Dengan Dukungan Kecerdasan Buatan (AI)
Peserta memahami urgensi 60 detik pertama dalam komunikasi publik
Peserta mampu menyusun pitch berdampak menggunakan struktur SIMASBEN
Peserta terampil menggunakan AI untuk mendukung penyusunan pitch
Tumbuhnya jejaring komunitas ASN yang saling belajar dalam bidang komunikasi
Rentang perhatian rata-rata manusia telah menurun dari 12 detik menjadi 8,25 detik dalam dua dekade terakhir.
Ikan mas memiliki rentang perhatian rata-rata 9 detik, satu detik lebih lama dari manusia.
Mayoritas orang memiliki rentang perhatian yang lebih pendek saat menggunakan perangkat seluler.
Rentang perhatian manusia lebih pendek dari tupai.
Rentang perhatian individu Gen Z sekitar 8 detik, mirip dengan ikan mas.
Rata-rata orang memeriksa ponsel mereka 58 kali sehari, yang memengaruhi rentang perhatian mereka.
Rentang perhatian rata-rata seseorang yang mendengarkan presentasi adalah 8 menit.
Melakukan banyak tugas dalam waktu bersamaan mengurangi rentang perhatian hingga 40%.
Rentang perhatian rata-rata konsumen pada tahun 2021 adalah 8 detik.
Otak manusia kehilangan fokus setiap 8 detik, sehingga mengurangi rentang perhatiannya.
ASN Sering Tidak Tahu Harus Mulai Dari Mana
Banyak ASN memiliki pengetahuan dan pengalaman yang kaya, namun saat diminta menyampaikan ide atau memulai pembicaraan di forum, mereka sering kebingungan. Hal ini terjadi karena belum terbiasa menyusun pesan secara ringkas dan berdampak. Mereka lebih nyaman menyusun dokumen tertulis daripada berbicara spontan. Akibatnya, momen penting dalam komunikasi publik sering terlewatkan atau tidak dimanfaatkan secara optimal
Terjebak Dalam Gaya Formalistik Yang Membosankan
Banyak ASN masih terjebak dalam gaya komunikasi formalistik yang kaku dan membosankan, penuh istilah administratif, kalimat pasif, dan pembukaan seremonial yang tidak menyentuh esensi. Akibatnya, pesan yang disampaikan sulit dipahami, tidak menarik perhatian, dan sering kehilangan makna. Gaya ini membuat forum terasa monoton dan menjauhkan peserta dari inti pembicaraan yang seharusnya relevan dan menggugah
Banyak ASN Hebat, Tapi Tidak Terdengar
Banyak ASN memiliki ide brilian dan pengalaman luar biasa di lapangan, namun tidak terdengar karena kurang percaya diri atau tidak terampil menyampaikan pesan secara ringkas dan meyakinkan. Mereka unggul dalam bekerja, tapi kesulitan saat harus berbicara di forum. Akibatnya, inovasi mereka tidak dikenal, usulan tak mendapat dukungan, dan peluang berkontribusi lebih luas pun terlewatkan.
Sebagai Widyaiswara, Ini Realita yang Sering Saya Hadapi di Awal Sesi Pembelajaran:
Peserta Hadir Fisik, Tapi Tidak Siap Mental. Banyak ASN datang ke kelas karena penugasan, bukan karena kebutuhan pribadi. Saat sesi dimulai, mereka masih sibuk dengan urusan kantor, laporan, bahkan obrolan internal
Ekspektasi Tinggi, Tapi Tidak Diungkap. ASN adalah pembelajar dewasa yang kaya pengalaman. Tapi mereka jarang menyampaikan kebutuhan belajar mereka di awal. Bila saya langsung masuk ke materi tanpa menggali “kenapa mereka butuh ini,” mereka jadi pasif, bahkan tidak terlibat
Kecanggungan Komunikasi dan Ketimpangan Digital. Beberapa peserta mengalami canggung saat berbicara di awal forum, terutama bila pelatihan menggunakan platform digital atau gaya interaktif. Mereka lebih terbiasa menerima paparan, bukan berdialog
Tanpa Kaitan Konteks, Materi Jadi “Asing” .Jika saya membuka sesi dengan teori atau definisi, saya bisa langsung kehilangan perhatian. Tapi jika saya mulai dengan studi kasus ASN, tantangan nyata di kantor, atau kisah inspiratif dari lapangan, suasana langsung hidup
Biasanya...
Selamat pagi semuanya...
Hari ini kita akan mempelajari materi tentang Wawasan Kebangsaan dan Nilai-Nilai Bela Negara. Silakan dibuka modulnya masing-masing.
Materi ini penting karena menjadi bagian dari kurikulum pelatihan dasar CPNS. Nanti saya akan bacakan poin-poinnya, dan silakan dicatat jika ada yang penting.
Kalau ada yang mau bertanya nanti, bisa ditanyakan di akhir.
Seharusnya...
Selamat pagi semuanya...
Teman-teman, di zaman digital seperti ini, cinta tanah air bukan lagi soal berdiri gagah saat upacara.
