Agenda Ziarah Makam Para Wali/Tokoh Islam :
Agenda Ziarah Makam Para Wali/Tokoh Islam :
Periode Perjuangan Syekh Burhanuddin:
Batu Hampar Sumbar selama 10 tahun (560 H-570 H/ 1141 M-1151 M)
Kumpulan Sumbar selama 5 tahun (570 H-575 H/ 1151 M-1156 M)
Ulakan Pariaman, Sumbar selama 15 tahun (575 H-590H/1156 M-1171 M)
Kuntu selama 20 tahun (590 H-610H/1171 M-1191 M: Wafat)
Abuya KH. Dr (HC). Angku Mudo Djamarin merupakan Mursyid Thoriqat Naqsabandiya sekaligus pendiri dari Pondok Pesantren Salafiyah Syekh Burhanuddin Kuntu di Desa Kuntu Kec. Kampar Kiri Kabupaten Kampar pada tanggal 01 Februari 1973
Makam Marhum Pekan adalah komplek pemakaman keluarga Kerajaan Siak yang merupakan pendiri kota Pekanbaru. Beberapa makam yang ada di Komplek Makam Marhum Pekan, diantaranya Makam Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah (Marhum Pekan), dan Makam Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah (Marhum Bukit). Lalu, ada juga Makam Sayid Osman Sahabuddin (Marhum Barat), Makam Sultanah Khodijah atau Daeng Tijah (Istri Marhum Bukit), Makam Tengku Embong Badariah (Istri Marhum Barat), dan Makam Sayid Zen Al Jufri/ Tengku Pangeran Kesuma Dilaga.
Pahlawan nasional Sultan Thaha Syaifuddin (1855-1904) lahir di Tanah pilih-Jambi pada pertengahan 1816. Beliau merupakan putra dari Raden M Fahrudin dan Syarifah Maryam atau Raden Mas Maryam.
Nama asli dari Sultan Thaha Syaifuddin adalah Raden Toha Jayaningrat. Karena beliau mengaji di Aceh, orang-orang Aceh memberi nama Raden Toha Syaifuddin. Syaifu berarti pedang, sedangkan Din artinya agama.
Perjuangan Sultan Thaha secara gencar dimulai setelah beliau naik tahta sebagai raja Jambi pada tahun 1855. Beliau mengambil keputusan membatalkan semua persetujuan dengan Belanda yang diadakan sebelumnya.
Untuk menghadapi Belanda, Sultan Thaha menghimpun seluruh kekuatan rakyat, pangeran dan panglima untuk melakukan musyawarah di bukit serpih Muara Tebo. Sultan Thaha memutuskan supaya mengpulkan bahan makanan yang cukup, tidak akan menyerah pada Belanda.
Pada bulan September 1903 beliau pergi ke Sungai Limau untuk bertemu dengan Sisingamangaraja dari Tapanuli. Kedua pemimpin tersebut bersumpah setia tidak akan menyerah kepada Belanda.
Sultan Thaha melanjutkan perjuangan ke Muara Tebo dan Betung Bedarah. Dalam perjalanan ini terjadilah pertempuran dengan Belanda yang memiliki persenjataan lengkap. Melalui politik adu domba, satu persatu benteng perlawanan rakyat Jambi jatuh ke tangan Belanda. Demikian pula para tokoh dan panglima banyak yang berguguran. Akhirnya Sultan Thaha gugur pada usia 88 tahun dalam sebuah serangan mendadak. Serangan tersebut diluncurkan pada subuh hari di sebuah talang di dusun Betung Bedarah. Jenazah beliau dibawa dan kemudian dimakamkan di Muara Tebo pada tahun 1904.
Syekh Zakaria al-Kampari merupakan waliyullah pendiri yayasan tasawuf Sabilul Jannah. Beliau memiliki karomah berupa ilmu laduni. muridnya tersebar diberbagai penjuru.
Makam Candi Walang terletak di jalan Candi Walang kelurahan 22 Ilir, Kecamatan Ilir Barat 1 Kota Palembang. Candi Walang merupakan makam tokoh-tokoh Kasultanan Palembang Darussalam. Tokoh utama yang berada pada makam tersebut adalah Susuhunan Abdurrahman. Susuhunan Abdurrahman (1659-1704), adalah Sultan Palembang pertama antara tahun 1659-1704. Ia merupakan putra Pangeran Seda ing Pasarean dan Ratu Mas Amangkurat. Tokoh-tokoh yang dimakamkan pada cungkup utama yaitu Susuhunan Abdurrahman berada di tengah, Permaisuri, Said Mustofa Al-Idrus sebagai imam kerajaan, Putra Susuhunan, Tuntidja dan Panglima Raden Kelip
Raja Sang Naualuh Damanik atau lebih dikenal dengan Raja Siantar lahir di Pematang Siantar 1857 dan mangkat di Bengkalis pada tahun 1914. Kerajaan Siantar dalam catatan sejarah berdiri sejak tahun 1350-1904. Adapun Raja Sang Naualuh Damanik merupakan Raja dari dinasti Siantar ke XIV yang memerintah pada 1882-1904.
