KOMPOSTER BAG: INOVASI PRAKTIS PENGOLAHAN SAMPAH ORGANIK
Carissa Ananda Ramadania (Ketua)
Zaena Asyfa
Inayah Queen Therik
Vincent Cairo Akillah
Teguh Atha Karim
Ayman Abdurrahman
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sampah organik merupakan salah satu jenis sampah yang paling sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Sampah seperti sisa sayuran, kulit buah, daun kering, dan sisa makanan biasanya langsung dibuang bersama sampah lainnya. Padahal, sampah organik dapat diolah kembali menjadi kompos yang bermanfaat bagi tanaman dan tanah. Salah satu alasan sampah organik masih banyak dibuang adalah karena proses pengolahannya dianggap kurang praktis. Penggunaan komposter yang berukuran besar juga dapat menjadi kendala bagi masyarakat yang tinggal di tempat dengan lahan terbatas. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah inovasi yang dapat membuat proses pengolahan sampah organik menjadi lebih mudah, sederhana, dan tidak membutuhkan banyak ruang.
Berdasarkan permasalahan tersebut, kelompok kami membuat Komposter Bag Praktis, yaitu sebuah wadah pengomposan berbentuk tas yang dirancang agar mudah digunakan dan dipindahkan. Produk ini diharapkan dapat menjadi alternatif bagi masyarakat untuk mengolah sampah organik di rumah tanpa membutuhkan tempat yang luas. Pembuatan produk ini menggunakan metode Design Thinking, yaitu metode yang dimulai dengan memahami permasalahan pengguna, menentukan masalah utama, mencari ide solusi, membuat prototipe, dan melakukan pengujian. Dengan metode tersebut, Komposter Bag tidak hanya dibuat berdasarkan kreativitas kelompok, tetapi juga berdasarkan permasalahan dan kebutuhan pengguna.
Proyek ini juga berkaitan dengan P5 dan PJBL, karena dalam prosesnya siswa terlibat langsung dalam mengidentifikasi masalah, merancang solusi, membuat produk, melakukan pengujian, serta mengevaluasi hasilnya. Melalui proyek ini, siswa diharapkan dapat mengembangkan kreativitas, kemampuan bekerja sama, berpikir kritis, dan kepedulian terhadap lingkungan.
B. Identifikasi Masalah
Permasalahan utama yang menjadi dasar pembuatan produk ini adalah masih banyaknya sampah organik yang belum dimanfaatkan dengan baik. Sampah organik sering kali dicampurkan dengan sampah anorganik sehingga lebih sulit untuk dikelola. Selain itu, tidak semua orang memiliki lahan yang cukup untuk menggunakan komposter berukuran besar. Sebagian orang juga menganggap proses pembuatan kompos membutuhkan perawatan yang rumit. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya media pengomposan yang lebih sederhana, praktis, dan sesuai untuk penggunaan sehari-hari.
⸻
C. Pembatasan Masalah
1. Penelitian berfokus pada pemanfaatan sampah organik sebagai bahan utama pembuatan kompos.
2. Sampah organik yang digunakan berupa sisa sayuran, buah-buahan, dan bahan organik rumah tangga lainnya yang mudah terurai.
3. Penelitian menggunakan Komposter Bag Praktis sebagai media atau wadah dalam proses pengomposan.
4. Penelitian berfokus pada proses penguraian sampah organik hingga menjadi kompos, bukan pada pengolahan sampah anorganik.
5. Keberhasilan proses pengomposan diamati berdasarkan perubahan warna, tekstur, bau, dan kondisi bahan selama proses pengomposan.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan tersebut, rumusan masalah dalam proyek ini adalah:
1. Bagaimana cara membuat media pengomposan yang praktis dan mudah digunakan?
2. Bagaimana merancang Komposter Bag yang sesuai dengan kebutuhan pengguna?
3. Apakah Komposter Bag dapat membantu mempermudah proses pengolahan sampah organik?
4. Bagaimana hasil pengujian dan evaluasi terhadap prototipe Komposter Bag?
E. Tujuan
Proyek ini bertujuan untuk menciptakan sebuah inovasi berupa Komposter Bag yang dapat digunakan sebagai media pengolahan sampah organik. Produk dirancang agar mudah digunakan, mudah dipindahkan, dan tidak membutuhkan tempat yang terlalu luas.
