Home > Berita > Artikel
From Gratitude to Greatness: Menyibak Langkah untuk Mencapai Potensi Maksimal Mahasiswa dalam Pembelajaran Daring
📆Tuesday, December 17, 2024 14:24 WIB || ✍Abi Dzarr Hibban
Home > Berita > Artikel
From Gratitude to Greatness: Menyibak Langkah untuk Mencapai Potensi Maksimal Mahasiswa dalam Pembelajaran Daring
📆Tuesday, December 17, 2024 14:24 WIB || ✍Abi Dzarr Hibban
Source : pexels.com
Fenomena kelas digital (daring) adalah suatu paradoks yang aneh—atau mungkin lebih tepat disebut menarik. Fenomena ini menawarkan probabilitas koneksi yang tidak terbatas tetapi di saat yang sama juga terasa mengisolasi dan membatasi keterlibatan interaksi. Coba Anda bayangkan suatu kelas di mana ada seorang dosen yang sedang mengisi topik perkuliahan daring di suatu pagi dengan semangat. Semua perhatiannya ia fokuskan kepada pemaparan materi dengan harapan bahwa ia akan mampu untuk menyampaikan materi secara maksimal kepada para mahasiswa. Sekarang, coba Anda lihat ke sisi lain dari kelas ini—mahasiswanya. Mahasiswa dalam kelas daring itu duduk dalam keheningan di depan gawai mereka. Tidak terlihat keterlibatan dalam bentuk apapun—seolah-olah ada yang mengisolasi mereka dari ruang meeting online di mana dosen mereka sedang melakukan pemaparan materi. Microphone mereka dimatikan. Kamera mereka juga dimatikan—their enthusiasm and engagement is as invisible as their faces.Â
Banyak studi mulai dari yang bentuknya korelasi, eksperimen, hingga studi kasus dengan pendekatan kualitatif sampai kuantitatif telah dilakukan untuk menjawab permasalahan ini—mengapa mahasiswa di kelas daring lebih susah untuk terlibat dalam pembelajaran?. Lebih jauh lagi, bagaimana kita bisa memperbaikinya?. Banyak orang yang mungkin akan berpendapat jika permasalahan mengenai keterlibatan mahasiswa ini dipengaruhi oleh alasan-alasan pelik terkait perkara teknis—technology, stricter policies, or even the need for more interactive content. Tapi bagaimana jika jawaban yang selama ini kita cari tidaklah tersembunyi dalam alasan-alasan teknis rumit tersebut, tetapi dalam suatu konsep yang jauh lebih sederhana dan manusiawi, yaitu “rasa syukur” (gratitude)?
Berdasarkan hasil studi-studi sebelumnya, sudah terungkap jika rasa bersyukur memang memiliki pengaruh dalam dorongan peserta didik untuk terlibat dalam aktivitas kelas daring. Salah satu penelitian menarik yang membahas mengenai permasalahan ini adalah sebuah penelitian yang akan dibahas dalam reportase kali ini. Reportase ini akan mencoba untuk memahami dan menjabarkan hasil dari sebuah studi eksperimen yang dilakukan oleh dosen-dosen dari Program Studi Psikologi Universitas Islam Indonesia—Hazhira Qudsyi, Hariz Enggar Wijaya, Ahmad Rusdi, Mira Aliza Rachmawati, dan Thobagus Muhammad Nu’man—dengan judul “Students’ gratitude and engagement in online learning: An experimental study”. Artikel ilmiah ini diterbitkan dalam International Journal of Innovative Research and Scientific Studies (Volume 7, Issue 4). Studi ini sendiri dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh intervensi rasa bersyukur (baik itu rasa bersyukur secara umum maupun rasa bersyukur yang telah terdifusi dengan nilai-nilai islam) terhadap keterlibatan peserta didik (engagement) dalam aktivitas belajar daring. Laporan ini akan mendalami temuan-temuan dari studi eksperimental tersebut dan menyibak fakta menakjubkan tentang bagaimana perubahan sederhana dalam perspektif (i.e. Merasa lebih bersyukur) dapat membantu mahasiswa meraih potensi maksimal dari lanskap pembelajaran daring.Â
