Roy Thompson dalam bukunya Grammar of Edit (2009), mengajarkan tentang 6 (enam) elemen editing yang dapat membantu editor membentuk dramatik dalam film, diantaranya adalah :
Sebuah shot harus memiliki motivasi yang akan memberi alasan editor untuk memotong dan menyambungkan ke shot berikutnya. Misalnya : gelas jatuh dari meja, bisa dimotivasikan sebagai kehancuran atau keteledoran/ perceraian atau tersenggol anak kecil. Tetapi juga bisa mempunyai motivasi sebagai keindahan gelas yang akan jatuh menuju lantai.
Sebuah shot harus menggambarkan informasi yang ingin disampaikan kepada penonton. Misalnya seorang musisi sedang memainkan solo gitar, maka informasi yang akan disajikan adalah pangung konser, posisi pemain gitar, wajah pemain, petikan tangan, gitar dan sambutan penonton. Shot-shot ini akan menyampaikan informasi kepada pemirsa tinggal bagaimana kreativitas dalam pengambilan angle kamera.
Perhatikan komposisi gambar agar gambar dapat “berbicara dengan sendirinya”.
Ada empat bagian yang perlu diperhatikan :
Framing ( pembingkaian gambar )
Illusion of depth (kedalaman dimensi gambar)
Subject or object ( subjek atau objek gambar )
Colour ( warna ) Keempat bagian ini akan menyatu dalam komposisi shot yang akan dibangun.
Framing adalah cara menentukan batas bidang pandang kamera.
Fungsi framing:
Menentukan fokus perhatian penonton.
Membatasi ruang visual agar tidak terlalu luas atau sempit.
Memberi kesan estetis.
Contoh: close up wajah untuk menunjukkan ekspresi emosional.
Film adalah media dua dimensi, tetapi dengan teknik tertentu bisa memberi ilusi tiga dimensi.
Cara menciptakan kedalaman:
Foreground – Middle ground – Background (susun objek di depan, tengah, belakang).
Leading lines (garis jalan, pagar, rel kereta, dll. yang mengarahkan pandangan mata).
Fokus tajam & blur (depth of field).
Hasilnya: gambar terasa lebih hidup, natural, dan nyata.
Subjek/objek adalah tokoh, benda, atau elemen utama dalam frame.
Hal yang perlu diperhatikan:
Subjek harus jelas dan tidak “tenggelam” oleh elemen lain.
Gunakan rule of thirds (pembagian bidang menjadi 9 kotak imajiner) agar penempatan subjek lebih menarik.
Hindari frame yang terlalu penuh sehingga mengganggu fokus.
Contoh: karakter utama ditempatkan sedikit ke kiri/kanan, bukan di tengah terus-menerus
Warna bukan sekadar estetika, tetapi juga bahasa visual.
Fungsi warna dalam komposisi:
Menyampaikan suasana (mood).
Memberi identitas pada karakter atau tempat.
Menjadi penanda emosional (merah = marah, biru = tenang, kuning = hangat, dsb.).
Perhatikan kontras warna agar subjek tidak menyatu dengan background.
Faktor suara sangat mempengaruhi makna gambar. Misalnya sebuah shot jalan raya mungkin tidak dapat memberikan gambaran cukup. Namun jalan padat, macet, polusi, bising dapat dipertegas dengan suara klakson mobil, sempritan polisi, atau deru mesin mobil. Shot sangat dipengaruhi dan mempengaruhi kebutuhan suara baik dalam bentuk sound efect, live sound record, foley sampai ke pembuatan musik ilustrasi pendukung suasana.
Sudut pengambilan gambar akan memberikan kekuatan sebuah shot. Sudut pandang ini akan menempatkan arah pandangan mata penonton sehingga apabila arah ini salah maka penonton akan mempunyai pandangan yang salah dari sebuah shot. Jika ini terjadi maka seluruh elemen yang ada menjadi tidak berlaku lagi. Walaupun warna, suara dan objek indah tetapi jika camera angle salah, arah pandang shot menjadi gagal.
Bisa disebut sebagai kontinuitas dari sambungan shot-shot yang dapat melengkapi isi cerita maupun karya visual. Potongan gambar harus disiapkan sesuai dengan kontinuitas yang diinginkan. Ada lima faktor kontinuitas yang harus diperhatikan pada saat shooting yaitu :
Content continuity artinya kesinambungan isi gambar dalam sebuah cerita. Jadi, semua detail kecil di dalam frame (adegan) harus konsisten supaya penonton merasa ceritanya wajar dan tidak janggal.
Contohnya:
Benda / properti (tata artistik) → Misalnya di atas meja ada gelas. Kalau di shot berikutnya tiba-tiba gelasnya hilang padahal belum dipindahkan, penonton akan bingung.
Sinar cahaya (tata cahaya) → Kalau adegan pagi hari di dalam rumah, cahaya yang masuk harus konsisten. Jangan sampai di potongan gambar pertama terang, lalu tiba-tiba jadi redup padahal waktunya sama.
