Home > Berita > Artikel
Notasi vs Ayat Suci: Mengungkap "Efek Menenangkan" yang Superior dari Bacaan Al Quran dibanding Musik
📆Monday, Desember 16, 2024 14:49 WIB || ✍Abi Dzarr Hibban
Home > Berita > Artikel
Notasi vs Ayat Suci: Mengungkap "Efek Menenangkan" yang Superior dari Bacaan Al Quran dibanding Musik
📆Monday, Desember 16, 2024 14:49 WIB || ✍Abi Dzarr Hibban
Source : google.com
Bayangkan suatu sore hari Anda baru saja pulang dari tempat kerja atau perkuliahan. Anda merasa sangat lelah, baik itu secara secara lahir maupun batin—Anda mengingat segala permasalahan yang terjadi di tempat kerja atau kampus Anda; perselisihan dengan rekan kerja, deadline tugas yang terus mengejar, proyek yang belum selesai, atau bahkan tekanan dari atasan yang setiap hari semakin berat saja rasanya. Anda memutuskan jika Anda akan beristirahat untuk malam ini dengan bersantai sambil memutar alunan suara favorit Anda. Apa yang akan anda putar di kondisi tersebut?. Akankah Anda memutar musik klasik?. Musik pop?, Atau mungkin Anda malah akan memutar ayat Alquran untuk menenangkan diri Anda di malam itu?.
Di masa buana yang semakin sibuk—di mana stres dan kecemasan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari—mencari cara untuk merilekskan diri menjadi isu yang semakin penting. Salah satu penelitian menarik yang terkait dengan permasalahan ini adalah penelitian yang akan dilaporkan dalam reportase ini. Reportase ini akan mencoba untuk mengupas mengenai proses dan hasil dari sebuah penelitian dilakukan oleh Dosen dan Mahasiswa dari Jurusan Psikologi Universitas Islam Indonesia—Ahmad Rusdi, Fani Eka Nurtjahjo, dan Sakinah—dengan judul “Difference in Effects of Listening to The Alquran and Music on Sensibility”. Artikel ilmiah ini diterbitkan dalam Jurnal Psikologi Islam dan Budaya (Volume 7, Issue 1). Penelitian ini berusaha untuk mengungkap bagaimana suara, baik dalam bentuk musik instrumental yang menenangkan atau ayat-ayat Alquran yang sakral, bisa menjadi salah satu cara untuk menenangkan ketegangan biopsikologis. Studi ini juga mencoba untuk menentukan stimulus auditori mana yang lebih efektif dan efisien dalam menurunkan tekanan biopsikologis—Musik atau Alquran?.
Source : google.com
Sensibilitas sebagai Prediktor Kondisi Psikologis
Studi ini berawal dari perhatian Peneliti tentang fenomena mengenai sensibilitas manusia. Secara sederhana, sensibilitas (dapat juga disebut sensitivitas) dapat dijelaskan sebagai sejauh mana bagian emosional dari diri kita “sensitif” terhadap rangsangan yang berasal dari luar tubuh. Studi ini dilakukan dengan asumsi jika sensibilitas merupakan prediktor dari kesejahteraan psikologis manusia. Misal, pertanyaan-pertanyaan seperti “seberapa sensitif Anda dalam menghadapi permasalahan?”, “seberapa cemas Anda ketika mendapatkan sebuah ujian?”, “bagaimana reaksi Anda terhadap suatu hal yang tidak anda duga, berlebihan atau tidak?”, dan lain-lain. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan inilah yang dapat dijadikan prediktor dari seberapa “sehat” kondisi psikologis seseorang. Individu dengan sensibilitas yang terlampau tinggi (selalu on-guard akan segala rangsangan dari dunia luar) akan lebih sukar untuk berada dalam kondisi yang relaks dan cenderung akan selalu merasa cemas. Misal, bayangkan seorang mahasiswa yang selalu merasa cemas akan kehidupan kampusnya (tugas, pertemanan, bahkan masalah sepele lain yang mungkin tidak signifikan), tentu akan susah bagi mahasiswa tersebut untuk dapat mencapai ketenangan (i.e. Because they’re always “on-guard” about everything and everywhere—all at once). Permasalahan kecemasan dan non-relaxation yang timbul dari tingginya sensibilitas seseorang inilah yang nantinya akan bermanifestasi dalam bentuk gangguan psikologis lain yang lebih parah.