Source : pexels.com
Keterlibatan Multidimensional dalam Pembelajaran Daring: Pendekatan Baru dengan Gratitude
Studi ini dimulai dari perhatian peneliti mengenai permasalahan yang muncul dalam kelas daring selama pandemi Covid-19. Pandemi yang berlangsung selama lebih dari dua tahun ini telah membawa perubahan yang besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia saat itu—termasuk bidang pendidikan. Hal ini dapat dilihat dari pelaksanaan proses edukasi yang pada waktu itu dilaksanakan dalam moda daring maupun bauran (hybrid online-offline). Berdasarkan hasil survei yang dilaksanakan oleh Universitas Islam Indonesia di Tahun 2021 mengenai pembelajaran daring, Peneliti dari studi ini menemukan satu fakta yang cukup jelas dan mudah ditebak—kebanyakan agen pendidikan (i.e. lecturers and students) merasa jika kelas yang diselenggarakan secara daring ini jauh lebih “menantang” dan tidak efektif dibandingkan dengan kelas tatap muka (offline; luring). Melalui survei ini, ditemukan jika 48% mahasiswa dan 36% dosen merasakan perasaan negatif dan tidak puas yang sama mengenai permasalahan kelas daring ini. Studi ini sendiri lebih berfokus kepada pengaruh dari pembelajaran daring tersebut terhadap mahasiswa. Peneliti menyebutkan jika mahasiswa merasakan kesulitan yang berlipat ganda dalam moda pembelajaran ini, mulai dari permasalahan operasional sederhana seperti lokasi belajar (kesulitan jaringan internet), fasilitas dan media yang dimiliki (termasuk kuota internet, penggunaan gawai dan sumber referensi), “gangguan” saat belajar di rumah (dimintai bantuan oleh orang tua, keluarga, maupun gangguan lain), hubungan interpersonal (termasuk problema dalam mengerjakan penugasan kelompok, interaksi dengan teman sebaya dan lain-lain) hingga permasalahan yang lebih kompleks seperti permasalahan psikologis (burnout, stres maladaptif, kecemasan, dan lain-lain).Â
Permasalahan yang muncul dan perasaan tidak puas yang dirasakan mahasiswa ini dapat mengindikasikan jika mahasiswa kurang terlibat dalam aktivitas pembelajaran daring (disengaged). Keterlibatan dalam konteks pembelajaran mahasiswa sendiri dapat diartikan sebagai suatu kondisi di mana mahasiswa secara aktif mampu untuk mencurahkan waktu, tenaga, pikiran, usaha, dan perasaan dalam kegiatan yang berhubungan dengan proses belajar. Misal, seorang mahasiswa yang memiliki keterlibatan tinggi dalam pembelajaran daring akan mencurahkan waktu, tenaga, pikiran, perasaan, dan usaha dengan sepenuhnya ketika melaksanakan meeting online bersama dosennya dengan cara membuka kamera, aktif menjawab pertanyaan, serta memperhatikan dosen dengan seksama. Hal yang sebaliknya dapat kita lihat pada mahasiswa dengan tingkat keterlibatan yang rendah. Keterlibatan yang rendah ini bisa dilihat dari beberapa aspek, misal: mahasiswa yang merasa tidak semangat dalam mengikuti kelas (e.g. Termanifestasi dari sering terlambat waktu mengikuti kelas daring), performa akademik yang cenderung rendah (e.g. Terlihat dari indeks prestasi kumulatif yang berada di bawah rata-rata), perasaan tidak senang, hingga perasaan bosan dan jenuh terhadap kegiatan pembelajaran daring.