Selain menghasilkan produk, proyek ini juga bertujuan untuk menerapkan metode Design Thinking dalam menyelesaikan permasalahan lingkungan. Melalui proses tersebut, siswa dapat belajar bagaimana sebuah permasalahan dapat diubah menjadi ide dan produk yang memiliki manfaat.
F. Manfaat
Komposter Bag diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pengguna karena dapat menjadi alternatif sederhana untuk mengolah sampah organik. Pengguna dapat memanfaatkan sampah organik seperti daun dan sisa sayuran untuk dijadikan kompos.
Bagi lingkungan, produk ini diharapkan dapat membantu mengurangi jumlah sampah organik yang dibuang begitu saja. Sementara bagi siswa, proyek ini dapat menjadi sarana untuk mengembangkan kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, kerja sama, serta kepedulian terhadap lingkungan.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.KAJIAN RELAVAN
Sampah Organik
Sampah yang berasal dari aktivitas pemukiman, antara lain sisa makanan, daun, buah-buahan dan sisa sayuran merupakan salah satu penyebab semakin banyaknya jumlah sampah yang menumpuk karena dihasilkan setiap hari dalam jumlah yang cukup banyak. Hal ini disebabkan karena kurangnya pemanfaatan atau pendaur ulangan sampah organik domestik. Meningkatnya jumlah sampah organik di lingkungan dapat membawa dampak negatif bagi masyarakat. Dampak negatif tersebut dapat berupa pencemaran pada tanah, air dan udara yang akhirnya bisa menyebabkan gangguan kesehatan pada masyarakat. Sampah organik rumah tangga berupa sisa bahan dari tumbuhan dan hewan dapat dimanfaatkan untuk membuat kompos yang ramah lingkungan.
Pengomposan
Kompos merupakan produk hasil dekomposisi biologis bahan organik yang berlangsung dalam kondisi terkendali, baik secara aerobik maupun anaerobik. Proses ini melibatkan berbagai jenis mikroorganisme seperti bakteri, fungi, dan aktinomisetes yang bekerja secara sinergis untuk memecahkan molekul kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana. Hasil akhir dari proses ini adalah material yang stabil, kaya akan unsur hara, dan memiliki tekstur yang berupa tanah yang sangat remah. Penggunaan kompos tidak hanya terbatas pada penyediaan nutrisi bagi tanaman, tetapi juga sebagai pembenah yang sangat efektif dalam memperbaiki kualitas lahan pertanian
Komposter Bag
Komposter bag (composting bag) adalah wadah berbentuk kantong yang digunakan sebagai tempat berlangsungnya proses pengomposan sampah organik, terutama dengan metode aerobik. Kantong ini berfungsi menampung bahan organik selama proses penguraian oleh mikroorganisme sehingga sampah organik dapat berubah menjadi kompos. Metode ini relatif sederhana dan dapat digunakan untuk pengomposan skala rumah tangga maupun komunitas.
Design Thinking
Design thinking adalah pendekatan pemecahan masalah yang berpusat pada manusia (human-centered), dengan cara memahami kebutuhan pengguna, merumuskan masalah, menghasilkan berbagai ide solusi, membuat purwarupa (prototype), kemudian mengujinya untuk mendapatkan masukan dan melakukan perbaikan. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada menghasilkan suatu produk, tetapi juga memastikan bahwa produk tersebut benar-benar menjawab kebutuhan pengguna..
B.PENELITIAN RELAVAN
Sampah yang membusuk memberikan dampak yang buruk terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar. Sampah organik yang dihasilkan dari sisa kegiatan rumah tangga dapat dimanfaatkan menjadi pupuk padat dan pupuk cair dengan menggunakan komposter sederhana. Pada kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini masyarakat khususnya ibu rumah tangga diajarkan untuk membuat pupuk padat dan pupuk cair dari sampah organik runah tangga dengan menggunakan komposter dan effective microorganism (EM4). Pupuk organik tersebut selain dapat digunakan pada tanaman juga dapat dijual sehingga dapat meningkatkan ekonomi masyarakat. Penggunaan pupuk cair dari sampah organik semakin meningkat sejak berkembangnya tanaman hidroponik karena pupuk cair mudah diracik sesuai dengan kebutuhan tanaman.
