Bagaimana Letting Go / Mengikhlaskan sesuatu mempunyai kekuatan yang besar untuk justru mewujudkan sesuatu yang kita inginkan tersebut? Bagaimana cara The Power of Letting Go ini bekerja sehingga kita dapat mewujudkan apa yang kita inginkan?
Mungkin anda pernah merasakan kondisi dimana ketika anda menginginkan sesuatu namun tidak dapat-dapat dan ketika sudah pasrah dan melepaskan keinginan anda, sesuatu tersebut malahan datang kepada anda. Ternyata di alam semesta ini, sesuatu yang dikekang akan berusaha untuk lepas, sesuatu yang dikejar akan lari, namun sesuatu yang dilepaskan akan datang dengan sendirinya ketika ia merasa nyaman. Teori ini ternyata berlaku baik untuk benda hidup maupun benda mati karena benda hidup/mati sama-sama bersumber dari energi, sumber dari segala sesuatu di alam ini. Letting Go itu sendiri bisa diartikan sebagai mengikhlaskan, melepaskan dengan berpasrah kepada kekuatan yang jauh lebih tinggi.
Contoh penerapan pada hubungan antar manusia :
Seseorang yang terus mengekang pasangan hidupnya dengan segala macam peraturan / posesif berlebihan, maka kebanyakan pasangannya pasti akan merasa tidak nyaman dalam hubungan tersebut (kecuali mempunyai frekuensi sifat yang sama). Jika sudah tidak nyaman, maka pasangan cenderung untuk lepas, sehingga sering terjadi kebohongan / pertengkaran / sembunyi-sembunyi melakukan hal-hal yang dilarang tersebut, dan sebagainya.
Begitu juga jika seseorang yang anda kejar belum memiliki ketertarikan kepada anda, namun anda terus kejar tetapi dengan cara-cara yang membosankan, bagaimana bisa anda memenangkan hatinya? Yang ada si doi akan kurang menghargai usaha anda dan malahan menghindar karena menjadi tidak nyaman. Anda perlu cara kreatif untuk menarik si doi agar tertarik dan datang kepada anda, bukan dengan terus mengejar secara agresif namun tidak meningkatkan kualitasnya.
Contoh penerapan pada benda mati, misalnya pada uang :
Mungkin anda sering mendengar cerita, keluh kesah, komplain, dan sebagainya mengenai bagaimana seseorang yang berusaha mati-matian bekerja, jual barang sana sini tidak laku, bekerja siang malam hanya untuk uang yang habis dipakai setiap bulannya, mau coba bisnis selalu rugi, and so on. Orang-orang seperti ini kemudian akan menyalahkan nasib, mengatakan bahwa dirinya memang kurang beruntung dan orang lain yang sukses itu pasti karena beruntung. Ternyata guys, uang juga sama dengan si doi. Kalau dikejar dengan cara-cara membosankan, ya lari, jadi ya anda akan susah mengejar uang yang lari dari anda. Begitu juga kalau uang dikekang, maksudnya begitu anda dapat uang lalu anda simpan saja erat-erat dalam dompet dan takut mengeluarkannya, uang akan mencari segala cara untuk keluar dari dompet anda. Inilah kemudian terjadi pengeluaran-pengeluaran tidak terduga yang mengakibatkan tabungan anda bocor juga akhirnya.
Segala sesuatu di alam ini perlu keseimbangan dan harmoni. Ibarat air yang selalu mengalir, begitu pula energi, selalu bergerak dan berubah dari satu wujud ke wujud lainnya. Jika uang anda hanya disimpan saja di dompet, si uang juga akan berusaha kabur karena energi dalam uang tersebut perlu terus mengalir. Ibarat manusia juga tidak mungkin disuruh tinggal dan tidur terus di dalam kamar bukan, pasti perlu keluar menghirup udara segar.
Nah, bagaimana mengaplikasikan power of Letting Go / Keajaiban Ikhlas / Pasrah ini ?