Pada tahun 1904 Raja Siantar ditangkap oleh Belanda dan kemudian diasingkan seumur hidup ke pulau Bengkalis 1906. Beliau merupakan salah satu putra terbaik Simalungun yang dikenal dengan gigih berjuang menantang penjajah. Perjuangan tersebut tidak hanya dilakukan tapi juga secara politis. Hal ini dibuktikan dengan menolak secara tegas menandatangani tanda takluk (Korte verklaring).
Beliau dikenal sebagai pelopor, penganut dan pelindung agama Islam khususnya di wilayah kerajaan Siantar. Di samping itu juga sebagai perintis pembangunan kota Pematang Siantar.
Tuan Faqih Abdul Ghoni merupakan salah seorang waliyullah di Bengkalis yang memiliki banyak karomah. Beliau wafat pada tahun 1980.
Syekh Faqih Na'im merupakan anak dari Syekh Abdul Wahhab Rokan. Beliau meninggal pada malam Kamis, 28 Rabiul Awwal 1382 bertepatan pada tanggal 29 Agustus 1962 dan makamnya terletak di belakang masjid Al-Kausar tepatnya di jalan Lintas Bagansiapiapi - Ujung Tj., Bagan Punak, Kec. Bangko, Kabupaten Rokan Hilir, Riau.
Di samping makam Syekh Faqih Na'im terdapat makam Aisyah binti Quo
Keberadaan Kompleks makam Raja-Raja Rambah ini tidak terlepas dari eksistensi Kerajaan Rambah. Kerajaan Rambah merupakan salah satu dari lima Kerajaan Melayu di daerah Rokan Hulu dengan ibukota kerajaan yang pada awalnya berada dipinggir sungai Rokan Kanan namun dipindahkan ke Pasir Pengaraian. Kerajaan diperkirakan berdiri sekitar pertengahan abad ke XVII Masehi dan sudah menganut Agama Islam. Kerajaan Rambah ini memakai sistem Raja Empat Selo yaitu tiga anak raja, satu anak raja-raja. Secara hierarki, Kerajaan ini masih memiliki pertalian saudara dengan Kerajaan Tambusai.
Pendiri Kerajaan adalah Raja Muda beserta rombongan Sutan Perempuan. Raja Muda adalah anak dari Raja Kerajaan Tambusai, sedangkan rombongan dari Sutan Perempuan berasal dari Penyabungan. Mereka mencari lokasi kerajaan dengan mengikuti arus sungai ke hulu. Mereka menemukan satu lokasi yang dianggap tepat dan menjadikannya sebagai kerajaan. Bekas Kerajaan Rambah saat ini telah dimekarkan menjadi 4 kecamatan yaitu: Kecamatan Rambah, Kecamatan Rambah Samo, Kecamatan Rambah Hilir, dan Kecamatan Bangun Purba.
Dari hasil pantauan pada salah nisan di kompleks makam ini, terdapat angka tahun yang menunjukkan 1292 H atau sekitar 1871 m. Dalam kompleks makam tersebut, setidaknya ada sebelas (11) Raja Rambah yang dimakamkan, diantataranya adalah : 1. Gapar Alam Jang Dipertuan Muda, 2. Mangkoeta Alam Jang Dipertuan Djumadil Alam, 3. Teonggol Kuning yang dipertuan Besar Alam Sakti, 4. Poetra Mansyoer, 5. Soeloeng Bakar yang Dipertuan Besar, 6. Abdoel Wahab Yang Dipertuan Besar (Alm. Kajo), 7. Ali Domboer Jang Dipertuan Besar (Alm. Saleh), 8. Sati Lawi Jang Dipertuan Besar (Alm. Pandjang Janggoet), 9. Sjarif Jahja Jang Dipertuan Moeda, 10. Ahmad Kosek Jang Dipertuan Djoemadil Alam, 11. Muhammad Sjarif Jahja Jang Dipertuan Besar (Alm. Besar Tangan Sebelah)
Raja-raja Rambah yang dimakamkan di lokasi ini diantaranya adalah YDM. T. Muh. Syarif, YDM. T Jumadil Alam. Makam ini terakhir digunakan pada tahun 1902.
Kawasan cagar budaya ini berjarak sekitar 15 menit dari pusat pemerintahan Kabupaten Rokan Hulu, Pasir Pangaraian. Sedangkan dari Pekanbaru, dapat ditempuh sekitar 5 atau 6 jam jika menggunakan kendaraan roda empat.
Kawasan pemakaman yang masih sangat alami ini, beradal di jalur lintasan menuju Kecamatan Tambusai, atau tepatnya di Desa Kumu, Kecamatan Rambah Hilir.