C.KERANGKA BERPIKIR
kerangka berpikir
MASALAH:
sampah organik dihasilkan setiap hari namun tidak dilakukan pengolahan pada sampah organik, yang menyebabkan bau busuk pada lingkungan dan tumpukan sampah di TPA
SOLUSI:
Pembuatan Komposter Bag Praktis sebagai wadah sederhana untuk mengolah sampah organik menjadi kompos.
Proses:
2. Mengumpulkan sampah organik.
4. Memilah sampah yang dapat dikomposkan.
5. Memasukkan sampah organik ke dalam eco Bag
6. memasukan air gula merah
7. memasukan tanah ke dalam eco bag
8. Menambahkan cairan dekomposer
9. tunggu seminggu
10. Mengamati perubahan warna, tekstur, bau, dan kondisi sampah.
Hasil yang diharapkan:
* Sampah organik dapat terurai.
* Terbentuk kompos dengan karakteristik yang baik.
* Jumlah sampah organik yang dibuang dapat berkurang.
Komposter Bag dapat menjadi alternatif pengolahan sampah yang praktis dan mudah diterapkan.
D.HIPOTESA
Sampah organik di TPA akan berkurang akibat diolah menjadi kompos, sehingga bisa memberikan keuntungan yang bersifat ekonomis bagi pembuatnya dan memberikan keuntungan bagi lingkungan.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN
Penelitian mengenai Komposter Bag Praktis sebagai media pengolahan sampah organik menjadi kompos dilaksanakan di SMA Negeri 4 Jakarta. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada lingkungan sekolah yang menghasilkan sampah organik dari aktivitas sehari-hari, sehingga dapat menjadi tempat yang sesuai untuk penerapan dan pengamatan proses pengomposan. Penelitian dilaksanakan pada September sampai Oktober 2026, yang meliputi tahap persiapan alat dan bahan, pembuatan Komposter Bag Praktis, pengumpulan sampah organik, proses pengomposan, pengamatan, pengumpulan data, hingga analisis hasil penelitiank.
B. SISTEMATIKA PENELITIAN
Penelitian dilakukan melalui beberapa tahapan sebagai berikut:
1. Tahap persiapan
Menentukan tujuan penelitian, menyiapkan alat dan bahan, serta menentukan jenis sampah organik yang akan digunakan.
2. Tahap pembuatan Komposter Bag Praktis
Membuat atau menyiapkan wadah komposter berbentuk bag yang dapat digunakan untuk menampung sampah organik selama proses pengomposan.
3. Tahap pengumpulan dan pemilahan sampah
Mengumpulkan sampah organik seperti sisa sayuran dan buah-buahan, kemudian memisahkannya dari sampah anorganik.
4. Tahap proses pengomposan
Sampah organik dimasukkan ke dalam Komposter Bag Praktis dan diberikan perlakuan sesuai rancangan penelitian. Selama proses berlangsung, kondisi komposter diamati secara berkala.
5. Tahap pengamatan
Mengamati perubahan warna, tekstur, bau, dan kondisi sampah selama proses pengomposan.
6. Tahap pengumpulan dan analisis data
Data hasil pengamatan dicatat, kemudian dianalisis untuk mengetahui keberhasilan proses pengomposan.
7. Tahap penarikan kesimpulan
Hasil penelitian dibandingkan dengan hipotesis untuk mengetahui apakah Komposter Bag Praktis dapat digunakan sebagai alternatif pengolahan sampah organik menjadi kompos.
C. POPULASI DAN SAMPEL
Populasi dalam penelitian ini adalah sampah organik yang dihasilkan dari aktivitas di lingkungan SMA Negeri 4 Jakarta. Sampel yang digunakan adalah sebagian sampah organik yang dipilih dari populasi tersebut, terutama berupa sisa sayuran, kulit atau sisa buah, dan bahan organik lain yang mudah terurai. Sampah yang digunakan sebagai sampel dipilih berdasarkan kemampuannya untuk terurai dan kesesuaiannya dengan proses pengomposan.