Perlu diketahui pasrah di sini sangat berbeda dengan pasrah dalam arti menyerah. Pasrah dalam arti menyerah adalah tidak melakukan apa-apa, tidak percaya pada diri sendiri, dan menjadikan pasrah itu sendiri sebagai alasan untuk tidak berkembang. Namun pasrah ikhlas (Let Go) adalah tetap melakukan segala sesuatu sebaik mungkin, namun hasilnya tidak terlalu dipikirkan. Mengapa tidak terlalu dipikirkan? Ya itu, melepas pada kekuatan yang lebih tinggi dari kita, mempunyai iman yang kuat bahwa hasilnya pasti terbaik, dan tidak terlalu memikirkannya. All is Well. Ikhlaskan saja hasilnya apapun itu karena anda yakin alam semesta akan mewujudkan yang terbaik bagi anda.
Dengan demikian, perasaan kita akan tetap positif, energi yang kita keluarkan akan berada dalam vibrasi positif yang kemudian menarik hal-hal yang kita inginkan tersebut. Sebaliknya, jika kita terlalu berharap akan hasil akhirnya, kita akan memancarkan energi dengan vibrasi ‘kekurangan’ yang pada akhirnya akan menarik ‘kekurangan’ itu sendiri. Maksudnya ya kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan karena kita memancarkan vibrasi energi kekurangan akan sesuatu yang kita inginkan tersebut.
Dengan tidak memiliki ekspektasi akan hasil dan percaya saja pada kekuatan yang lebih tinggi, yaitu dengan melepas keinginan kita tersebut / tidak terikat, maka kita akan berada dalam kondisi “acceptance / menerima” kita secara utuh apa adanya. Ini akan menciptakan vibrasi positif yang tinggi dan kuat untuk menarik apapun yang kita kehendaki. Apalagi Let go + Gratitude (bersyukur), hasilnya akan dahsyat sekali.
Wait, terus bagaimana dengan hukum Ketertarikan / Law of Attraction yang menjelaskan tentang visualisasi, bukankah kita harus terus menerus membayangkan apa yang kita inginkan tersebut?
Ya, visualisasi tetapi tidak berekspektasi. Keduanya memiliki tingkat perasaan yang berbeda frekuensinya. Ketika anda melakukan visualisasi, anda secara netral membayangkan bagaimana diri anda di masa depan, anda feel good akan hal tersebut dan memiliki iman yang kuat bahwa itulah diri anda. Visualisasi menjadikan anda dapat membayangkan diri anda di masa depan menjadi masa sekarang (present moment). Sebaliknya, ketika anda berekspektasi, anda terus mengharapkan untuk mendapatkan hasil X, namun perasaan di alam bawah sadar anda menjadi mendapatkan sinyal bahwa saat ini anda tidak memiliki X, sehingga itulah vibrasi yang akhirnya terpancar.
Visualisasikan terlebih dahulu keinginan anda layaknya hal itu sedang terjadi di masa sekarang (baca : saat ini juga), namun setelah proses visualisasi selesai, lepaskanlah hal tersebut supaya tidak melekat (baca : letting go), ikhlaskanlah apapun yang terjadi kepada alam semesta dan bersyukurlah pada kondisi saat ini (present).
Ketika kita memulai sebuah bisnis dengan tujuan utamanya uang, maka kebanyakan bisnis tersebut tidak menghasilkan sesuai ekspekstasi kita. Bisnis tersebut cenderung tidak berjalan jika hanya uang yang menjadi alasan kita memulai bisnis tersebut. Inilah mengapa orang rata-rata yang baru memulai bisnis A, B, C tetapi tidak ada yang berhasil, karena tujuan utamanya untuk mendapatkan uang semata. Bisnis memang pada akhirnya mencari profit, namun esensi dari bisnis itu sendiri bukan semata-mata untuk uang. Ini juga mengapa banyak karyawan terutama yang belum memiliki mental pengusaha, mencoba terjun ke bisnis karena tergiur untuk mendapatkan uang banyak, terakhir boncos dan balik jadi karyawan.