Tinjauan pustaka dari penelitian menyebutkan jika emosi dan relaksasi (e.g. related to sensibility, affection) bisa diukur melalui kulit (skin) dan otot (tissue). Aktivitas biologis-elektrik yang terjadi pada kedua bagian ini dianggap sebagai indikator yang memadai untuk menentukan keadaan “cemas/anxious” atau “tenang/relaxed” dari subjek penelitian. Penelitian-penelitian ini sendiri mengukur relaksasi dan penurunan sensibilitas akibat pendengaran Alquran atau musik melalui kulit dengan bantuan sebuah alat.
Dalam hasil tinjauan pustaka penelitian ini, ditemukan jika praktik spiritual—misalnya mendengarkan Alquran—telah terbukti mampu untuk menangani permasalahan kecemasan yang timbul dari sensibilitas yang terlampau tinggi, terutama dalam kalangan umat muslim. Di lain sisi, penelitian-penelitian terdahulu juga menyebutkan jika terapi musik memiliki kemampuan untuk merilekskan pikiran dan memperbaiki suasana hati. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan kedua pendekatan tersebut dan menemukan mana pendekatan yang lebih efektif dalam membantu orang merasa lebih tenang dan kurang cemas (menurunkan sensibilitas).
Source : google.com
Bagaimana Efek Musik dan Alquran pada Emosi Dapat Diketahui
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini sendiri adalah metode kuasi-eksperimental atau juga sering disebut dengan semi-eksperimental. Dengan kata lain, metode yang digunakan belum bisa disebut sebagai eksperimen yang akurat. Hal ini dikarenakan dua hal. Yang pertama, penelitian ini tidak memiliki kelompok kontrol (kelompok pembanding yang tidak diberi perlakuan apapun). Yang kedua, penelitian ini mengabaikan variabel lain yang tidak dikontrol, misal: familiaritas subjek penelitian dengan musik yang disajikan atau dengan ayat Alquran yang diperdengarkan.
Partisipan dari penelitian ini sendiri diambil dari salah satu universitas di Jakarta Timur. Dalam pelaksanaannya, terkumpul sepuluh subjek yang bersedia untuk dijadikan subjek penelitian. Akan tetapi, dua subjek mengundurkan diri sehingga tersisa delapan subjek—enam laki-laki dan dua perempuan. Para subjek ini dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok dengan intervensi musik dan kelompok dengan intervensi pelantunan ayat-ayat Alquran. Masing-masing terdiri dari empat orang, dengan distribusi gender yang setara untuk menghindari bias gender.
Pengukuran tingkat relaksasi dan sensibilitas sendiri dilakukan dengan sebuah alat dan kuesioner. Alat ini bernama Sensirec yang akan dikenakan di pergelangan tangan subjek dan kemudian dinyalakan selama lima menit untuk mengukur tingkat relaksasi dari subjek tersebut. Sensirec ini mampu untuk mengukur tingkat relaksasi dari seseorang berdasarkan pada aktivitas listrik di bagian kulit pergelangan tangan. Hasil dari alat Sensirec ini berkisar dari angka -200 sampai +200 dengan rincian: skor yang lebih dari -200 mengindikasikan low stress, kelelahan, atau relaksasi. Skor yang lebih dari +200 mengindikasikan high stress, sensitivitas emosi yang tinggi, dan keterjagaan yang tinggi. Sedangkan skor yang berada di antara -200 sampai +200 mengindikasikan sensitivitas yang normal, semakin mendekati angka 0, maka dianggap semakin normosensitive (semakin seimbang/balanced). Selain pengukuran dengan alat bioelektrik ini, partisipan juga akan diberikan kuesioner di akhir proses untuk memastikan jika partisipan benar-benar terlibat dan memerhatikan selama pemberian intervensi berlangsung. Kuesioner ini terdiri dari pertanyaan seperti “sejauh mana Anda mendengarkan musik/ayat Alquran yang diperdengarkan/dibacakan?”, dengan lima pilihan opsi mulai dari “tidak mendengarkan sama sekali” hingga “mendengarkan semuanya”.