Studi ini melakukan literatur pustaka yang dalam mengenai engagement dalam konteks mahasiswa sewaktu pembelajaran daring dilaksanakan. Salah satu hasil dari literatur pustaka tersebut adalah temuan menarik jika konsep keterlibatan itu bukan semata-mata konsep yang satu dimensional saja. Keterlibatan adalah konsep yang mengakar lebih dalam daripada sekadar “aktivitas fisik” seperti menyalakan kamera, menjawab pertanyaan dengan baik, dan memerhatikan materi dengan seksama. Benar hal tersebut adalah indikator dari perilaku keterlibatan yang baik—tetapi pertanyaan “apa itu keterlibatan?” memiliki jawaban yang jauh lebih kompleks dari aktivitas fisik belaka dan erat kaitannya dengan fenomena psikologis sebagai “penyebab” dari perilaku fisik tersebut, termasuk proses psikologis mengenai pemahaman materi dan understanding serta sense-making.Â
Berdasarkan literatur pustaka yang telah dilakukan, studi ini percaya jika keterlibatan sendiri merupakan konsep multidimensional yang mencakup setidaknya tiga aspek dimensi—perilaku, emosi, dan kognitif. Keterlibatan secara perilaku dapat diartikan sebagai usaha peserta didik untuk berpartisipasi dalam segala kegiatan yang berhubungan dengan pembelajaran dan capaian akademik (e.g. Aktif dalam pembelajaran, giat dalam mengikuti ekstrakurikuler atau kegiatan di luar kelas, dan lain-lain). Keterlibatan yang kedua adalah keterlibatan secara emosional. Keterlibatan dalam bentuk ini berkaitan dengan reaksi perasaan (afeksi) baik itu positif maupun negatif terhadap lingkungan dan situasi pembelajaran. Misal, perasaan semangat, ingin tahu, dan termotivasi yang merupakan manifestasi perasaan positif dari keterlibatan emosional. Keterlibatan yang terakhir adalah keterlibatan peserta didik secara kognitif. Keterlibatan ini berkaitan dengan investasi peserta didik dalam pembelajaran. Investasi dalam konteks ini memiliki makna seberapa jauh peserta didik ingin untuk mengeluarkan usahanya dalam berpikir dan memahami guna mencapai tujuan akhir (goal) dari proses belajar itu sendiri.Â
Berdasarkan paparan tersebut, studi ini percaya jika keterlibatan peserta didik akan sangat berkaitan dengan capaian akademik (e.g. Meningkatkan performa, memperkuat kompetensi, hingga mengurangi perilaku maladaptif dalam belajar). Studi ini juga percaya jika permasalahan keterlibatan ini semakin menjadi sorotan dalam setting pembelajaran daring—sebuah setting yang memiliki kemungkinan besar untuk membuat mahasiswa merasa terisolasi dan terputus (isolated and disconnected). Dapat disimpulkan jika keterlibatan merupakan aspek penting dalam pembelajaran daring yang mampu memengaruhi produk akhir dari suatu rangkaian pembelajaran akademik. Dengan begitu, penting bagi fenomena keterlibatan peserta didik ini untuk diteliti dalam rangka memberikan pengalaman pembelajaran yang lebih efektif untuk peserta didik terutama dalam konteks pembelajaran digital/daring.
Studi-studi yang telah dilakukan sebelumnya menunjukkan jika ada banyak cara, stimulasi, dan intervensi yang mungkin dilakukan untuk meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran daring. Studi ini sendiri akan berfokus kepada intervensi rasa syukur atau gratitude—perasaan bahagia dan berterima kasih yang dirasakan oleh seorang individu terhadap eksistensi lain (bisa individu lain, objek mati, atau bahkan Tuhan) yang telah memberikan manfaat atau kebahagiaan bagi individu tersebut. Intervensi rasa syukur sendiri dipilih dalam studi ini karena Peneliti percaya masih sangat sedikit penelitian yang mengungkit mengenai kekuatan luar biasa dari rasa bersyukur dalam meningkatkan keterlibatan peserta didik. Kebanyakan studi yang membahas mengenai hal ini juga masih belum sensitif secara budaya karena studi-studi tersebut banyak dilakukan dalam konteks budaya barat saja. Studi ini nantinya akan dapat menjadi salah satu kontributor terkait topik pengaruh gratitude-engagement dalam representasi penelitian dari negara timur.