Seperti yang sudah dijelasin di atas, uang yang dikejar akan terus berlari menjauh. Esensi dari bisnis itu sebaiknya bukan demi uang saja, namun ada nilai (value) yang bermanfaat, ntah itu untuk efisiensi, untuk memudahkan, atau memecahkan solusi dari suatu masalah yang dihadapi banyak orang. Bisnis dengan tujuan yang lebih mulia tersebut akan memancarkan energi positif dan menarik lebih banyak uang sebagai bonusnya. Ini juga menjelaskan mengapa orang yang berbisnis dalam bidang yang memang mereka cintai cenderung lebih berhasil. Pertama, karena mereka menikmati apa yang mereka kerjakan sehingga selain memancarkan energi positif dari perasaan feel good, mereka juga tidak terlalu memikirkan hasil akhirnya. Mereka ikhlaskan keinginan untuk mendapatkan uang dan tetap do the best karena memang itulah yang mereka cintai. Alhasil, perasaan yang feeling good dan letting go tersebut sangat powerful untuk menarik hal-hal positif pada bisnis yang sedang digeluguti.
Kesimpulannya, ikhlas / letting go of something justru akan menarik kembali sesuatu yang kita inginkan tersebut. Caranya yaitu dengan tidak terlalu memikirkan hasil akhirnya tetapi do the best dan serahkan hasilnya, percaya bahwa alam semesta akan memberikan yang terbaik juga. Dengan ikhlas, kita memiliki energi positif karena kita memancarkan vibrasi bahwa kita bersyukur atas keadaan saat ini dan alam semesta pun akan memberikan lebih banyak hal-hal untuk bisa kita syukuri.
Cheers to good life!
Manusia biasanya membagi dirinya sendiri menjadi bagian fisik, jiwa, dan roh/nyawa. Ada yang menyederhanakannya menjadi jiwa-raga saja. Orang beriman berpegang teguh mengenai adanya roh sebagaimana yang ditulis dalam Kitab Sucinya, meskipun sains sampai tulisan ini dimuat belum pernah dapat membuktikan secara empiris saintifik mengenai keberadaan roh ini dan hubungannya dengan organisme jiwa-raga. Seperti biasanya, tulisan ini sama sekali tidak berbicara mengenai ‘roh’ karena ‘roh’ sudah termasuk ranah kepercayaan/keyakinan yang bersifat relatif, subyektif, dan pribadi.
Orang awam kebanyakan mengabaikan adanya si ego yang berkuasa atau mengaku berkuasa terhadap jiwa-raganya. Ego, seperti yang dapat dibaca dalam tulisan saya yang lalu, hanyalah sekumpulan pikiran dan perasaan yang telah mengristal sebagai penguasa palsu terhadap jiwa-raga orang yang bersangkutan. Tanpa menyadarinya, sebagian orang beriman yang mengira bahwa agama yang dianutnya itu adalah suatu “kebenaran”, mengelirukan egonya sendiri ini sebagai roh, dan menaati segala peraturan sistem kepercayaan yang dianutnya dengan melibatkan satuan jiwa-raga secara keseluruhan.
Karena pembebanpengaruhan sistem kepercayaan atau agamanya, sebagian ego yang mengira bahwa dirinya adalah penguasa sejati jiwa-raganya itu cenderung merendahkan apa-apa yang berhubungan dengan jiwa-raga itu seperti panca indera, sains, paham materialistis, dsb. Padahal pada kenyataannya, dari sejak otaknya menggerakkan pelupuk mata pada pagi hari dan memejamkannya lagi sewaktu ia tertidur pada malam harinya, seluruh kegiatan si ego melibatkan keseluruhan jiwa-raganya ini. Dan ia dengan sendirinya memanfaatkan hasil penemuan berbagai ilmu materialistis dalam kehidupannya sehari-hari. Kenyataan begini sering luput dari pengamatan dan pemikiran sebagian ego beriman ini. Bila pusat syaraf otaknya membuat usus besarnya tidak dapat BAB dua tiga hari saja, si orang beriman yang tidak konsekuen ini paniknya bukan main, ia akan menelan berbagai obat pencahar dan bila belum berhasil, ia pergi ke dokter, yang semuanya itu mengandalkan sains dan panca indera.
