Bermain merupakan kebutuhan bagi setiap anak, karena pada dasarnya setiap anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Di mana pun, dalam kondisi apa pun, anak akan berusaha mencari sesuatu untuk dapat dijadikan mainan. Anak-anak selalu bermain dengan riang, melalui bermain anak akan merasa rileks. Tertawa, teriakan, sorakan, ekspresi wajah yang ceria selalu mengiringi suasana anak bermain.
Bermain mampu menyegarkan dan mengembangkan kognitif melalui kreativitas, memecahkan masalah, menguasai konsep-konsep baru. Bermain juga baik untuk membangun kepercayaan diri anak, menumbuhkan kemauan berbagi, dan mengontrol fisik, menguji ketahanan fisik, melatih otot-otot tangan, dan menghasilkan gerakan baru. Bermain dapat melatih konsentrasi, membantu ketekunan, dan belajar mengambil resiko. Bermain juga dapat meningkatkan kemampuan bercerita, menambah kosa kata, dan belajar berkolaborasi secara aktif dengan orang lain.
(Sumber: DIREKTORAT PAUD KEMDIKBUD 2020)
Kapan fitrah anak mulai ditumbuhkan?
Fitrah anak mulai ditumbuhkan sejak usia 0 tahun atau sejak dalam kandungan.
Caranya dengan orang tua memberikan hak anak mulai dari makanan yang halal, doa yang baik, nama yang baik.
Dan memberikan hak anak sesuai usia tumbuh kembangnya.
Anak yang fitrahnya tumbuh paripurna maka kelak akan menjadi pemuda dewasa yang menjalankan kewajiban dan peran terbaik pada masanya.
Dimana aktivitas pengembangan fitrah anak dapat dilakukan?
Siapa yang perlu terlibat dalam aktivitas pengembangan fitrah anak?
Semua yang berperan langsung dalam pengasuhan dan pendidikan anak tentu perlu terlibat dalam aktivitas pengembangan fitrah anak
Orang tua
Keluarga lain, seperti kakek nenek
Guru/tenaga pendidik di lingkungan sekolah
Lingkungan sosial dan masyarakat
Semua pihak perlu bekerja sama untuk memastikan anak-anak tumbuh dengan fitrah yang kuat dan nilai yang positif.
Apa sih prinsip yang membedakan pendidikan berbasis fitrah dengan metode pendidikan lainnya?
1️⃣ Menemani bukan mengatur.
Setiap anak lahir dalam keadaan fitrah, sejak lahir anak memiliki potensi baik yang telah tertanam dalam dirinya.
Ketika proses pendidikan semakin terobsesi mengendalikan, mengintervensi dan mendominasi, proses pendidikan menjadi semakin tidak alamiah dan berpotensi membuat fitrah anak rusak.
2️⃣ Membangkitkan dan menumbuhkan
Bukan merekayasa dan mengajarkan.
Mendidik bukanlah banyak menjejalkan pelajaran, akan tetapi membangkitkan, menumbuhkan, dan menguatkan fitrah anak sendiri (Inside-Out).
✨Anak merasa bergairah belajar dan bernalar lebih penting daripada sekedar menguasai banyak pelajaran.
✨ Membuat mereka cinta Al-Quran dan buku lebih penting daripada menggegas mereka untuk segera bisa membaca dan menghafalnya.
3️⃣ Memanfaatkan momen yang ada lebih baik daripada membuat pengaturan khusus.
Semakin alamiah terjadinya pembelajaran, akan semakin baik.
Hampir setiap saat, setiap hari, kita ditakdirkan untuk menjumpai momen-momen seru dalam kehidupan yang memantik rasa penasaran anak, ini bisa kita jadikan momen menggali hikmah bersama anak sehingga akan meninggalkan kesan yang mendalam bagi mereka.
4️⃣ Sesuai tahap perkembangan anak.
Ibarat menanam tumbuhan, kita harus memperlakukannya sesuai tahapan dan keperluan tumbuhan.
Terlalu banyak air dan nutrisi bisa membuat akar membusuk.
Dalam pendidikan fitrah, tahap perkembangan anak dibagi menjadi 0-2 tahun, 2-7 tahun, 7-10 tahun, 10-14 tahun dan di atas 15 tahun.
Dan di setiap tahap ini terdapat fokus dan metode yang berbeda untuk menyuburkan tiap fitrah.
----------------
Referensi :
- Kulwap "Mendidik Fitrah Keimanan Anak" oleh Bunda Erna.
- Fitrah Based Education : Sebuah Model Pendidikan Peradaban bagi Generasi Peradaban Menuju Peran Peradaban.