Dengan demikian, dapat disimpulkan jika studi ini memiliki fokus masalah terkait dengan keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran daring. Studi ini sendiri dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana efek dari intervensi rasa syukur terhadap permasalahan keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran daring tersebut. Penelitian ini juga akan mendiferensiasikan intervensi rasa syukur yang diberikan berdasarkan konteks budaya (budaya barat dan budaya nilai-nilai Islam). Hasil dari penelitian ini nantinya diharapkan akan mampu untuk dijadikan salah satu alternatif bagi tenaga pendidik untuk meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran daring—yang akhirnya akan meningkatkan keseluruhan aspek akademik peserta didik seperti kesejahteraan, pembelajaran, dan prestasi pembelajaran.
Source : pexels.com
Bagaimana Cara Mengukur Peningkatan EngagementÂ
Untuk menemukan jawaban dari permasalahan dan tujuan yang diangkat, studi ini menggunakan desain penelitian pre-test dan post-test control group design. Dengan kata lain, penelitian ini akan membagi partisipan penelitian menjadi beberapa kelompok dan memberikan tes sebelum serta sesudah intervensi rasa syukur diberikan. Adapun kelompok yang diberikan intervensi hanyalah kelompok eksperimen. Kelompok kontrol dalam penelitian ini akan diberikan placebo (kegiatan yang terlihat seperti intervensi tapi sebenarnya tidak memiliki efek apapun) yang tidak berhubungan dengan intervensi rasa syukur.
Pengumpulan data dalam studi ini menggunakan skala yang sudah dikembangkan oleh studi-studi terdahulu. Studi ini menggunakan alat tes Online Student Engagement Scale (OSES) yang sudah diadaptasi untuk mengukur keterlibatan peserta didik (engagement) dalam empat aspek (skills, participation, emotional, dan performance) sebelum dan sesudah intervensi dilakukan. Pengukuran terhadap rasa bersyukur sendiri juga dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan alat ukur Gratitude Adjective Checklist (GAC) yang mengukur rasa syukur dalam tiga aspek (grateful, thankful, dan appreciative).
Studi ini membagi 47 partisipan menjadi tiga kelompok yang nantinya akan menerima perlakuan yang berbeda. 20 partisipan akan dimasukkan ke dalam kelompok eksperimen pertama di mana mereka akan diberikan intervensi rasa syukur umum yang dikembangkan dari budaya barat. Kelompok ini akan diminta untuk menuliskan hal-hal umum apa saja yang membuat mereka merasa bersyukur (Western-based gratitude exercise). 15 orang lainnya akan dikelompokkan menjadi kelompok eksperimen kedua di mana mereka akan diberi intervensi rasa syukur dengan diinfus nilai-nilai Islam. Kelompok ini akan diminta untuk menuliskan hal-hal apa saja yang membuat mereka merasa bersyukur atas kekuasaan Allah Swt. (Islamic-based gratitude exercise). Kelompok terakhir adalah kelompok kontrol yang akan diminta untuk menuliskan hal-hal yang berkaitan dengan pengalaman dan kondisi sehari-hari yang tidak berhubungan dengan rasa syukur (ini adalah placebo).