Agar tidak terjadi kesalahpengertian, penulis membatasi arti raga sebagai tubuh fisik dan jiwa sebagai ‘psike’ yang sering disinonimkan dengan ‘batin’, ‘kepribadian’, ‘personalitas’, dan sebagainya. Psike ini memiliki beberapa kemampuan, antara lain: daya pikir, daya rasa, daya mau, yang masing-masing secara berturut-turut menghasilkan pikiran, perasaan, dan kemauan atau kehendak. Jadi, kemelekatan atau keterikatan psikologis ialah kemelekatan/keterikatan yang bersifat psikologis (menyangkut psike) yang dialami oleh ego. Dengan kata lain, si ego ini melekat atau terikat pada sesuatu dengan melibatkan daya pikir, daya rasa, daya maunya, dan sebagainya. Kemelekatan ini membentuk kebiasaan yang semakin lama semakin tebal yang semakin sulit untuk dikikis habis; dan juga membentuk identitas bagi diri si ego, yang sering tanpa disadarinya. Misalnya ia melekat pada kebangsaannya ia akan mengatakan, “Saya orang Indonesia,” dan jika ia melekat pada jabatannya ia akan mengungkapkan identitasnya, “Saya gubernur DKI Jakarta,” dan jika ia (si ego) melekat/terikat pada agamanya, misalnya Islam, ia tanpa ragu mengidentifikasikan dirinya sebagai seorang Muslim, dan biasanya suka menyebut dirinya sebagai orang beriman.
Kemelekatan ini terdiri atas dua jenis keterikatan: yang positif dan yang negatif. Kemelekatan positif antara lain ialah kemelekatan pada kenyataan atau fakta yang memberinya kemungkinan untuk menghayati hidup ini dengan sebaik-baiknya secara rasional. Contoh kemelekatan positif lainnya ialah kemelekatan pada segala hal yang bersifat teknis, misalnya, keterikatan seorang insinyur teknik sipil pada keterampilannya yang berdasarkan ilmu yang dipejarinya di universitas adalah positif dalam arti mampu menunjang nafkah keluarganya dengan bekerja mendirikan bangunan, bekerja sebagai pemborong yang membangun jembatan, dan sebagainya. Sebaliknya, kemelekatan negatif ialah kemelekatan atau keterikatan pada segala hal yang irasional, yang bersifat khayalan, spekulatif, kesimpulan ngawur, dsb. Kemelekatan ini bersifat negatif karena kebanyakan tidak memberi manfaat pada kehidupan sehari-hari satuan jiwa-raga yang bersangkutan. Misalnya, kemelekatan negatif terhadap ketahyulan dan keklenikan yang hampir selalu bersifat irasional jelas dapat menimbulkan hal-hal negatif seperti rasa takut dan pengharapan yang berlebihan dan sering tanpa dasar. Kemelekatan pada yang bersifat spekulatif seperti perjudian, perdagangan berjangka, dan sejenisnya sering sangat merugikan jiwa-raga yang bersangkutan. Kemelekatan pada kesimpulan ngawur (kesimpulan yang tanpa diuji, seperti sistem kepercayaan tidak pernah berubah sejak awal diluncurkannya, yang tidak pernah diuji dan dipertanyakan) jelas akan memberikan banyak komplikasi negatif dalam hidup organisme jiwa-raga yang bersangkutan.