Wardrobe dan make-up → Kalau tokoh memakai baju biru dan wajahnya full make-up di satu shot, maka di shot berikutnya tidak boleh tiba-tiba berganti baju merah atau make-up berubah tanpa alasan dalam cerita.
Motion continuity atau kontinuitas gerakan artinya gerakan dalam sebuah adegan harus nyambung dan terlihat wajar bagi penonton, supaya tidak membingungkan.
👉 Ada dua jenis gerakan yang perlu dijaga:
Gerakan yang direkayasa (oleh pemain/figuran):
Contohnya: seorang aktor melempar bola ke kanan. Pada shot berikutnya, bola memang harus terlihat bergerak ke kanan, bukan tiba-tiba ke kiri.
Kalau dia keluar lewat pintu kanan, di shot berikutnya dia harus tetap muncul dari sisi kanan.
Gerakan alami (natural dari alam):
Contohnya: angin yang membuat daun jatuh, ombak laut yang bergerak maju-mundur, hujan yang turun.
Gerakannya harus konsisten, tidak boleh tiba-tiba berubah arah atau intensitas tanpa alasan.
Adalah kontinuitas/ kesinambungan gambar untuk blocking pemain, posisi property (tata artistik) dan berbagai posisi lainnya yang disesuaikan dengan komposisi gambar dalam berbagai sudut arah kamera.
Bayangkan kamu sedang menonton dua orang, Budi dan Siti, sedang mengobrol di meja makan.
Adegan 1 (Shot Luas): Kamera menunjukkan Budi di sisi kiri meja dan Siti di sisi kanan. Ada segelas air di dekat tangan Budi.
Adegan 2 (Close-up Budi): Kamera berpindah untuk mengambil gambar wajah Budi dari dekat. Budi masih harus terlihat di sisi kiri. Gelas air yang tadi ada di dekat tangannya juga harus tetap di sana, tidak boleh tiba-tiba menghilang atau pindah ke dekat Siti.
Adegan 3 (Close-up Siti): Kamera berpindah lagi untuk mengambil gambar wajah Siti. Siti tetap harus terlihat di sisi kanan.
Jika dalam Adegan 3, gelas air yang tadinya ada di dekat Budi tiba-tiba muncul di dekat Siti, itu artinya position continuity-nya rusak. Penonton akan bingung dan sadar kalau itu hanya film, bukan kejadian nyata.
Adalah kontinuitas atau kesinambungan suara dalam gambar baik yang bersifat direct sound (suara yang langsung direkam pada saat shooting) maupun indirect sound (sound effect dan ilustrasi musik)
artinya kesinambungan suara dalam sebuah film atau video. Jadi, suara harus terdengar nyambung dan wajar antar potongan gambar.
Direct sound → suara asli yang direkam saat shooting (contohnya: suara orang bicara, suara motor lewat, suara pintu dibuka).
Indirect sound → suara tambahan yang dimasukkan saat editing (contohnya: sound effect tembakan, suara petir, musik latar).
📌 Intinya: jangan sampai suaranya tiba-tiba hilang, putus, atau berubah aneh di tengah adegan. Suara harus mendukung cerita dan terasa alami bagi penonton.
Adalah kontinuitas atau kesinambungan dialog yang terwujud dalam percakapan para pemeran sesuai dengan tuntutan cerita dan logika visual.
Bayangkan kamu sedang mendengarkan sebuah cerita. Tiba-tiba, ada satu kalimat yang sama sekali tidak berhubungan dengan kalimat sebelumnya. Itu pasti membuat kamu bingung, kan? Nah, di film, dialogue continuity memastikan hal itu tidak terjadi.
Analoginya Begini
Adegan 1: Budi sedang marah-marah karena mobilnya rusak. Dia bicara, "Aku benci mobil ini! Kapan terakhir kali kamu perbaiki, Yan?"
Adegan 2 (dipotong): Kamera beralih ke Yanto, temannya. Yanto menjawab, "Waktu itu kita liburan ke puncak, kan?"
Dialog Budi dan Yanto "nyambung" dan masuk akal. Ini menunjukkan adanya dialogue continuity.
Tapi, kalau continuity-nya rusak, akan jadi seperti ini:
Adegan 1: Budi sedang marah-marah karena mobilnya rusak. Dia bicara, "Aku benci mobil ini! Kapan terakhir kali kamu perbaiki, Yan?"
Adegan 2 (rusak): Kamera beralih ke Yanto. Yanto tiba-tiba menjawab, "Oh, iya, aku sudah makan siang tadi."
Dialog Yanto sama sekali tidak nyambung dengan pertanyaan Budi. Ini akan membuat penonton bingung dan aneh.
Jadi, intinya, dialogue continuity adalah aturan untuk menjaga agar setiap percakapan dalam film mengalir secara logis dan terhubung satu sama lain, sehingga cerita terasa nyata dan tidak terputus-putus.