Studi ini dilakukan dengan prosedur yang berurutan. Langkah awal yang dilakukan adalah memeroleh persetujuan dari Komite Etik Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia untuk meyakinkan bahwa eksperimen yang akan dilaksanakan tidak akan mengurangi kesejahteraan partisipan dan tidak memiliki akibat yang detrimental bagi khalayak umum. Semua partisipan lalu akan diminta untuk mengisi tes OSES dan GAC untuk mengumpulkan data pre-test sebagai data baseline dari penelitian. Partisipan kemudian akan diberi kesempatan untuk menyetujui informed consent atau menolaknya dan mundur dari penelitian. Setelah itu, fase pemberian intervensi akan dimulai. Dalam fase ini, partisipan akan melakukan dan menerima perlakuan intervensi rasa syukur sesuai dengan kelompoknya masing-masing (kelompok pertama diberikan intervensi rasa syukur barat, kelompok kedua diberikan intervensi rasa syukur islami, dan kelompok tiga diberi placebo) selama dua minggu menggunakan media worksheet yang harus dikerjakan. Intervensi ini akan dilakukan setiap dua hari sekali selama 14 hari. Di akhir proses intervensi, partisipan akan diminta untuk menjawab pertanyaan terbuka mengenai pemahaman (insight) apa yang telah mereka peroleh selama pelaksanaan intervensi berlangsung. Di langkah terakhir eksperimen ini, partisipan akan diminta untuk mengisi tes OSES dan GAC untuk yang kedua kalinya guna mengumpulkan data post-test. Setelah rangkaian eksperimen selesai, langkah selanjutnya adalah proses analisis dari data yang telah diperoleh untuk mendapatkan hasil.
Source : pexels.com
Syukur dalam Perspektif Islam dan Barat: Apa yang Membuatnya Berbeda?
Pengumpulan data yang telah dianalisis dalam penelitian ini akhirnya dapat ditranslasikan menjadi sebuah hasil yang dapat dipahami. Reportase ini akan mencoba memaparkan hasil translasi data tersebut dengan singkat dan akurat. Sebelum membahas hasil dari analisis masing-masing dan interaksi antar variabel penelitian, Penulis ingin membahas mengenai hasil dari uji kesetaraan (Equality test; homogeneity test) dari studi ini. Hasil tes ini menunjukkan bahwa tidak ada data antar kelompok yang menunjukkan perbedaan variasi yang signifikan (p=0.346). Oleh karena itu, ketiga kelompok dalam eksperimen ini dapat dikatakan memiliki variasi data yang homogen pada pengukuran sebelum dan sesudah tes serta terbebas dari baseline bias.Â
Selanjutnya akan dibahas mengenai hasil analisis dari skor terkait rasa bersyukur yang diperoleh dari asesmen pre-test dan post-test skala GAC (Gratitude adjective checklist). Dalam kelompok eksperimen pertama (intervensi rasa syukur barat) skor rata-rata meningkat dari 13.40 menjadi 14.60. Kelompok eksperimen kedua (intervensi rasa syukur islami) sendiri juga mengalami peningkatan skor rata-rata dari 13.20 menjadi 14.47. Kelompok terakhir yaitu kelompok kontrol (yang diberikan placebo) juga terlihat mengalami peningkatan skor rata-rata dari 13.50 menjadi 14.25. Perasaan bersyukur yang meningkat di kelompok eksperimen satu dan dua ini menunjukkan bahwa intervensi yang diberikan mampu untuk meningkatkan perasaan syukur yang ada dalam disposisi peserta didik.
Hasil berikutnya adalah hasil interpretasi dari skor terkait keterlibatan (engagement) dalam pembelajaran daring yang diperoleh dari asesmen pre-test dan post-test skala OSES (Online Student Engagement Scale). Dalam kelompok eksperimen pertama (intervensi rasa syukur barat) skor rata-rata meningkat dari 69.00 menjadi 78.45 (Selisih +9.45). Kelompok eksperimen kedua (intervensi rasa syukur islami) sendiri juga mengalami peningkatan skor rata-rata dari 72.87 menjadi 78.13 (selisih +5.27). Kelompok terakhir yaitu kelompok kontrol (yang diberikan placebo) juga terlihat mengalami peningkatan skor rata-rata dari 71.05 menjadi 77.08 (selisih +5.33). Dari data tersebut, dapat dilihat jika kelompok eksperimen pertama yang diberikan intervensi rasa syukur barat memiliki lonjakan yang paling tinggi dengan selisih di angka +9.45 dibandingkan dengan kelompok eksperimen rasa syukur islam dan kelompok kontrol.
