Tanyamu.
“Ya, tidak jadi apa-apa.” Aku mengembangkan senyum simpul andalan, berlagak tidak ada yang terjadi. Padahal hatiku sudah terlanjur tergores.
Kamu menyilangkan tangan di depan dada, dan bernapas gusar. Menunggu kalimat lanjutan dariku, enggan mulai duluan.
“Tidak apa, sampai sini saja ya?” Aku melanjutkan. Suara ‘ku tak gentar menyelimuti rasa kecewa di hati. Nirwana mataku bekerja sama dengannya, menunjukkan betapa tabah jiwaku melepasmu. kandas sudah kita disini, sayang.
Tanganmu yang menyilang kini telah menutupi sebagian muka, menangis penuh seguk. Sedang aku mengelus punggungmu. Kita usai di sini, meski tidak pernah ada jalinan di antara kita. Tidak ada cela kita ucap, meski saling luka. Toh, badainya tidak akan reda jika kita terus bersama.
Pemenang di hatimu tetaplah orang lama. Aku bagai badai yang menemanimu, sang langit abu-abu. Dan menerima kenyataan bila kamu butuh matahari di sampingmu, setelah mereda kau mencarinya. Aku si badai di lupakan. Badai milikku kau anggap tak bisa jadi matahari untukmu, aku lewat di satu sampai beberapa halaman bukumu. Dan finalnya kau bersanding dengan yang lain. Selamat bersinar, selamat beranjak wahai kau masa laluku. Ini kisah ku yang hanya bagian dari buku matahari dan langitmu.