Q: Apakah ada perbedaan biaya antara pengukuran di 500 MHz dan 400 MHz?
A: Tidak ada perbedaan harga. Biaya pengukuran sama untuk kedua instrumen.
Q: Sampel seperti apa yang bisa diukur dengan NMR?
A: Sampel yang bisa diukur umumnya dapat berupa padatan atau cairan, yang larut dalam pelarut nmr yang tersedia.
Q: Berapa jumlah sampel yang dibutuhkan?
A: Jumlah sampel yang diperlukan menyesuaikan dengan jumlah atom karbon dalam struktur senyawa. Sebagai panduan, jika senyawa memiliki 10 atom karbon, maka diperlukan sekitar 10 mg sampel.
Jika jumlah sampel lebih sedikit dari rekomendasi, pengukuran tetap bisa dilakukan, namun:
Jumlah scan harus ditambah,
Waktu pengukuran menjadi lebih lama,
Biaya pengukuran akan bertambah.
Q: Dalam pelarut apa sampel NMR dilarutkan?
A: Pilihan pelarut menyesuaikan dengan kelarutan senyawa. Prosedurnya:
Uji kelarutan di laboratorium riset masing-masing menggunakan pelarut umum seperti kloroform, DMSO, aseton, metanol, atau air.
Tentukan pelarut terbaik berdasarkan hasil uji atau literatur.
Untuk pengukuran NMR, sampel harus dilarutkan dalam pelarut deuterated (mengandung deuterium), pelarut deuterated yang tersedia
CDCl₃ (chloroform-d)
DMSO-d₆
CD₃OD (methanol-d₄)
Acetone-d₆
D₂O (deuterium oxide)
Q: Apakah pelarut NMR disediakan oleh ITB atau harus membawa sendiri?
A: Pelarut NMR disediakan oleh ITB. Namun, terdapat biaya tambahan sekitar Rp100.000 – Rp200.000, tergantung jenis pelarut yang digunakan.
Q: Bagaimana prosedur preparasi sampel NMR?
A: Sampel sekitar 20 mg, dilarutkan dalam ±0,6 mL pelarut deuterated.Larutan dimasukkan ke dalam tabung NMR berdiameter 5 mm.
Q: Bagaimana penyimpanan sampel sebelum pengukuran?
A: Sampel bisa disimpan di vial kecil atau microtube kemudian diberi label lengkap berisi nama, kode sampel, pelarut, struktur dan jenis pengukuran.
Q: Bagaimana format data hasil NMR diberikan?
A: Biasanya hasil diberikan dalam dua bentuk:
Raw data (.fid) → untuk diproses dengan software (MestReNova, TopSpin).
Spektrum olahan yang sudah diberi integrasi dan geseran kimia dalam bentuk pdf
Q: Apakah sampel bisa diambil kembali setelah pengukuran?
A: ya, sampel bisa diambil kembali setelah pengukuran selesai
Q: Apakah sampel dapat digunakan kembali untuk analisis lain?
Jika menggunakan pelarut yang mudah menguap (contoh: aseton, metanol, kloroform)sampel masih bisa diambil dan dipakai lagi untuk analisis lain jika diperlukan.
Jika menggunakan pelarut non-volatile (contoh: DMSO-d6, D₂O) sampel biasanya tidak bisa dipakai kembali.