Laboratorium Aero-Gasdinamika dan Getaran (LAGG) merupakan salah satu laboratorium yang diinisiasi oleh Prof. Dr.B.J. Habibie untuk mendukung industri kedirgantaraan di Indonesia. Pengembangan LAGG dimulai pada 1979 ketika Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan National Aerospace Laboratory of Netherlands (NLR) membuat kontak untuk membahas kerja sama yang mencakup realisasi terowongan angin, masterplan LAGG, dan program pengembangan tenaga kerja.
Fasilitas utama LAGG adalah The Indonesian Low Speed Tunnel (ILST) yang mulai dibangun pada tahun 1984. Secara formal, LAGG kemudian diresmikan pada tanggal 11 Desember 1989, oleh H.M. Soeharto, yaitu ditandai dengan operasi wind-on resmi pertama ILST.
ILST memiliki kemampuan untuk melakukan wind tunnel test untuk model pesawat dengan lebar sayap hingga 3 m pada bilangan Reynolds 1,5 hingga 2,0 juta baik dalam mode power-off atau power-on. Kualitas aliran ILST cukup bagus dengan intensitas turbulensi kurang dari 0,02%, sudut aliran kurang dari 0,1 derajat, dan lapisan batas kurang dari 5 % dari diameter hidrolik uji. ILST dilengkapi dengan Enam External Balance untuk pengukuran gaya dan Electronic Pressure Scanner untuk mengukur tekanan real-time pada sepanjang permukaan model.
Awalnya, LAGG digunakan untuk mendukung pengembangan pesawat terbang nasional dan menyediakan teknologi layanan eksperimen aerodinamika untuk kedirgantaraan industri. Untuk menyelaraskan dinamika strategis lingkungan, pada tahun 2015 LAGG bertransformasi menjadi BBTA3 (Balia Besar Teknologi Aerodinamika, Aeroelastik, dan Aeroakustik). Akibat intergari beberap lembaga, yang terdiri dari BPPT, LIPI, LAPAN, dan BATAN menjadi BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional), pada tahun 2021 BBTA3 kembali bertransformasi menjadi Laboratorium Aerodinamika, Aeroelastika, dan Aeroakustika (LA3).