Tapi bagaimana kita sebagai ASN mampu menjaga persatuan, melayani tanpa diskriminasi, dan menjadi role model dalam ketaatan hukum dan penghormatan terhadap simbol negara.
Lewat modul ini, kita diajak bukan hanya untuk paham Pancasila dan NKRI, tapi juga untuk menghidupkannya di pikiran, ucapan, dan tindakan.
Bela negara hari ini adalah tentang integritas dan kontribusi nyata. Siap menjadi bagian dari barisan penjaga Indonesia yang damai dan berdaulat? Ok. Kita mulai!
SIMASBEN adalah cara praktis untuk menyampaikan pesan secara singkat dan jelas. Dengan mengikuti alur Signifikansi – Masalah – Solusi – Benefit, pesan bisa langsung menarik perhatian, menunjukkan isu yang nyata, menawarkan solusi konkret, dan menjelaskan manfaatnya.
Pendekatan ini sangat membantu dalam forum singkat, seperti membuka pelatihan, presentasi, atau saat menyampaikan ide di rapat. Dengan SIMASBEN, komunikasi jadi lebih terarah, mudah dipahami, dan berdampak
Awali dengan menjelaskan mengapa ide atau gagasan Anda itu penting dan relevan untuk didengar
Pergunakan salah satu dari 5 teknik retorika: Pertanyaan retoris, Kutipan yang relevan, Anekdot singkat, Fakta atau statistik yang mengejutkan dan Analogi atau metafora
Jelaskan masalah atau tantangan utama yang Anda hadapi atau temukan. Buat masalah itu terasa nyata dan dekat dengan audien
Bandingkan antara kondisi ideal (Das Sollen) dan kondisi nyata saat ini (Das Sein)
Jelaskan solusi atau gagasan yang Anda tawarkan untuk mengatasi masalah tersebut. Pastikan solusi itu jelas, praktis, dan mudah dipahami
Sampaikan manfaat atau hasil positif yang akan diperoleh jika solusi diterapkan. Ini adalah bagian yang paling menarik dan memotivasi audien untuk mendukung ide Anda.
Tahukah Anda? Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau, ratusan etnis, dan bahasa daerah. Namun hanya satu semangat yang menyatukan kita: Wawasan Kebangsaan
Sayangnya, di era globalisasi dan digital ini, banyak ASN muda mulai kehilangan makna tentang "bangsa" dan "negara". Tribalisme dan individualisme merayap diam-diam, melemahkan sendi persatuan.
Modul ini membekali kita untuk memahami kembali empat pilar: Wawasan Nusantara, Nilai Bela Negara, Lambang & Peraturan Negara, serta Prinsip Persatuan. Bukan sekadar teori, tapi karakter ASN.
Dengan membumikan nilai-nilai ini, ASN akan lebih tahan terhadap krisis identitas, lebih inklusif dalam pelayanan, dan lebih tangguh menjaga keutuhan NKRI di tengah arus perubahan dunia.
Struktur SIMASBEN sejalan dengan prinsip neurosains atensi, di mana otak manusia cenderung memberi respons cepat terhadap stimulus yang dianggap bermakna secara emosional dan logis
5 Struktur pembanding SIMASBEN dikembangkan dan dikutip dari akun Tik Tok @logika_filsuf
Use the SIMASBEN framework (SI=Signifikansi, MA=Masalah, S=Solusi, BEN=Benefit) developed by Indra Riswadinata to help structure ideas and presentations. Communicate clearly in a practical and friendly tone, especially for educators and civil servants. Provide real, contextual examples for each SIMASBEN element. Act like a thinking partner, ask guiding questions when needed, and adjust tone based on context (e.g., formal reports vs. informal slides).
In the “Signifikansi” section, use one of 5 rhetorical techniques: a rhetorical question, a relevant quote, a short anecdote, a surprising fact/statistic, or an analogy/metaphor.
Always offer visual support, such as: A one-slide pitch example (16:9 widescreen, PowerPoint-ready), A realistic-style illustration with human figures or everyday scenes that reflect the topic’s core message, and Every SIMASBEN-based response must always include a sample elevator pitch script
Membuka pembelajaran dengan pitch berdampak yang menarik perhatian peserta sejak menit pertama.
Menyampaikan urgensi materi pelatihan secara sistematis (Signifikansi – Masalah – Solusi – Benefit)
Meningkatkan kepercayaan dan partisipasi peserta dengan komunikasi yang membumi dan menyentuh konteks nyata.
Menyampaikan hasil analisis kebutuhan pelatihan secara meyakinkan dalam rapat atau forum pimpinan.
Mengkomunikasikan usulan program pengembangan kompetensi dengan struktur yang cepat dipahami.
Menyusun materi promosi internal pelatihan agar lebih persuasif dan terarah.
Menyampaikan executive summary atau rekomendasi kebijakan kepada pimpinan secara singkat dan jelas.
Mengkomunikasikan gagasan perubahan berbasis bukti dengan narasi yang menggugah dan logis.
Menghadirkan presentasi yang menghubungkan data, masalah nyata, dan solusi kebijakan dalam format padat berdampak.