Untuk prosedur penelitian ini sendiri, subjek penelitian akan ditempatkan dalam ruangan terisolasi untuk meminimalisir gangguan eksternal. Pengukuran sensitivitas dilakukan dengan Sensirec satu kali sebelum pemberian intervensi untuk mengetahui kondisi baseline dari subjek penelitian. Kemudian intervensi akan diberikan. Kelompok partisipan yang diberi intervensi musik akan diperdengarkan musik klasik “Pachelbel Major in D”. Di sisi lain, kelompok partisipan yang diberi intervensi ayat Alquran akan diperdengarkan surat Al-Insan yang dilantunkan oleh ‘Umar Hisham al-’Arabi sembari membaca terjemahan dari ayat tersebut. Pembacaan terjemahan ini didasarkan pada asumsi bahwa kekuatan intervensi dari ayat Alquran berasal dari “makna” yang terkandung di dalamnya dan bukan sebatas “stimulus auditori” yang didengar seperti musik. Pemilihan judul musik dan surat yang diperdengarkan sendiri (“Pachelbel Major in D” dan Surat Al-Insan) berasal dari penelitian eksperimen sebelumnya yang sudah terbukti efektif untuk menurunkan sensitivitas emosi. Intervensi dengan musik memakan durasi sekitar 17 menit sedangkan intervensi dengan Alquran memakan durasi sekitar 18 menit. Perbedaan durasi ini tidak dapat dimanipulasi dalam eksperimen karena bergantung pada durasi rekaman asli (“Pachelbel Major in D” dan lantunan Surat Al-Insan) yang berbeda.
Setelah data hasil eksperimen dikumpulkan, akan dilakukan analisis data. Perubahan hasil dari alat Sensirec sendiri dianalisis dengan menggunakan uji wilcoxon. Uji ini akan menguji perbandingan antar pengamatan dari sebelum dan sesudah perlakuan (before and after the intervention was given) dan untuk mengetahui efektivitas dari suatu perlakuan. Selain itu, karena prediksi hasil dari kedua intervensi ini adalah sama (diprediksi sama-sama menurunkan sensitivitas), maka analisis dalam penelitian ini akan lebih berfokus pada perbandingan (comparison) dari kedua intervensi yang diberikan (intervensi musik dan intervensi lantunan ayat Alquran).
Source : google.com
Mendengarkan Alquran Lebih Menurunkan Sensibilitas
Pengumpulan data yang telah dianalisis dalam penelitian ini akhirnya dapat diterjemahkan menjadi sebuah hasil. Sebelum pembahasan hasil perbandingan kedua intervensi, penelitian ini menjabarkan hasil pemenuhan kriteria tertentu mengenai faktor yang berhubungan dengan bias yang mungkin muncul. Faktor pertama yang diteliti adalah usia, tetapi hasil analisis menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok dalam eksperimen. Tes baseline yang dilakukan juga menunjukkan jika tidak ada perbedaan signifikan pada kondisi baseline (i.e. Initial state; kondisi awal) kedua kelompok. Skor tes Levene menunjukkan angka 1.00 yang mengindikasikan jika variansi dari data yang terkumpul dari kedua kelompok adalah sama (Equal) dan homogenous (uniform; similar in structure) serta tidak ada bukti statistik yang dapat mengatakan kebalikannya. Hasil kuesioner yang digunakan untuk menguji partisipasi partisipan juga semuanya berada di poin skor lima (mendengarkan sepenuhnya) sehingga data dapat digunakan. Kesimpulannya, variabel pengganggu yang mungkin memengaruhi jalan dan hasil penelitian ini bisa diasumsikan telah diminimalisir semaksimal mungkin.
Berdasarkan hasil studi yang dilaksanakan, kedua kelompok eksperimen mengalami penurunan sensibilitas, baik itu yang diberikan intervensi musik maupun lantunan ayat Alquran. Hal ini membuktikan jika kedua intervensi mampu untuk menurunkan tingkat sensitivitas emosional psikologis. Maka dari itu, tujuan interpretasi akan difokuskan kepada komparasi atau perbandingan antara kedua intervensi ini—apa perbedaannya?.
Kelompok yang diberikan intervensi dengan musik menunjukkan penurunan sensibilitas dengan skor statistik η² = 0.033 dan p = 0.375. Effect size yang bernilai 0.033 ini menunjukkan efek yang minimal atau kecil. Hal ini menunjukkan bahwa intervensi musik hanya memiliki dampak minimal pada penurunan sensibilitas. Sedangkan p-value yang bernilai 0.375 menunjukkan jika efek intervensi musik terhadap penurunan sensibilitas bersifat tidak signifikan (insignificant). Dengan kata lain, ada kemungkinan yang besar jika efek yang terlihat hanyalah sebuah kebetulan (occurred by chance).