Di tahap selanjutnya, Peneliti dari studi ini melakukan analisis post-hoc untuk menentukan interaksi dari intervensi yang diberikan (rasa syukur) terhadap keterlibatan peserta didik. Menariknya, berdasarkan hasil analisis post-hoc ini, kenaikan keterlibatan siswa dalam pembelajaran daring hanya terlihat pada kelompok eksperimen pertama (intervensi rasa syukur barat) dengan nilai effect size d = 1.14 dan p<0.001 (besar/large dan signifikan). Sementara itu, kelompok eksperimen kedua (intervensi rasa syukur islam) dan kelompok kontrol menunjukkan efek yang lebih kecil (moderate) dan tidak signifikan (d = 0.491; p= 0.17 dan d = 0.464;Â p= 0.29). Hasil ini semakin diperkuat dengan fakta jika selisih rata-rata (mean difference) dari kelompok eksperimen intervensi rasa syukur barat jauh lebih signifikan (+9.45) dibandingkan dengan kelompok eksperimen rasa syukur Islam (+5.27), dan kelompok kontrol (+5.33).
Berdasarkan paparan tersebut, banyak sekali hal menarik yang bisa dibahas mengenai permasalahan ini. Yang pertama adalah fakta jika hanya kelompok eksperimen dengan intervensi rasa syukur barat saja yang terbukti memiliki impact/dampak terhadap keterlibatan (engagement) peserta didik dalam pembelajaran daring berdasarkan hasil dari analisis post-hoc. Temuan ini dianggap oleh Peneliti sesuai dan mendukung hasil-hasil studi terdahulu yang menyatakan jika treatment rasa syukur umum (Barat) memang memiliki dampak positif dalam berbagai aspek—misal: peningkatan engagement, peningkatan motivasi, resiliensi diri, kesejahteraan psikologis peserta didik, dan lain-lain. Sehingga studi ini dapat dikatakan telah menambahkan kontribusi referensi terkait dengan pengaruh luar biasa yang dapat ditawarkan oleh intervensi rasa syukur umum (Barat).
Studi ini juga memberi highlight pada temuan yang ternyata bertolak belakang dengan ekspektasi peneliti. Hal ini berkaitan dengan intervensi rasa syukur Islam yang ternyata malah tidak memiliki efek signifikan dalam meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran daring. Peneliti dari studi ini memaparkan beberapa hal yang mungkin bisa menjadi penyebab dari fenomena ini. Kemungkinan penyebab yang pertama adalah intervensi rasa syukur Islam membutuhkan prosedur yang lebih teliti dan kompleks daripada sekadar menuliskan “apa saja yang membuat Anda bersyukur atas kekuasaan Allah Swt.?”. Peneliti menjabarkan jika intervensi rasa syukur Islam membutuhkan refleksi dan pendalaman lebih yang proses operasionalnya tidak bisa disamakan dengan intervensi rasa syukur umum dari barat. Hal ini dikarenakan intervensi rasa syukur islam merupakan konsep yang pada dasarnya lebih dari sekadar “perasaan bersyukur/apresiatif”, tapi juga membutuhkan kehadiran dimensi transendental ilahi dan pemahaman akan nilai-nilai Islam. Hal ini juga berhubungan dengan alasan kedua yang ditawarkan oleh peneliti—waktu intervensi yang terlalu singkat. Peneliti percaya jika kompleksitas intervensi rasa syukur dalam Islam akan sulit untuk disimpulkan/dikompres dalam waktu yang sangat singkat (dua minggu). Dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut, Peneliti dari studi ini menyarankan agar studi selanjutnya dapat menggunakan desain intervensi rasa syukur Islam yang lebih komprehensif guna mendapatkan hasil yang lebih akurat dan maksimal.