Secara psikologis, kebanyakan kaum beriman atau kaum eksoteris keagamaan sangat melekat/terikat pada banyak hal yang berkenaan dengan: agama, dogma, ritual, nabi, kitab suci, entitas "Tuhan" versi kepercayaan/keyakinannya, guru, para "orang suci" atau yang dianggapnya suci atau ajarannya atau isi buku yg ditulisnya; dan berbagai otoritas 'populer' lainnya dalam bidang spiritualitas, filsafat, sains, dsb., dst., khusus yang berkenaan dengan agama tempat mereka berlindung dan mencari keamanan, baik di dunia ini maupun di alam “akhirat”. Suatu tindakan atau perlakuan berupa perkataan, tulisan, atau sikap terhadap atau pernyataan mengenai berbagai hal yang dilekatinya tersebut, atau yang menyangkut banyak hal yang dilekatinya itu, yang dipersepsinya sebagai serangan, akan menimbulkan reaksi negatif secara psikologis seperti timbulnya rasa marah, benci, tersinggung, mendongkol, sakit hati, dsb. Jika orang yang sangat melekat secara psikologis itu kebetulan membaca suatu artikel pendek dalam blog interaktif seperti Kompasiana, yang dipersepsinya sebagai tulisan yang menyerang berbagai hal yang dilekatinya secara psikologis itu, ia akan secara membabi buta membaca tulisan itu dengan penuh prasangka dan tanpa benar-benar mengerti isi tulisan itu ia akan segera menyerbu dengan pertahanan diri sepenuhnya, meracau “ngalor-ngidul” (ke sana ke mari) dalam komentarnya yang terkadang penuh dengan pernyataan tidak rasional dan pertanyaan yang tidak relevan. Setelah ada orang menjawab secara rasional baik secara singkat maupun dengan panjang-lebar, alih-alih memahami dan menanggapinya secara rasional, ia malah menanggapi balik dengan berbagai ‘argumen’ berbasis kepercayaan yang sebenarnya tidak mampu dipertahankannya dan tidak perlu dipertontonkan di depan forum UMUM multi-kepercayaan seperti Kompasiana ini. Begitulah kondisi orang yang secara kejiwaan sangat melekat pada ajaran agamanya, kondisi yang membuatnya menderita secara psikologis, meskipun sering diingkarinya sendiri. Sudah beberapa kekerasan ditimpakan pada orang atau pihak yang berani mengusik sekumpulan orang yang menderita kemelekatan psikologis ini, misalnya. Kita tentunya masih ingat novelis Salman Rusdhie dengan karya kontroversial berjudul ‘Satanic Verse” atau Ayat-Ayat Setan yang mendatangkan fatwa mati dari Ayatollah Khomeini (lihat video berdurasi 8 menit 38 detik yang ditayangkan dalam tautan ini), dan tentunya memori kita masih segar pada peristiwa dahsyat 9/11, ketika ada orang fanatik menabrakkan pesawat terbang pada gedung kembar WTC (Ini adalah tayangan videonya yang sengaja dibuat ‘slow-motion’ dan ini adalah simulasi 3Dnya.) Apakah yang mendorong semua perbuatan tidak masuk akal ini? Kemelekatan psikologis!
Kemelekatan demikian, jika dibiarkan atau tidak disadari oleh orang yang bersangkutan, akan tumbuh sebagai hijab yang semakin tebal yang membuatnya tidak mampu melihat sesuatu secara rasional sebagaimana adanya.
Orang beriman yang sangat melekat secara psikologis begini biasanya juga mengalami kemelekatan psikologis negatif pada banyak hal yang bersifat irasional, misalnya membenci dan memusuhi semua ego lain yang memiliki kemeletakan terhadap sistem kepercayaan yang berlainan dengannya. Sejarah telah mencatat banyak kekerasan berbasis kemelekatan negatif terhadap agama. Perang antar agama ini sangat mengerikan karena masing-masing pihak membantai musuhnya dengan penuh kebencian dan rasa tidak takut mati. Catatan sejarah juga mengungkapkan banyak peristiwa terorisme karena kemelekatan negatif pada ajaran agama, dan contohnya masih banyak lagi.
Pada hakikatnya orang yang sangat melekat secara psikologis yang mengakibatkan kenegatifan ini juga sangat menderita batinnya pada saat ini dengan segala keterkungkungan dan keserbaterbatasannya sebagai orang yang sangat terikat dan terbelenggu. Namun ia selalu menghibur diri dengan membayangkan pahala surgawi abadi yang selalu dilamunkannya pada saat ini dan sebagai orang yang sangat beriman ia selalu mengalami kengerian ketika membayangkan kemungkinan penyiksaan dirinya secara abadi di tempat penganiayaan yang bernama neraka itu. Ketika ia berbuat sesuatu yang dianggapnya telah melanggar perintah “Tuhan”nya atau perintah agamanya, ia terkadang melamun seberapa berat bobot itu akan memberatkan timbangannya di alam pengadilan akhirat nanti, jika ia merasa berbuat kebajikan ia menghitung-hitung pahala yang akan diperolehnya nanti. Ia hidup pada saat ini namun pikirannya selalu tertambat pada masa lalu dalam bentuk penyesalan dan kenangan pahit dan melayang-layang pada masa depan dalam bentuk lamunan dan khayalan yang menghabiskan waktu dan energinya yang sangat berharga pada saat ini. Daya pikir dan daya rasanya tidak dapat berfungsi dengan normal karena tertutup kemelekatannya pada sesuatu yang selalu menghijabnya. Rasionalitasnya tidak dapat bekerja dengan sewajarnya karena dipenuhi dengan berbagai prasangka yang ditimbulkan oleh keterikatannya pada sistem kepercayaan yang dianutnya. Ia, sesungguhnya, adalah orang yang sangat menderita batinnya, namun tanpa pernah mau mengakuinya.Alamak.