Selain angka tersebut, ada hal menarik dari hasil yang didapat melalui kelompok dengan intervensi musik. Dari keempat subjek dalam kelompok ini, tiga di antaranya mengalami penurunan sensibilitas. Akan tetapi, ada satu subjek yang malah mengalami peningkatan sensibilitas. Hal ini menunjukkan jika subjek ini tersebut mengalami stress level dan sensitivitas yang lebih tinggi setelah diberikan intervensi musik (heightened stress and sensitivity). Hal ini mungkin menunjukkan inkonsistensi yang muncul dalam intervensi menggunakan metode pemutaran musik.
Di sisi lain, kelompok yang diberikan intervensi dengan lantunan Alquran menunjukkan penurunan sensibilitas dengan skor statistik η2 = 0.913; p = 0.034. Effect size yang bernilai 0.913 ini mengindikasikan effect size yang besar dan ekstrem. Skor ini menunjukkan jika intervensi dengan lantunan Alquran memiliki dampak yang besar terhadap penurunan sensibilitas. Sedangkan p-value yang bernilai 0.034 menunjukkan jika efek intervensi lantunan Alquran terhadap penurunan sensibilitas bersifat signifikan (significant). Dengan kata lain, kemungkinan efek ini muncul karena kebetulan (occurred by chance) sangatlah kecil. Dengan demikian dapat disimpulkan jika intervensi Alquran memiliki dampak yang berarti dan dapat diandalkan (meaningful and reliable).
Melalui hasil tersebut, dapat disimpulkan jika intervensi musik dan lantunan Alquran sama-sama mampu untuk menurunkan gejala sensibilitas. Penurunan sensibilitas (i.e. sensitivity, arousal) akan termanifestasi dalam bentuk perasaan tenang, rileks, dan puas. Perasaan psikologis inilah yang dapat memprediksi kesejahteraan, kesehatan mental, dan kepuasan hidup seseorang. Akan tetapi, setelah dibandingkan ternyata dapat dilihat jika intervensi dengan lantunan Alquran memiliki signifikansi, kekuatan, dan konsistensi yang lebih baik dibandingkan dengan intervensi musik. Dengan kata lain, intervensi dengan lantunan Alquran memiliki efektivitas yang lebih baik untuk menurunkan “tekanan” (tension) dibandingkan intervensi musik dan bahkan mampu untuk menunjukkan efek yang signifikan pada level biopsikologis (ingat kembali jika eksperimen dalam penelitian ini menggunakan Sensirec yang mengukur aktivitas elektrik di kulit/electrodermal untuk menafsirkan sensibilitas, hal ini berarti intervensi dengan lantunan Alquran mampu untuk memengaruhi sensibilitas hingga ke tingkat biologis).
Peneliti dari studi ini juga menekankan kelebihan dari intervensi dengan lantunan Alquran. Peneliti dari studi ini percaya jika salah satu hal yang menjadikan intervensi dengan lantunan Alquran jauh lebih efektif, signifikan, dan kuat dalam pengaruhnya terhadap penurunan sensibilitas dibandingkan intervensi musik adalah karena makna atau meaning yang dikandungnya. Intervensi musik dianggap tidak memberi pesan-pesan spiritual dan hanya sebatas memberi stimulus pendengaran saja. Hal ini jelas merupakan kontra dari ayat Alquran yang merupakan wahyu ilahi dengan makna spiritual sebagai esensinya.
Peneliti dari studi eksperimen ini juga menjelaskan beberapa keterbatasan dalam penelitian ini. Yang pertama adalah keterbatasan variasi. Hal ini berhubungan dengan keterbatasan alat ukur yang digunakan—Sansirec—yang hanya bisa mengukur rendah (deactivation) dan tinggi (activation) dari gejala fisik elektrodermal di kulit subjek. Penggunaan alat yang bisa mengukur lebih dari variabel ini akan dapat membantu pemahaman yang lebih mendalam terkait sensibilitas psikologis manusia. Keterbatasan yang kedua berkaitan dengan perbedaan yang terlalu dikotomik dari kedua prosedur aktivitas intervensi. Kelompok yang diberi intervensi lantunan Alquran diminta untuk mendengarkan lantunan ayat Alquran dan membaca terjemahannya sedangkan kelompok yang diberi intervensi musik hanya diminta untuk mendengarkan musik yang diputar tanpa adanya proses pemaknaan dalam intervensinya. Peneliti dari studi ini kemudian menyarankan jika studi di masa depan dapat membuat beberapa kelompok eksperimen untuk menanggulangi keterbatasan penelitian ini, misalnya: kelompok yang mendengarkan musik instrumental, musik yang vokal (terdapat lirik verbal), Alquran (murottal), terjemahan Alquran, dan kelompok yang tidak menerima perlakuan apapun (kelompok kontrol). Pembagian kelompok yang lebih spesifik ini dianggap dapat meningkatkan kredibilitas dan ketepatan hasil dari penelitian selanjutnya.