Hal lain yang menarik untuk didiskusikan dari hasil studi ini adalah permasalahan mengenai kelompok kontrol—mengapa kelompok kontrol yang hanya diberikan placebo juga mengalami peningkatan dalam keterlibatan peserta didik?, bukankah harusnya kelompok ini tidak mengalami peningkatan karena perlakuan yang diberikan adalah placebo (yang seharusnya tidak memiliki efek apapun)?. Peneliti menjawab permasalahan ini dengan jawaban yang padat: peningkatan pada kelompok kontrol ini disebabkan karena placebo yang diberikan ternyata memiliki efek terhadap keterlibatan peserta didik (baik itu langsung maupun tidak langsung). Peneliti percaya jika placebo yang diberikan kepada kelompok kontrol (dimana mereka diminta untuk menuliskan hal-hal yang berkaitan dengan pengalaman sehari-hari yang tidak berhubungan dengan rasa syukur) kemungkinan besar membuat partisipan dalam kelompok tersebut mengalami refleksi diri yang mendalam. Refleksi diri ini nantinya akan memiliki pengaruh psikologis (misal: meningkatkan kesejahteraan individu, self-efficacy, self-regulation, dan lain-lain) yang secara tidak langsung akan memengaruhi keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran daring. Berdasarkan permasalahan ini, Peneliti menyarankan studi selanjutnya untuk memilih placebo yang lebih netral—dimana perlakuan placebo yang diberikan tersebut tidak menimbulkan efek psikologis sama sekali.
Source : pexels.com
Mensyukuri Proses Akademik
Berdasarkan laporan mengenai studi ini, mungkin ada beberapa pertanyaan mengganjal mengenai konteks yang digunakan—mengapa membahas studi yang dilakukan saat pandemi?. Bukankah ini sudah out of date untuk dibahas?. Memang benar jika studi ini dilakukan dalam konteks yang berbeda dengan status quo, namun setting dari permasalahan dalam studi ini bisa dikatakan masihlah sangat up to date dengan kondisi sekarang—pembelajaran daring yang masih banyak diterapkan. Hal ini dapat kita lihat dengan banyaknya moda pembelajaran yang hingga saat ini masih menggunakan jaringan—misal, pertemuan asinkronus dan mata kuliah dengan bentuk bauran. Sehingga, Penulis percaya jika insight yang dapat ditawarkan oleh studi ini masih amat menarik untuk dibahas.
Akhir dari studi ini menyatakan jika merasa bersyukur dan apresiatif terbukti mampu untuk memengaruhi keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran daring. Hal ini dapat diartikan jika peserta didik merasa bahagia dan mampu untuk mengapresiasi kejadian serta pengalaman dalam kehidupan operasionalnya, maka peserta didik tersebut juga akan mampu untuk mencurahkan waktu, tenaga, pikiran, usaha, dan perasaan dalam kegiatan yang berhubungan dengan proses belajar (terlibat aktif dalam pembelajaran)—baik itu dalam aspek perilaku, emosi, maupun kognitif. Pemahaman baru ini akan memberikan implikasi yang signifikan bagi dosen maupun peserta didik dalam konteks pembelajaran daring
Yang pertama adalah implikasinya pada peserta didik itu sendiri. Melalui pemahaman dari studi ini, peserta didik bisa mulai menerapkan perasaan berterima kasih, bersyukur, dan apresiatif pada segala eksistensi yang berada di sekitar mereka dalam rangka meningkatkan keterlibatan mereka dalam pelaksanaan pembelajaran kelas daring. Hal ini bisa dimulai dari ihwal-ihwal sederhana seperti melakukan latihan gratitude (misalnya menulis dan memikirkan hal-hal apa yang membuat mereka merasa bersyukur masih bisa hidup di hari ini?), journaling secara rutin, atau mungkin kegiatan yang membutuhkan usaha lebih seperti penanaman dan internalisasi nilai-nilai