Pertama sekali, Anda harus mengenali apa kemelekatan itu, kemudian tanggalkanlah kemelekatan tersebut. Pada saat itulah Anda mewujudkan ketidakmelekatan. Akan tetapi, jika Anda berpandangan bahwa Anda tidak boleh melekat pada sesuatu, maka Anda belumlah terbebas dari kemelekatan. Intinya adalah bukan menentang kemelekatan seakan-akan ada sebuah hukum tertentu yang melarangnya; intinya adalah mengamati. Kita lalu bertanya, “Apa sebenarnya kemelekatan itu ?”
“Apakah kemelekatan terhadap sesuatu membawa kebahagiaan atau malah penderitaan?” Barulah kita mulai memperoleh pemahaman. Kita mulai mengerti apa kemelekatan itu, dan akhirnya kita bisa melepaskan diri dari kemelekatan.
Jika Anda langsung melihat dengan sudut pandang bahwa Anda tidak boleh melekat pada apapun maka Anda akhirnya akan berpikiran demikian, “Saya tidak bisa menjadi umat Buddha karena saya mencintai istri saya, karena saya terikat padanya. Saya mencintainya, dan saya tidak bisa melepaskannya. Saya tidak mungkin menyuruhnya pergi begitu saja.”
Pikiran-pikiran seperti itu berasal dari pandangan bahwa Anda tidak boleh melekat. Memahami kemelekatan bukan berarti Anda harus menjauh dari istri Anda. Hal ini sebenarnya berarti Anda membebaskan diri Anda dari pandangan salah tentang diri Anda dan istri Anda. Lalu Anda akan menemukan adanya kasih di sana, tetapi tidak ada kemelekatan. Kasih yang tidak tercemari, tidak melekat, dan tidak berusaha memiliki. Pikiran yang kosong benar-benar bisa mempedulikan orang lain dan mengasihi dengan makna kasih yang sejati. Tetapi, adanya kemelekatan akan selalu mencemarinya.
Jika Anda mengasihi seseorang dan mulai berusaha memiliki, keadaan akan menjadi rumit; selanjutnya, apa yang Anda kasihi menyebabkan Anda menderita. Sebagai contoh, Anda tentu saja mengasihi anak-anak Anda, tetapi jika Anda melekat pada mereka, maka Anda tidak lagi benar-benar mengasihi mereka karena Anda menjadi ‘tidak menerima’ mereka apa adanya. Anda mempunyai banyak impian tentang bagaimana seharusnya mereka bersikap dan tentang akan jadi apa mereka nantinya. Anda ingin mereka mematuhi Anda, dan Anda ingin mereka bersikap baik, dan Anda ingin mereka lulus ujian. Dengan sikap seperti ini, Anda tidak benar-benar mengasihi mereka, karena jika mereka tidak memenuhi keinginan Anda, Anda akan merasa marah, frustasi, dan kesal terhadap mereka.
Jadi, kemelekatan pada anak-anak menghalangi kita untuk mengasihi mereka. Tetapi begitu kita melepaskan kemelekatan tersebut, kita menemukan bahwa cara berhubungan yang sesungguhnya adalah dengan mengasihi. Kita menemukan bahwa kita mampu memberikan kebebasan kepada anak-anak kita untuk menjadi diri mereka apa adanya, daripada mengharapkan mereka menjadi seseorang yang kita inginkan. Ketika saya sedang berbincang-bincang dengan para orang tua, mereka mengatakan betapa susahnya mengasuh anak-anak karena banyak sekali yang mereka harapkan dari anak-anak mereka.