Source : pexels.com
Why not switch music with spiritual verses?
Salah satu pertanyaan besar dari latar belakang suatu studi ilmiah adalah “Apa yang dapat disumbangkan oleh studi ini dan implikasinya terhadap kehidupan dan kesejahteraan manusia?”. Studi mengenai perbandingan efektivitas, efisiensi, dan konsistensi dari intervensi musik dan lantunan Alquran dalam menurunkan tekanan biopsikologis ini memiliki banyak manfaat dan implikasi dalam berbagai bidang kehidupan. Berikut adalah beberapa uraian yang dapat menjadi dampak potensial penerapan hasil studi ini dalam kehidupan operasional harian.
Yang pertama adalah bahasan mengenai implikasi yang mungkin dapat diaplikasikan dalam skala individu. Hasil penelitian dari studi ini telah menyediakan fakta jika lantunan Alquran memang terbukti lebih efisien dalam menurunkan tekanan sensibilitas seseorang. Bukti ini dapat mengimplikasikan bahwa praktik-praktik spiritual mampu untuk menjadi alternatif penyelesaian permasalahan kesehatan mental yang efektif dalam level individu. Hal ini bisa menjadi sangat berharga di dunia di mana setiap orang selalu terpapar stres dari pekerjaan, media sosial, dan tekanan tanggung jawab pribadi. Penulis percaya jika hal ini dapat dimanfaatkan oleh individu itu sendiri maupun tenaga yang bergerak di bidang kesehatan mental. Individu dapat menerapkan hasil studi ini terhadap diri mereka sendiri—yaitu dengan menghayati ayat suci Alquran apabila tengah dilanda permasalahan. Berdasarkan data dari ACC yang dikumpulkan di bulan Januari 2024, hampir 82% pelajar menggunakan musik sebagai coping mechanism utama mereka ketika sedang berada dalam keadaan stres (activation of arousal). Pertanyaan besarnya adalah: “Why not switch music with spiritual verses?”. Studi ini menjadi tambahan dari studi terdahulu lain yang menguatkan klaim jika ayat-ayat spiritual memang terbukti lebih baik dalam mendeaktivasi tekanan biopsikologis yang berlebihan. Selain itu, bukti ini juga dapat digunakan oleh tenaga kesehatan terutama yang bergerak dalam bidang kesehatan mental untuk dapat mengaplikasikan terapi suara spiritual dalam intervensi yang mereka berikan. Sesuai dengan hasil studi ini, studi lain juga banyak yang telah mengindikasikan bagaimana praktik spiritualitas (termasuk pendengaran lantunan ayat suci) mampu untuk menyelesaikan permasalahan psikogenik (Abd-alrazaq et al., 2020; Hapsari et al., 2024; Owens et al., 2023).
Selain dalam lingkup individual, hasil studi ini juga dapat diterapkan ke dalam skala yang lebih luas, misalnya: komunitas dan kebijakan-kebijakan. Penerapan ini dapat diterapkan mulai dari hal yang paling sederhana seperti pendengaran ayat suci Alquran di ruang tunggu fasilitas umum (e.g. rumah sakit, terminal, bandara, etc). Hasil studi ini juga dapat diterapkan ke dalam hal yang lebih serius lagi, misalnya dengan pengembangan kebijakan di sekolah seperti integrasi lebih mendalam nilai-nilai spiritual Islam. Salah satu program dari rangkaian pengembangan kebijakan yang dapat diterapkan di sini adalah dengan pelantunan ayat-ayat suci Alquran secara intensif dalam lingkup sekolah. Berdasarkan hasil studi ini, Alquran terbukti efektif untuk menurunkan (deaktivasi) arousal yang berlebihan. Sebagai akibatnya, studi ini juga menjelaskan jika kondisi deaktivasi pada kondisi afek yang positif dapat diinterpretasi sebagai keadaan di mana level stres menurun dan the emergence of the state of relaxation. Banyak studi telah membuktikan jika relaksasi dan level stres yang lebih rendah tapi masih dalam batas normal memiliki dampak pada naiknya performa akademik pada siswa (Oduwaiye et al., 2017; Sahu et al., 2024)