D. JENIS PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen. Penelitian ini dilakukan dengan mencoba menggunakan Eco Bag Praktis sebagai media pengolahan sampah organik dan mengamati perubahan yang terjadi selama proses pengomposan. Penelitian eksperimen dipilih karena peneliti melakukan suatu perlakuan terhadap sampah organik, kemudian mengamati hasil yang diperoleh setelah proses pengomposan berlangsung.
E. PENDEKATAN PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif sederhana dengan didukung data deskriptif. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk mencatat data yang dapat diukur, seperti lama waktu pengomposan dan perubahan berat sampah apabila dilakukan pengukuran. Sementara itu, data deskriptif digunakan untuk menjelaskan perubahan karakteristik kompos, seperti warna, tekstur, bau, dan kondisi fisik bahan selama proses pengomposan.
F. TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL
Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling, yaitu pemilihan sampel berdasarkan kriteria tertentu. Sampah yang dipilih sebagai sampel adalah sampah organik yang:
* mudah terurai;
* tidak tercampur dengan sampah anorganik;
* berasal dari sisa sayuran atau buah-buahan;
* tidak mengandung bahan berbahaya; dan
* sesuai untuk digunakan dalam proses pengomposan.
Teknik ini digunakan agar sampah yang digunakan sesuai dengan tujuan penelitian dan dapat mendukung proses pengomposan.
G. TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui beberapa teknik, yaitu:
1. Observasi
Pengamatan dilakukan secara langsung terhadap proses pengomposan di dalam Komposter Bag Praktis. Pengamatan meliputi perubahan warna, tekstur, bau, serta kondisi sampah selama proses berlangsung.
2. Pengukuran
Pengukuran dilakukan apabila diperlukan, seperti mengukur berat sampah sebelum dan sesudah proses pengomposan serta lama waktu yang dibutuhkan hingga kompos terbentuk.
3. Dokumentasi
Dokumentasi dilakukan dengan mengambil foto atau video pada setiap tahap penelitian, mulai dari persiapan bahan, pembuatan Komposter Bag, proses pengomposan, hingga hasil akhir.
4. Pencatatan
Hasil pengamatan dan pengukuran dicatat secara berkala dalam tabel pengamatan agar perubahan yang terjadi selama penelitian dapat dibandingkan dengan lebih mudah.
H. TEKNIK ANALISIS DATA
Data yang diperoleh dari hasil observasi, pengukuran, dan dokumentasi dianalisis secara deskriptif. Data yang terkumpul disusun dalam bentuk tabel dan kemudian dijelaskan berdasarkan perubahan yang terjadi selama proses pengomposan.
Analisis dilakukan dengan membandingkan kondisi sampah sebelum, selama, dan setelah proses pengomposan berdasarkan beberapa parameter, yaitu:
1. Warna — diamati perubahan warna sampah selama proses penguraian.
2. Tekstur — diamati perubahan tekstur dari bahan awal hingga menjadi lebih lunak dan remah.
3. Bau — diamati perubahan bau selama proses pengomposan.
4. Waktu pengomposan — dicatat lama waktu yang diperlukan hingga kompos menunjukkan karakteristik matang.
5. Berat sampah — apabila dilakukan pengukuran, berat awal dan akhir dibandingkan untuk melihat perubahan jumlah sampah.
BAB IV
METODE
A. Ide dan Konsep Produk
Ide Komposter Bag muncul dari permasalahan mengenai pengolahan sampah organik yang dianggap kurang praktis. Kelompok kami kemudian mencari cara agar wadah pengomposan dapat dibuat lebih sederhana dan mudah digunakan. Konsep utama produk adalah membuat wadah berbentuk tas yang memiliki ruang untuk menampung sampah organik serta bagian ventilasi untuk membantu sirkulasi udara. Produk juga dilengkapi pegangan sehingga dapat dipindahkan dengan lebih mudah.