Ketika kita menginginkan anak-anak kita bersikap begini dan begitu, kita mulai membentuk sebuah beban mental dan penderitaan di dalam hati kita. Sebaliknya, semakin kita dapat melepaskan kemelekatan itu, semakin kita akan menemukan suatu kemampuan yang luar biasa untuk menjadi lebih peka, dan memahami, anak-anak dengan apa adanya. Selanjutnya, tentu saja, keterbukaan itu membuat mereka menanggapi daripada hanya sekadar bereaksi tidak setuju. Tahukah Anda, banyak anak-anak yang bereaksi tidak setuju terhadap kata-kata kita, “Saya menginginkan kamu menjadi begini.” Pikiran yang kosong-pikiran yang murni- bukanlah suatu kehampaan dimana Anda tidak merasakan atau mempedulikan apapun. Pikiran seperti itu adalah suatu pikiran yang terang. Sebuah kecerahan yang benar-benar sensitif dan bisa menerima keadaan yang tidak sesuai harapan kita sekalipun.
Intinya adalah kemampuan menerima hidup ini apa adanya. Ketika kita menerima hidup ini apa adanya, kita bisa dengan tepat menanggapi apa yang sedang kita alami, bukannya sekadar bertindak berdasarkan rasa takut dan kekesalan.
Bertanggungjawab atas Diri Sendiri
Dengan kesadaran penuh, apapun posisi orang lain, kita dapat bertindak tanpa adanya keterikatan. Kita bisa mandiri dan bersikap baik walau apapun yang dilakukan oleh orang lain. Saya bisa bersikap ramah, pemurah, dan pengasih terhadap Anda, dan itulah kegembiraan bagiku. Tetapi jika saya menggantungkan kebahagiaan saya pada perlakuan Anda yang baik kepada saya, maka keadaan bahagia saya akan senantiasa terancam, karena ketika Anda tidak bersikap seperti yang saya suka-seperti yang saya kehendaki-maka saya akan menjadi tidak bahagia. Akhirnya kebahagiaan saya akan selalu terancam karena segala hal di dunia ini bisa saja tidak seperti yang saya inginkan.
Jelaslah bahwa seluruh hidup saya akan dipenuhi kekecewaan andaikan saya berharap semuanya berubah-jika saya berharap semua orang berubah menjadi orang yang baik; peperangan berakhir; tidak ada penyalahgunaan keuangan; pemerintah penuh dengan belaskasih, rela berkorban, dan penuh kedermawaan-, semuanya berlangsung persis seperti yang saya inginkan! Sebenarnya, saya tidak bisa berharap banyak untuk melihat hal-hal tersebut terwujud dalam kehidupan saya ini, tetapi tidak ada alasan untuk kecewa karenanya; kebahagiaan yang didasarkan pada apa yang saya inginkan tidaklah penting.
Kegembiraan tidaklah tergantung pada perolehan sesuatu, atau pada dunia yang berjalan seperti yang Anda kehendaki, atau pada orang lain yang bertindak patut, atau pada keadaan dimana mereka memberi Anda semua hal yang Anda suka dan inginkan. Kegembiraan tidaklah bergantung kepada sesuatu apapun melainkan kemauan Anda menjadi dermawan, ramah, dan pengasih. Kegembiraan adalah suatu pengalaman yang penuh kedewasaan dalam memberi, berbagi, dan mengembangkan ilmu kebajikan. Kebajikan adalah suatu kegembiraan yang dapat kita rasakan di alam manusia ini. Jadi, meskipun apa yang dilakukan masyarakat dan orang lain itu di luar kendali saya-saya tidak mungkin berkelana kesana-kemari untuk membuat semuanya sesuai dengan kehendak saya-,tetap saja saya dapat menjadi menjadi seorang yang ramah, dermawan, dan sabar, dan berbuat baik, dan mengembangkan kebajikan. Itu yang saya dapat lakukan, patut dilaksanakan, sesuatu yang tidak dapat dihentikan oleh siapapun juga. Betapa busuk atau rusak pun suatu masyarakat, itu tidak akan mempengaruhi kemampuan kita untuk menjadi bajik dan berbuat kebaikan.