tersebut dalam benak mereka. Bagaimanapun juga, dorongan internal reflektif dari dalam diri individu ini sangatlah dibutuhkan agar dampak positif yang dimiliki oleh intervensi rasa bersyukur bisa muncul. Hal ini sesuai dengan pendapat Wintle (2024) yang menekankan jika personal growth atau perkembangan individu (termasuk peningkatan keterlibatan) membutuhkan faktor internal (termasuk rasa syukur) yang memadai sebagai syarat untuk muncul dan berkembang secara efektif. Wintle (2024) juga menegaskan bahwa faktor eksternal yang memadai saja tidak cukup bagi perkembangan pribadi yang efektif. Sehingga, penulis percaya jika penerapan sikap perasaan bersyukur ini pada dasarnya haruslah bersifat internal (melalui proses internalisasi) dari diri individu itu sendiri. Hal ini juga sejalan dengan hasil dari penelitian ini. Penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa yang diberi intervensi rasa syukur mengalami kenaikan skor dalam gratitude—berarti mahasiswa-mahasiswa tersebut memang sudah merasakan perasaan bersyukur secara internal-disposisional—hal inilah yang mampu membuat keterlibatan (engagement) mahasiswa-mahasiswa ini dalam pembelajaran daring juga ikut meningkat.
Meskipun begitu, faktor eksternal juga tetap menjadi faktor yang penting untuk diperhatikan (Estell & Perdue, 2013). Penulis percaya jika selain faktor internal yang sangat penting, faktor eksternal tetap memegang beberapa kendali penting guna meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran melalui latihan rasa bersyukur. Lingkungan eksternal yang mendukung bagi peserta untuk merasa berterima kasih akan menjadi sangat penting bagi peserta didik tersebut nantinya dapat menginternalisasi perasaan tersebut. Tidak perlu jauh-jauh, studi ini secara tidak langsung telah membuktikan bahwa faktor eksternal (pemberian intervensi oleh peneliti misalnya) mampu untuk memengaruhi perasaan seseorang (dalam konteks ini perasaan bersyukur yang nantinya akan mampu untuk meningkatkan derajat keterlibatan siswa dalam pembelajaran daring). Maka dari itu, penulis percaya bahwa faktor eksternal misalnya dengan guru yang selalu meminta peserta didiknya untuk selalu bersyukur dan orang tua yang selalu mengingatkan anak mereka untuk berterima kasih sangatlah penting bagi anak untuk mampu merasakan rasa syukur dan meningkatkan kualitas keterlibatan anak tersebut dalam moda pembelajaran daring.
Dengan demikian, dapat disimpulkan jika penelitian yang diawali dari merebaknya permasalahan yang muncul—permasalahan mengenai “keterlibatan” siswa—dari pembelajaran online sewaktu pandemi Covid-19 ini sangatlah menarik untuk didalami. Penelitian ini berhasil membuktikan jika rasa bersyukur secara umum memang memiliki impact/pengaruh yang besar dalam meningkatkan keterlibatan mahasiswa selama pembelajaran daring berlangsung. Manfaat yang luar biasa dari studi ini membuatnya dapat kita terapkan dalam kehidupan operasional kita sehari-hari. Penerapan hasil studi ini bisa dilihat dari pemahaman jika proses internalisasi rasa syukur adalah kunci utama bagi pengaruh “rasa syukur” itu sendiri untuk berhasil meningkatkan engagement. Namun, dukungan eksternal juga tidak kalah berperan penting dalam menciptakan lingkungan yang memungkinkan rasa syukur tersebut untuk berkembang secara optimal. Dengan hasil penelitian yang sangat luas dan bermanfaat, temuan hasil studi ini dapat digunakan oleh penggerak akademik untuk dapat menawarkan proses pembelajaran yang maksimal, efektif, dan efisien dalam konteks pendidikan daring. (Halda)