B. Keunggulan Produk
Komposter Bag memiliki beberapa keunggulan dibandingkan wadah komposter biasa. Bentuknya yang menyerupai tas membuat produk lebih mudah dipindahkan dan disimpan. Ukurannya juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan sehingga tidak harus menggunakan tempat yang luas. Selain itu, produk dirancang dengan mempertimbangkan penggunaan bahan yang mudah ditemukan sehingga biaya pembuatannya dapat ditekan. Dengan demikian, Komposter Bag diharapkan dapat menjadi solusi yang sederhana tetapi tetap memiliki fungsi dalam pengolahan sampah organik.
C. Target Pengguna
Target utama produk ini adalah masyarakat yang ingin mengolah sampah organik tetapi memiliki keterbatasan tempat atau menginginkan metode pengomposan yang lebih praktis. Produk juga dapat digunakan sebagai media pembelajaran bagi siswa untuk mengenal proses pengolahan sampah organik dan pentingnya menjaga lingkungan
PENGUJIAN DAN EVALUASI
Pengujian dilakukan untuk mengetahui apakah Komposter Bag sudah sesuai dengan tujuan awal pembuatan. Pengujian tidak hanya melihat apakah produk dapat digunakan, tetapi juga melihat tingkat kepraktisan, kekuatan, kemudahan pemindahan, dan fungsi ventilasinya.
Jika ditemukan kekurangan selama pengujian, kelompok akan melakukan evaluasi dan perbaikan terhadap desain. Misalnya, apabila pegangan kurang kuat, bagian tersebut dapat diperkuat. Jika sirkulasi udara kurang baik, jumlah atau posisi ventilasi dapat disesuaikan.
Dengan adanya tahap pengujian dan evaluasi, produk yang dihasilkan diharapkan menjadi lebih sesuai dengan kebutuhan pengguna.
BAB V
PENUTUPAN
A. Kesimpulan
Permasalahan sampah organik merupakan salah satu permasalahan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sampah seperti sisa sayuran, kulit buah, dan daun sebenarnya dapat dimanfaatkan melalui proses pengomposan, tetapi masih terdapat kendala dalam penerapannya, terutama dari segi kepraktisan dan keterbatasan tempat.
Melalui proyek Komposter Bag, kelompok berusaha menghadirkan alternatif wadah pengomposan yang lebih fleksibel, praktis, dan mudah dipindahkan. Produk ini dikembangkan melalui tahapan Design Thinking, mulai dari memahami permasalahan pengguna hingga melakukan pengujian dan evaluasi.
Proyek ini diharapkan tidak hanya menghasilkan sebuah produk, tetapi juga memberikan pengalaman kepada siswa untuk berpikir kreatif, bekerja sama, menyelesaikan masalah, dan menghasilkan inovasi yang memiliki manfaat bagi lingkungan.
B. Saran
Komposter Bag masih dapat dikembangkan lebih lanjut agar memiliki desain yang lebih kuat, tahan lama, dan semakin mudah digunakan. Pengujian juga dapat dilakukan dalam waktu yang lebih panjang untuk mengetahui kinerja produk secara lebih menyeluruh.
Selain itu, penggunaan Komposter Bag dapat dikembangkan di lingkungan sekolah sehingga siswa dapat ikut melakukan pemilahan dan pengolahan sampah organik secara langsung
DAFTAR PUSTAKA
Sumber Komposter Bag:
Ajeng Destiasari
Sri Sumiyati
Titik Istirokhatun2
Sumber Sampah Organik:
Sumber:
1. Lili Yuliana
2. Melyza Oktaviani
3. Mutiara
4. Muhammad Arya Fathiir
5. Muhammad Chandra
6. Ria Anggriyani, M.Pd
7. Siska Alicia Farma, S.Pd, M. Biomed.
Sumber Komposter:
M. Agri. Ilmu Kompos. Penerbit Bashaedu, 2026.
Sari, Mistia, A. P.
Yuhendra,
Sumber:
1. Impact of design thinking in higher education: a multi‑actor
perspective on problem solving and creativity
Sharon Guaman‑Quintanilla1,2 Martin Valcke5
· Patricia Everaert3 Accepted: 9 December 2021 / Published online: 5 January 2022
© The Author(s) 2022
2. Research Article| March 21 2023
Design thinking for innovation: context factors, process, and outcomes Open Access. Nicolas Rösch, Victor Tiberius Sascha Kraus