TENUN DONGGALA
KOPI ARABIKA DOMBU SIGI
Tenun Donggala merupakan warisan seni tenun masyarakat suku Kaili dari Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, yang berkembang sejak sekitar tahun 1550 pada masa Kerajaan Boya Peramba. Ciri khasnya adalah motif bunga bomba, motif sungkit pada tenun subi, serta bibir kain (sele) berwarna putih atau senada. Diproduksi menggunakan alat tenun godokan dan ATBM dengan teknik ikat lungsi dan pakan, Tenun Donggala juga memiliki pengaruh akulturasi budaya Bugis. Dahulu digunakan dalam upacara adat dan kalangan bangsawan, kini menjadi identitas budaya dan kebanggaan masyarakat. Tenun Donggala terus dilestarikan dan dilindungi melalui skema Indikasi Geografis.
Donggala Woven Fabric is a traditional heritage of the Kaili people of Donggala, Central Sulawesi, dating back to around 1550. Its distinctive features include the Bomba flower motif, Sungkit motifs, and the Sele fabric edge. Woven using traditional looms and warp-weft ikat techniques, it reflects the cultural heritage and Bugis influence of coastal Donggala. Once reserved for traditional ceremonies and nobility, it is now a symbol of local identity and pride, preserved and protected through the Geographical Indication scheme.
HARGA JUAL/LEMBAR : Rp. 500.000 - Rp. 1.500.000
SELLING PRICE/PIECES : 30,67 USD - 84,76 USD
contact person: +62852-4096-2693 (Wati)
Kopi Arabika Dombu Sigi merupakan produk asal Kecamatan Marawola Barat, Kabupaten Sigi (Desa Lewara, Soi, dan Dombu), yang sejarahnya terbentuk dari perpaduan tiga varietas Kopi Lena peninggalan kolonial Belanda, Sigararutang yang diperkenalkan Gereja Bala Keselamatan, dan Komasti melalui penyuluh pertanian serta nilai adat seperti tradisi potamba (ritual syukuran hasil bumi) dan budaya gotong royong dalam budidaya. Secara kualitas, kopi ini memenuhi standar SNI untuk biji, sangrai, dan bubuk, dengan hasil uji citarasa cupping SCAA/SCA oleh Puslitkoka Jember mencapai skor 86,4–86,9 (kategori specialty coffee), berkarakter floral, brown sugar, caramel, nutty, dan spicy ringan dengan keasaman seimbang serta tanpa cacat rasa. Reputasinya terbentuk dari kombinasi kualitas produk teruji, keterlibatan aktif kelompok tani seperti Anggrek Hutan, serta pengakuan formal seperti kelulusan Sou Kopi Dombu Coffee and Roastery dalam program inkubasi PK2UMK Kemenkop UMKM RI 2025 dan program Pra-Inkubasi GIAT Kabupaten Sigi 2024, didukung legalitas usaha lengkap (NIB, PIRT, halal, BPOM, merek).
Lingkungan geografis turut membentuk keunggulan kopi ini melalui faktor alam berupa ketinggian 800–1.800 mdpl, curah hujan tahunan 586–1.398 mm dengan pola musiman yang mendukung siklus pembungaan hingga pematangan buah, serta tanah lempung berdebu ber-pH 5,47 dan C-organik tinggi hasil pelapukan batuan sedimen, metamorf, dan vulkanik; dan faktor manusia berupa peran petani sebagai penjaga pengetahuan lokal yang terorganisasi dalam kelompok tani di Lewara, Soi, dan Dombu, dengan inovasi pascapanen serta pendampingan Balai Penyuluhan Pertanian Dombu di kawasan seluas total 217,5 hektare. Mutu dan keaslian produk dijaga melalui sistem pengendalian berjenjang pengawasan mandiri oleh petani, pengawasan internal oleh kelompok tani/MPIG, dan pengawasan eksternal oleh pemerintah yang didukung sistem kode keterunutan (misalnya format 12.12.04.12.25 yang menandai kelompok tani, pengolah, pedagang, bulan, dan tahun panen) yang dicantumkan pada kemasan bersama logo Indikasi Geografis, sehingga menjamin transparansi rantai pasok dan konsistensi citarasa Kopi Arabika Dombu Sigi.
Kopi Arabika Dombu Sigi is a product originating from West Marawola District, Sigi Regency (the villages of Lewara, Soi, and Dombu), whose history was shaped by a blend of three coffee varieties: Lena Coffee, a legacy of Dutch colonial times, Sigararutang, introduced by the Salvation Army church, and Komasti, introduced through agricultural extension workers, together with traditional values such as the potamba tradition (a thanksgiving ritual for the harvest) and the culture of mutual cooperation (gotong royong) in cultivation. In terms of quality, this coffee meets the Indonesian National Standard (SNI) for beans, roasting, and powder, with cupping test results under the SCAA/SCA standard conducted by Puslitkoka Jember achieving a score of 86.4–86.9 (classified as specialty coffee), characterized by floral, brown sugar, caramel, nutty, and light spicy notes, with balanced acidity and no taste defects. Its reputation has been built through a combination of proven product quality, active involvement from farmer groups such as Anggrek Hutan, and formal recognition, including Sou Kopi Dombu Coffee and Roastery's graduation from the PK2UMK incubation program run by Indonesia's Ministry of Cooperatives and SMEs (Kemenkop UMKM RI) in 2025 and the GIAT Pre-Incubation program of Sigi Regency in 2024, supported by complete business legality (business registration number NIB, home industry permit PIRT, halal certification, BPOM approval, and trademark).
Green Bean,
- Arabika Fullwash Rp. 147.125/kg
- Arabika Natural Rp. 155.150/kg.
Roasbean,
- Arabika Natural 500 gram (Rp. 145.000)
- Arabika Natural 250 gram (Rp. 80.000)
- Arabika Fullwash 500 gram (Rp. 135.000)
- Arabika Fullwash 250 gram (Rp. 70.000)
Contact person: 082344632223 Ujang (Gampiri Bumi Lestari)