Pandangan selanjutnya yang tidak kalah penting untuk diaplikasikan adalah alasan dari “mengapa Alquran lebih efektif dari musik dalam menurunkan sensibilitas dan kecemasan?”. Penelitian ini memiliki asumsi dasar bahwa pembeda utama—sekaligus trump card—yang membedakan intervensi musik dengan lantunan Alquran adalah “kandungan makna”. Intervensi musik adalah intervensi yang bisa dikatakan “dangkal” dan “kering” karena mau diglorifikasi bagaimanapun juga, musik hanyalah stimulus auditori yang tidak disertai dengan makna ataupun pesan-pesan spiritual. Hal ini tentu berbeda dengan lantunan Alquran yang sejatinya merupakan kumpulan makna spiritual di samping stimulus auditori belaka. Hal ini juga yang memungkinkan Alquran untuk membuat seseorang mengaktifkan dimensi spiritual dan keyakinan seseorang yang sifatnya lebih transendental. Berbeda dengan musik yang hanya mampu memberikan “reaksi emosional”. Misal, mendengarkan alunan musik dengan nada minor mungkin akan membawa kesan sedih, gundah, dan lara. Akan tetapi, reaksi-reaksi tersebut hanyalah merupakan reaksi emosional belaka. Alquran “membuka” konsep yang jauh lebih abstrak daripada reaksi emosional. Makna dalam ayat suci Alquran mampu melebarkan mata manusia untuk memahami konsep yang lebih transendental lagi. Hal inilah yang nantinya akan berpengaruh akan rasa ketenangan, rasa aman, dan rasa nyaman—termanifestasi dalam penurunan tekanan/tension dan sensibilitas biopsikologis. Sebagai contoh lebih lanjut, pemahaman yang mendalam dari ayat ayat suci Alquran seperti
“Verily, with hardship comes ease”
[Asy-Syarh 94:6]
dapat menanamkan rasa harapan dan kesabaran dalam diri seseorang yang sedang mengalami masa-masa sulit. Musik, meskipun menenangkan, mustahil untuk mampu menawarkan tingkat relevansi pribadi atau kedalaman emosional yang sama dengan ayat-ayat suci.
Lalu, apa implikasinya?. Apa hubungannya hal ini dengan implementasi hasil penelitian ini?. Asumsi dasar bahwa hal yang membuat ayat suci Alquran unggul daripada musik adalah “makna kandungannya” mengharuskan kita untuk selalu mengingat bahwa Alquran itu harus dimaknai agar manusia dapat memahami potensi maksimalnya. Semua implikasi yang sudah dijabarkan di atas (baik di level individu maupun komunitas-kebijakan) hanyalah bualan belaka apabila asumsi dasar mengenai “kandungan makna” ini tidak diterapkan. Bisa dibayangkan, sebuah sekolah menetapkan kebijakan baru di mana akan diputarkan lantunan ayat suci Alquran lewat pengeras suara sekolah setiap pagi selama satu jam sebelum kelas dimulai. Akan tetapi, tidak ada satupun siswa dan guru yang paham akan makna dari lantunan Alquran tersebut. Maka, berdasarkan asumsi dari penelitian ini, semua usaha tersebut akan menjadi invalid dan kehilangan tujuan utamanya. Jika Alquran diperdengarkan tanpa pemahaman makna, apa bedanya ayat suci Alquran ini dengan musik instrumental klasik yang digunakan dalam eksperimen penelitian ini?. Keduanya hanya akan menjadi alunan nada yang arti dan maknanya tidak dapat dipahami.
Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan jika penelitian yang dilatarbelakangi oleh perhatian terhadap fenomena sensibilitas manusia ini merupakan sebuah bahasan yang menarik. Melalui prosedur kuasi-eksperimennya, penelitian ini berhasil menunjukkan bahwa efek penurunan sensibilitas (deaktivasi) lebih kuat, efisien, dan signifikan pada kelompok yang diberi intervensi dengan lantunan Alquran dibandingkan dengan kelompok yang diberi intervensi musik. Penurunan sensibilitas yang positif ini akan mampu untuk menjadi prediktor kesejahteraan mental seseorang. Studi ini sendiri memiliki asumsi bahwa penyebab keunggulan dari intervensi dengan lantunan Alquran terletak pada keberadaan makna dalam ayat-ayat sucinya. Penemuan dari penelitian ini memiliki banyak sekali implikasi yang bisa diterapkan dalam kehidupan operasional, mulai dari level individu hingga level komunitas-kebijakan. Dengan potensi penerapan yang luas, temuan ini dapat menjadi pijakan strategis pembangunan dan pengembangan kesehatan masyarakat secara holistik. (Halda)